The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
255. Menyusun rencana



Kai duduk di ranting pohon sembari menunggu kedatangan Dara. Lalu saat waktu kurang lebih lima belas menit, tiba-tiba cahaya biru mendekat dan menyala dengan sangat terang.


Namun cahaya itu hanya bertahan sekitar empat atau lima detik, setelahnya ia melihat wajah orang yang ia cintai dan sangat ia rindukan bersama dengan asisten setia gadisnya itu berjalan mendekat.


Dara tersenyum melihat Kai, Kai berjalan mendekat lalu menggenggam tangan Dara. Ia terlalu malu untuk memeluk gadisnya itu karena ada Flo di antara mereka.


Flo sendiri sudah sadar jika itu bukan waktu yang pas untuk dirinya, jadi ia dengan sangat paham apa yang akan akan terjadi, lalu berbalik badan. Tentu saja Kai tidak menyia-nyiakan waktu, ia langsung menarik lengan Dara dengan lembut dan memeluk Dara dengan erat, lalu mencium dalam kening calon istrinya itu.


"Aku merindukanmu, apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Kai


Kai tahu jika melakukan teleportasi jarak jauh pasti menimbulkan efek samping. Meskipun ia tidak tahu efek sampingnya apa, tapi ia tentu saja khawatir.


"Hmm, jangan khawatir. Aku hanya merasa pusing dan mual karena baru saja melewati lorong waktu dengan jarak yang cukup jauh" ucap Dara


"Kalau begitu minum lah! Kamu juga Flo, ambil ini dan minumlah dulu" ucap Kai memberikan dua botol air mineral untuk Dara dan Flo.


"Terimakasih tuan muda" ucap Flo


"Tidak masalah dam jangan terlalu formal padaku, hanya menunggu waktu kita akan segera menjadi keluarga. Apalagi Lingga sudah memberi tahu tentang hubungan kalian beberapa hari lalu" ucap Kai.


Memang benar Lingga sudah mengatakan hubungannya pada Kai. Ia juga meminta tolong padanya untuk membantunya menjadi kultivator.


"Ah... Baik tu- eh Kak" Flo tidak bisa berkata-kata dengan wajah yang memerah malu karena mendengar ucapan Kai menyebut Lingga.


Flo tidak bisa langsung memanggil nama, karena bagaimana pun Kai adalah kakak sepupu kekasihnya dan juga meskipun hanya berbeda dua tahun, Kai lebih tua darinya. Jadi sepantasnya ia memanggil Kai dengan sebutan kakak, sama seperti Lingga, Ajeng ataupun Alice.


Sedangkan panggilan Abang, Flo tidak berani. Karena ia tahu panggilan spesial hanya Dara yang di perbolehkan memanggil Kai Abang.


"Ah ya, selamat untuk kalian berdua, semoga hubungan kalian langgeng" ucap Kai tulus.


"Terimakasih Kak" ucap Flo.


"Terima kasih Abang sayang" ucap Dara tersenyum.


"Bu-buat apa, kamu bilang terimakasih juga?" tanya Kai, wajah sampai ke telinga Kai memerah mendengar panggilan Abang sayang dari Dara.


"Buat air minumnya dan juga Terimakasih sudah menerima Flo sebagai kekasih Lingga" ucap Dara tersenyum tulus.


"Tidak masalah, Aku tahu Flo adalah gadis baik dan dia juga bagian keluarga kamu. Selama mereka berdua saling mencintai, Keluarga Narendra akan menerima dengan tangan terbuka" ucap Kai.


Flo mendengar itu tersenyum, ia sangat bersyukur atas apa yang ia terima saat ini. Ia berpikir, perbuatan baik apa yang ia lakukan di masa lalu. Sampai-sampai ia menerima begitu banyak kebaikan di kehidupannya kali ini.


Ia berjanji akan menjaga semua yang ia miliki, dia akan mencintai Lingga sepanjang usianya. Flo tidak akan meninggalkan Lingga, kecuali Lingga sendiri yang mendorongnya pergi.


....


Sebelum ketiganya masuk ke dalam Villa, Dara, Kai dan Flo berunding di bawah pohon sembari menatap Villa milik Sanim. Dara memutuskan ia yang akan melawan Mr.D, sedangkan Kai dan Flo bergerak untuk menangkap Sanim.


Awalnya Kai menolak usulan itu, karena terlalu beresiko untuk Dara dan tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan padanya. Namun Dara memberikan pengertian, bahwasannya dirinyalah yang memiliki kekuatan paling tinggi di antara ketiganya. Dan hanya dia yang bisa melumpuhkannya agar tidak menjadi penghalang untuk menangkap Sanim.


