
Di waktu yang bersamaan, di mansion Bisma dkk, semua orang di sana tidak menyadari apa yang akan mereka alami beberapa saat kemudian. Mereka masih asih bersantai dengan kegiatan masing-masing.
Bisma sedang menikmati kesenangan dengan dua wanita cantik di kanan kirinya, malam ini ia ingin mereguk nikmatnya berolahraga malam. Sebelum besok ia akan bertolak ke kepulauan ibukota untuk melakukan ritual.
Di lain sisi, Kai dan yang lainnya sudah masuk ke area sekitar mansion. Semua orang siap pada posisinya, mereka mulai menyerang dengan mode senyap.
Setidaknya hampir setengahnya mereka basmi dan semua itu yang melakukannya tak lain adalah Dark dan para anggotanya.
Sedangkan Dara, Kai, Flo dan Doni berjalan dengan tenang melewati semuanya, setelah berhasil di lumpuhkan. Mereka yakin Dark dan yang lainnya bisa membereskan para cecunguk Bisma, tanpa bantuan mereka.
Di dalam kamar, Langit di temani oleh seorang pembantu tengah meneguk susu dengan malas sembari berbaring. Tak berapa lama ia melepaskan botol susu di tangannya dengan mata berbinar.
"Da, yayah, ti Ine" ucapnya lirih dan tersenyum sumringah.
Membuat pembantu yang tengah memperhatikan Langit itu terkejut, karena sejak Langit di bawa ke mansion. Ini kali pertama Langit mengoceh dan juga tersenyum manis dan penuh bahagia.
Ya, pembantu itu mengira Langit tengah mengoceh layaknya bayi. Pembantu itu terpesona dan merasa gemas melihat senyum di wajah Langit.
"Kamu sangat menggemaskan! Astaga aku jadi ingin punya anak laki-laki" Ucap pembantu itu tertawa dan mencubit ringan pipi gembul Langit karena gemas.
Langit tidak menggubris ucapan pembantu itu, ia langsung duduk dan merangkak menuju tepi tempat tidur. Sukses membuat pembantu itu makin terkejut, karena biasanya langit hanya bisa tengkurap. Namun kini sudah bisa duduk dan merangkak dalam sekejap.
Reflek Pembantu itu maju ingin menangkap Langit, karena takut terjatuh.
Belum cukup keterkejutannya, pintu kamar di buka dengan keras dan seorang perempuan dengan pakaian Hitam-hitam dan memakai masker penutup wajah.
Wuusshhh!!!!
"Uuuggghhhh!!!" pembantu itu ingin berteriak karena ada orang yang berani masuk ke dalam kamar, namun dengan cepat perempuan yang baru saja masuk itu mencekik pembantu itu hingga tubuhnya terangkat.
Dengan wajah yang memerah pembantu itu berusaha melepaskan cengkraman orang di depannya yang tidak main-main.
"Ti ine, No!! bi antu ga ahat ma aban. Bi antu tepung latih tutu uwat Aban" ucap Langit.
Ya, yang baru saja masuk itu tak lain adalah Shine, dan pembantu itu terkejut saat dalam keadaan kesulitan. Ia justru melihat Langit seperti berbicara pada orang seumuran dengannya, hanya saja ia tidak mengerti apa yang di ucapkan bayi gemas itu.
Namun kini matanya makin membola saat melihat Langit berusaha turun dari tempat tidur dan kini berhasil turun dari tempat tidur. Yang tingginya setengah meter itu dan berdiri berpegangan pada kasur.
Apa ada bayi yang yang masih berusia 6 bulan seperti ini? Ia mengira tengah berhalusinasi karena akan segera mati tercekik. ucap bi Marni, karena itulah nama aslinya.
BRUGH!!!
"Uhuuukk... Uhuuuukk...." pembantu bernama Marni itu terbatuk-batuk saat cekikan di lehernya terlepas dan ia jatuh terduduk di lantai.
"Bi antu, mapin ti Ine. Ti Ine ga ahat, ti Ine Uman mu emput Aban ulang" ucap Langit mengatakan pada Marni.
