
Di sisi lain, Tempat Kai dan Flo.
Kai berteriak menggedor pintu yang tertutup, awalnya Kai ingin mencoba membuka pintu. Namun ada kekuatan besar yang menghalaunya dan membuatnya terdorong cukup keras. Untung Kai sigap dan tetap berdiri dengan tegak.
"Sanim! Aku tahu kamu ada di dalam. Cepat keluar! Dasar pengecut!!" maki Kai.
Namun tidak ada respon dari dalam, Kai yang merasa kesal pun meminta Flo untuk mengirim video tadi ke nomor pribadi Sanim.
Ting!
Di dalam ruangan Sanim terkejut melihat ada nomer asik mengirimnya sebuah pesan ke ponsel pribadi miliknya.
Sanim yang penasaran dengan video itu lalu mengklik video itu dan terlihat video m yang saat ini tengah di putar di ponselnya dengan sangat jelas.
"Aaahhh, ayaaahhh aaahhh Faster pleaseeee...!" suara de**han yang sangat ero*is terdengar begitu nyaring di telinganya.
Sanim terkejut mendapati video asusila miliknya dengan putri kandung satu-satunya itu. Hanya melihat video itu saja membuat marmut kecilnya menggeliat ingin bangun.
Sanim merutuki siapa yang mengirim video itu padanya. Di tengah kebingungannya, Kai berkata di belakang pintu.
"Apa kau sudah melihatnya Sanim? Apa kau suka? Cih, aku tidak menyangka jika ada laki-laki bejat melebihi binatang seperti mu. Bukan hanya bermain dengan banyak perempuan, namun putri kandungmu satu-satunya juga di embat" ucap Kai mengompori Kemarahan Sanim.
Sanim sendiri berusaha tidak peduli dengan keadaan anak sekaligus partner Se* di ranjangnya itu, padahal putrinya masih kelas 1 menengah pertama saat ini. Dirinyalah yang merubah gadis kecil polos itu hingga menjadi pemuas nafsunya.
Meskipun ia berusaha tenang dan tidak peduli. Namun tetap saja ia merasa gelisah, karena ternyata ia sudah menyimpan perasaan lebih ke putri kandungnya sendiri. Ia mencintai Lolita, putri kandungnya.
Bahkan pada istri-istrinya ataupun gundiknya yang tak lain ibu dari anaknya. Sanim tidak pernah merasakan apa yang ia lakukan bersama dengan Lolita. Ia merasakan gairah dan kenikmatan yang tidak bisa di jelaskan saat melakukannya dengan Lolita.
Jika memilih kehilangan istri dan gundiknya di banding kehilangan Lolita. Ia akan memilih kehilangan istri dan gundiknya. Sungguh hal yang membangongkan.
"Kalau kau tetap diam dan tidak ingin Keluar. Itu artinya kamu harus mengucapkan selamat tinggal untuk Lolita. Aku tidak main-main dengan ucapanku!" ucap Kai
Namun yang di harapkan Kai tidak terjadi, Sanim tetap memilih diam tidak keluar ataupun berbicara.
Di dalam ruangan Sanim mondar mandir sedang bingung. Ia bingung apa yang harus ia lakukan. Satu sisi ia mencintai putrinya sendiri, dan ia ingin terus bersama dengan putrinya itu. Namun jika ia keluar dirinya akan di pastikan mati di tangan orang militer yang berada di luar.
Saat Kai masih menunggu respon Sanim yang hanya diam saja. Tiba-tiba ponselnya berdering, itu dari Dara. Dengan cepat Kai mengangkat telepon itu, takut terjadi sesuatu pada Calon istrinya itu.
"Hallo sayang, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Kai
"Aku tidak apa-apa kai, Bagaimana dengan bajingan itu?" tanya Dara.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, Dia tetap tidak ingin keluar" ucap Kai, ia menghela nafas lega mendengar Dara baik-baik saja.
"Gunakan cara kedua saja, Abang. Urusanku sudah selesai, jadi tidak perlu khawatir. Aku tunggu di luar Villabya" ucap Dara
"Hmm aku akan melakukannya. Tunggu aku di sana sebentar, aku akan segera kembali" ucap Kai.
