The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
262.



Sepeninggal Dara, Richie dan Alex pun langsung pamit untuk pergi. Segala jenis administrasi rumah sakit sudah di selesaikan oleh Alex.


Richie memiliki jadwal makan siang bersama dengan pejabat tinggi. Jadi ia harus berangkat sekarang jangan sampai telat di tempat pertemuan.


Sepanjang perjalanan, Richie hanya diam sembari menatap ke luar jendela. Ia selalu terbayang wajah cantik Dara yang bertemu dengannya tadi.


Sungguh kecantikan yang mematikan!


"Tuan muda apa anda tengah memikirkan Dokter Dara ya?" tebak Alex tepat sasaran.


Richie yang di tanya hanya diam saja tidak ingin menjawab, karena itu sudah jelas bisa di tebak. Siapa orangnya yang tidak teringat wajah cantik yang sangat luar biasa menakjubkan itu.


"Kebajikan apa yang di lakukan putra pertama mendapatkan wanita yang sangat luar biasa?" ucap Richie masih menerawang ke arah jalan.


Alex paham apa yang di maksud Richie yang tak lain menyinggung tentang keberuntungan yang di miliki Kai, yang bisa memiliki Dara sebagai pasangan nya. Sungguh anugerah yang terindah.


"Saya tidak tahu kebajikan apa yang di perbuat oleh tuan muda pertama Narendra, hanya saja saya menyayangkan apa yang terjadi hari ini. Kenapa kalian begitu terlambat untuk bertemu, andai saja kalian lebih cepat bertemu. Padahal saya merasa kalian berdua sangat cocok. Tapi sayangnya Tuhan memiliki takdir yang sudah ia gariskan, tanpa kita semua ketahui. Dan Garis takdir Dokter Dara adalah bersama Tuan muda pertama Narendra" ucap Alex


"Kau benar. Setelah ini kamu coba selidiki semua tentang Dokter Dara! Laporkan padaku segera" ucap Richie.


"Tuan muda, anda tidak bermaksud mendekati Dokter Dara kan? Meskipun saya harus akui jika Dokter Dara sangat cantik, dan gadis tercantik yang pernah saya lihat. Namun ia sudah memiliki tunangan dan tunangannya bukan orang sembarangan, bahkan satu level dengan anda tuan muda" ucap Alex memperingati.


"Aku tidak sebodoh itu Alex! Aku tahu itu semua, aku akui memang aku tertarik pada Dokter Dara. Tapi aku juga memiliki harga diri yang tinggi, tidak mungkin aku merebut pasangan pria lain. Itu bukan gayaku, kau tahu? Tapi aku tetap ingin mengetahui tentang Dokter Dara, aku pikir dia tidak sesederhana itu. Jiwa bisnis ku merasakan jika Dokter Dara juga sangat mungkin ahli dalam bidang bisnis" ucap Richie.


"Ah seperti itu, maaf saya telah berburuk sangka tuan" ucap Alex merasa tidak enak.


"Tidak masalah, itu wajar karena sosok Dokter Dara memang sangat luar biasa. Dan itu bisa menyebabkan orang berpikir secara spontan dan bodoh seperti kamu!" ucap Richie yang datar namun menusuk.


....


Di bandara Kota S.


Dara sampai dengan cepat, ia kemudian menunggu Kai di pintu kedatangan internasional.


Hari ini Kai berkunjung ke kota S demi dirinya, jadi Dara sudah sampai bandara 10 menit sebelum jadwal kedatangan pesawat yang di tumpangi Kai. Agar tidak telat menjemput pujaan hati.


Saat sedang menunggu kedatangan Kai, tidak menyangka Dara di kejutkan dengan adanya Dean di sana. Ternyata Dean juga tengah menjemput adik sepupu perempuannya yang juga pulang dari Negara A.


"Dokter Dara!" panggil Dean dengan berbinar saat melihat Dara juga berada di bandara.


Dara menoleh, ia menghembuskan nafasnya melihat Dean. Namun demi sopan santun ia mengangguk ke arahnya.


"Dokter, aku tidak menyangka jika bisa bertemu dengan anda di sini. Anda mau kemana? Atau ingin menjemput seseorang?" tanya Dean dengan antusias.


