The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
86. Penyerangan



Sudah beberapa hari berlalu, Dara makin pusing melihat hadiah di atas mejanya makin menggunung. Hanya satu hal yang di pikiran Dara, itu adalah hadiah dari para penggemarnya yang sudah tahu wajah aslinya.


Karena ia juga mendapatkan beberapa pucuk surat cinta di sana. Namun siapa-siapa nya Dara tidak tahu, karena tidak ada namanya


Seperti biasa Dara membagikan semua hadiah itu untuk teman-teman sekelasnya. Sedangkan ia tidak mengambil satupun dari hadiah-hadiah itu.


Untungnya Daffa tidak masuk karena ada acara di keluarganya, jadi tidak ada yang mengoceh tentang hadiah yang bertumpuk itu.


Dara mengecek ponselnya, sudah hampir seminggu Kai pergi bertugas. Tapi ia belum juga menyelesaikan tugasnya. Meskipun sibuk dengan tugasnya, Kai menyempatkan diri memberi kabar padanya. Tentunya saat ia memiliki sedikit waktu dan itupun kalau mendapatkan sinyal.


Karena tugas kali ini sedikit berbahaya dan di area perbatasan negara, sinyal di sana sulit di jangkau. Dan saat bertugas Kai dan tim selalu mematikan semua peralatan elektronik dan akan mengaktifkannya saat keadaan aman. Maka dari itu dalam seminggu ini, Kai hanya memberi kabar dua kali saja.


Seorang asisten dosen datang setelah beberapa saat kemudian, untuk mengajar menggantikan Sugeng yang mendapat panggilan untuk bekerja di rumah sakit karena kondisi darurat.


Setelah menyelesaikan kelas, Dara yang merasa haus ingin beranjak ke arah kantin. Di tengah jalan ia bertemu dengan Rainer dan Raffi.


"Hai Ra!" sapa keduanya.


"Hmm..." ucap Dara singkat lalu beranjak pergi.


Rainer tidak pantang menyerah, ia mengikuti Dara dan berjalan di sampingnya.


"Mau ke kantin Ra? Aku traktir makan ya? Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih karena kamu udah selametin aku saat itu" ucap Rainer dengan lembut.


"Tidak perlu!" ucap Dara langsung menolak.


"Ayolah Ra, kali ini aja ya!!" bujuk Rainer.


"Daraaa!!!!" panggil seseorang dengan kencang dan berjalan menghampiri Dara bersama dengan tiga orang lain di belakangnya.


Orang itu tidak lain adalah Celine dan Samuel juga dua orang teman mereka yang lain. Dara menoleh ke arah mereka, Samuel yang melihat Rainer mendekati Dara. Ia langsung mengambil langkah dan bertanya pada gadis pujaannya itu.


"Kamu tumben ke kantin Ra? Bareng kita aja yuk! Duduk di sana" ucap Samuel menunjuk salah satu bangku bagian ujung.


Rainer, Raffi dan yang lainnya terkejut saat melihat Samuel yang dingin dan datar, berinisiatif mengajak Dara.


"Hei, bung. Kau datang belakangan, jangan main nyerobot aja ya. Aku duluan yang ngajak Dara ke kantin" ucap Rainer tidak mau kalah.


Perdebatan mereka pun pecah dan terus berlanjut, membuat semua orang yang ada di sana melihat ke arah mereka. Dara tiba-tiba menyesal pergi ke kantin. Hanya karena ia haus, bukannya lega minum air dingin malah kepala dia makin panas.


"Stop!!!" ucap Dara menghentikan mereka yang berdebat.


"Kalau mau berdebat jangan di tengah jalan. Ngalangin orang mau lewat! Udah gede ribut terus, nggak malu apa" ucap Dara kesal, ia pun beranjak dari sana.


"Mau kemana Ra?" tanya mereka kompak


"Pulang! Males lihat kalian semua!" ucap Dara lalu pergi dari sana.


"Ini semua gara-gara kamu!" ucap Rainer marah


"Si*lan, ini karena kamu!!" teriak Samuel. Seisi kantin Heboh karena kedua prince kampusnya sekarang gelut karena seorang Dara.


.....


Saat perjalanan pulang, teleponnya berdering. Dara menepikan motornya dan mengambil ponselnya yang ada di saku, ia melihat di layar nama 'Mama Ellena'. Jadi di ia langsung membuka helm dan mengangkat teleponnya itu.


"Hallo mah" ucap Dara


"Hallo sayang, apa mama ganggu kamu?" tanya Ellena.


"Nggak mah, kenapa mah? Semuanya sehat kan di sana?" tanya Dara


"Semuanya sehat kok, sayang kamu jadi ke sini akhir pekan? Kakak-kakak kamu semuanya ada di rumah, kan enak biar bisa kumpul semua jadi rameh" tanya Ellena


"Jadi kok mah, tapi nanti nunggu Alan pulang dulu dari akademi" ucap Dara


"Oke kabari mama ya, nanti mama jemput kalian di bandara" ucap Ellena


"Iya mah" jawab Dara


"Sayang kok berisik banget, kamu ada di mana?" tanya Ellena mendengar bising suara kendaraan lalu-lalang.


