The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
92. Identitas Kai



Setelah resmi menjadi sepasang kekasih, Kai membawa Dara ke pantai di utara ibukota. Suasana di pantai tidak begitu ramai karena hari ini bukan malam minggu, Kai mengajak Dara duduk di bebatuan tepi pantai.


Dengan menikmati suara deburan ombak di malam hari, Kai berinisiatif memakaikan jaket yang ia kenakan untuk Dara.


Meskipun Dara tidak membutuhkannya karena ia bisa mengendalikan suhu tubuh dengan Chi yang ia punya. Tapi ia tidak bisa menahan senyum saat mendapatkan perhatian manis dari sang pacar.


Ya, sekarang ia tahu rasa yang begitu menyenangkan, rasa bahagia dari kata jatuh cinta dan berada di dekat orang yang kita cintai. Rasanya begitu nyaman, ingin selalu dekat dan enggan untuk beranjak pergi.


Meskipun udara cukup dingin dan Kai hanya memakai kemeja lengan panjang dengan bahan katun sekarang. Itu tidak bisa menangkal udara dingin, tapi Kai merasa sangat panas di dekat Dara.


"Apa di sini dingin?" tanya Kai


"Tidak terlalu" ucap Dara


Kai duduk di samping Dara, ia menggenggam tangan Dara. Tangan Dara begitu mungil saat berada di dalam genggaman tangannya.


"Apa yang ingin kamu tahu tentangku?" tanya Kai.


"Semuanya tentang kamu" ucap Dara.


"Baiklah, Aku mulai dari identitasku dulu kalau begitu. Nama lengkapku Kaisar Raka Narendra, usia ku 25 tahun, bulan depan sudah aku 26 tahun. Aku berasal dari keluarga Narendra, salah satu dari keluarga besar di ibukota. Tentang pekerjaanku, seperti yang kamu tahu, aku adalah seorang Jendral termuda di militer.


Aku merupakan Komandan di divisi pasukan khusus yang bernama Falcon. Seharusnya aku tidak boleh Membocorkan identitas yang satu ini. Tapi aku percaya padamu dan aku harap kamu bisa menyimpannya hanya untuk dirimu sendiri.


Aku memiliki dua sahabat sejak remaja, kamu sudah bertemu dengannya di Bandara tadi sore. Aku juga memiliki anggota lain di Falcon, kita semua dekat seperti saudara dan semuanya laki-laki.


Aku tidak pernah memiliki teman wanita, aku tidak pernah dekat dengan wanita selain kamu. Satu-satunya wanita yang aku kenal di luar keluargaku selain kamu, yaitu Alice. Dia adalah tunangan Rafael, yang juga sepupuku dari keluarga mama. Apa ada pertanyaan lain?" Ucap Kai


"Wow aku tidak menyangka kamu adalah anggota keluarga dari tiga Keluarga besar di ibukota. Apakah orangtuamu akan mendukung hubungan kita?" tanya Dara kemudian, ia terkejut saat tahu identitas Kai.


"Aku yakin mereka akan mendukung semua keputusanku. Hanya saja ada satu hal yang ingin aku beri tahu padamu agar nanti kamu tidak mendengarnya dari orang lain" ucap Kai


"Apa itu?" tanya Dara.


"Mamaku sedikit cerewet, ia selalu menjodohkanku dengan berbagai wanita yang ia kenal, baik itu anak temannya, model, anak mitra kerja dan lain-lain. Meskipun aku selalu menolak, Bahkan aku tinggal di rumahku sendiri dan jarang pulang ke kediaman besar. Tapi meskipun begitu, aku tahu mama melakukan itu karena khawatir aku tidak akan bisa menemukan tambatan hati. Mama bilang aku terlalu dingin dengan perempuan" ucap Kai


"Kenapa kamu tidak mau coba dengan wanita pilihan ibumu? Aku yakin, pasti ibumu sangat selektif memilih calon menantu untuknya, bagaimanapun seorang ibu akan memilih sesuatu yang terbaik untuk putra tercintanya" ucap Dara


"Aku tidak menyukai mereka, aku hanya menyukaimu" ucap Kai.


"Ya-ya-ya aku percaya, tuan jendral" ucap Dara terkekeh dan Kai pun ikut tersenyum melihat tawa di wajah Dara sangat cantik.


"Bagaimana jika di masa depan orang tuamu ingin kamu bersama dengan wanita pilihannya dan tidak menerimaku?" tanya Dara


"Aku akan tetap memilihmu. Aku tidak akan menyerah mendapatkan restu pada orang tuaku. Aku yakin mereka pasti akan membuka tangan untuk menerima kamu, mereka tidak akan bertidak bodoh dengan membuang calon menantu yang sempurna sepertimu dan menggantinya dengan yang lain." ucap Kai


"Aku juga berharap seperti itu" ucap Dara.


