
Dara yang keluar dari kelas langsung berlari melewati koridor fakultas kedokteran. Ia dengan cepat menuju ke arah sebuah gudang yang terletak di gedung sebelah yang tak lain adalah gedung fakultas teknologi dan informasi.
BRAK!!!
BLAM!!!
Dara mendobrak dan memukul orang di sana.
"arrrgghhh" teriak orang di dalamnya
Dua orang yang ada di dalam gudang pun terlempar dan menubruk barang-barang yang ada di sana. Dua orang lainnya tertegun melihat siapa yang datang, sedangkan satu perempuan masih meringkuk di pojokan dengan menagis..
"K-kau! bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya salah seorang di sana.
Dara mengabaikannya dan berjalan menuju ke arah perempuan yang masih meringkuk dan menepuknya pelan..
"Da, aku sudah di sini" ucap Dara
"Ra...." ucap perempuan yang tak lain adalah Manda itu mendongak menatap Dara.
Sudut bibirnya sobek dan ada bekas tamparan memerah di pipi kanan dan kirinya hingga lebam. Dara yang melihat temannya di aniaya oleh tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Yang tak lain adalah Mantan pacar Manda, Riki. Juga Mira dan dua orang teman Riki yang kita sebut saja Bejo dan Budi. Jelas sangat marah.
"Hei jangan ikut campur! Pergi sana!" ucap Mira.
"Kalian tidak mendengarkan peringatan ku sebelum nya rupanya" ucap Dara dengan Datar dan dingin.
"Dasar perempuan ja**ng! Gue bilang jangan ikut campur! Budeg lo??" ucap Mira menekan rasa takutnya.
Ia pikir apa yang bisa di lakukan Dara yang notabene perempuan, sedangkan mereka ada laki-laki dan lebih dari satu orang. Ia lupa jika dua orang lainnya sudah di pukul dan masih mengerang kesakitan di sana.
"Apa yang terjadi?" tanya Dara pada Manda, ia mengabaikan orang lain yang ada di sana.
"Aku tiba-tiba di tarik oleh Mira ke gudang ini saat ingin ke toilet, aku berusaha memberontak tapi nggak bisa. Lalu aku lihat ada Riki dan dua temannya juga di dalam gudang. Ri-Riki bilang aku harus bertanggung jawab atas rasa malunya atas kejadian kemarin.
D-dan dia berniat menjualku ke tempat Nyonya Cemanik, yang punya tempat centili yang ada di gang kopi lendot itu Ra, ia mengatakan itu yang harus aku lakukan sebagai bayaran pernah menjadi pacarnya. Aku merasa aneh dan ingin lari tapi mereka malah memukulku, ja-jadi aku hanya bisa berharap dan menunggu kamu datang" ucap Manda terisak menjelaskan.
Jelas Dara marah mendengar itu, untung saja sebelumnya Dara memberikan cincin untuk Manda. Ia mengatakan pada Manda agar mengetuk tiga kali batu di cincin itu jika ia mengalami kejadian yang buruk dan butuh bantuan dirinya, dan ia akan segera datang.
Batu yang ada di cincin itu terhubung dengan batu permata yang ada pada dirinya. Berbeda dengan kalung yang di kenakan Kai, adalah koneksi batin dan penangkal kekuatan.
Jika itu terjadi pada Kai, Dara bisa merasakannya langsung tanpa ada perantara seperti yang di lakukan Manda dengan cara mengetuk batu permata tersebut.
Juga Kalung Kai bisa menangkal kekuatan besar yang ingin menyerangnya, sedangkan Manda tidak. Itu sebabnya Manda masih bisa terkena tamparan dari para manusia laknat itu.
"Apa yang di katakan Manda benar?" tanya Dara menoleh dan menatap tajam ke arah Riki dan Mira juga kedua rekan Riki yang kini sudah berdiri di samping Riki.
