The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
152. Mencari mati



Aku tidak pernah tahu kalau Kakakku memiliki teman wanita! Nona, kau harus sadar posisimu, jangan terlalu banyak menghayal, meskipun kamu adalah sepupu Alice, kau tidak pantas memanggil nama kakakku semaumu!" ucap Ajeng tidak basa basi dan langsung tepat mengena ke hati Ivone.


Mendengar itu Ivone mengepalkan tangannya karena sudah di sindir secara langsung. Tapi ia tidak berani marah pada adik sepupu dari pria yang ia sukai itu.


"Tapi aku be..." ucap Ivone


"Katakan saja, apa yang ingin kamu katakan tentang Dara?" tanya Sarah


Sarah sama pekanya dengan sang putri, Ia juga tidak ingin basa-basi dengan perempuan yang sangat terlihat ingin membangun image baik di depannya dan juga Keluarganya. Sudah di pastikan perempuan macam ini adalah wanita munafik.


"Ada apa dengan Dara?" ucapan dingin Datar dan berat menggema di sana.


Terlihat Kai, Dierja dan Tirta berjalan ke ruang tamu saat mendengar ada seseorang yang membicarakan tentang gadis-nya.


Melihat Kai datang Ivone tidak bisa menutupi wajah penuh pemujaan itu. Ajeng yang melihat itu pun berdecih sinis.


"Jelaskan sekarang! Kami tidak memiliki banyak waktu!" ucap Ajeng


"Aku melihat Dara bukan wanita baik-baik, di belakang Kai dia bermain dengan banyak laki-laki" ucap Ivone dengan tenang dan percaya diri


"Kurang ajar!!!" teriak Kai dengan amarah yang mengobar.


Melihat Kai marah, Ivone sangat senang dalam hatinya. Ia berpikir Kai marah karena tahu Dara bermain api di belakangnya.


"Dia bukan wanita yang baik buat kamu Kai, lebih baik kamu tinggalkan saja wanita jal*ng macam dia yang jual murah!" ucap Ivone mengompori.


"Diam! Siapa kamu berani memfitnah kakak iparku?" ucap Ajeng dengan marah.


Bukan hanya dia tapi Kai dan yang lain juga sangat marah dengan Ivone. Bahkan Kai sudah ingin sekali membunuh wanita prik di depannya yang berani memfitnah sang kekasih. Namun di tahan oleh Dierja dan Tirta.


"Aku tidak berbohong, aku punya buktinya!" ucap Ivone


"Omong kosong!" ucap Ajeng tetap tidak percaya


"Aku tidak bohong, ini buktinya!" ucap Ajeng memberikan ponselnya pada Hesti


Hesti mengambil HP itu dan melihat Foto dan beberapa Video yang memperlihatkan Dara bersama dengan beberapa laki-laki di sana dan sangat akrab. Bahkan Laki-laki di sampingnya sangat perhatian pada Dara.


"Bukankah ini Revan anak Adnan?" ucap Sarah yang mengenali Revan.


"Kai lihat ini. Kau kenal kan?" ucap Sarah menyodorkan HP milik Ivone itu.


Ivone tersenyum merasa dirinya pasti di puja setelah ini, karena ia berhasil membongkar wajah asli Dara.


"Revan, Jeff, Bara, cucu kakek Gusti. Flo tangan kanan Dara dan Alan adik angkat Dara" ucap Kai.


TAKKK!!!!


Ponsel itu hancur di tangan Kai drnga meremasnya. Membuat orang di sana terkejut termasuk Ivone.


PLAK!!!!


Tamparan keras itu sukses mengenai Ivone. Ivone membelakkan matanya terkejut dan merasakan sakit mendapatkan tamparan yang di layangkan Hesti itu.


Belum tersadar dari kesalahannya, Hesti memanggil security.


