
Tak!
"Awwwsss sakit kak" ucap Ajeng meringis.
Lingga menyentil kening Ajeng dengan cukup keras, Ajeng tentu saja teriak kesakitan dan mengelus keningnya yang kini memerah akibat ulah kakaknya itu.
"Guru percintaan apaan, orang pacaran aja kamu belum pernah. Sok-sok an mau jadi tutor" ucap Lingga meledeknya
"Emang harus pacaran dulu baru jadi tutor percintaan? Lagian aku ini cewek, jadi sedikit banyak tahu perasaan sesama cewek. Aku aja ogah kalau di tembak cowok kaya yang kakak lakuin tadi sama kakak cantik. Eh iya, siapa nama kakak cantik itu kak Kai?" ucap Ajeng menoleh pada kakak sepupunya.
"Flower, panggil saja Flo" jawab Kai
"Sesuai dengan namanya" ucap Ajeng
"Maksudnya?" tanya Lingga tidak mengerti
"Cih gitu aja nggak tahu, kayaknya kakak beneran harus less private sama aku deh biar paham dengan gombalan kekinian. Makanya jangan berkutat sama bisnis dan buku aja kak, dunia itu luas bukan cuma wawasan yang luas" ucap Ajeng
"Jangan berbelit-belit dek" ucap Lingga
"Maksud aku tuh ya sesuai sama namanya, bisa membuat orang-orang berbunga-bunga. Kaya kakakku sekarang ini" ucap Ajeng
"Ekhmm..." Lingga berdehem karena ucapan Ajeng.
"Kayanya sekarang kakak percaya deh sama kamu, ajarin kakak pokoknya sampai dapat" ucap Lingga tiba-tiba berubah pikiran.
"Tapi nggak gratis loh ya" ucap Ajeng memasang wajah liciknya.
"Ya elah dek, sama kakak sendiri aja perhitungan" ucap Lingga memutar matanya
"Orang mau pi*is aja bayar kak dua rebu, ya tentu dong aku juga kan butuh tenaga dan energi buat mikir keras biar percintaan kakak lancar gitu" ucap Ajeng.
"Aku di ajarin Kak Kai aja deh" ucap Lingga menoleh ke Kai, tapi seketika itu pula ia kecewa karena jawaban Kai.
Jelas saja nolak, orang Lain aja less private. Tapi bukan sama orang, tapi sama Mbah Google.
"Sibuk!" ucap Kai
"Jangan pelit-pelit sama adek sendiri loh kak, nggak bikin miskin juga kan" ucap Ajeng
"Ya udah, kamu mau berapa?" tanya Lingga
"Aku nggak butuh uang, uangku udah banyak" ucap Ajeng dengan sombongnya
"Terus apa yang kamu mau?" tanya Lingga
"Nah gitu dong, nanti deh aku pikirin dulu mau apaan, nanti Ajeng kasih tahu" ucap Ajeng.
Saat Lingga ingin mengatakan sesuatu, seorang laki-laki tampan dengan aura mendominasi lain datang menghampiri Kai.
"Tuan muda, Maaf menganggu saya cari Nona Dara dari tadi tapi saya tidak melihatnya, apa anda tahu nona di mana?" tanya laki-laki itu.
Ajeng yang melihat mahluk Tuhan paling se*si di katanya itu terdiam terpesona dengan laki-laki di depannya yang tak lain adalah Ferdi. Jantungnya berdetak melihat Ferdi yang terlihat tampan dan juga aura mendominasinya membuat seorang Ajeng tertegun dan terpesona.
"Kamu kapan sampai Fer? Dara sedang bersama Flo di kamarku ada yang ingin mereka bicarakan, kamu bisa tunggu di sini atau makan dulu" ucap Kai pada bawahan tunangannya itu.
"Saya dan yang lain baru saja sampai, terimakasih atas tawarannya Tuan muda. Kalau begitu lebih baik saya tunggu bersama Theo dan yang lain saja di sana" ucap Ferdi menunjuk keberadaan Theo dan yang lain.
Kai mengangguk, Ferdi pun setelah pamit kembali bergabung dengan Theo, Hanna dan Nia di sana.
Ia pun menyenggol Kai dan menunjuk Ajeng dengan dagunya. Kai yang melihat itupun ikut mengerutkan keningnya.
Saat ini ia berpikir jika bukan hanya Dara yang punya daya tarik yang kuat, namun orang-orang di sekitarnya juga sepertinya memiliki daya yang begitu kuat juga.
Lihat saja sepupu perempuannya menatap Ferdi tanpa berkedip. Baru kali ini, baik Kai atau pun Lingga melihat adik perempuan mereka tertarik dengan laki-laki.