"Itu, bisa lihatkan?" ucap Dara menunjuk ke papan yang bertuliskan Kedatangan Internasional.


Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa malu karena begitu bodoh menanyakan hal yang sudah jelas pada Dara.


"Kakak!!!" teriak seorang gadis muda yang mungkin setahun lebih muda dari Dara. Gadis itu terlihat berjalan menghampiri mereka, lebih tepatnya Dean.


"Wow, ini siapa kak? Pacarmu? Cantik sekali" ucap gadis yang bernama Melani menatap terpesona ke arah Dara.


"Hai kenalin aku Melani, adik sepupu kak Dean. Terimakasih kakak cantik sudah menemani kak Dean buat menjemputku, kak" ucap Melani tersenyum lebar.


"Kamu salah paham" ucap Dara


"Eh... Gimana?" tanya Melani bingung dengan ucapan Daa yang tidak ia mengerti.


Salah paham gimana maksudnya?


"Sayang, kok kamu di sini. Kau cariin kamu tadi" ucap Kai yang baru saja datang menghampiri Dara. Ia langsung memeluk dan mengecup kening Dara di depan Dean dan Melani.


Meskipun baru datang, namun Kai mendengar dari kejauhan tentang apa yang ketiganya bicarakan, itu sebabnya ia berjalan dengan cepat untuk menghampiri Dara dan memeluk pinggang dan mengecup keningnya, untuk menyatakan kedaulatan.


Melani pun bengong melihat ketampanan yang rupawan bak dewa Yunani, keluar dari lukisan ada di depannya. Yang lebih terkwjut lagi saat ia melihat adegan Dara yang di peluk oleh laki-laki itu.


Bukankah Gadis ini pacar kakaknya? Kenapa cowok tampan ini memeluk calon iparku? Begitu yang ia pikirkan.


Dara mengerti apa yang ada di pikiran Melani, karena ia tidak ingin ada kesalah pahaman yang berlarut-larut, ia ekutuskan untuk meluruskannya.


"Kamu salah paham, tuan Dean adalah salah satu pasienku di rumah sakit. Dan ini tunanganku Kaisar. Dan kamu salah paham lagi, aku datang tidak bersama dengan tuan Dean, tapi aku datang sendiri dan ingin menjemput calon suamiku yang baru tiba dari negara A" ucap Dara sembari tersenyum


KRAK!!!


Hati Dean terasa di potek sangat keras tanpa perasaan, rasanya begitu menyakitkan tapi tidak berdarah. Ingin sekali Dean marah tapi ia hanya Flat Shoes, dia tidak memiliki Hak. Mau menangis tapi ia malu karena ia laki-laki. Jadi ia hanya bisa diam menatap sendu ke arah Dara Dan Kai yang memamerkan kemesraan di depannya.


Cinta pertamanya luluh lantak seketika, ia baru pertama kali jatuh cinta, namun pertamakali pula ia patah hati.


"Kalau begitu kami duluan, permisi" ucap Dara lagi menggandeng Kai pergi dari sana.


Dean menatap Dara sampai dara sudah tidak terlihat karena terhalang oleh orang-orang yang berlalu lalang.


"Kak, are you oke?" tanya Melani menatap kakak sepupunya itu dengan iba.


"Hmm..." ucap Dean hanya berdeham lalu berbalik pergi.


Melani pun menatap sejenak punggung kakaknya itu lalu mengikutinya dari belakang. Ia tahu jika sepupunya itu tertarik dengan Dara, tapi sayangnya Dara sudah memiliki pasangan dan terlihat sekali keduanya cocok dan saling mencintai.


Ia ikut sedih dengan nasib kakak sepupunya itu.


....


Di mobil Dara, Kai mengambil alih untuk menyetir dan mengarahkan mobil itu menuju apartemennya. Ia melakukannya dengan pelan dan hati-hati. Di sepanjang perjalanan, Dara menyenderkan kepalanya di bahu kekar Kai.


Kai tentu dengan senang hati menerimanya, ia sangat senang menjadi sandaran untuk gadis yang ia cintai itu. Ia pun sesekali mengelus kepala Dara dan mencium keningnya saat di lampu merah.


