
Sepeninggal Kai, Dara dan Theo sudah di sibukkan dengan barang-barang tadi. Sebelum Dara mulai mengambil sampel dan meneliti cairan apa itu. Ia mempelajari semua data yang ada di dalam Chip itu.
Hada dalam sekali baca, semua data sudah tersimpan jelas di memori Dara.
Juga setidaknya butuh hingga dua jam Dara meneliti cairan apa itu. Bukan karena Dara tidak kompeten, karena dokter terhebat di negaranya pun belum tentu bisa menemukan jawaban dalam beberapa hari.
Tapi Dara yang memang awalnya adalah gadis cerdas di tambah memiliki jiwa dan memori Liu Annchi yang merupakan top kultivator dan juga ahli alkimia dan juga pengobatan tradisional. Meneliti obat dalam metode modern hanya merasakan sedikit susah.
Dara juga meneliti tak terburu-buru, ia sekaligus belajar komponen baru di bidang pengobatan modern. 'Seperti pepatah menyelam sambil minum air'.
"Si*l, ternyata di dunia ini ada iblis berwujud manusia. Bagaimana mereka bisa membuat hal seperti ini!!!" geram Dara saat sudah berhasil memecahkan cairan apa itu.
"Apa anda sudah berhasil meneliti itu bos?" tanya Theo mendengar ucapan Dara barusan.
"Ya!" ucap Dara masih menahan emosinya mengetahui kegunaan cairan itu.
"Apa itu?" tanya Theo penasaran
"Nanti aku akan jelaskan jika Kai ke sini nanti malam. Bagaimana dengan pelacakanmu Theo?" tanya balik Dara
"Sudah di dapat bos, baru saja. Lihatlah semua data yang berhubungan dengan Chip ini!" ucap Theo.
Dara langsung bergegas melihat hasil pelacakan Theo tentang siapa yang membuat Data di Chip dan juga siapa saja yang mengetahui data itu.
Dara mengerutkan keningnya saat melihat setidaknya ada lima orang yang mengetahui atu yang berhubungan dengan pembuatan Data Chip itu.
"Aku akan menelepon Kai, kau istirahatlah. Minum ini! Ini akan membuatmu segar kembali" ucap Dara memberikan Pil Vitalitas untuk Theo
"Terimakasih bos" ucap Theo menerimanya dengan senang hati, karena ia tahu betapa berharganya sebuah pil yang di buat Dara.
"Maaf Theo" ucap Dara tiba-tiba menyentuh kening Theo dengan jari telunjuknya.
"Eh...." Theo kebingungan dengan apa yang di lakukan Dara.
"Sudah" ucap Dara
"Sudah? Apa itu bos?" Theo bingung, jujur saja ia tidak merasakan apa-apa selain merasakan sentuhan jari telunjuknya nonanya pada keningnya itu.
"Aku hanya memberikan mantra padamu" ucap Dara lagi
"Mantra apa Bos? Jangan bilang mantra agar aku jatuh cinta pada bos? Oh tidak! Jangan! Jangan bos! Aku masih sayang nyawa, aku masih mau hidup, bertemu gadis cantik yang menggemaskan, pacaran terus menikah, punya anak sebelas. Biar nggak usah cari orang kalau mau tanding bola. Aku juga masih mau buat semua barang impianku" cerocos Theo, ia membayangkan murka Kai si bucin itu, Pastinya Kai akan menghajarnya sampai ko'it, karena berani mendekati calon istrinya itu.
TAK!!!
"Awwwsss.... Sakit bos" ucap Theo mengelus keningnya.
"Siapa yang mau mantrain kamu biar jatuh cinta hah? Pikiran kamu udah melenceng jauh" ucap Dara mendengus.
"Lah terus?" ucap Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hah, emang ada kalanya kamu bisa oon juga. Aku kira kamu adalah bawahanku paling pintar" ucap Dara
"Aduh bos, kok nyesek gitu ya kedengarannya... Makjleb gitu, sakitnya tuh di sini bos" ucap Theo mendramatisir memegang dadanya.
"Haish... Aku pasang mantra pelacak untuk mendeteksi bahaya dan lokasimu. Setidaknya aku harus mengantisipasi, bisa saja kita lengah dan pihak musuh mengetahui kamu ikut terlibat karena kamu sekarang berada di sini dan bertemu Kai" ucap Dara menghela nafas.
"Ooohh, he-he maaf bos dan terimakasih banyak Aku terharu loh, ternya bos sangat perhatian padaku" ucap Theo mengedip-ngedipkan matanya.
"Dasar kau ini, jijik tahu. Sudah sana istirahat, jangan sampai aku berubah pikiran dan membuatmu lembur beberapa hari" ucap Dara mendorong Theo keluar. Theo tentu saja melotot terkejut saat mendengarnya. Namun ia tidak bisa mengatakan apa-apa, dari pada ia harus kerja lembur bagai kuda.
....
Di ibukota
Flo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Lingga yang selalu mengikutinya. Bahkan saat ia harus meeting dengan tim operasional. Lingga ikut dan berdiri di belakangnya seolah ia seorang bodyguard.
