
Flo mencebikkan bibirnya sepanjang jalan menuju private room yang sudah di sediakan pihak resto untuk ia dan Dara makan. Untungnya hari itu masih ada dua private room tersedia, jadi keduanya tidak perlu makan di ruang kerja milik Dara seperti biasanya.
"Sepertinya dia tertarik padamu Flo" ucap Dara
"Cih, biarkan saja. Yang jelas aku yang tidak akan pernah tertarik sama bajingan prik, burik, cepirit modelan dia" ucap Flo yang kesal membuat Dara terkekeh saat mendengar umpatan Flo.
"Iya deh percaya, yang udah punya aa Lingga yang gantengnya tujuh turunan dan tujuh tanjakan. Nggak bakal tergoda sama modelan jalanan berlobang" goda Dara membuat Flo yang tadinya kesal menjadi salah tingkah, saat mendengar nama Lingga di sebut.
"Dara Ihh..." ucap Flo merajuk, membuat Dara kembali terkekeh karena jarang sekali bisa melihat Flo tersipu malu.
"Sepertinya kau begitu senang sayang, tawaku sampai terdengar keluar" ucap Kai yang baru saja masuk.
Ruangan itu tentu saja kedap suara, tapi indra pendengaran Kai sangat tajam. Jadi ia masih bisa mendengarnya meskipun sayup-sayup.
"Cih, pria bucinmu sudah datang. Bisa-bisa jadi kambing congek lagi aku. Jangan mesra-mesraan ya, di sini khusus buat makan, inget di depan kalian ini orang bukan pajangan. Bisa gawat kalau aku ngereog sambil gigit jari sama guling-guling lihat keuwuan kalian" ucap Flo
"Suka-suka lah, kan kami pasangan. Iri ya? Makanya telepon dong si ayang suruh pulang" celetuk Kau dengan nada datarnya namun dengan kalimat yang panjang.
Memang semenjak tahu Flo akan jadi adik iparnya, Kai sudah bersikap lebih lepas dan welcome. Yah, meskipun nadanya masih datar, hanya saja ada peningkatan ia bisa bicara dengan kalimat panjang. Itu tandanya ia sudah menerima Flo menjadi bagian dari keluarganya kelak.
Flo memutar matanya malas, terlebih melihat Kai yang sudah bersikap manja saat bersama dengan Dara. Lihat saja ia enggan melepas tangannya dari pinggang sang calon istri, bahkan mencuri kecupan di pipi nonanya itu.
"Lingga udah kasih tahu kalau kemungkinan bulan depan ia wisuda?" tanya Kai pada asisten calon istrinya itu.
"Hmm sudah, aku lega skripsi dan sidangnya berjalan dengan lancar" ucap Flo dengan raut wajah yang tampak sekali ikut bahagia.
"Kamu ikut ke Negara A nanti?" tanya Kai lagi.
"Belum tahu, tapi mama Sarah udah minta aku buat ke sana bareng, tapi aku malu. Kan aku hanya kekasih" ucap Flo
"Biasanya juga terjang aja, aku kira urat malu kamu udah putus, ternyata masih ada. Santai aja, keluarga ku menerima kamu dengan tangan terbuka" ucap Kai membuat Dara yang menyimak tertawa
"Iiisshh, nyebelin banget punya kakak ipar kaya kamu. Kamu juga, aku kira kamu itu kutub es yang beku yang cuma bisa diem dan ngomongnya irit. Eh nggak tahunya sekali ngomong udah kaya kereta nggak ada rem" cerocos Flo
"Ekhmmm, sekarang udah blak-blakan banget ya bilang kakak ipar" ucap Kai membuat wajah Flo menjadi merah merona karena terus di goda.
"Ucapanmu tidak singkron dengan nada dan wajahmu yang sama datarnya itu" ucap Flo
"Sepertinya pengaruh Manda sangat kuat ya, Hebat dia bisa membuat sifat kalian berubah drastis ha-ha-ha" Tawa Dara pecah.
"He-he masa sih" Flo terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kayanya kulkas satu lagi bakal mencair, nggak kebayang Shine yang super datar dan pendiam akan nyablak seperti kamu ini Flo" ucap Darq
"Ya aku akui, Manda memang pintar mencairkan suasana dan aku ikut nyablak karena gaul sama dia terus. Tapi kayanya Kak Kai bukan karena pengaruh Manda deh, secara dia jarang bertemu Manda apalagi ngobrol. Jelas-jelas kutub selatan satu ini mencair karena calon istrinya sendiri" ucap Flo
Dara hanya terkekeh mengiyakan ucapan Flo, Kai juga diam karena memang benar jika dirinya berubah menjadi lebih aktif berbicara setelah mengenal Dara. Tapi itu hanya berlaku pada orang-orang terdekat saja, jika pada orang lain jelas Kai akan kembali ke setingan awal. Dingin, Datar dan tak tersentuh.
....
