The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
394.



"Aku ingat kak" ucap Dimas.


"Lebih baik kamu tolak saja project itu, jika kamu membutuhkan endorse yang level nya tinggi. Kakak bisa meminta om Genta buat masukin kamu ke list selebriti yang akan di kontrak kerja sama" ucap Kai.


"Nggak perlu kak, Dimas nggak butuh-butuh banget kok. Duit dari kak Dara dan kak Kaisar aja lebih dari cukup sampai aku bingung mau di pake buat apa, nggak habis-habis" ucap Dimas menghela nafas.


Memang ucapannya benar adanya, kakak dan Kakak iparnya itu tidak pelit soal uang, ilmu dan kasih sayang. Jadi ia benar-benar tidak membutuhkan uang, ia melakukan pekerjaan nya hanya untuk mengasah kemampuan dan juga agar dia tidak bosan.


"Bagus kalau berpikir seperti itu, kalau butuh apa-apa kamu jangan sungkan bilang ke kakak atau kak Dara. Kami akan selalu mendengar kan dan membantumu jika di butuhkan" ucap Kai


"Iya kak, beres!" jawab Dimas.


"Bagaimana dengan sekolahmu, ada kendala?" tanya Kai


"Lancar aja sih kak, ujiannya juga sudah selesai tinggal pengumuman kenaikan kelas dan pembagian raport. Tapi sekarang masih ada class meeting atau porak, apalagi Ryan dan tim basket nya seperti biasa masuk final. Sebagai teman dan saudara yang baik aku harus mendukungnya, bukan?" ucap Dimas menceritakan tentang kegiatan sekolahnya.


"Oh ya, hebat... Nanti kakak akan bilang ke Ryan, juara atau tidak kakak akan kasih dia hadiah. Kalau kamu nggak ikut lomba Dim?" ucap Kai


"Aku ikut lomba musik kak, aku masuk tiga besar juga sebagai perwakilan kelas di acara pensi nanti. Baru pengumuman juaranya saat di acara" ucap Dimas menjelaskan dengan santainya tanpa ada nada sombong atau pamer.


"Wah bagus, kakak juga akan kasih hadiah buat kamu kamu karena sudah masuk final" ucap Kai mengelus kepala adik iparnya itu.


"Benarkah kak, tapi boleh Dimas minta hadiahnya apa?" tanya Dimas


"Tentu" jawab Kai


"Kalau gitu aku mau izin pulang ke desa S?" tanya Dimas dengan berbinar.


"Desa S?" tanya Kai mengeryitkan keningnya, ia seperti pernah mendengar nama Desa itu.


Dimas mengangguk semangat.


"Iya kak, itu desa tempat aku dan kak Dara di besarkan, aku mau melihat kampung halaman ku dan berjiarah ke makam ibu. Aku juga ada keinginan buat membenahi desa dengan uang yang aku miliki, setidaknya jalan di sana bisa segera di bangun dan lebih baik. Aku mau bangun akses kesehatan dan pendidikan juga di sana. Tapi jujur Dimas belum tahu langkah apa yang harus Dimas lakuin, agar semua keinginan itu bisa terwujud. Dimas hanya punya uang saja namun koneksi yang Dimas miliki terbatas" ucap Dimas.


Ia mengingat tempat ia tumbuh itu sangat jauh dari kata modern. Bahkan yang punya televisi bisa di hitung dengan jari, akses kesehatan dan pendidikan sangat jauh.. Terlebih ia ingin melihat makam sang ibu, apakah terawat atau tidak.


"Niat kamu sudah bagus Dim, nanti kakak ikut ke sana juga. Kakak juga ingin bertemu ibu dan berkenalan dengan beliau. Untuk urusan rencana yang ingin kamu realisasikan biar anak buah kakak ke sana duluan biar langsung survei dan membuat rencana" ucap Kai


"Beneran kak? Terus kak Dara gimana, izinin nggak ya?" ucap Dimas


"Nggak perlu khawatir kakak kamu pasti mendukung rencana kamu, apalagi niat kamu sangat baik. Nanti kakak bantu soal pendanaan nya juga" ucap Kai


"Makasih kak, kak Kaisar terbaik" ucap Dimas tersenyum senang dan mengacungkan kedua jempolnya.


