
Malam semakin larut, suasana jalanan di kota S sudah mulai lenggang, hanya satu dua kendaraan yang masih terlihat. Namun di depan stasiun kota S masih ramai dengan supir taksi atau ojek online yang masih memburu cuan dari penumpang yang turun di stasiun.
Kereta dari ibukota pun datang perlahan dan berhenti, penumpang yang begitu banyak berbondong-bondong keluar dan di sambut tawaran manis dari para supir dan ojek online agar mau naik.
Maria dan Meta keluar dari kereta dengan keadaan lelah. Keduanya yang tidak terbiasa menggunakan kendaraan umum, terlebih tempat duduk yang mereka duduki adalah kelas ekonomi.
Jadi kurang nyaman untuk beristirahat di sana karena tempat duduknya tegak membuat pinggang mereka terasa pegal.
Keduanya bernegosiasi dengan supir taksi untuk biaya ongkos ke rumah saudaranya itu.
Meskipun mereka tetap membayar lebih dari ongkos normal, di karenakan sulitnya menemukan angkutan umum saat malam hari bahkan tidak ada angkutan umum setelah jam 6 sore.
Setelah setengah jam mereka sampai di rumah kecil di sudut kota S. Mereka langsung turun dan mengetuk pintu rumah itu.
Tok!!! Tok!!! Tok!!!
"Yaaa, Sebentar" sahut orang dari dalam rumah.
"Loh Maria, Meta. Ayo masuk!!" ucap seorang wanita paruh baya yang membukakan pintu.
"Siapa mah? Loh Maria, Meta!" ucap seseorang dari dalam yang terkejut melihat adiknya datang.
"Kak Mario..." ucap Maria menangis melihat saat melihat kakaknya.
"Ayo masuk dan duduk dulu!" ucap Mario menyuruh kembarannya dan keponakannya itu duduk dulu.
"Sekarang ceritakan apa yang terjadi" ucap Mario
"Jadi setelah keluarga kita bangkrut dan tidak memiliki apa-apa lagi, aku dan Meta sangat menderita kak. Mas agung yang harusnya menjadi tulang punggung keluarga tidak bisa apa-apa, dia sama sekali tidak ingin bekerja. Jadi terpaksa aku yang bekerja berjualan kue dan menjadi buruh cuci. Tapi Mas agung sudah berani berkata kasar dan memukulku, aku tidak tahan. Jadi aku keluar dari kontrakan dan kabur kesini. Aku ingin gugat cerai Mas Agung, tolong bantu aku kak" ucap Maria menangis sesenggukan.
"Astaga kakak tidak menyangka Agung bisa berbuat hal seperti itu. Kalau begitu kakak akan bantu untuk proses cerai, kamu bisa tidur di kamar Luna untuk sementara. Besok kita cari rumah kontrakan yang murah" ucap Mario.
Rumah yang ia tempati adalah rumah milik keluarga istri Mario. Rumah itu sangat kecil dan hanya punya dua kamar yang sempit, yang di tempati ia, istri dan putrinya Luna. Jadi Mario tidak mungkin menampung Maria dan meta di rumahnya.
"Nggak apa-apa kak, makasih udah mau bantu Maria" ucap Maria dengan tulus.
.....
Keesokan harinya, Dara bangun pagi-pagi. Itu sudah biasa ia lakukan sejak kecil, karena ia harus bekerja dan sekolah dengan jarak yang sangat jauh dulu.
Hari ini Dara sudah janjian dengan Flo untuk bermain tenis setelah lari pagi di sekitar mansion.
Pertandingan keduanya itu justru membuat semua orang di Mansion menonton, permainan keduanya sangat bagus seperti pemain tenis profesional. Dan berakhir dengan kemenangan tipis yang di menangkan oleh Dara.
"Minum Ra!" seru Revan dan Jefrey bersamaan dan menyodorkan botol berisi air mineral.
"Terimakasih" ucap Dara tersenyum sambil mengambil botol dari keduanya.
Ia tidak ingin kejadian kemarin terulang, kemarin ia melihat kedua kakaknya itu ribut terus dan tidak berhenti berdebat, hingga membuat kepalanya pusing. Di tambah Papa Adnan juga ikut nibrung berebut dengan kedua anaknya.
"Ra, kamu mau kemana hari ini?" tanya Revan. Namun bukannya dara yang jawab malah Dimas yang bicara.
"Kak Revan nanyain Mulu kak Dara! Nggak mau ngajakin aku, Ryan atau kak Alan gitu? Nyebelin... Kak aku juga adik kakak" ucap Dimas cemberut
"Tuh dengerin Van, kamu itu harus adil" ucap Jefrey
"Kak Jef juga sama!" celetuk Dimas.
"Ha-ha, kena juga kan" ucap Revan terkekeh.
"Mending kak Revan sama kak Jefrey ajak yang lain jalan-jalan keliling kota S. Aku mau pergi ke suatu tempat dengan Flo nanti" ucap Dara
"Perlu kakak anter?" tanya Bara
"Nggak perlu kak, kan cuma bentar kok. Nanti sore jadi Kak?" tanya Daraengingat janjinya drngan Bara.