"Oalah, ya sudah mamah matiin dulu teleponnya kalau gitu. Hati-hati di jalan nak" ucap Ellena


"Ia mah, daahh" ucap Dara mematikan teleponnya.


Dara memasukan ponselnya lagi ke saku jaket dan memakai kembali helmnya lalu melaju ke mansion. Ia merasa hangat mendengar perhatian Ellena, ia seperti mempunyai seorang ibu lagi.


Saat mengendarai motornya, di tengah jalan ia mendapati seseorang wanita berlari dengan cepat dan di kejar 4 orang pria yang sama cepatnya, menuju ke arah gang sempit.


Melihat itu Dara langsung mengarahkan motornya menuju ke sana untuk melihat apa yang terjadi.


BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!


Suara orang saling memukul masuk ke telinga Dara, dara segera memarkirkan motornya dan berlari ke arah mereka tanpa suara. Ia berhenti di jarak cukup aman dan melihat dengan jelas apa yang terjadi.


Wanita yang memakai penutup sebelah wajah bagian kirinya, bisa di lihat dari bekas luka bakar yang terlihat di pipi yang tidak tertutup. Ia di keroyok oleh empat pria yang menggunakan penutup wajah itu.


Bisa di lihat wanita itu memiliki keterampilan bertarung sangat baik, namun empat orang lainnya juga memiliki keterampilan sangat baik.


Itu pertarungan yang sangat jompang sekali dan tidak adil. Bagaimana mungkin empat orang pria mengeroyok seorang perempuan, apa mereka tidak malu.


"Huuukkkkk" Wanita itu terkena pukulan dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Ternyata wanita itu terkena racun! Jika wanita itu masih mengeluarkan kekuatan besar untuk melawan keempat pria itu dengan kondisi ia di racuni, jelas ia memiliki kekuatan yang lebih besar saat ia dalam kondisi sehat.


Dara bisa mengetahui jika level wanita itu jauh di atas empat orang yang melawannya. Kalau tidak, mana mungkin mereka meracuni seorang wanita hanya untuk melumpuhkannya.


"Menyerah saja kau jal*ng!!! Kembalilah dengan kami, maka kamu akan menerima banyak kemewahan di masa depan. Kalau tidak kau akan mati perlahan, karena hanya ketua yang memiliki penawar racun itu! Bahkan dunia medis terhebat pun tidak bisa menyembuhkanmu!" ucap salah satu pria itu terkekeh.


"Cih!, meskipun aku mati, aku tidak ingin bergabung kembali dengan organisasi kalian yang jahat itu! Bunuh saja aku!" teriak Wanita itu meskipun kondisinya lemah.


"Dasar ****** tidak tahu diri! Aku pikir ketua tidak akan menyalahkanku jika aku membunuhmu, karena kamu sudah keras kepala!" teriak salah satu pria itu mengarahkan pisaunya ke arah wanita itu.


TAK!!!


Jleb!!!


"Aaaarrrgghhhhhhh....." teriak pria itu saat mendapati pisau itu patah dan ujungnya mengarah padanya dan menancap di salah satu mata pria yang menyerang tadi.


Semua ya terkejut mendapati sosok gadis yang tidak lain adalah Dara, yang tiba-tiba muncul entah darimana dan mematahkan pisau itu.


"Brengsek, siapa kamu? Berani sekali menyakiti rekan kami!" teriak pria lainnya dan mulai menyerang Dara bersamaan.


"Tidak buruk!" ucap Dara saat meladeni ketiganya bertarung dengan tangan kosong. Pertarungan tak terelakan terjadi.


Dara tidak menggunakan Chi untuk melawan ketiga pria itu, mereka bisa menjadi sarana latihan tanding untuknya untuk memperkuat fisik.


Bugh!!!


Tinju Dara mengenai jakun salah satu pria tadi dengan keras hingga meremukkan tulang leher pria itu menggelepar seperti ayam yang di sembelih dan meregang nyawa.


Dua orang lainnya terkejut melihat rekannya mati, satu orang kembali menyerang Dara dan yang lainnya mengarahkan pistol milik mereka ke arah Dara.


DOR!!!


"Aaarrrgggghh!!!" teriak rekan pria tadi yang justru terkena tembakan dan tepat mengenai mata kanannya.


Pria itu mengerang kesakitan di tanah dengan darah kemana-mana. Hanya butuh sedikit waktu sampai ia juga meninggal.


"Oups, sorry nggak sengaja" ucap Dara menirukan suara anak kecil, meledek sisa pria satu di depannya.


...•••••••...



Nama : Revan Adi Raharjo


Umur : 24 tahun


Pekerjaan : Presiden direktur A.R Group