"Lalu, apa kamu tidak ingin menceritakan tentang kamu juga?" tanya Kai


"Apa yang ingin kamu tahu?" tanya Dara


"Semua tentang kamu" ucap Kai, Dara mengangguk.


"Nama lengkapku Addara Azalea Adi Raharjo, umurku 19 tahun. Aku cucu perempuan satu-satunya dari Gusti Adi Raharjo" ucap Dara.


"Maksudmu, Keluarga Adi Raharjo di kota S?" tanya Kai


"Ya. aku baru bertemu dengan keluarga Adi Raharjo juga saat pertemuan kita di bandara kota S" ucap Dara


"Aku tinggal dengan ibuku di desa S kota Y. Dulu aku tidak tahu kalau aku punya keluarga lain.....bla...bla..." Dara menceritakan yang ia alami tentang Keluarganya dulu terutama tentang ayah kandungnya yang menelantarkan ia, ibu dan adiknya semasa kecil.


Namun tentang memory Liu Annchi dan juga ruang dimensi yang ia miliki tidak ia beritahu pada Kai. Ia masih belum yakin untuk menceritakan hal itu pada orang lain, ia takut itu akan berpengaruh ke hal yang buruk.


Kai mengenggam tangan Dara lebih erat, ia ingin memberikan kekuatan kepada kekasihnya.


"Aku tidak apa-apa, karena itu adalah kenangan lama sekali dan sudah berlalu" ucap Dara.


"Aku akan terus berada di sisi mu" ucap Kai serius


"Hmm, makasih Kai" ucap Dara tersenyum.


Keduanya menikmati waktu berdua, keduanya mengobrol dengan riang, tidak ada yang menganggu kencan mereka. Dara juga menceritakan pada Kai tentang adik-adiknya yang ingin mengenal Kai.


Tentu saja Kai tidak masalah bertemu dengan adik Dara. Bagaimanapun sekarang mereka bisa di katakan adiknya juga, bukan?


Saat sudah jam 10 malam lewat, Kai mengantar Dara pulang ke mansion. Saat sudah sampai di mansion, Dara dan Kai pun ikut turun dari mobil.


"Masuklah, aku akan pulang setelah melihatmu masuk!" ucap Kai


"Hmm, yakin tidak mau bawa mobilku?" tanya Dara


Ia sengaja tidak mengajak Kai mampir, bukannya tidak mau, tapi karena waktu sudah malam, ia tidak ingin menerima tamu di atas jam 9 malam apalagi itu laki-laki. Kecuali untuk hal darurat.


"Aku bisa pulang naik Taksi online" ucap Kai menolak membawa mobil Dara untuk ia pulang.


"Baiklah aku tidak memaksamu, kalau begitu aku akan ikut menunggu taksi onlinenya datang dulu" ucap Dara.


Kai tersenyum dan mengelus kepala Dara, meskipun Keduanya sudah pacaran mereka tidak lebih dari bergandengan tangan saja dari tadi.


Jantung Kai sudah berdetak kencang hanya dengan gandengan tangan saja, ia terlalu gugup untuk melakukan lebih dari itu. Bahkan saat mencium tangan Dara saja, itu spontan. Saat itu ia takut Dara akan marah padanya , untungnya hal yang ia takutkan itu tidak terjadi.


Beberapa menit kemudian, taksi online datang. Meskipun keduanya tidak rela berpisah, namun mereka sadar masih ada hari esok untuk keduanya bertemu.


Dara masuk ke dalam mansion setelah taksi online Kai sudah tidak terlihat lagi.


"Kakak!!" sambut Dimas dan Ryan bersamaan di balik pintu membuat Dara kaget.


"Astaga... Kalian sedang apa di sini? Kalian ngintip?" ucap Dara terkejut


"He-he, aku penasaran sama kakak ipar. Kenapa kakak ipar nggak di suruh masuk dulu kak?" ucap Dimas.


"Ini sudah malam, tidak baik bertamu malam-malam. Kalian juga kenapa belum tidur? Tidur, besok kalian masih sekolah!" ucap Dara


"Iya kak, tapi besok itu pengambilan Raport. Apa kakak bisa datang ke sekolah?" tanya Dimas.


"Tentu, kakak wali kalian. Jadi kakak akan datang" ucap Dara


"Terimakasih kak. Selamat malam kak" ucap Dimas dan Ryan bersamaan.


Cup!


Baik Dimas maupun Ryan mencium pipi kanan dan kiri Dara. Lalu pergi ke kamar mereka masing-masing.


Dara terkekeh melihat tingkah keduanya, namun ia teringat saat ia berinisiatif mencium bibir Kai meskipun terhalang oleh masker. Seketika wajah Dara memerah, ia sangat malu mengingat kejadian itu.


...••••••...