
Keesokan harinya, tidak ada satu ART pun yang berani membahas tentang perginya dua tamu itu secara tiba-tiba. Pak Agam memerintahkan semua ART tidak ada yang mengungkitnya.
Meskipun sebenarnya Pak Agam juga penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu, namun ia tidak berhak tahu urusan majikannya. Walaupun ia sudah di anggap sebagai bagian dari keluarga Dara, namun ia menyadari posisinya masihlah sebagai orang luar.
"Yah, kok sofa di ruang tamu beda ya? Apa kak Dara atau kak Kaisar beli sofa baru?" tanya Ryan yang menyadari sofa tamu berbeda dari kemarin.
"Benar juga, aku baru ngeh" sahut Dimas di samping Ryan. Keduanya saat ini sudah siap berangkat ke sekolah setelah sarapan bersama beberapa saat yang lalu.
"Iya, tuan Kaisar yang menggantinya kemarin tuan muda" jawab pak Agam
Meskipun sudah berkali-kali, baik Dara atau pun Dimas memintanya memanggil nama saja. Namun Pak Agam masih segan dan memilih untuk memanggi seperti yang biasanya ia lakukan.
Baginya, sudah sangat bersyukur memiliki majikan seperti Dara dan Dimas yang tidak menganggap rendah dirinya dan juga pekerja yang lain.
Ia juga sangat berterima kasih pada Dara, karena sudah mengangkat kedua anaknya menjadi anggota keluarga. Bahkan memberikan fasilitas yang sama dengan yang Dara berikan untuk adik kandungnya Dimas.
Bagi pak Agam, hal itu sudah merupakan anugerah bagi keluarga nya.
"Dih kelakuan kakak ipar, sofa masih bener udah di ganti aja. Terus sofa lama di kemana in Pak?" ucap Dimas menggelengkan kepalanya.
"Di berikan ke Asti tuan muda, kebetulan Asti tidak punya sofa di rumahnya. Tuan Kai menggantinya karena salah satu sofa ada yang rusak" ucap pak Agam.
"Oh gitu, syukurlah. Setidaknya sofa lain yang masih benar tidak di buang dan tetap bermanfaat buat orang lain yang membutuhkan" ucap Dimas
"Yan, kamu dan Tuan muda tidak lekas berangkat sekolah, hari sudah mulai siang. Kalian bisa terlambat" ucap Pak Agam mengingatkan.
"Ah sampe lupa, kalau gitu aku berangkat sekolah dulu yah. Do'akan Ryan hari ini ada kompetisi basket di sekolah" ucap Ryan pamit pada ayahnya dan mencium tangannya.
"Dimas juga berangkat dulu ya pak" ucap Dimas yang juga pamit dan mencium tangan pak Agam.
"Semoga berhasil Yan, kalian berdua hati-hati, jangan ngebut-ngebut bawa motornya" ingat pak Agam yang di balas acungan jempol dua remaja tampan itu.
....
Dara berjalan menuju ke kandang White, hari ini ia membuat formasi pintu teleport yang menghubungkan star mansion dengan Goddess Hill Villa.
Keempat anaknya ia titipkan sementara ke baby sitter dan Kai sudah berangkat ke pangkalan pagi-pagi sekali.
Setelah nya pintu teleportasi sudah selesai di buat, Dara dan White membawa dua orang tamu tidak di undang itu ke markas pusat GOD. Tentu dengan mata mereka yang di tutup kain dan di buat tidak sadarkan diri.
"Queen..." sapa semua anggota GOD.
"Panggil Mike!" ucap Dara
"Baik Queen!" jawab mereka dan salah satu anggota kemudian memanggil Mike.
Tak lama kemudian Mike datang dan memberikan salam untuk Dara. Ia mengerutkan keningnya saat melihat dua orang tidak sadarkan diri dengan mata tertutup kain di punggung White.
"Salam Queen" sapa Mike.
"Hallo Mike..." ucap Dara
"Mike, minta anggota mu bawa dua itu ke ruangan Blok B" ucap Dara lagi
"Baik" ucap Mike yang langsung meminta anggota nya untuk membawa dua orang yang sekarang ia yakini sebagai orang bodoh berani menyinggung Queen-nya itu.
Karena ruangan di Blok B adalah ruangan khusus untuk menyiksa target khusus Queen. Jadi sudah sangat jelas jika orang itu adalah musuh atau orang yang menyinggung Queen mereka.
"Ada yang bisa saya bantu Queen? Dan apa kedua orang itu membuat masalah dengan anda?" tanya Mike
"Ya, mereka dua orang tidak tahu malu yang sudah berani mengusik rumah tangga ku. Jadi bantu aku memberikan dua orang itu pelajaran, Mike! Tapi ingat, jangan sampai membuat mereka mati, cukup buat keduanya merasakan sakit yang membekas selamanya di ingatan mereka. Siksa mereka selama seminggu, setelah seminggu obati lukanya sampai tidak ada meninggal kan bekas, lalu buang mereka ke kota P tepatnya ke keluarga mereka.
