The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
346. Keluarga kecil Dara-Kai



Hai semua, maaf author hari ini update 1 BAB lagi😔, author baru balik jam 8 tadi, jadi belum sempet nulis jadi cuma keburu satu BAB buat update🙏


...•••••...


Di penthouse...


Kai baru saja pulang setelah bertugas di luar kota selama tiga hari, ia mempercepat waktu untuk menyelesaikan tugas itu. Ia bergegas pulang karena lusa adalah tanggal 4 dan ia sudah mengajukan cuti sampai seminggu.


Ia sengaja mempercepat menyelesaikan tugas nya, yang harusnya selesai besok. Agar ia bisa memiliki quality time bersama keluarga kecilnya, sebelum melakukan misi besar mereka.


Saat ia masuk ke penthouse, suasana di sana sepi, mungkin karena sekarang sudah pukul 8 malam. Kai pikir kemungkinan Dara ada di Star Mansion atau di Manor saat dirinya bertugas.


Namun ia tersenyum saat ia mendapati wanita yang paling ia cintai itu, tengah terlelap sembari memeluk putra sulungnya, di kamar sang putra.


Kai tidak menganggu waktu istirahat istrinya itu, ia kembali ke kamarnya dan bergegas membersihkan diri. Ia tidak ingin kuman yang ia bawa dari luar menempel ke istri dan anak-anaknya.


Hanya butuh 15 menit ia segera menyelesaikan mandinya itu, setelahnya ia memakai piyama tidur. Kai bergegas ke kamar sang putra yang tertidur lelap, ia mencium kening putranya dan mengucapkan selamat tidur. Lalu setelahnya secara perlahan ia menggendong sang istri menuju ke kamar mereka.


Dengan hati-hati Kai merebahkan Dara di tempat tidur mereka. Kai ikut berbaring di samping istrinya itu, ia mencium kening sang istri yang masih setia dengan tidur lelapnya.


Entah mengapa setelah Dara hamil, istrinya itu sering sekali mengantuk. Biasanya jika ada suara sekecil apapun Dara akan terusik dan terbangun, tapi sekarang ia sama sekali tidak terganggu saat Kai membawanya kembali ke kamar.


Mungkin karena bawaan triplet yang mempengaruhi Horman sang ibu, jadi saat ini Kai mengelus perut sang istri yang sudah mulai terlihat menyembul itu. Karena kandungannya sudah berusia 15 Minggu itu.


"Hay kesayangan-kesayangan ayah... Apa kabar? apa kalian merindukan ayah hmm? Maaf ayah meninggalkan kalian lama karena bertugas, ayah bekerja untuk kalian, bunda dan juga Abang Langit. Jadi kalian di dalam perut bunda jangan nakal, oke? Kalian yang sehat-sehat, jangan buat bunda susah dan jaga bunda kalian. Ayah, bunda dan Abang sayang banget sama kalian, kami tidak sabar menunggu kalian hadir di dunia" ucap Kai sembari mengelus perut istrinya itu dan menempelkan pipinya di sana, lalu menciumnya tiga kali.


Mengisyaratkan kalau ia mencium mereka satu persatu.


Kai kembali merebahkan tubuhnya di samping sang istri, ia kemudian membawa sang istri tidur ke dalam pelukannya.


"Terimakasih sudah menjadi wanita hebat untukku dan anak-anak sayang, aku selalu mencintaimu dan anak-anak kita. Aku merindukan kamu beberapa hari ini, aku sulit tidur di sana karena merindukan dirimu dan Abang setiap saat. Sekarang aku bisa tidur sambil memelukmu lagi" ucap Kai sembari mencium seluruh wajah Dara


Ia terkekeh karena Dara sedikit terusik namun tetap terdengar dengkuran halusnya.


"Astaga, kenapa kamu jadi kebo gini. Makin gemeeesss ih, pengen rasanya terkam sekarang tapi kamu udah pules gini tidurnya" ucap Kai lagi


"Cup... Selamat tidur istriku sayang" ucap Kai tidak ingin lebih lama menganggu tidur Dara.


Kai pun segera terlelap bersama sang istri yang berada di pelukannya itu.


....


Keesokan harinya, Dara bangun dan terkejut mendapati Kai tidur di sampingnya. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat sekeliling dan melihat sebuah foto pernikahan mereka yang begitu besar mengisi satu bagian tembok kamarnya. Itu adalah kamar mereka!


Dara memandangi wajah tampan sang suami penuh kekaguman, ia sangat merindukan Suaminya itu yang selama tiga hari ini tidak pulang karena bertugas.


Ia pikir suaminya akan pulang nanti malam, tapi pagi ini ia sudah melihat sang suami ada di sampingnya.


"Pandangan aku sepuasmu, aku tahu suamimu ini sangat tampan, sayang" ucap Kai dengan suara serak khas bangun tidur dan begitu deep, tanpa membuka matanya.


