The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
184. Babak Ketiga- Menuju semifinal



Kini tiba giliran Kai yang maju, di putaran 16 besar ini ia melawan salah satu panatua muda bernama Azam dari padepokan jati di kota C.


Meskipun Azam terlihat masih berusia tiga puluhan, nyatanya usia sebenernya sudah setengah abad. Ia merupakan panatua karena di usianya itu terbilang berbakat, karena sudah berada di tingkat empat menengah.


"Salam, Saya Azam" ucap Azam terlihat mengepalkan tangan ke depan memberi salam sebelum mulai bertanding.


"Salam, Saya Kaisar" ucap Kai, meskipun dengan saingannya Kai masih sopan karena lawannya juga menyapanya dengan sopan pula.


"Siap! Mulai!" ucap wasit.


"Hiyaaaa....!!!!" Teriakan Azam memulai serangan setelah wasit sudah memberi aba-aba pertandingan di mulai.


Kai dengan santai menghindar dari serangan itu, baginya serangan itu terlihat sangat lambat di matanya. Pada serangan kedua, Kai langsung menangkis dan memukul balik lawannya.


BUK!!!


"Aaakkhhh!!!" teriak Azam saat dadanya terkena pukulan telapak dari Kai.


Padahal Kai hanya menggunakan dua puluh persen dari kekuatannya, namun masih berdampak serius bagi Azam. Terlihat Azam mengatur nafas, wajahnya seperti menahan sakit dan juga sesak di dadanya karena pukulan telak Kai.


Tak berlangsung lama, keduanya kembali bertarung.


DUAK!!!


Kai kali ini melakukan tendangan putaran dan tepat mengenai pipi kiri Azam dan membuatnya jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.


Kai hanya terdiam melihat itu, ia baru sadar saat wasit menyatakan ia masuk ke babak selanjutnya yakni babak 8 besar.


"Tuan muda, kenapa?" tanya Flo saat melihat Kai yang hanya diam saja saat menyelesaikan pertandingan nya barusan.


"Aku hanya bingung, kok mudah banget ngalahin dia, padahal aku cuma pakai sedikit tenaga saja" ucap Kai polos.


Flo berusaha menahan tawanya saat mendengar ucapan calon suami dari nonanya itu. Entah Kai polos atau apa, jelas saja Azam langsung kalah karena Kai adalah lawan yang sangat berat. Kelas mereka jelas berbeda.


"Tentu saja dia cepat kalah. Bukan cuma karena ia terlalu lemah, tapi memang anda yang sangat kuat" ucap Flo


"Oh" Kai hanya mengangguk dan tidak lagi mengambil pusing hal itu.


.....


Kini babak kedua penyelisihan 16 besar sudah selesai. Yang masuk 8 besar di antaranya, Kai, Flo, Sebastian, Wisnu, Arya, Hiro Eugene dan Adam.


Para peserta di berikan waktu selama tiga puluh menit untuk beristirahat. Kai dan Flo langsung berjalan menuju ke arah Dara.


Bruk! Kai menyenderkan kepalanya ke bahu sang kekasih, membuat Dara hanya terkekeh pelan di balik cadarnya itu.


"Capek yang" bisik lirih Kai hanya di dengar oleh Dara.


"Capek apanya? Orang kamu nggak pakai setengah tenaga pun barusan. Kayanya seperempat juga tidak ada" ucap Dara, namun tindakannya berlawanan dengan ucapannya. Tangannya tidak tagu mengelus kepala sang kekasih dengan lembut dan penuh sayang.


"Nah itu maksudku. Aku capek karena terlalu banyak diam, baru juga gerak dikit, eh... lawan udah K.O duluan. Aku kan cuma melakukan pemanasan tadi, udah tepar aja" ucap Kai membuat Dara, Flo dan Tirta yang mendengar nya terkekeh geli.


Terlebih Tirta yang jarang sekali melihat tuan mudanya yang dingin dan datar itu, mungkin karena sekarang Kai berbicara dengan belahan jiwanya hingga ia bisa berbicara panjang dan lembut.


"Kamu ini ada ada saja" ucap Dara mencubit pipi Kai gemas.


....


Setelah selesai waktu istirahat, peserta sudah kembali ke arena. Kai melawan Eugene, seorang kultivator wanita blasteran negara B yang memiliki julukan negara kincir angin itu.


Meskipun ibunya berasal dari Negara B, Ayahnya asli lokal dari kota S. Eugene sejak lahir sampai dewasa di besarkan di kota S. Jadi ia lebih mencintai negara ini di bandingkan negara asal ibunya itu.


Eugene adalah wanita cantik berusia 45 tahun, namun wajahnya terlihat seperti wanita berusia akhir 20 an. Kultivasinya sudah di tingkat 4 level junior atau awal.


Di usianya yang menginjak kepala empat itu ia baru menikah saat usianya 40 tahun dan memiliki sorang putra tahun lalu. Namun ia tidak pantang menyerah untuk ikut kompetisi ini.


"Salam..." ucap Kai dan Eugene sebelum memulai pertandingan.


BUGH!!!


Eugene melakukan penyerangan terlebih dulu, Kai sudah mengantisipasi hal itu lebih awal jadi ia langsung bisa menangkis serangan itu.


Meskipun Eugene adalah seorang wanita, namun ia sangat brutal namun terkontrol dengan baik emosinya saat menyerang. Kelebihan Eugene adalah fisiknya yang sangat keras. Hingga saat Kai memukul itu terasa seperti memukul lempengan baja.


Sembari menghindar dan Menangkis Kai memperhatikan dengan halus kelemahan lawan hingga tidak di sadari oleh Eugene. Kai langsung memukul telak kelemahan Eugene tepat di bawah ketiak sebelah kanan.


