The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
139. Masalah di Desa F.



Flashback beberapa jam yang lalu.


Di perbatasan Negara, Pesawat khusus militer yang di tumpangi Kai dan tim Falcon sudah sampai di daerah penggunungan di perbatasan negara saat sore hari dan hari mulai gelap karena matahari mulai tenggelam.


Terlihat di sana sudah di dirikan tenda darurat untuk melihat tepat di lereng gunung di desa F, perbatasan dengan negara seberang.


Desa itu masih sangat jauh dari teknologi, hanya beberapa orang yang memang cukup kaya atau biasa di panggil kepala adat dan jajarannya yang sudah mengenal teknologi, seperti Televisi, komputer dan smartphone.


Penerangan di sana juga belum sepenuhnya terealisasi, jadi wajar masih banyak rumah yang masih menggunakan obor sebagai penerangan di malam hari.


Kai dan tim tidak langsung bertugas, mereka melapor terlebih dahulu dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Salam Jendral" ucap seseorang yang berpangkat sebagai sersan mayor di dalam tenda itu. Menyapa Kai yang baru saja masuk ke dalam tenda khusus untuk tamu.


Sersan Mayor yang bernama Andika itu langsung berdiri dan bersikap hormat dengan kedatangan Kai. Meskipun dirinya belasan tahun lebih tua dari Kai, namun posisi Kai jauh melampaui dirinya.


"Salam Sersan Andika" ucap Kai terkesan tegas namun tetapa bernada Datar dan dingin.


Seorang wanita berusia dua puluhan yang duduk di samping pria tua di sana, menatap kagum ke arah Kai. Namun Kai sama sekali tidak repot melirik ke arahnya bahkan seolah dirinya tidak ada di sana.


"Jendral perkenalan ini adalah Tuan Ampong kepala adat di sini. Sedangkan wanita yang duduk di sebelahnya adalah Dokter Amelia, beliau salah satu Dokter dari rumah sakit pusat Provinsi K yang bertugas untuk mengobati para tentara atau warga yang terluka di sini" ucap Andika menjelaskan identitas keduanya.


"Hmm" ucap Kai dengan menundukkan kepalanya sopan kepada kepala adat dan di balas anggukan kepala juga oleh Tuan Ampong, sedangkan Kai sama sekali tidak menyapa dan tidak menganggap keberadaan Dokter Amalia di sana.


Amelia menggigit bibirnya menahan kesal sekaligus kagum karena tingkah dingin dari pria yang luar biasa tampan di depannya dan jangan pupakan jabatan tinggi yang di sandangnya dalam militer.


Hanya membayangkan tubuh tinggi tegap nan wajah yang tampannya saja, Amalia sudah di buat ngiler.


Sedangkan Tuan Ampong kepala adat tidak masalah dengan sikap dingin Kai. Itu karena ia sudah mendengar sifat dingin sang jendral muda negara ini. Ia juga sangat mengagumi dan menghormati Kai, bahkan sempat berfikir ingin menjadikan Kai sebagai menantunya.


Namun ia sadar diri, jabatan dan latar belakang Kai sangat luar biasa. Dan pastinya keluarga Narendra akan memilah calon istri terbaik untuk Jendral muda itu.


Sedangkan keluarganya meskipun orang terkaya di desa, namun tidak ada apa-apa di bandingkan seujung kuku dari kekuasaan dan kekayaan keluarga Narendra.


Lagi pula fokusnya saat ini adalah masalah yang terjadi di desanya dan keselamatan warganya. Jadi ia tidak memikirkan hal mengenai Kai lagi.


"Apa yang terjadi di sini?" tanya Kai to the point.


Meskipun suaranya Dayar dan dingin, tidak bisa mengubah aura dari suaranya yang memikat.


"Biar Tuan Ampong yang akan menjelaskannya, Jendral. Karena beliau yang lebih paham" ucap Andika yang di angguki oleh Kai.


"Salam Jendral, sebelumnya saya ucapkan terimakasih sudah bersedia datang untuk menyelasaikan masalah di desa kami" ucap Ampong dengan tulus, sedangkan Kai hanya mengangguk.