"Aku uhuuukk ha-lus-sinasi parah? Ma-masa iya ba-bayinya bi-bi-bisa ngomong.. Akkhhh.... Aku jadi gi-la..." ucap Bi Marni.
BRUK!!!
Karena keterkejutannya itu ia langsung ambruk dan tidak sadarkan diri. Melihat itu Langit mengedipkan matanya bingung melihat Bi Marni pingsan.
"Ti Ine, Bi antu napa ko bubbu di atai, kan di atai dinin?" tanya Langit menatap Shine dengan polos nya.
"Abang tahu ini Aunty?" tanya Shine yang juga terkejut saat Langit mengenalinya sejak ia baru datang dan memintanya melepaskan Marni.
"Tau ti, Aban tau da ma yayah uda di tini" ucap Langit dengan senyum cerianya, Shine semakin terkejut mendengar hal itu.
Yang tidak di ketahui semua orang, Langit memiliki keistimewaan. Ia bisa mengenali orang lain walau orang itu menyamar sekalipun.
Ia bisa mendeteksi keberadaan seseorang dan membedakan aura seseorang secara lebih detail dan tepat, meskipun itu adalah manusia atau kultivator.
Selain itu, Langit yang memang kelahirannya sudah di takdirkan. Ia memiliki bakat kultivasi yang luar biasa, bahkan ia juga ia memiliki bakat menyerap aura Chi/Qi dengan cepat.
"Abang, ayo kita keluar! Tante tidak punya waktu banyak" ucap Shine menggendong tubuh mungil Langit, keluar dari kamar itu.
....
Satu demi satu, kultivator yang ada di sana semuanya di basmi. Lebih tepatnya di lumpuhkan dan di hancurkan kultivasinya, setelahnya mereka di tarik ke dalam cincin ruang.
Ya meskipun tidak masalah untuk membunuh, apalagi ada air surgawi yang melimpah yang di miliki Dara yang bisa menghilangkan aura jahat.
Tapi tetap saja, Dara tidak ingin orang-orangnya terbiasa dalam membunuh. Jadi cukup lumpuhkan, sisanya biar Zeta dan algojo yang mengurus.
Mendengar keributan, Tobby, Radit dan beberapa anggota pain yang memang berada di ruang keluarga langsung bersiaga.
"S*al!, ada penyusup yang berani masuk!" ucap Radit geram.
"Ayo kita lihat siapa yang berani mengantarkan nyawa pada kita" ucap Tobby.
Radit mengangguk dan bergegas menuju ke sumber suara. Matanya membola saat melihat beberapa kultivator mengerang kesakitan dan pusat energi mereka di hancurkan.
Melihat dua orang yang cukup kuat datang, Dark meminta para anggotanya mundur. Ia tidak ingin anggotanya yang tingkat kultivasinya jauh di bawahnya mengalami hal-hal yang tidak di inginkan.
"Kurang ajar! Punya nyawa berapa kalian berani datang ke sini!" teriak Radit langsung melancarkan serangan Qi ke arah mereka.
Namun dengan mudahnya di halau oleh Dark yang maju ke depan dan membiaskan serangan itu hingga tidak mengenainya. Hal itu membuat Radit dan Tobby terkejut.
"Kau seorang kultivator?" tanya Radit terkejut.
Dark hanya diam tidak menjawab, Flo, Kai dan Dara pun sama-sama tidak mengeluarkan suara. Doni sendiri sudah menyelinap mencari keberadaan Bisma.
Melihat ucapannya tidak di respon membuat Radit semakin marah, ia kembali menyerang dan kini ia fokuskan untuk menyerang Dark. Tentu saja Dark tidak tinggal diam menerima serangan itu. Tentunya ia juga melawan.
Wuuusshhh!!!!
Wuusshhh!!!!
BAK! BUK! BAK! BUK!
DUUAAAARRR!!!!
Baik Radit dan Dark terpukul mundur, Radit mundur lima langkah sedangkan Dari hanya satu langkah.
"S*al, senior sepertinya mereka cukup kuat" ucap Radit saat merasakan betapa kerasnya pukulan Dark.
"Panggil, Guru! Hanya guru yang bisa melawan. Aku takut, mereka bertiga di sana sama kuatnya dengan ini" ucap Bisma
...••••••...