Bukan hanya itu yang membuat Flo menghela nafas, itu karena tatapan mematikan Lingga yang menatap tajam pada semua karyawan laki-laki yang menatap Flo dengan tatapan terpesona dan kagum.
Dengan pedenya Lingga mengatakan pada semuanya jika ia adalah calon suami Flo. Lingga semakin pedenya saat Flo sama sekali tidak membantahnya dan membuat semua orang mengira hal itu benar.
"Kenapa Hmm? ajukan cuma minta di suapin Baby" ucap Lingga lembut saat keduanya tengah makan di sebuah restoran dan duduk di salah satu room Private yang mereka booking.
"Kamu punya tangan kan? Makan sendiri! Dan juga berhenti panggil aku begitu" ucap Flo
"Aku punya, tapi aku pengen di suapin sama calon istri dong. Kalau aku nggak panggil Baby, terus panggil apa? Aahhh kamu mau aku panggil sayang aja?" ucap Lingga menatap wajah cantik gadis pujaannya yang tengah kesal itu.
"Haisss... Terserah kamu aja, capek debat" ucap Flo kehabisan kata-kata.
Karena sebagaimana pun Flo ngebantah, Lingga selalu ada jawabannya. Bahkan semakin menggila.
"Hmm, kalau gitu suapin dong sayang, Aaaaaa...." ucap Lingga dengan menampilkan senyum semanis mungkin kemudian membuka mulut.
Flo sempat tertegun melihat senyum itu, entah mengapa jantungnya kini tengah ber gendang ria di iringi orkestra. Hingga tidak sadar Flo menyuapi Lingga dengan sendok miliknya.
"Wow bukankah ini berarti kita sudah ciuman secara tidak langsung? indirect Kiss!!" ucap Lingga.
"Uhuuukkk.... Uhuuukkk...." Flo tersedak saat ia menyadari hal yang di ucapkan Lingga.
"Minum sayang, pelan-pelan" ucap Lingga menyodorkan minum dan menepuk pelan punggung Flo.
Flo jadi sedikit canggung dan malu, ia hanya diam saja sekarang. Hal itu membuat Lingga gemas sendiri, setelah makan selesai Lingga langsung mencoba mengajaknya bicara.
"Sayang, jangan diem aja dong" ucap Lingga.
"Aku harus kembali ke kantor" ucap Flo sudah mulai berdiri, namun Lingga tidak tinggal diam. Ia menarik Flo hingga Flo terjatuh di pangkuannya.
"Aah, lepas!" ucap Flo terkejut dan mencoba melepaskan pelukan Lingga di perutnya.
"Nggak sayang, biarkan begini sebentar saja" ucap Lingga sembari menatap Flo dan mengelus pipinya.
Jantung Flo tidak aman sekarang, karena detak jantungnya begitu kencang. Flo sedikit malu, sebab takut debaran jantungnya terdengar oleh Lingga.
"Aku mencintaimu Flo, menikahlah denganku!!!" ucap Lingga.
Flo terkejut mendengar lamaran Lingga. Biasanya Lingga hanya mengatakan cinta saja, namun kali ini Lingga langsung melamarnya.
Flo melihat tatapan tulus penuh cinta yang mengarah padanya, ia yakin jika dirinya juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja status mereka berbeda yang membuat Flo sulit menerimanya.
Bukan status keluarga. Tapi status kehidupan, Flo seorang kultivator yang bisa hidup lebih dari manusia biasa dan tidak mudah menua. Flo memikirkan hal itu mungkin akan melukai dan menyakiti Lingga.
"Lingga...." ucap Flo
PLUK!!!
Kening Lingga ia sandarkan di pundak Flo yang masih berada di pangkuannya saat Flo mau bicara. Tangannya tidak melepas pelukan di pinggang gadis itu.
"Apa begitu sulit membukanya? Jangan khawatir, aku akan menunggu sampai kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Aku mencintaimu, sampai kapanpun itu" ucap Lingga.
"Lingga, ada hal yang sulit untuk kita bisa bersama" ucap Flo.
"Apa? Apa itu tentang masa lalumu? Aku tidak pernah menyalahkanmu ataupun membencimu, atas apa yang dulu kamu lakukan. Itu bukan keinginanmu, bukankah saat ini aku masih hidup dan sehat. Kamu bahkan tidak menyentuhku apalagi menyakitiku saat itu, jadi aku masih selamat" ucap Lingga membuat Flo terkejut.
Melihat raut wajah Flo, Lingga tersenyum, ingin sekali ia mencium pipi Flo..
"Aku tahu semuanya dan aku tidak masalah dengan masa lalumu. Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan dan aku mencintaimu" ucap Lingga lagi
Flo tertunduk, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
"Apa kamu mencintaiku juga Flo?" tanya Lingga kemudian.
Flo mendongak dan menatap manik indah dan menenangkan milik Lingga. Ia melihat tatapan penuh cinta dan penuh harap padanya.
Flo memejamkan matanya sejenak, sebelum ia menjawab apa yang ia rasakan saat ini. Ia harap setelah ini Lingga akan mengerti.
...•••••••...