Setelah ponsel di tutup, Kai menoleh ke arah Flo.
"Lakukan cara kedua" ucap Kai
"Oke kak" ucap Flo
Dengan cekatan Flo memasang jimat di beberapa tempat di depan ruangan itu dengan cepat. Lalu Kai dan Flo langsung kembali ke atas agak menjauh dari ruangan bawah tanah.
"Aktifkan!" ucap kai.
BOOOOMMM!!!
Suara dentuman begitu keras terdengar dari ruang bawah tanah. Dara yang dari kejauhan mendengar dentuman itu hanya terkekeh, sedangkan Dong yang sekarang ikut bersama dengan Dara hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dara.
Dong benar-benar meremehkan lawannya, ia tidak berpikir jika Dara akan melakukan cara ekstrim dengan menggunakan Jimat peledak yang bisa merusak formasi yang ia buat.
Untungnya ia sudah menyerah dan ternyata keduanya adalah dalam satu kubu. Jadi Dong tidak perlu khawatir lagi.
Itulah kenapa Dara bilang itu adalah rencana kedua atau cara cadangan. Jimat itu akan di gunakan ketika Sanim tidak mau keluar dengan sukarela.
Kenapa tidak menggunakan itu sejak awal? itu karena resikonya sangat besar. Terlebih Dara tengah bertarung dengan Dong, jika itu di ledakan saat Dara dan Dong bertarung. Otomatis akan membuat Dong segera kembali ke ruang bawah tanah dan bisa jadi melukai Kai dan Flo.
Kalau suara-suara Kai yang menggedor pintu, itu bisa Dara samarkan. Tapi kalau ledakan itu, akan susah karena itu berada di ruang bawah tanah.
"Anda terlalu mengerikan nona" ucap Dong bergidik ngeri.
"Orang lain yang memintanya, dan lagi ingat jangan sampai kau melakukan hal seperti ini lagi paman Dong!" ucap Dara yang mulai memanggil Dong dengan sebutan paman. Mengingat usia Dong yang sebenarnya pantas di panggil Buyut.
"Tentu belum, akan ada permainan seru untuknya di masa depan nanti" ucap Dara menyeringai, membuat Dong bergidik ngeri. karena ia yakin akan terjadi hal mengerikan di masa depan.
Keluarga Ma, adalah keluarga yang sangat kuat di bidang kultivator dan juga ahli formasi, meskipun tidak setiap keturunan keluarga Ma menuruni bidang Formasi. Dan kebetulan Dong mewarisi keduanya, kultivator dan juga ahli formasi.
....
"Sayang..." Panggil Kai saat ia sudah sampai di luar Villa.
Ia terkejut saat melihat penampilan Dara yang acak-acakan dan juga terdapat luka. Ia langsung bergegas menuju Dara dengan tatapan khawatir.
"Kamu terluka Yang, ayo kita ke rumah sakit sekarang!" ucap Kai panik.
"Kai, tenang lah! Aku tidak apa-apa dan apa kamu lupa aku siapa?" ucap Dara tersenyum menenangkan Kai.
"Astaga, aku lupa kalau kau adalah dokter terbaik yang pernah ada. Tapi kenapa kamu membiarkan diri kamu terluka" ucap Kai lagi.
"Itu karena kamu terlalu panik. Ini hanya luka ringan, aku juga perlu mengganti pakaian. Nggak mungkin aku ganti di depan orang bukan" ucap Dara.m melirik ke arah Dong.
Kai yang baru menyadari jika di sana ada laki-laki yang terlihat seperti seorang pria paruh baya di sana. Namun ia terhenyak saat menyadari jika laki-laki paruh baya itu adalah Dong alias Mr.D.
Sontak saja Kai menarik Dara untuk berdiri di belakangnya. Sedangkan Dong melihat respon Kai hanya menggaruk belakang kepalanya canggung.