"Me-memangnya kenapa kali benar? Kau memang bisa melakukan apa hah?" ucap Riki seolah berani. Padahal ia merasa terintimidasi oleh tatapan Dara. Namun ia masih tidak mempercaya seorang wanita lemah seperti Dara bisa mencelai dirinya.
Wusshhhh!!!
BUGH!!!
BRAK!!!
"Aarrrgghhh, hueekkk" Riki mengerang sakit, terlebih beberapa giginya patah dan mengeluarkan darah.
"K-kau! Berani sekali kau melawan Riki! Kau akan terima akibatnya!!!" Teriak Mira terkejut melihat Riki terkapar tak berdaya, namun ia juga sebenarnya takut dengan tatapan Dara yang seolah mengulitinya.
GREP!!!
"Uuukkhhhh... Le-phas!" ucap Mira yang kini lehernya di cekik oleh Dara.
"Kau pikir aku takut? Bahkan jika kalian berasal dari keluarga besar di ibukota, aku tidak takut sama sekali. Kau lupa apa yang terjadi pada Romeo? Ah, apa aku harus mengingatkannya lagi?" ucap Dara datar dan menatap tajam ke arah Mira.
Mira juga yang mendengar ucapan Dara tertegun, jelas ia ingat betapa seriusnya masalah Dara dan Romeo saat itu. Ia berpikir jika Dara akan di keluarkan dan juga akan di buat menderita oleh keluarga Pramana.
Dua rekan Riki tubuhnya sudah bergetar tidak berani membela temannya ataupun kabur dari sana. Bagi mereka, aura Dara sangat mengintimidasi dan membuat mereka ketakutan.
Namun sampai saat ini Dara kasih berdiri dalam keadaan sehat, bahkan Romeo yang terkenal sombong dan anak dari keluarga besar di ibukota secara khusus meminta maaf pada Dara.
BRUK!!
"Uhuuukkk uhuuukkk...." Mira terbatuk saat Dara melepaskan cekikannya dan membuatnya jatuh tersungkur di atas lantai.
"T-tolong maafkan kami" ucap Dua rekan Riki yakni Bejo dan Budi menunduk.
"Kalian salah, bukan padaku kalian minta maaf. Minta maaflah padanya dan kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" tanya Dara
Bejo dan Budi saling bersitatap kemudian mengangguk. Keduanya kemudian duduk bersimpuh dan menampar wajah mereka masing-masing dengan keras dan mengucapkan 'Aku minta Maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi'
Kemudian setelahnya mereka berdua berdiri ke arah Riki dan Mira, lalu menampar mereka dengan keras hingga Mira dan Riki jatuh pingsan.
"Bawa mereka berdua, ingat jangan ceritakan hal ini pada yang lain" ucap Dara
"Ba-baik!" ucap Beji dan Budi bersamaan, kemudian menarik Riki dan Mira keluar dari gudang.
"Ra makasih sudah menolong ku" ucap Manda memeluk Dara.
Dara membalas memeluk Manda, ia merasa kasihan dengan temannya itu. Ia juga tidak bisa tinggal diam dan membiarkan masalah lain terjadi di masa depan.
Meskipun luka yang di terima Manda tidak seberapa dan tidak akan menganggu tumbuh kembang janin. Tapi tetap saja Manda manusia biasa, dan kemungkinan buruk bisa saja terjadi jika masalahnya tidak segera di basmi sampai akar.
"Hmm, kau temanku. Jadi sudah sewajarnya aku membantumu. Ayo ke UKS, kita obati lukamu" ucap Dara.
Meskipun ia memiliki banyak pil, namun tidak baik menggunakan pil hanya untuk luka ringan seperti ini. Jadi dara putuskan untuk mengobatinya secara modern.
Keduanya kemudian mengobati luka itu di UKS, Dara juga memberikan kompresan untuk mengompres pipi Manda yang bengkak. Manda sangat berterima kasih karena Tuhan mengirim sosok Dara untuk menjadi malaikat yang menenangkannya.
...••••••...