"Hal ini bermula sejak tiga bulan yang lalu, warga kami resah karena setiap hari Selasa dan Sabtu, selalu ada kejadian aneh yang datang. Pertama adalah banyaknya hewan ternak seperti kambing dan sapi yang tiba-tiba menghilang dari kandang saat malam hari.


Dan belakangan adalah para gadis di desa kami juga hilang, ada beberapa yang berhasil di temukan oleh warga. Namun gadis itu dalam keadaan tidak waras dan juga memiliki luka di sekujur tubuhnya" jelas Ampong.


"Lalu bagaimana dengan tugas dari militer sebelumnya? Apakah sudah memberikan bantuan?" tanya Kai pada Andika.


"Militer provinsi K sudah mengirim banyak orang ke sini, sekitar 30 orang pada awalnya. Dan emreka menyusuri hutan di sebelah desa yang di sinyalir sebagai tempat bersembunyi pelaku.


Namun tiga puluh orang itu tidak kembali lagi sampai sekarang, lalu pemerintah menambah 100 anggota lagi dan sudah di terjunkan untuk mencari tahu dan menyelamatkan korban, namun hanya pulang 20 an saja, itu pun dalam keadaan terluka parah. Sedangkan sisanya tidak kembali dan tidak di ketahui apakah masih hidup atau tidak" ucap Andika


"Apa keadaan anggota yang selamat sudah lebih baik?" tanya Kai


"Belum tuan jendral, karena luka dalam yang di derita para anggota militer cukup. Tim medis sangat kesulitan untuk menyembuhkannya. Kami hanya bisa mengobati luka luar sedangkan luka dalam itu sangat sulit di obati meskipun kamu sudah membawa alat canggih ke desa" ucap Amelia dengan sangat lembut menjelaskan berharap Kai tertarik.


Namun lagi-lagi Kai tidak sibuk menoleh ke arahnya dan justru menoleh ke arah Andika. yang membuat Amelia kecewa.


"Sial kenapa dia sama sekali tidak menoleh padaku? Apa aku kurang cantik dan menarik? Lihat saja nanti setelah aku pulang, aku akan mencari tahu tentang jendral tampan ini dan meminta ayahku untuk menjadikannya suamiku" gumamnya dalam hati kesal namun berharap.


"Apa mereka sudah bisa di tanyai?" tanya Kai lagi


"Sudah, mereka mengatakan mereka di serang oleh beberapa orang dengan pakaian hitam-hitam dan gerakan mereka sangat cepat dan berbahaya dan terkesan seperi menghilang di kegelapan dan berhasil menumbangkan banyak orang" ucap Andika.


Mendengar penjelasan Andika dan Tuan Ampong. Kau memutuskan untuk mencari tahu hari ini juga.


Karena berhubung ini hari Selasa, Kai dan tim yang di bagi dua akan menyusuri hutan sebelah desa.


Satu tim yang di pimpin Kai yaitu Nathan dan 3 anggota yang lain akan menyusuri hutan bersama dengan nya. Sedangkan sisanya yang di pimpin Rafael berjaga di sekitar desa.


Ia sangat penasaran, orang seperti apa yang membuat keresahan warga di sini. Jadi tanpa menunggu waktu yang lama, Kai dan empat rekan yang lain langsung menuju Hutan di mana tempat itu di duga sebagai sarang pelaku.


"Jendral, apa tidak sebaiknya saya ikut?" ucap Rafael.


"Tidak! Kau tetap di posisimu!" ucap Kai tegas.


"Setidaknya bawa orang lebih banyak, ini adalah operasi yang bahaya" ucap Rafael namun Kai menggelengkan kepalanya.


"Akan beresiko kalau kalian ikut, kalian tetap lindungi warga malam ini. Jangan sampai ada warga yang kembali menjadi korban, apa kalian mengerti!" ucap Kai dengan tegas dan penuh perintah.


"Siap laksanakan!!" ucap mereka dengan kompak.


"Yang sudah aku tunjuk, ayo kita masuk ke dalam hutan. Persiapkan senjata kalian, jangan sampai lengah dan hati-hati" ucap Kai


"Siap!!!" ucap Yang lain kompak.


...••••••••...