Kedatangan ketiganya tentu berkaitan dengan Sanim. Ya, hari ini Sanim akan mendapatkan cicilan awal dari rencana balas dendam Dong.
Saat Sanim di keluarkan dari cincin ruang milik Kai, dia terkejut dan panik karena dirinya berada di tempat asing.
Mereka berempat kini berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan minim dari lampu lima Watt berwarna keemasan itu.
"Kenapa aku ada di sini?" ucap Sanim terkejut, karena seingatnya mereka berada di ruang bawah tanah di villanya di negara A dan tempatnya saat ini bukanlah di sana.
Sanim lebih terkejut lagi saat ia melihat Dong berdiri di samping orang yang membawanya pergi. Meskipun ia sejenak terpesona dengan kecantikan Dara, namun ia tersadar jika ini bukan waktunya untuk mengagumi keindahan seorang perempuan. Karena sekarang ia merasa nyawanya berada di ujung tanduk.
"Mr.D kenapa anda bersama penyusup itu, anda harusnya melindungiku!" ucap Sanim melihat ke arah Dong.
"Kenapa aku harus melindungi orang sepertimu?" ucap Dong menyunggingkan bibirnya dan berdecih.
"Aku adalah orang yang membayarmu tentu saja kamu harus melindungi ku. Bagaimana bisa kamu mengkhianatiku? Apa kamu sudah tidak membutuhkan benda itu lagi? Aku pastikan benda itu hancur saat aku mati, jadi sekarang selamatkan aku!" ucap Sanim dengan nada penuh perintah.
Meskipun ia takut dengan Dong, namun ia yakin jika Dong akan menurutinya, karena benda yang di inginkan Dong ada padanya. Namun sayangnya keyakinannya itu adalah salah, Dong kini sudah tidak peduli dengan benda itu.
Karena salah satu tujuannya ingin memiliki benda itu karena ingin bertemu dengan Liu Annchi. Dan sekarang orang yang selama ini ia tunggu ada di sampingnya, lagipula batu itu hanya akan menjadi batu biasa saat di tangan orang selain keturunan keluarga Ma.
"Aku tidak peduli lagi dengan benda itu lagi, yang inginkan sekarang adalah nyawamu, brengsek!" ucap Dong.
"A-apa?? Tidak-tidak, tolong jangan bunuh aku! Aku akan membayar mahal padamu, aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Bukankah aku tidak pernah ada dendam denganmu, jadi tolong lepaskan aku kali ini" ucap Sanim dengan gemetar takut.
"Kalaupun kau lolos darinya, tapi tidak akan polos dariku" ucap Kai yang sejak tadi diam.
"K-kau... Ak-aku juga akan memberikan banyak uang padamu. Tolong lepaskan aku, aku akan memberikan kalian uang yang banyak" ucap Sanim memelas.
"Aku tidak akan melepaskan kamu apapun yang kamu tawarkan padaku. Sudah aku bilang yang aku inginkan adalah nyawamu. Lagian kamu tidak memiliki apapun sekarang, karena hartamu sudah menjadi milikku" ucap Dong dingin membuat tubuh Sanim semakin bergetar karena takut dan juga terkejut mendengar fakta jika seluruh hartanya sudah jatuh ke tangan Sanim.
"Ba-bagimana bisa?" gumamnya lirih
"Tolong lepaskan saya Mr.D saya tidak peduli lagi dengan hartaku yang sudah kau kuasai. Saya juga tidak pernah membuat masalah dengan anda bukan? Saya mohon lepaskan saya.." ucap Sanim.
Sanim berpikir jika yang terpenting adalah nyawanya. Soal kekayaan ia bisa mencarinya lagi atau merebut kembali yang ia punya dari Dong.
"Tidak punya salah? Hah... Kau salah Sanim, kau sangat salah!!! Apa kau ingat dengan gadis bernama Rebeca, gadis yang sudah kau perkosa dan kau jadikan objek penelitianmu itu? Dia adalah putriku, brengsek!!!" ucap Dong dengan amarah yang memuncak.
Dara dan Kai hanya menyimak saja tidak ikut campur, karena mereka sudah berjanji akan membiarkan Dong membalas dendam untuknya.
Sedangkan Sanim yang mendengarnya tentu saja terkejut. Ia tidak menyangka jika Mr.D atau Dong adalah ayah dari gadis yang dua tahun lalu ia perkosa.
Ia kembali teringat dengan gadis cantik nan lucu yang terus memberontak dan menangis saat ia mencumbunya. Gadis cantik dan memiliki tubuh aduhai itu membuatnya tertarik. Hanya saja gadis itu tidak ingin menyerahkan mahkotanya saat Sanim berada di puncak has**tnya kala itu.
Hal itu membuat Sanim yang sudah gelap mata dan memperkosanya berulang-ulang. Bahkan ia juga membawa tubuh lemah Rebeca untuk di jadikan objek penelitian pengembangan Virus Tipe R.
...••••••••...