The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
85. Revan Pulang- Hadiah.



Di bandara kota S, Bara dan Jefrey tengah menunggu seseorang di pintu kedatangan luar negeri. Keduanya mengobrol sejenak sambil menunggu orang yang keduanya jemput itu keluar.


Awalnya hanya bara yang jemput, tapi karena Jefrey tidak ada kerjaan jadi ia ikut menjemput adik angkatnya itu.


"Senyum kak, kaya patung aja datar terus. Itu otot-otot nggak kaku semua tuh?" celetuk Bara


"Hmm, kamu semakin Berani ya Bar?" ucap Jefrey menatap tajam ke arah Bara.


"Tidak mempan lagi itu pelototan mata kakak" ucap Bara berani.


Jefrey terkejut melihat tampang Bara yang biasa saja, tanpa tatapan takut seperti biasanya kalau sedang ia tatap tajam. Melihat kebingungan kakak angkatnya itu Bara memberi tahu alasannya.


"Tatapan mata kakak kalah sama tatapan Dara, dia bahkan bisa buat aku gemetar kalau lagi dalam mode serius" ucap Bara.


Jefrey cukup terkejut, meskipun ia tahu sebagian cerita dari Adnan yang bercerita tentang kejadian di bandara waktu itu.


Jefrey tidak sepenuhnya percaya, tapi sekarang Bara mengatakan tatapan matanya tidak semenakutkan tatapan Dara jika sedang mode serius. Ia jadi penasaran dengan sosok adik perempuan satu-satunya itu.


"Oh ya?" ucap Jefrey


"Tentu saja, bahkan aku yakin kakak akan berfikir dua kali untuk memelihara zebra di rumah. Tapi Dara sudah melakukannya terlebih dulu, itu sangat gila!!!" ucap Bara teringat dengan White saat berada di Star Mansion.


"Zebra?" Beo Jefrey mengerutkan keningnya.


Jefry tahu Zebra termasuk dalam keluarga kuda, meskipun begitu Zebra tidak bisa untuk di jadikan tunggangan atau peliharaan dan sangat agresif. Itu karena habitat Zebra yang hidup berdampingan dengan para predator. Tapi ia tidak menyerang jika tidak di menganggu.


Jefrey terkejut mendengar Dara memelihara Zebra di rumahnya, namun dirinya juga tidak takut dengan Zebra. Tapi sayangnya Zebra yang di maksud Bara bukan Zebra yang sesungguhnya, Jefrey salah menanggapi hal itu.


"Kalau kamu tidak takut, apa kamu mau merasakan tinjuku, Bar? Kita bisa melakukan tiga putaran setelah pulang" ucap Jefrey menjahili Bara.


"Tidak terimakasih, aku tidak berminat. Kenapa kakak nggak coba adu tanding dengan Dara saja" ucap Bara tidak mau berlatih tanding kakaknya yang terkenal sebagai salah satu guardian Keluarga Adi Raharjo.


"Aku tidak melawan wanita, terlebih dia adikku sendiri" ucap Jefrey memutar matanya


"Aku juga adikmu, dasar. Tapi kamu tidak bisa lebih lembut padaku" ucap Bara menggerutu dan memajukan bibirnya.


Pemberitahuan landing pesawat sudah menggema, jadi hanya menunggu Beberapa menit lagi sebelum semua penumpang pesawat akan turun.


Tak lama dari kejauhan seseorang keluar dari sana dan berjalan menuju keduanya. Ia membawa koper yang ia tarik dengan tangan kanannya, kaca mata hitam yang ia kenakan membuat kesan tampan nan misterius.


Meskipun penampilannya yang tampan dan terlihat seperti pria bad boy. Tapi aslinya dia sangat dingin dan tidak tersentuh oleh wanita. Itu bisa di lihat dari tidak ada garis senyum sedikit pun di wajahnya.


"Auranya sangat dingin, bahkan dari jarak sejauh itu" ucap Bara saat melihat kakak ya dari kejauhan.


"Ya, kadang aku berpikir apa mama Ellena ngidam ingin tinggal di kutub selatan saat hamil dia?" sahut Jefrey.


"Entahlah, kadang aku juga bingung punya dua kakak kaya gini amat ya. Sama-sama dingin kalau urusan cewe, nggak pada belok kan Kak?" ucap Bara.