"Apa kamu lapar? Mau makan?" tanya Kai menoleh ke arah Dara sejenak.


"Kalau begitu ayo kesana" ucap Kai membelokkan mobilnya ke area restoran dan memarkirkan mobil milik Revan itu di area parkir Restoran.


Keduanya kemudian turun dari mobil dan berjalan sembari bergandengan tangan, sepanjang jalan keduanya menjadi pusat perhatian. Keduanya terlihat sangat cocok satu sama lain, hal itu membuat orang lain yang melihat mereka merasa kagum sekaligus iri melihat keuwuan mereka.


"Mau makan apa Yang?" tanya Kai dengan lembut


"Samain aja kaya kamu, aku mau kamu yang pilihin" ucap Dara.


Kai tersenyum lalu memesan dua menu yang sama dengannya. Setelah pelayan pergi, keduanya melepas rindu dengan bercanda dan saling bercerita. Sampai makanan pun datang lalu keduanya makan bersama dengan di iringi candaan ringan.


Sesampainya di apartemen, Kai dengan erat tidak ingin melepaskan pelukannya sedetik pun. Ia merasa nyaman memeluk Dara yang sudah sangat ia rindukan itu. begitu pun sebaliknya.


Dara menerimanya dengan senang hati dan memeluk balik.


Kai sungguh merindukan aroma tubuh Dara yang memabukkan itu, padahal mereka hanya beberapa hari saja tidak bertemu.


"Bagaimana dengan Lingga?" tanya Dara sembari mengelus kepala Kai yang kini tengah berbaring di pahanya sambil duduk di sofa tamu.


"Dia sudah sangat yakin dan bertekad untuk menjadi kultivator. Tapi aku menyarankan untuk ia berlatih secara mandiri terlebih dulu dengan apa yang aku ajarkan kemarin di sana. Aku juga bilang kalau ia harus fokus menyelesaikan kuliahnya dulu di banding latihan. Karena tidak akan selesai jika keduanya di lakukan secara bersamaan. Apalagi Lingga baru di dunia Beladiri dan akan kesulitan membagi waktunya. Tidak merasakan sakit dari latihan saja itu sudah bagus, tapi bagaimana jika sampai ia ngedrop. Itu daerah orang, aku tidak ingin ia mengambil resiko sampai dia kenapa-kenapa" ucap Kai.


"Kamu benar, aku setuju dengan apa yang kamu bilang. Lingga harus fokus menyelesaikan kuliahnya dulu. belajar beladiri itu bisa kapan saja" ucap Dara.


"Aku merindukanmu yang" ucap Kai


"Aku tahu, aku juga sama rindunya" ucap Dara mengecup bibir Kai singkat.


"Bentar banget Yang, yang lama dong Yang" Rajuk Kai membuat Dara terkekeh.


"Nanti aja, ada yang ingin aku tanyakan Abang sayang" ucap Dara mencubit pipi Kai gas melihat tingkah manja Kai


"Emang mau nanya apa Yang?" tanya Kai


"Tentang tiga cecunguk itu. Bagaimana dengan para bajingan dan komplotannya?" tanya Dara ingin tahu perkembangannya.


"Tiga bajingan masih ada di cincin ruang, jadi tidak perlu takut kabur. Kalau komplotannya juga sudah di tangkap oleh tim Falcon dan berada di ruangan markas khusus tim Falcon. Hanya tinggal Harun saja, si tikus militer itu masih aku biarkan dan merasa aman dulu, sebelum Hap! Aku tangkap!" ucap Kai


"Kaya lagu anak-anak saja, Hap! Lalu di tangkap!" ucap Dara sembari bernada kemudian terkekeh


Kai hanya tersenyum melihat Dara tertawa, rasanya dunianya begitu sempurna melihat tawa Dara.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Dara lagi


"Kemungkinan lusa aku kembali ke ibukota. Aku akan menyelesaikan urusan tentang kasus ini dan menangkap Harun" ucap Kai


"Apa kamu udah bilang ini ke papa?" tanya Dara


"Sudah, dan Papa bilang aku bebas melakukan apapun. Selagi itu adalah tindakan yang benar dan juga tidak melenceng dari nama keadilan" ucap Kai


"Kalau begitu aku juga akan ke ibukota lusa nanti. Tapi aku hanya sebentar, itu pun aku kesana menggunakan teleportasi agar cepat sampai dan aku memilih kesana setelah jam pulang kerja selesai, bagaimana?" tanya Dara.