"Suka dek?" tanya Lingga, Ajeng tanpa sadar mengangguk antusias tanpa sadar.
"He's so hot and sexy damn, he's mine!" gumam Ajeng dengan seringai di bibirnya, namun masih terdengar kedua kakaknya itu
"Kak Kai, siapa dia?" tanya Ajeng menatap berbinar ke arah Ferdi.
"Tangan kanan Dara sekaligus CEO di perusahaan milik gadis-ku, dia yang mengurus segalanya tentang perusahaan" ucap Kai.
"Gotcha! Aku akan meminta Kak Dara mengenalkanku padanya" ucap Ajeng tanpa malu dan juga bersorak senang.
"Dek lu sehat?" tanya Lingga meletakan tangannya di dahi adiknya itu. Namun tangannya di tampar oleh tangan Ajeng tidak suka.
"Sehat lah, nggak lihat aku seger gini. Bay the way, Kak Ferdi tampan banget kan kak. Fix, dia calon suamiku!" ucap Ajeng tersenyum membuat Lingga dan Kai menggelengkan kepala.
"Lu perempuan dek, jangan malu-maluin" ucap Lingga
"Cinta itu di kejar kak, nggak ada yang malu-malu in. Yang harusnya malu itu, orang yang tidak berani mengambil keputusan yang ia yakini, karena itu sikap seorang pecundang" ucap Ajeng.
....
Di kamar Kai, Dara dan Flo tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamar. Flo masih sempat membuat teh hangat untuk nonanya itu.
"Terimakasih Flo" ucap Dara tersenyum
"Sama-sama nona" jawab Flo
"Apa kamu ingin membicarakan tentang laki-laki yang ada di pesta tadi dan di Bandara itu?" tanya Dara, Flo mengangguk.
Baginya segala sesuatu tentang dirinya, nonanya wajib mengetahuinya dan tidak menyembunyikannya. Ia kemudian menghela nafas dan mulai menceritakan semuanya.
"Namanya Zyan, dia pernah dekat denganku dulu saat masih bergabung di organisasi. Aku pernah menaruh harapan padanya, karena aku pikir hanya dia orang menerimaku dengan tangan terbuka saat tahu aku adalah seorang anggota organisasi pembunuh.
Perasaan ku padanya tumbuh dengan cepat kala itu, ia satu-satunya orang yang mengetahui identitasku, baik itu hanya sebagai anggota Ace di organisasi The Hell dan juga sebagai Puspa Dewanti, seorang gadis yatim piatu yang hanya hidup bersama neneknya.
Saat wajahku cacat, aku tidak berani menemuinya karena aku tidak ingin menakutinya dengan penampilanku yang sudah buruk rupa. Sampai suatu hari nanti, aku melihat dirinya di sebuah Club di ibukota bersama teman-temannya.
Aku hanya bisa duduk sedikit jauh hanya untuk bisa melihat keadaannya karena masih ada rasa rindu di hatiku. Hati aku tercekat saat seorang wanita duduk di pangkuannya dan dia mencumbunya di depan teman-temannya dan ia membalasnya tanpa malu.
Yang buat perasaan aku mati bukan hanya karena itu, karena kami tidak memiliki hubungan selain pertemanan. Tapi akubtidak sengaja mendengar percakapan mereka tentang aku. Ia mengatakan jika ia hanya memanfaatkan aku yang tak lain adalah seorang pembunuh bayaran, untuk memuluskan karirnya.
Bahkan Ia terlibat di penyerangan yang membuat wajahku cacat, yang aku pikir itu karena tindakanku yang menyelamatkan target yang masih kecil. Ia juga ia membantu organisasi agar bisa menemukan persembunyian ku saat aku kabur, sampai akhirnya nenek ikut menjadi korban saat anggota The Hell mengendus keberadaanku.
Sejak hari itu Aku membencinya, bahkan hanya melihat wajahnya saja aku muak dan aku teringat bagaimana nenek meninggal, satu-satunya keluarga ku sudah tidak ada lagi. Hal itu aku sangat ingin sekali membunuhnya dan menghancurkan organisasi itu" ucap Flo meneteskan matanya kala mengingatnya.
"Maaf nona aku jadi lemah seperti ini" ucap Flo
"Kamu tidak lemah, kamu adalah wanita yang sangat kuat. Aku mengagumimu yang bisa bertahan dengan semua hal berat yang terjadi di hidupmu. Menangis lah jika kau ingin, menangis tidak akan membuatmu menjadi lemah Flower. Kalaupun kamu lemah, ada aku di belakangmu yang akan menguatkanmu" ucap Dara memeluk tubuh Flo, seketika itu pula tangisnya pecah.
Dara membiarkan Flo melepaskan rasa sakitnya dengan menangis hingga Flo merasa puas.
...••••••...