Setelah dua orang itu sampai di keluarganya, kirim semua bukti tindakan buruk dan aib mereka ke media sosial. Buat mereka mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat, hingga mereka merasakan rasanya hidup sungkan, mati tak mau. Mati terlalu enak bagi morang seperti mereka, jadi sebelum mereka pergi ke neraka. Akan ku buat dia merasakan nikmatnya neraka dunia seperti apa" ucap Dara menyeringai
"Di mengerti Queen" ucap Mike mengangguk paham.
"Ah ya, jangan lukao di bagian perutnya, karena wanita ja*ang itu tengah mengandung. Pastikan semua bukti yang mengarah padaku dan suamiku di hilangkan" ucap Dara
"Baik" ucap Mike lagi
Meskipun terdengar kejam, Mike selalu mengagumi sosok Queen itu. Ia sangat tahu Dara pada dasarnya adalah orang sangat baik dan lembut. Hanya saja, ia juga bukan tipe orang yang diam saja saat di usik.
Sebutan macan betina yang sedang tidur pantas di sandang oleh Queen GOD itu. Karena Dara tidak akan melepaskan mangsa yang sudah berani masuk ke wilayah teritorialnya.
Setelah semua urusan di markas selesai, Dara langsung kembali bersama White ke Star mansion. Ia tidak bisa keluar lama, karena tidak bisa meninggalkan keempat anaknya meskipun ada Baby sitter dan juga ART yang bekerja di sana.
....
Di Pangkalan militer, Kai yang sudah mulai kembali bertugas. Tidak langsung pergi ke unit pasukan khusus, tapi ia pergi ke divisi tingkat tinggi.
Kejadian kedatangan dua hama kemarin membuatnya merasa geram, jadi ia memutuskan untuk bertindak tegas.
Sebelumnya ia tidak mengambil tindakan setelah Nathan dan Rafael mengatakan padanya jika masalah dengan dua orang itu sudah selesai di sana. Kai melepaskan keduanya karena ia tidak ingin repot mengurus hal-hal tidak penting dan malas mengurusi dua orang itu.
Dia pikir dua orang itu sudah kapok, namun ternyata tebakannya salah. Sungguh Kai tidak paham dengan pikiran dua biang masalah itu.
"Ada apa jendral Kaisar mengumpulkan kamu di sini?" tanya salah satu petinggi militer.
Semua petinggi militer Kai kumpulkan termasuk ayahnya.
"Saya ingin meminta sesuatu pada senior" ucap Kai sopan meskipun ia berbicara dengan nada datar dan dinginnya.
"Tentu katakan saja" ucap yang lain.
"Buat petisi, saya ingin seorang pejabat pemerintahan di kota P yang bernama Fariz Sebastian di copot dari jabatannya, bekukan seluruh aset Keluarganya. Boikot semua usaha yang di lakukan Keluarga itu!" ucap Kai yang membuat semua orang terkejut.
"Memang apa yang terjadi Jendral?" tanya salah satu di antaranya
"Orang itu berani memfitnah saya, mencemarkan nama baik Falcon, mengganggu ketentraman keluarga saya dan melakukan tindakan tidak menyenangkan. Bahkan mengancam atas apa yang tidak pernah saya lakukan" ucap Kai tenang.
Semua orang terkejut mendengar alasan mengapa Kai ingin menurunkan jabatan seorang pejabat senior pemerintahan di kota P. Jujur sebenarnya mereka ingin menolak, mereka ingin memberikan solusi lain untuk masalah ini. Mengingat posisi Fariz di kota P juga cukup kuat dan memiliki pengaruh yang besar.
Namun mereka tidak berani mengutarakannya, meskipun jabatan mereka semua tinggi. Tapi nyatanya mereka tidak ada yang berani menolak dan sangat takut dengan sosok Kai, terlebih juga Galuh masih memegang tahta tertinggi di militer saat ini.
Tidak ada yang lebih tahu dari mereka, jika Kai sangat di segani di dalam kemiliteran. Bahkan ayahnya sekali pun tidak bisa berkutik jika Kai sudah memutuskan sesuatu.
"Kalian boleh menolak permintaan saya, tapi saya pastikan akan melakukan hal lebih dari ini jika saya pribadi yang turun tangan" ucap Kai.
Membuat mau tak mau semua orang menelan saliva dengan kasar dan menyetujui ucapan Kai. Itu bukan ancaman, tapi mereka tahu Kai pasti akan melakukan apa yang ia ucapkan.
Beberapa tahun lalu, ada beberapa pejabat tinggi kemiliteran yang menentang ucapan Kai. Keesokan harinya semua kekuasaan pejabat itu runtuh, bahkan berakhir di rumah sakit jiwa.
Kejadian serupa sama terjadi, namun kali ini terjadi kebakaran besar yang mengakibatkan semua anggota keluarga tidak ada yang selamat.
Tapi sayangnya tidak ada bukti apapun yang mengarah pada Kai. Ada beberapa orang yang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, justru entah bagaimana bisa orang itu malah menjadi tersangka.
Para petinggi tidak ada yang berani berkutik jika berhadapan dengan Kai. Pasalnya delapan puluh persen kekuatan militer negara, di pegang kendali secara penuh oleh Kai di balik layar.
Bahkan Galuh, sang ayah. Tidak memiliki pengaruh sebesar Kai di kemiliteran.
...•••••••...