The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
79. Star Hospital



Star Hospital, nama itu terpampang dengan jelas dan megah di atas gedung rumah sakit dengan 8 lantai itu. Nuansa rumah sakit pun terlihat lebih asri dengan banyaknya tumbuhan sana di bandingkan sebelum di akuisisi.


Semua karyawan rumah sakit sangat sibuk karena banyak pasien. Baik itu dari kalangan elit maupun kalangan bawah yang di periksa di sini.


Star Hospital kini terkenal dengan julukan Rumah sakit Elite untuk rakyat miskin. Itu bukan julukan yang di gembar-gembor kan oleh pihak perusahaan, tapi oleh pihak pasien dari keluarga miskin itu sendiri setelah menjalani perawatan di rumah sakit.


Dari jauh Dara melihat bagaimana pelayanan karyawannya, ia akan menilai sendiri karyawan yang bekerja di bawah naungan Perusahaannya. Anggap saja ini adalah sidak.


Saat ini Dara melihat ada seorang ibu yang membawa anaknya yang masih anak-anak yang tidak sadarkan diri. Ibu itu membawanya ke UGD, ia mendengar jika rumah sakit ini menerima orang miskin yang berobat tanpa di pungut biaya. Raut wajahnya sangat sedih, dia berharap anaknya bisa sembuh saat berobat di sini.


"Nyonya, anak anda mengalami demam berdarah dan sudah sangat parah, kenapa baru di bawa ke rumah sakit?" ucap Dokter dengan lembut namun tegas.


melihat ke ibu pasien.


"Maafkan saya Dok. Saya hanya orang tidak punya, saya pikir anak saya demam biasa jadi kami merawatnya di rumah. Saat belum juga mendingan saya membawanya ke puskesmas dekat rumah pagi tadi. Pihak Puskesmas menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit karena kondisi putra saya sangat parah. Saya bingung karena saya tidak punya uang, dan kebetulan melihat berita tentang rumah sakit ini yang di siarkan di televisi. Bisakah anak saya mendapatkan perawatan tanpa biaya?" ucap ibu itu dengan raut wajah sedih dan penuh harap.


Ia berharap anaknya bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit ini dan cepat pulih seperti sedia kala. Hanya anaknya yang ia punya setelah suaminya meninggal.


"Itu benar ibu, tentu kami tetap akan merawat anak ibu dengan baik. Lebih baik ibu ke pusat administrasi dan bawa kartu keluarga anak ibu untuk di periksa. Jika sudah diketahui data pasien dari Keluarga tidak mampu, kami pihak rumah sakit akan membebaskan semua biayanya sampai pasien sembuh" ucap Dokter.


"Benarkah? Kalau begitu saya ke administrasi sekarang. Tolong jaga putra saya Dok" ucap ibu itu bahagia mendengar itu dan memiliki harapan untuk kesembuhan anaknya.


Ibu itu berlari menuju pusat administrasi, di sana ada beberapa orang yang mengantri untuk di periksa data pasien yang akan di rawat.


Setidaknya ada delapan petugas yang ada di sana yang memeriksa data pasien. Ibu itu langsung meletakan kartu keluarganya dan juga melampirkan nama pasien yang sedang di ajukan di kotak antrian. Lalu ibu itu duduk menunggu sampai nama anaknya di panggil.


Setelah data anak ibu itu di periksa dan memang benar Keluarga pasien bukan orang mampu, semua biaya pun di bebaskan membuatnya lega.


Dara memperhatikan kinerja semua karyawannya dan ia merasa sangat puas dengan itu. Setidaknya keluarga miskin tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan yang baik di rumah sakit miliknya.


Meskipun pasien rawat inap dari kalangan orang tidak mampu hanya mendapatkan fasilitas yang berbeda. Contoh pasien dengan penyakit menengah akan di rawat di ruangan kelas tiga.


Sedangkan penyakit dengan kondisi parah akan di rawat di ruangan kelas dua. Namun tidak akan mengurangi pelayanan dan juga perawatan yang di berikan.


Dan untuk ruangan kelas satu dan ruangan VIP, itu di peruntukkan untuk pasien dengan membayar jalur umum.