PLUK!!!


"Awwsss, sakit tahu Kak" ucap Bara mengelus kepalanya yang kena timpuk Jefrey.


"Sembarangan kalau ngomong, Kakak nggak bego, suka sama pentungan. Orang sudah punya sendiri, nggak butuh tambahan pentungan yang lain. Kakak juga nggak suka beradu pentungan, mending pedang asli sekalian bantai" celetuk Jefrey


"He-he woles kak, seram amat pakai bantai-bantai segala. Ya kali kak" ucap Bara cengengesan.


"Masa muda? Udah nggak muda lagi kak, inget umur udah mau kepala tiga juga" celetuk Bara.


"Iri bilang bos! Lagian nih ya, kakak bingung sama kalian berdua. Kenapa anak-anak mama dan papa semuanya over dosis" ucap Jefrey


"Over dosis, memangnya obat" ucap Bara


"Itu perumpamaan Bara api.... Maksudnya sifat kalian berdua tuh sama kaya orang tua


tua kalian versi over dosisnya. Kamu contohnya, nurunin mama Ellena yang kalau ngomong ceplas-ceplos, tapi kamu lebih dari mama kamu kalau lagi nyerocos. Kalau Revan nurunin papa Adnan yang dingin tapi Revan lebih-lebih dingin dan super kaku" ucap Jefrey


"Iya juga ya" ucap Bara menggaruk kepalanya.


"Ayo pulang!" ucap Revan yang kini berdiri di depan keduanya dan langsung ngeloyor pergi setelah mengucapkan itu.


"Astaga, salam dulu kek! Maen ngeloyor pergi gitu aja setelah ngucapin dua kata doang" ucap Bara.


"Sabar, yuk susul Revan sebelum dia ngamuk" ucap Jefrey.


.....


Dara masuk kuliah seperti biasa, hanya saja dua hari ini ia sedikit pusing. Karena ia mendapati banyak sekali makanan di atas mejanya saat baru datang.


Ada coklat, kue, camilan dan lain-lain. Bahkan ada bunga juga di situ.


Dara memijat keningnya, ia sudah pernah menanyakan pada orang-orang di kelas siapa yang memberikan makanan itu. Namun tidak ada yang tahu.


Ia juga sudah mengatakannya pada Daffa, karena selama ini Daffa yang selalu memberikan makanan untuk Dara, namun Daffa tidak mengaku. Justru ia merasa tidak suka saat tahu ada orang lain yang berusaha mengejar cewe yang ia sukai.


"Mending tuh coklat, kue kasih ke yang lain aja Ra. Kalau kamu mau, aku bisa membelikannya untuk kamu, nggak usah makan dari orang yang tidak di ketahui asal usulnya" ucap Daffa kesal melihat hadiah di atas meja Dara menumpuk pagi ini, lebih banyak dari pada kemarin.


"Hah...." Dara menghela nafas.


"Hei teman-teman, yang mau coklat atau cemilan ke sini dan bagi rata makanan ini untuk semuanya" ucap Dara.


Mendengar itu, semua orang di sana datang ke meja Dara dan mengambil makanan secara tertib, menurut mereka ini rezeki untuk mereka. Karena mendapatkan makanan gratis, lebih nikmat dari pada makanan yang mereka beli sendiri.


"Jangan berebut, semuanya harus tertib, kalau tidak aku tendang kalian keluar kelas" ucap Dara, Semuanya mengangguk setuju tidak ada yang berani membantah.


"Ra, akhir minggu ini terakhir belajar mengajar sebelum liburan akhir tahun. Bisa tidak aku mengajak kamu ke festival akhir tahun bersama?" tanya Daffa berharap.


"Aku tidak bisa!" ucap Dara menolak secara langsung.


"Ayolah Ra, ini festival akhir tahun loh. Akan banyak hal seru nanti, banyak hiburan dan makanan" ucap Daffa lagi.


"Tidak bisa! Aku akan pulang kampung ke kota S" ucap Dara mutlak.


"Yaahhh" gumam Daffa kecewa mendengar itu.


Dara tidak ambil pusing, setelah Sugeng datang. Semua mahasiswa fokus mendengarkan apa yang di sampaikan Dosen mereka.


...••••••...