"Security!!!!! Lempar ular ini ke luar!!! Berani sekali dia memfitnah menantuku!!! Sarah, Kau tahu apa yang harus di lakukan bukan?" ucap Hesti dengan amarah berkobar.


"Tentu kakak ipar, aku pastikan beres" ucap Sarah menyeringai dalam kemarahan nya.


"Tidak!!! lepaskan aku!!! Kai!! tolong!!" teriak Ivone saat di rinya di seret oleh beberapa security.


"Jangan panggil nama kakakku dengan mulut kotormu, Bi*ch! Siap-siap kau mendapatkan hadiah karena ulahmu!" ucap Ajeng.


"Tidak!... lepaskan! aku tidak salah!" teriak Ivone.


Sedangkan Kai langsung pergi ke kamarnya di Manor itu untuk menenangkan diri karena amarah yang meluap. Hesti berusaha menenangkan putranya dan mengatakan jika ia yang akan mengambil tindakan dan ia pastikan Ivone tidak bisa lagi muncul di depan Kai dan keluarga Narendra.


....


Dara yang sudah pulang dari acara rapat wali murid di Teranish School, kini tengah duduk di sofa tamu, dan Flo dengan sigap menawarkan untuk memijat nonanya yang terlihat lelah.


Sedangkan Alan tengah ke kamarnya karena ingin meluruskan pinggangnya sejenak.


Rapat itu hanya membahas tentang perkemahan yang akan mengikut sertakan semua siswa-siswi kelas satu dan beberapa murid senior.


Tentunya perkemahan itu berbayar, namun Dara tidak mempermasalahkan soal uang. Yang terpenting adalah ia mengetahui jika kegiatan itu bermanfaat untuk adik-adiknya.


Ting!


Dara mendapat pesan dari Ferdi yang mengatakan akan sampai di star Mansion sebentar lagi untuk memberikan dokumen yang harus dia tanda tangani.


Setelah beberapa saat, Ferdi datang dan mereka bertiga langsung menuju ruang kerja. Dara langsung mengecek semua laporan itu dengan teliti.


Memang Ferdi adalah tangan kanannya yang sangat kompeten, ia nyaris sama sekali tidak memiliki kesalahan dengan pekerjaannya.


"Ah, ini mengenai undangan acara stasiun TV dan juga Xing Corporation" ucap Ferdi


Dara yang mendengar itu hanya mengangkat sebelah alisnya. Perasaan Lucas sudah memberi tahu dirinya tentang ini? Dan ia juga sudah meminta Theo untuk memeriksa tentang Perusahaan dari negara C itu.


"Ada apa?" tanya Dara


"Mungkin anda sudah mendengarnya dari Lucas jika anda di undang oleh pemilik stasiun televisi itu" ucap Ferdi


"Ya, aku akan memikirkannya apakah akan datang atau tidak" ucap Dara yang di angguki mengerti oleh Ferdi.


"Mengenai Xing Corporation, Perwakilan dari perusahaan itu ingin bertemu dengan Anda nona" ucap Ferdi


Dara mengeryitkan dahinya, ia bingung kenapa perusahaan itu sangat ingin sekali mengakuisisi Perusahaan entertainment miliknya.


Melihat nonanya tidak merespon Ferdi kemudian menambahkan ucapannya lagi.


"Theo sudah selesai mencari tahu tentang Perusahaan itu nona. Dan semua datanya ada di sini" ucap Ferdi menyerahkan sebuah flashdisk pada Dara.


"Ah, Theo cukup cepat juga mendapatkannya. Sampaikan terimakasih ku pada Theo. Dan untuk pertemuan aku akan memikirkannya nanti" ucap Dara


"Baik" ucap Ferdi


"Ada apa Ferdi?" tanya Dara melihat ada sesuatu yang ingin di sampaikan pada dirinya.


"Nona, apa saya boleh belajar sesuatu dari anda? Sa-saya juga ingin belajar bela diri lebih dalam dan menjaga anda di masa depan, sama seperti Flo" ucap Ferdi.