Bukan bermaksud membedakan, tapi rumah sakit bukan dinas sosial. Jadi pastinya membutuhkan aliran dana yang masuk ke Kass rumah sakit, hal itu di peroleh dari pasien yang masuk dari jalur umum.


....


Setelah puas berkeliling Dara langsung menuju ke lantai 8, di mana kantor ada di sana, berikut ruangan istirahat dokter. Sedangkan untuk loker dan tempat istirahat perawat dan Karyawan yang lain ada di lantai 1.


"Selamat siang Ketua" sapa kepala rumah sakit yang bernama Dokter Julian menunduk sopan.


Dokter Julian adalah kepala rumah sakit, ia juga seorang Dokter senior dengan gelar dua spesialis, yakni spesialis organ dalam dan juga ortopedi. Usia Dokter Julian adalah 43 tahun, tahun ini.


"Siang Dokter Julian" sapa balik Dara sopan.


Meskipun Dara masih muda, Dokter Julian tidak berani menganggap remeh. Apalagi ia mendapatkan informasi dari Ferdi, jika nonanya itu adalah seorang ahli obat dan juga Dokter jenius yang di panggil Dokter ajaib.


Awalnya Dokter Julian tidak percaya, namun ia juga mendengar tentang dokter ajaib dari Dokter Yanto yang merupakan kepala Melia Hospital. Yang mana Melia Hospital merupakan rumah sakit terbesar di ibukota dan mengatakan kalau Dokter ajaib itu masih muda dan bernama Addara Azalea.


Tentu saja Dokter Julian terkejut sekaligus sangat mengagumi kemampuan medis Dara yang di kenal Dokter ajaib itu. Dan dia ingin sekali belajar banyak darinya.


"Tidak ada, saya hanya melihat-lihat saja. Ngomong-ngomong saya sangat puas dengan pelayanan yang ada di rumah sakit. Anda harus bisa mempertahankan layanan yang baik ini" ucap Dara.


"Tentu Ketua" ucap Dokter Julian.


Mereka mengobrol untuk masa depan rumah sakit, Dokter Julian menanyakan beberapa hal yang tidak ia ketahui tentang medis dan Dara memberikan sedikit masukan untuk keraguan atau pertanyaan yang tidak bisa Dokter Julian pecahkan.


"Anda sungguh luar biasa, Ketua. Bolehkan saya menjadi muridmu?" tanya Dokter Julian dengan mata berbinar.


Di usianya yang sudah paruh baya, ia tidak malu mengakui gadis yang belum genap 20 tahun itu sebagai gurunya. Baginya di dunia pendidikan, tidak ada namanya tua atau muda. Yang ada hanya kemampuan dan juga wawasan seseorang. Dan Dara lebih unggul darinya.


Tak berapa lama, ada beberapa orang yang datang dengan tergesa-gesa , itu adalah dokter umum yang sedang piket di area pantai 7, yakni ruang rawat inap VIP.


"Maaf mengganggu Dokter kepala, ada hal mendesak. Pasien di ruang rawat VIP 2 sedang kritis" Ucap salah satu Dokter jaga.


"Apa?" ucap Dokter Julian terkejut.


"Ketua" ucap Dokter Julian menatap ke arah Dara. Dokter jaga terkejut saat mendengar Dokter Julian memanggil Dara Ketua.


"Pergilah, pasien membutuhkanmu!" ucap Dara bijak


"Ketua, bisakah anda ikut? Penyakit pasien sedikit berbeda, ini kasus langka" ucap Dokter Julian.


"Baiklah, ceritakan sambil jalan saja" ucap Dara.


Dokter Julian menjelaskan, jika penyakit yang di derita pasien sedikit unik. Tubuh pasien akan merasa terbakar bahkan muncul ruam merah hingga rasa sakit tak tertahankan. Bahkan sampai memuntahkan darah lalu setelahnya mengalami koma, Saat kritis bahkan kesulitan untuk bernafas.


Saat di cek oleh alat kedokteran tidak ada yang salah dengan tubuh pasien, hal itu membuat dokter di rumah sakit merasa heran.


...••••••...



Nama : Ezio Putra Setya (Ezio/Zio)


Usia : 15 tahun


Pekerjaan : Pelajar senior high school