"Kalian tunggu di sini, aku akan memeriksa keadaan di dalam. Sebelum kita bertindak" ucap Dara


"Aku ikut!" ucap Kai.


"Tidak perlu Kai, aku akan kembali dalam beberapa saat. Kalian tunggu di sini! Aku hanya ingin melihat situasi di dalam agar bisa mengambil langkah yang tepat dan mengurangi resiko" ucap Dara


"Tapi yang kamu lakukan terlalu beresiko, bagaimana kalau kamu ketahuan?" ucap Kai


"Tenang Abang, aku akan baik-baik saja. Aku akan bergerak diam-diam tanpa menimbulkan suara. Aku akan kembali dengan cepat, percaya padaku" ucap Dara menatap manik mata Kai.


Kai tidak bisa melarang Dara lagi karena Dara yang bersikeras untuk melakukan itu, akhirnya Kai hanya menghela nafas dan mengangguk mengijinkan Dara pergi sendiri.


"Kembalilah dengan selamat" ucap Kai


"Hmm, tenang saja aku hanya mengawasi saja. Aku pergi sekarang! Tunggu di sini dan jangan ambil tindakan apapun!" ucap Dara sebelum pergi..


Wuuusshhh!!!


Dara bergerak dengan sangat cepat hingga bayangan pun tidak ada, langkahnya ringan dan juga tanpa menimbulkan suara ataupun suara gerakan di udara. Ia juga menahan nafasnya agar kehadirannya tidak di ketahui oleh orang yang ada di sana.


Hal seperti itu mudah ia lakukan karena biasanya Dara melakukan itu saat berada di ruangan dimensi saat latihannya. Ia melatih gerakan senyap dan juga bisa menyerang dalam senyap dan tak terlihat.


Suasana Villa sangat sunyi dan gelap jika di lihat dari luar seperti tidak berpenghuni. Meskipun begitu, Dara tahu jika di dalam villa ada orang dari nafas kehidupan di sekitarnya.


Dara mengendap dan berada di ruangan sebelah di mana targetnya berada.


"Silahkan makan Mr.D mumpung masih hangat" ucap Sanim di dalam suatu ruangan.


"Hmm" ucap Mr.D


Keduanya pun makan dengan lahap, makanan itu Sanim membelinya via pesan online. Kurir makanan online di buat takut saat mengantarkan makanan. Ia pikir jika yang memesan makanan adalah hantu.


Namun saat Sanim keluar dan membayar makanan juga menjelaskan, ia lega saat mendengar jika villanya tengah mengalami konslet listrik jadi semua lampu di vilanya padam.


Sanim sengaja membeli yang enak-enak agar Mr.D Betah dan melindunginya dari kejaran Tim Falcon. Setidaknya sampai kondisi sudah aman.


Selesai makan Sanim melihat Mr.D berdiri, ia pun ikut berdiri mengikuti kemanapun Mr.D Pergi. Bahkan ke toilet pun Sanim akan ikut. Hal itu membuat Mr.D sedikit kesal dan juga risih karena ketakutan yang berlebihan.


"Kau diamlah di sana!" ucap Mr.D sedikit meninggi


"Tidak ada yang bisa menangkapmu selama ada aku di sini dan kamu masih berada di dalam ruangan dan tidak melangkah keluar dari area sana" ucap Mr.D jengah.


Kalau bukan karena uang yang di tawarkan Sanim sangat besar, ia malas berhubungan dengan orang seperti Sanim. Namun kesediaan Sanim untuk membayarnya dengan yang ia mau, membuat Mr.D menyetujui untuk menjadi pengawal Sanim selama beberapa waktu.


"Tapi...." ucap Sanim


"Tunggu di sana atau aku akan pergi dan meninggalkan kamu di sini sendirian. Biarkan orang-orang itu menangkapmu saja! Aku tidak peduli jika barang itu dan uang mu tidak aku dapatkan" ucap Mr.D kesal.


"Jangan! Ba-baik aku akan menunggu di sana. Silahkan ke toilet Mr.D" ucap Sanim ketakutan. Ia segera masuk ke dalam ruangan yang di sebutkan Mr.D.


Dara yang mendengarnya pun segera keluar dari villa itu untuk melaporkan ini pada Kai dan Flo. Kemudian menyusun rencana.


....


Kai yang menunggu di lingkungan Distrik C yang cukup jauh dari Villa milik Sanim, cukup gelisah karena Dara belum juga kembali. Ia berjalan mondar mandir membuat Flo pusing sendiri.


Saat ia memutuskan untuk menyusul ke dalam Villa, ia melihat Dara sudah kembali dan berjalan mendekat.


"Kau kembali" ucap Kai dengan berbinar.