"Abang, dia Dong. Ternyata dia adalah salah seorang pengikut guru ku. Dia menyetujui mengawal Sanim, hanya untuk balas dendam putrinya yang di perkosa dan juga di jadikan bahan percobaan penelitian Virus. Ia ingin mengambil barang yang ada di Sanim sebagai imbalannya yang tak lain adalah barang berharga milik Dong dan setelahnya ia ingin membunuh Sanim.Tapi aku sudah menjelaskan padanya agar urusan Sanim akan menjadi urusanku dan kita sepakat tentang hal itu" ucap Dara
"Benar begitu?" ucap Kai melirik Dong
"Ya, tuan muda" ucap Dong.
Dong sedikit bingung mengapa Dara dekat dengan manusia biasa. Namun mengingat apa yang ia saksikan saat melawan Dara, ia menebak jika Kai dan Flo juga seorang kultivator.
Dia juga bingung pada dirinya sendiri, kenapa menatap mata Kai dirinya sangat segan. Seolah menatap seorang penguasa.
"Di mana Bajingan itu?" tanya Dara pada Kai
"Berkumpul bersama teman-temannya, kita akan bersenang-senang beberapa hari lagi nanti" ucap Kai.
Dara mengerti apa yang di maksud Kai, jadi ia hanya mengangguk. Keempatnya pun langsung bergegas ke hotel yang sudah di pesan oleh Kai.
....
Subuh tadi Dara dan Flo langsung kembali ke kota S menggunakan Teleportasi. Sedangkan Marco, Damian dan Rafael akan kembali siang ini ke ibukota menggunakan pesawat. Dong juga kembali ke negara V, aset perusahan milik Sanim akan di urus oleh Kai dan akan di alihkan ke atas nama Dong.
Masalah Sanim dan antek-anteknya akan Kai urus setelah ia pulang ke negaranya.
Kai sendiri masih berada di negara A untuk bertemu dengan adik sepupunya, Lingga. Keduanya akan membahas tentang keinginan Lingga untuk menjadi seorang kultivator.
Dara yang meminta Kai untuk membantu Lingga untuk melatih fisiknya terlebih dulu. Kai mengiyakan, meskipun ia sangat ingin pulang bersama dengan kekasihnya.
Namun ia menahannya dan mendahulukan urusan Lingga. Bagaimanapun Lingga adalah adiknya, jadi ia akan membantu sebisa yang ia mampu, agar kehidupan adik seperguruannya itu bahagia bersama cintanya.
....
Di Kota S, Dara langsung bergegas ke Prayoga Hospital. Ia langsung bekerja tanpa lelah, bagi seorang kultivator, tidak tidur tidak ada masalah. Dara masih terlihat segar tanpa ada guratan kelelahan sama sekali.
Di kota S saat ini sudah jam 7 malam, Dara bekerja shift malam sampai pagi menjelang nanti. Kebetulan UGD tidak ramai seperti biasanya. Jadi pekerjaannya tidak terlalu berat hari ini.
"Dokter Dara" panggil Nia menghampiri Dara.
"Iya Sus, ada apa?" ucap Dara menoleh ke arah Nka
"Tadi pagi Tuan Dean dan sekretarisnya ke sini Dok" bisik Nia
"Mau ngapain?" ucap Dara terkejut mendengar itu.
"Nyari dokter lah apalagi? Tapi tenang aja dok, aku langsung bilang kalau Dokter sekarang sedang libur dan kebetulan sedang jalan dengan Tunangan Dokter. Eh dia langsung pulang gitu aja, tampak 5L lemah letih lesu lemas lunglai gitu dok" ucap Nia terkekeh
"Waahh, kamu pinter sus. Nanti aku pesenin pizza super jumbo dan boba buat cemilan malam, sebagai ucapan terimakasih atas bantuannya" ucap Dara
"Waahhh rezeki anak Solehah ini mah. Lain kali aku bantu dokter lebih sering" ucap Nia ngereog menggelengkan kepalanya dan tangan bersorak-sorai sambil menahan tawanya.
Dara yang melihat teman di tempat kerja nya itu hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuan ajaib Nia.
...•••••••...