Mendengar itu Dara dan Flo terkejut, Dara menghela nafas. Ia tahu jika Ferdi selama beberapa bulan ini selalu berlatih fisik dengan rajin dan berusaha untuk membuat dirinya masuk kriteria agar Dara mengajarinya beladiri.


Ferdi sangat mengagumi dan mengidolakan Nonanya itu, bahkan ia rela menjadi budak untuknya dan akan mengabdikan dirinya seumur hidup.


Dara berfikir keras, ia juga berfikir untuk menjadikan Ferdi salah satu kultivator dan tangan kanan yang handal seperti Flo. Apalagi mengetahui di dunia ini masih ada kultivator lain dan juga kultivator hitam yang jahat.


Bagaimana pun ia harus melindungi seluruh keluarganya, jadi ia butuh tenaga ekstra untuk melindungi keluarganya. Hanya untuk antisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Baiklah" ucap Dara mengambil keputusan, membuat Ferdi mendongak dengan binar mata yang penuh harap dengan ucapan Nonanya itu.


"Tapi aku tidak bisa mengajarimu sendiri. Latih dulu fisikmu selama seminggu dengan Flo. Baru akan masuk ke tahap selanjutnya" ucap Dara


"Baik!" ucap Ferdi dengan antusias yang luar biasa, ia lebih dari bahagia saat mendengarnya.


"Flo, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" ucap Dara


"Tahu nona" ucap Flo.


Selama mengikuti Nonanya apalagi juga belajar tentang Kultivasi. Sedikitnya Flo mengasah kemampuannya agar peka terhadap sesuatu, jadi ia mengerti jalan pikiran Dara dan apa yang Nonanya inginkan.


....


Keesokan harinya Dara sudah siap dengan Dress motif berwarna biru muda. Ia menunggu Kai menjemputnya untuk ke kediaman keluarga Narendra.


Kemarin Kai memberitahu dirinya, jika Hesti ingin bertemu dengannya. Jadi sebentar lagi Kai akan menjemputnya untuk kesana.


Dara dengan segala yang melekat di tubuhnya membuat siapapun yang melihatnya terpesona.


Lihatlah, Kai yang baru sampai di star mansion di buat terpesona, meskipun baru kemarin ia bertemu dengan kekasihnya itu.


"Kamu sangat cantik" ucap Kai


"Terimakasih Abang ganteng" ucap Dara terkekeh mendengar pujian Kai, jadi ia tidak sungkan memuji balik.


"Aku jadi ragu ajak kamu ke manor" ucap Kai tiba-tiba


"Lah kenapa?" tanya Dara heran dengan ucapan Kai yang tiba-tiba tahu mengajaknya ke Manor.


"Aku takut mama sabotase dan memonopoli kamu lagi, bahkan aku sulit untuk berdekatan dengan kamu dan harus jaga jarak nanti. Aku berasa kena Tikung sama mama sendiri" ucap Kai.


Yang sukses membuat Dara, Flo dan Alan yang kebetulan ada di sana tertawa mendengarnya.


"Ha-ha-ha masa kamu cemburu dengan mama kamu sendiri" ucap Dara tertawa dan tidak menyangka Kai berpikir demikian.


"Ya, kamu benar aku cemburu. Untung saja ia mamaku" ucap Kai dengan raut wajah pasrahnya.


Dara hanya tertawa melihat raut wajah pasrah kekasihnya itu. Sungguh ia tidak menyadari jika kekasih dinginnya bisa sangat menggemaskan seperti ini.


"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Dara


"Hmm, ayo" ucap Kai menggandeng tangan Dara.


Dara juga tidak lupa memberi tahu Flo agar tidak usah ikut, dan memiliki tugas untuk melatih fisik Ferdi. Dara juga memperingatkan Flo agar mengontrol kekuatannya saat melatih Ferdi.


...•••••••...