Kai menarik pelan istrinya masuk lebih dalam ke pelukannya dengan hati-hati, ia tidak ingin menyakiti triplet. Kai perlahan membuka matanya dan tersenyum manis di depan istrinya itu.


"Good morning my wife, my love, my everything" ucap Kai mencium lembut bibir Dara.


"Abang ih, baru bangun tidur" ucap Dara setelah ciuman beberapa detik itu terlepas.


"Ish, Abang nggak malu sama Langit panggil aku begitu" ucap Dara masih dengan tersipu.


"Ha-ha, kenapa malu? Kan di sini nggak ada Langit, aku merindukan mu sayang, sungguh" ucap Kai hendak mencium kembali Dara, namun kali ini Dara menolak dan duduk. Membuat Kai cemberut tidak senang.


"Sudah pagi, aku harus lihat Langit sudah bangun belum" ucap Dara spontan.


"Kan cuma cium sebentar sayang" ucap Kai merajuk.


"Iya cium sebentar, tapi setelahnya sejam aja nggak cukup Abang. Ini bukan waktunya sayang, sebentar lagi langit bangun loh... Lihat ini udah tegang aja seperti yang aku bilang, oups" ucap Dara sembari meremas aset kebanggaan sang suami, lalu melepasnya kaget saat menyadari tangannya itu reflek ke sana.


Membuat mata Kai membola dan menegang seketika, setelah tersadar Dara sudah bergegas bangun dan masuk ke kamar mandi lalu menguncinya. Kai berteriak karena merasa di jahili oleh sang istri.


"Hais, cepat sekali kaburnya. Sayang kamu nggak mau tanggung jawab ini? Bentar aja sayang ini udah memberontak!" teriak Kai. Terdengar suara tawa Dara di dalam sana membuat Kai tidak bisa berkata apa-apa.


"Sabar ya Jon, belum saatnya. Sabaaarr!!! Tidur lagi Jon! Jatahmu malam nanti sekarang sudah subuh. Ayo lakukan peregangan dulu biar lemas dan tidak kaku. Astaga ini bagaimana...!" ucap Kai bangun.


Tak lama Dara keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, ia menatap Kai yang duduk di atas ranjang yang menatapnya dengan tatapan sendu dan tidak nyaman. Karena si Jonny ular piton nya masih berdiri tegak menantang, tidak mau tidur.


"Masih bangun aja bang? Maaf ya abang, aku nggak sengaja dan nggak bermaksud..." ucap Dara merasa tidak enak karena menyiksa sang suami.


"Nggak apa-apa, aku ngerti kok, nanti juga ia tidur" ucap Kai mencoba tersenyum dan mengerti jika belum saatnya si ular piton itu masuk ke sarangnya.


"Maaf ya bang, nanti malam kita jenguk triplet bareng" ucap Dara mengelus pipi Kai. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena waktunya yang kurang tepat.


Kai tersenyum senang mendapat janji dari sang istri jika malam nanti mereka akan bergoyang dumang.


"Sekarang mandi gih! Aku mau lihat Langit udah bangun atau belum, terus buat sarapan. Abang mau sarapan apa?" tanya Dara.


"Apa aja, asal buatan kamu pasti aku makan, aku mandi dulu sayang" ucap Kai kemudian mencium singkat pipi istrinya itu kemudian bergegas ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Kai mencoba menenangkan Jonny yang masih mengamuk. Jadi Kai menyiramnya dengan air dingin agar berhenti ngambeknya, dan ia membutuhkan waktu lebih dari setengah jam di sana.


....


Sreeekk!!!


Dara membuka hordeng di penthouse, terlihat cahaya matahari pagi yang masih belum sepenuhnya muncul di ufuk timur. Selama beberapa detik Dara menikmati pemandangan indah di depan mata, dengan semburat warna jingga yang hampir muncul kepermukaan.


Ini yang membuat Dara dan Kai memilih tinggal di penthouse. Selain tenang karena hanya ia dan keluarga kecilnya yang ada di sana, pemandangannya juga sangat indah dan memanjakan mata. Seperti menyaksikan matahari terbit dan tenggelam, ia bisa menikmati itu.




Penthouse milik Kai merupakan penthouse termewah dengan tiga lantai, Kai menghabiskan lebih dari 150 ribu US Dollar untuk membeli penthouse dan juga semua furniture lengkap di dalamnya.


....


Sebelum membuat sarapan, Dara mengecek Putra sulungnya sudah bangun atau belum. Sampai sana ia terkejut melihat Abang Langit sudah bangun dan duduk dengan tenang di atas tempat tidur, sembari memainkan rubik di tangannya.


Dara tersenyum tenang melihat putranya sangat pintar, tidak menangis saat bangun dan tidak beranjak dari tempat tidur karena takut jatuh. Justru Abang Langit seperti menunggu bundanya datang, ia langsung tersenyum dan mengangkat tangannya saat melihat bundanya itu.


...•••••••...