"Aaaarrrrrggghhhhh!!!" teriak Eugene dengan kencang karena kesakitan.


Meskipun Kai tidak memukulnya dengan kekuatan penuh, namun itu berhasil membuat tubuh Eugene Tremor dan melemah. Eugene masih berdiri lagi dan mencoba menyerang meskipun tubuhnya lemah, ia enggan menyerah. Namun Kai tidak tinggal diam, ia kembali melayangkan tendangan dan tepat mengenai pinggang sebelah kiri yang merupakan titik kelemahan fatal Eugene.


BUGH!!!


"Ah sakit, aku menyerah!" ucap Eugene hingga wasit menyatakan Kai masuk ke semi Final.


....


Di arena lain, Sebastian melawan Hiro. Seorang kultivator level Qi Transformasion level senior dari padepokan Satria kota Borneo.


Hiro kalah telak dengan sekali serang, yang menyebabkan empat tulang rusuknya patah dan hatinya terluka parah karena terkena serpihan tulang lalu jatuh tidak sadarkan diri.


Wasit menyatakan Sebastian masuk ke semifinal. Meskipun tindakan Sebastian berlebihan, namun itu tidak di anggap menyalahi aturan. Karena pusat energi lawannya baik-baik saja.


"Cih, masih tingkat rendah tidak tahu diri masih ingin melawanku" gumam Sebastian terkesan sombong dan arogan.


....


Di arena tiga Wisnu dari padepokan Maung melawan Adam dari padepokan Suralagi, yang merupakan padepokan dari kota B. Keduanya memiliki kekuatan yang seimbang, namun Wisnu masih unggul dan berhasil mengalahkannya dan masuk ke semifinal, bergabung dengan Kai dan Sebastian.


Kini di Area empat ada Flo dan juga Arya yang merupakan murid dari padepokan Jatisura. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan di tingkat Qi Transformasion level puncak.


"Salam!" ucap keduanya bertukar salam.


Keduanya pun memulai pertandingan, namun Arya seperti kehilangan fokus saat menghadapi Flo. Sepertinya dia terpesona karena kecantikan Flo yang terlihat sangat eksotis khas wanita pribumi dengan kulit sawo matang ya itu.


BUGH!


Flo memukul wajah Arya dengan keras, membuat kepala Arya tertoleh.


"Paman perhatikan arah matamu" ucap sinis Flo


Tentu Flo memanggil dengan sebutan paman, karena usia Arya saat ini sekitar 40 tahun.


"Ah maaf, kamu terlalu cantik untuk di abaikan" ucap Arya terkekeh lalu meringis sakit saat merasakan pipi kirinya yang abis terkena pukulan.


"Arya fokus!" teriak salah seorang dari bangku penonton.


Arya mengenal suara itu yang tidak lain adalah gurunya. Ia jadi merasa tidak enak karena baru saja ia tidak fokus saat menghadapi Flo karena terpesona dengan kecantikannya.


"Maaf nona, ayo kita bertarung lebih serius" ucap Arya, kemudian mulai menyerang dengan serius.


Flo menyeringai tipis, itu yang dia mau. Tujuannya ikut kompetisi adalah untuk mengasah kemampuannya bertarungnya. Jadi ia dengan senang hati meladeni serangan demi serangan yang Arya arahkan padanya.


BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!


Pertandingan masih berlanjut, Flo terus menghindar dan menangkis serangan Arya.


BUGH!


Sebuah tinju telak mengenai perut Arya membuat Arya terdorong dua langkah ke belakang.


"Pukulanmu sangat keras cantik" ucap Arya, ia kembali menyerang Flo dan...


BUGH!!!


KRAK!!!


Tendangan Flo sangat keras mengenai bahu dan dada kiri Arya hingga membuat tulang belikat Arya patah. Tendangan itu juga mengenai organ dalam hingga kemungkinan organ dalam Aya juga cidera.


"Aaarrggghhh...." teriak Arya kesakitan.


"Aryaaa!!!!" teriak beberapa orang dari padepokan Jatisura meneriakan namanya dan menghampiri arena.


Arya langsung menyerah dan wasit menyatakan jika Flo masuk ke semifinal.


Flo melangkah ke arah Arya yang hendak di bawa tim medis. Anggota dari padepokan Jatisura menaikan alis menatap Flo tajam, mereka pikir Flo masih belum puas memukuli Arya.


"Mau apa kamu? Pertandingan sudah selesai! Jangan buat masalah!" ucap sinis salah seorang panatua di padepokan Jatisura.


"Hah, aku hanya ingin minta maaf karena tendangan tadi membuatnya terluka. Ini...." ucap Flo menyerahkan sebuah pil yang ia keluarkan dari cincin ruang miliknya.


Hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya terkejut. Pasalnya mereka tahu jika cincin ruang adalah barang yang sangat langka. Bahkan patriak padepokan besar juga kemungkinan tidak memilikinya, namun gadis kecil di depannya memiliki barang langka itu.


"A-apa ini?" tanya panatua itu masih terkejut karena melihat cincin ruang.


"Pil penyembuh, itu bisa mengobati cideranya" ucap Flo, tanpa menunggu jawaban ia lalu berbalik pergi dari sana.


...••••••...


Maaf satu BAB Guys, author sibuk seminggu ini sawah author Panen. Jadi buat nulis sedikit🙏 Baru banget jam 8 tadi selesai di angkut hasilnya, jadi bisa istirahat sekarang. Besok author update normal seperti biasa☺️


Terimakasih sudah membaca🤗