"Ya, ada hal yang ingin aku bahas dengan kalian" ucap Dara serius


"Apa itu?" tanya Kai dan Flo serempak.


"Sanim di sembunyikan di ruangan bawah tanah, akses masuk ke sana adalah lewat ruangan sebelah kiri jika kalian berjalan ke ruang keluarga. Di dalam juga hanya ada dua orang, tidak ada pengamanan lain di sana" ucap Dara.


"Adapun kalian tidak akan bisa masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu, malah akan di serang oleh Barier milik Mr.D yang di pasang di ruangan bawah tanah oleh Mr.D" lanjut Dara


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Flo


"Pancing Sanim keluar dari ruangan itu" ucap Dara


"Caranya? Bagaimana kalau kita gagal?" Tanya Kai


"Tunjukan ini padanya! Kirim saja via nomor telepon ini. Kita lihat ia akan keluar atau tidak" ucap Dara memberikan sebuah iPad pada Kai.


"Apa ini?" tanya Kai


"Alat yang akan membuat Sanim dengan sukarela keluar dengan sendirinya" ucap Dara


Kai langsung menyalakan apa yang ada di dalam iPad itu. Saat ia melihat Video itu, tentu saja Kai terkejut dengan mata membola. Buru-buru ia mematikan video itu dan menatap penuh pertanyaan untuk Dara.


"Aku tidak melihatnya, Theo hanya bilang jika itu mungkin bisa memancing Sanim keluar" ucap Dara.


Kai mendengar itu pun menghela nafas lega, setelah tugasnya selesai, sepertinya ia akan memberikan bonus yang besar untuk Theo.


"Apa hanya dengan ini Sanim mau keluar dari ruangan itu?" tanya Kai ragu


"Bisa jadi, kita tidak akan tahu jika tidak di coba" ucap Dara


"Bagaimana kalau dia tetap tidak peduli dengan Video ini dan memilih nyawanya sendiri?" tanya Kai.


Karena penyelidikan yang Kai lakukan, ia tahu kalau Sanim adalah orang yang sangat egois.


"Kalau begitu hanya ada satu jalan untuk menangkapnya" ucap Dara menyeringai penuh dengan ide-ide di kepalanya.


Seringaian Dara tentu membuat Flo merinding, kecuali Kai tentunya. Karena bagaimanapun ekspresi Dara, di mata Kai itu adalah pemandangan yang sangat indah dan cantik. Sungguh kebucinan yang hakiki yang sangat tipis di bandingkan dengan ketololan yang hakiki pula.


"Lalu bagaimana dengan kamu yang melawan Mr.D. Apa kamu sudah mengetahui tingkat kultivasijya?" tanya Kai penasaran dengan itu.


"Hmm, aku tahu" ucap Dara


"Dia di tingkat apa?" tanya Flo penasaran.


"Tingkat 8 atau Origin level menengah" ucap Dara.


"Apa????" ucap Flo dan Kai berteriak, lalu dengan sadar ia menutup mulutnya kembali, karena takut ada orang yang mendengar mereka..


"Sayang, lebih baik kita pulang saja. Kita tidak akan mampu melawannya. Aku tidak ingin menukar kamu dengan nyawa Sanim bajingan itu" ucap Kai.


"Tidak bisa, Aku akan tetap melawannya. Meskipun ia satu tingkat lebih tinggi dariku, aku yakin bisa mengalahkannya" ucap Dara


"Walaupun aku tahu jika orang tua itu ternyata memiliki ilmu yang murni, itu tandanya kekuatan yang ia punya tidaklah lemah. Karena bagaimanapun, keterampilan bertarung Mr.D pasti sudah di latih dengan sangat baik. Apa lagi pengalaman di usianya yang saat ini atas 200 tahun pasti sangat banyak. Mungkin ini akan menarik!" ucap Dara tersenyum.


"Tapi Yang..." ucap Kai


"Nyawa jutaan bahkan milyaran orang ada di tangan kita sekarang. Kita tidak bisa membiarkan Sanim lolos begitu saja. Aku juga yakin bisa mengalahkannya, jangan khawatir" ucap Dara


"Kamu sangat keras kepala" ucap Kai


"Aku tahu, tapi aku tidak ingin menyesal jika aku membiarkan Sanim lolos. Lalu apa gunanya aku memiliki kekuatan jika tidak di gunakan untuk kebaikan?" ucap Dara mantap Kai.


Kai memejamkan matanya, lalu ia menunduk dan memeluk Dara.


"Berjanjilah akan kembali dengan selamat. Jika tidak aku akan menyusul kemana pun kamu berada, meskipun itu neraka sekalipun" ucap Kai


...•••••••...