"Wah kak Bara memang yang terbaik" sahut Dimas dan Ryan bersamaan.
"Kalian mau kemana?" tanya Revan dan Jefrey menatap Bara.
"Kepo!" ucap Bara menjulurkan lidahnya ke arah kedua kakaknya.
Sontak kedua kakaknya itu menatap tajam ke arah Bara, namun Bara cuek aja tidak takut dengan tatapan tajam mereka.
"Kalau kamuu mau pergi, jam 5 sore udah balik ke mansion ya, Ra. Nanti kita berangkat bareng" ucap Bara.
"Oke" ucap Dara
"Boleh kakak ikut?" tanya Jefrey berharap begitupun dengan tatapan Revan
"No! Ini cuma orang-orang yang berkepentingan aja yang dateng" ucap Bara.
"Sok iye...." ucap Jefrey
"emang..." sahut Bara tak kalah.
"Cih..." ucap Jefrey kesal.
"Ra, lihat! Masa kakak nggak boleh ikut" ucap Jefrey merajuk pada adik perempuannya.
"Ini acara Bara dan teman-temannya kak, jadi kalau aku terserah kak Bara. Kan tuan rumahnya kak Bara dan temannya" ucap Dara
Jefrey dan Revan lagi-lagi menatap Bara dengan Tajam dan menghela nafas.
"Nggak mempan melotot begitu, lagian aku nggak mau kakak berdua ikit, pasti ribut Mulu nanti di sana. Terus juga yang ada temanku kejang lihat kak Revan, secara kak Revan terkenal di kota ini. Aku nggak mau cari keributan yang tidak perlu" ucap Bara
Meskipun kesal Jefrey dan Revan hanya bisa mengalah saat ini. Karena tidak bisa memaksa Bara untuk mengikutsertakan mereka berdua.
....
Setelah mandi, Dara mendapati pesan dari Kai, ia mengatakan jika tugasnya hampir rampung. Ia akan menyusul Dara ke kota S besok lusa jika tidak ada halangan.
Tentu saja Dara senang membaca pesannya itu, karena ia juga merindukan kekasihnya itu.
Berhubung tiga hari lagi tahun baru, itu artinya jika Kai ke kota S lusa, ia bisa menghabiskan malam tahun baru bersama keluarga dan juga kekasihnya itu secara bersamaan.
Setelah selesai berbagi pesan dengan sang kekasih, Dara keluar dari kamarnya dan pergi bersama dengan Flo.
Sesuai arahan Dara, Flo mengemudikan mobil milik Mama Ellena itu ke perkampungan di sudut kota S. Dara menengok ke samping, di sana ada rumah kecil.
Ya, Dara sekarang melihat rumah Mario dan istrinya, Dara mengetahui jika ibu tiri dan saudara tirinya itu ada di sana dari laporan yang di berikan oleh Theo.
Tak lama dari dalam rumah itu, Maria, Mario dan Meta keluar dari rumah. Melihat wajah Maria secara langsung, entah mengapa ia merasa kesal dan mengepalkan tangannya. Mungkin jiwa milik Liu Annchi memberontak saat melihat Maria memiliki wajah yang sama dengan Fang Jiu itu.
Dara menyuruh Flo mengikuti kemana Maria dan Mario itu pergi, mereka menuju ke sebuah rumah kontrakan tiga pintu tak jauh dari rumah Mario.
"Jangan marah Liu Annchi, lihatlah musuhmu di kehidupan ini. Sepertinya ia sudah menerima karma dari dosanya di masa lalu, kalaupun itu masih belum membuatmu tenang. Aku akan membuatnya menderita seumur hidupnya. Karena bagaimanapun dendam lama dirimu dan dendam baru diriku, menyangkut wanita latchur itu!" ucap Dara dalam hati
Sebenarnya saat itu Meta mengikuti casting untuk Film terbaru yang di sponsori oleh Dara. Meskipun akting Meta cukup bagus untuk pemeran figuran, tapi dengan kekuasaan yang Dara miliki. Dara tidak meloloskan nya bahkan memblacklist secara diam-diam, tentunya dengan perantara Theo.
Anggap saja Dara egois membawa Meta yang tidak memiliki salah apapun dalam balas dendam dirinya dan juga Liu Annchi.
Logikanya saja, jika ia meloloskan Meta, Meta akan mendapat pekerjaan dan menghasilkan uang yang cukup banyak dari itu.
Bukankah secara otomatis Maria dan Agung juga akan menikmati hasilnya. Itu yang tidak di inginkan oleh Dara. Meskipun ia juga harus melibatkan Meta yang tidak tahu apa-apa dalam hal ini.
Bukankah ia juga tidak tahu apa-apa saat ayahnya mengusir ia dan ibunya dari rumah tanpa sepeserpun uang? Ayah brengsek nya itu lebih memilih Maria dan menyayangi meta seperti putri kandungnya. Hanya demi uang! Maka mereka juga akan merasakan bagaimana rasa tidak berdayanya hidup tanpa memiliki uang dan itu baru permulaan.
...•••••...