"Apapun yang kamu mau, aku tidak masalah. Aku akan menunggu kamu sebelum melakukan sesuatu pada para bajingan itu" ucap Kai.


"Aaahhh, kamu memang terbaik Abang Kai sayang" ucap Dara mengecup pipi Kai


Kai langsung duduk menatap Dara. Sungguh rasa rindunya sangat besar, meskipun beberapa hari lalu ia bertemu dengan calon istrinya itu.


Tak menunggu lama, Kai langsung menyerang Dara. Ia mencium bibir Dara sangat lama dan dalam.


....


Di ibukota, tepatnya di sebuah perumahan mewah di distrik dua, di mana Harun tinggal. Ia merasa gelisah karena ketiga rekannya yang berada di luar negeri tidak bisa ia hubungi sama sekali.


Ia takut semuanya terbongkar dan semuanya tahu jika ia adalah pengkhianat negara yang berkoalisi bersama orang-orang luar negeri untuk menyerang bangsanya sendiri.


Tentu jika ketahuan ia akan di hukum secara berat, selain hukum negara juga secara militer.


"Haruskah aku menelepon Megan dan memintanya untuk membujuk Kaisar?" Gumam Harun.


Ya Harun adalah paman dari Megan, dari pihak ibu. Harun dan Galuh adalah teman masa kecil, begitu juga dengan Kai juga Megan.


Itu juga yang membuatnya tahu jika Kai adalah komandan Di pasukan khusus Falcon. Selain karena ia juga seorang petinggi militer, ia juga dekat dengan keluarga Narendra.


Harun berpikir jika Megan memiliki hubungan dengan Kai, karena keduanya terlihat dekat dalam beberapa kali pertemuan.


Sayangnya perkiraannya itu salah besar. Megan memang selalu menempel padanya seperti cicak, hanya saja Kai selalu menghindar dan tidak ingin bersentuhan dengan Megan.


"Si*lan, kenapa semuanya tidak ada yang aktif. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kai sudah berhasil membongkar semuanya dan mengetahui jika aku salah satunya?" ucap Harun gelisah, ia mondar mandir seperti setrika.


"Tidak! Tidak! Pasti Kai tidak tahu, Karena sampai saat ini tidak ada yang menangkap ku. Kalaupun Kai berhasil mendapatkan Chip itu, belum tentu Kai bisa membukanya. Lagian itu di buat dengan keamanan yang tinggi dan sulit di tembus" monolog Harun.


"Aku juga tidak melihat adanya pergerakan di tim Falcon, mereka terlihat santai karena keamanan di perbatasan sudah tidak ada masalah" ucap Harun


"Ah, sepertinya aku terlalu khawatir karena Kai berhasil mengambil barang itu dan menghilangnya tiga rekanku tiba-tiba membuatku gelisah. Bisa saja mereka sedang liburan atau mengurus sesuatu dan tidak melibatkan aku" Gumam Harun.


"Si*l, aku jadi pusing sendiri. Lebih baik aku tidur saja, aku terlalu stres dan berpikir yang tidak-tidak. Aku yakin tidak akan terjadi masalah, apalagi mereka tidak menemukan bukti apapun tentang aku, jadi aku harus tenang. Lebih baik aku tidur saja" ucap Harun.


Ia pun beranjak untuk kembali ke kamar dan ikut berbaring bersama sang istri. Harun tidak menyadari jika sejak tadi ia sudah di awasi oleh seseorang.


I


Seseorang itu tak lain adalah anggota GOD yang di tugaskan oleh Kai untuk memantau segala gerak gerik Harun. Dan melaporkan semuanya pada Kai tanpa ada yang di tutupi atau di tambahkan.


...•••••••...