"Ayo keluar, kakak ingin ngobrol dengan Ryan juga keponakan-keponakan kamu" ucap Kai


Dimas mengangguk dan ikut keluar bersama kakak ipar nya itu. Di sana mereka Kai mengobrol dengan Ryan lalu menghampiri ke empat putra putrinya.


....


Di ruang dimensi tubuh Dara, Flo baru saja menyelesaikan proses pemulihan terakhirnya. Ia kemudian bangun dari prosesi berendam di air surgawi.


Sebenarnya di jaman dulu pernah ada yang melakukan pengobatan janin tidur, namun tidak menggunakan ritual berendam di air surgawi. Mereka hanya menggunakan satu tetes air surgawi untuk pembuatan pil Kehidupan.


Hanya saja pengobatan itu tidak sempurna, karena memiliki kemungkinan kondisi sang ibu akan memburuk setelah beberapa tahun.


Itu karena langka nya air surgawi, setetes air surgawi saja sulit di dapatkan dan kalaupun ada harganya sangat mahal. Jadi sangat sulit untuk mengumpulkan air surgawi agar bisa di buat berendam di dalamnya.


Namun itu tidak berlaku bagi Dara dan hal itu juga merupakan sebuah keberuntungan besar baginya. Karena ia memiliki harta surgawi tepat setelah dirinya di berikan anugerah mewarisi semua yang Liu Annchi miliki.


"Ini pakailah!" ucap Dara memberikan kain pada Flo untuk menutupi tubuh polosnya yang basah karena berendam.


"Makasih Ra" ucap Flo tersenyum cantik meskipun masih lemas, karena rasa sakit saat proses pemulihan terakhir lebih sakit dari ia meminum pil kehidupan dan juga saat pertama ia membuka Meridian.


Ia mengelus perutnya yang kini sudah tertutupi kain. Perutnya sudah terlihat menyembul dan usianya sudah sesuai dengan usia janin sebenarnya jika di hitung dari pembuahan.


Beberapa bulan di dimensi ruang membuat janin ikut berkembang dengan baik, hingga kini usia janin sudah menginjak usia 22 minggu. Setelah Flo memakai pakaiannya, Dara langsung di periksa dan kondisinya yang sudah benar-benar pulih.


"Kondisi kamu sudah pulih sepenuhnya, selamat Flo" ucap Dara tersenyum


"Terimakasih Ra" ucap Flo sembari memeluk dan di balas oleh Dara.


"Ayo kita pulang, suamimu sudah menunggu dengan gelisah setiap harinya. Ia bahkan tidur di apartemen Abang agar tidak di tanyai keluarga dan orang-orang terdekatnya. Karena bingung jawab apa" ucap Dara


"Iya Ra, aku juga tidak sabar memberi tahu mas Lingga jika aku dan calon bayi kami selamat dan sehat" ucap Flo mengelus perut yang mulai buncitnya itu.


"Ya, tapi ingat untuk datang setiap tiga hari sekali untuk pemeriksaan rutin selama sebulan, juga jangan bekerja yang berat-berat" ucap Dara


"Aku mengerti, sekali lagi terimakasih. Aku tidak tahu akan jadi apa kalau tidak ada kamu Ra, sungguh aku bingung membalasnya dengan apa" ucap Flo.


"Cukup dengan kamu hidup dengan baik dan bahagia, itu sudah cukup. Bagaimana pun, terlepas kamu istri Lingga atau bukan, kamu tetap saudariku yang aku sayang dan paling aku percayai" ucap Dara tersenyum tulus.


Dara kemudian meminta Flo menutup matanya dan membawa nya kembali.


...•••••••...