
Di pangkalan militer pulau N, Kai dan tim Falcon tengah memeriksa barang yang berhasil mereka ambil dari kelompok yang menjadi buronan militer selama ini.
Kelompok yang selalu membuat teror menghancurkan kedaulatan negara tercinta mereka.
Semua musuh yang berada di tempat penyergapan semuanya berhasil di amankan. Meskipun kondisi mereka terluka cukup parah karena melakukan perlawanan saat hendak di ringkus.
"Bagaimana dengan barang-barang ini Jendral? Sebenarnya ini barang untuk apa?" tanya Damian, jujur saja ia baru melihat benda seperti itu.
"Biar aku yang bawa, sepertinya barang ini sangat penting bagi mereka. Kalian perketat penjagaan, segera panggil aku jika terjadi sesuatu" ucap Kai
"Baik!" ucap mereka semua tanpa ragu.
Tim Falcon sangat solid dan saling mempercayai dan melindungi. Maka dari itu tidak ada pasukan lain sekuat dan sehebat mereka, sebab mereka sangat kompak hingga mampu menempatkan diri sesuai porsi masing-masing.
Jangan lupakan kekuatan mereka memang yang terbaik dari yang terbaik di militer, juga usia mereka semuanya di bawah 35 tahun. Sungguh bakat yang mengerikan.
Dan juga semua anggota sangat tunduk dan patuh dengan Kai. Bagi mereka, perintah Kai adalah mutlak dan tidak ada yang berani berkhianat.
Di dalam ruangan pribadi miliknya di pangkalan militer, Kai terduduk sembari memandangi peti berukuran 1x2 meter itu, yabg berisi barang-barang yang tidak mereka tahu kegunaannya. Barang itu yang timnya ambil dari para buronan yang ingin menyelundupkan barang ini keluar pulau, lebih tepatnya ke negara tetangga.
"Sebenarnya barang apa ini?" gumam Kai memandangi benda aneh di depannya
Karena penasaran Kai langsung membongkar peti itu dan melihat lebih dekat barang apa itu.
"Eh tunggu, ada yang aneh di sini" ucap Kai
Tangannya menggapai alas peti, keningnya mengerut. Ia langsung membongkar apa yang ada di dalam sana.
"Apa ini? Cairan apa ini? Chip?" Kai mengerutkan keningnya sekali lagi saat mendapati sebuah tabung berisi cairan berwarna biru tua dan juga sebuah chip.
"Sepertinya aku butuh Dara untuk mencari tahu cairan apa ini. Chip ini sepertinya sangat penting, aku tidak bisa menyerahkan ini pada sembarangan orang untuk di periksa" ucap Kai.
Setelahnya Kai menaruh barang itu lagi dan menelepon Calon istrinya yang sudah sangat ia rindukan selama setengah bulan tidak bertemu itu.
Tuuuttt.... Tuuuttt....
Teleponnya tersambung, namun Dara tidak mengangkat telepon itu. Kai menghela nafas, ia paham mungkin calon istrinya itu tengah bekerja.
"Mungkin dia sedang menangani pasien sekarang. Nanti saja aku tanyakan padanya, kalau sudah tidak sibuk dia pasti meneleponku balik" Gumam Kai.
Karena merasa tidak aman meninggalkan barang-barang itu, Kai pun memasukan semuanya ke dalam cincin ruang miliknya. Hal itu membuatnya tenang karena tidak meninggalkan resiko barang itu hilang.
....
Di Kota S, Dara tengah menahan kesalnya karena salah satu pasiennya yang bertingkah mengesalkan. Dia adalah pasien yang merepotkan sejak datang dengan kondisi babak belur dan perutnya di tusuk oleh musuhnya entah siapa, Dara tidak peduli tentang itu.
Sebelumnya, saat pasien itu ingin di tangani, dia menolak di tangani oleh dokter perempuan bahkan mengamuk dan meminta dokter laki-laki datang. Namun saat itu yang sedang piket sebagai dokter di UGD hanya ada dua dokter perempuan termasuk Dara.
Dara berusaha menenangkan pria yang bernama Deon, salah satu tuan muda berpengaruh dari keluarga super kaya di kota S itu. Hingga Deon kesal dan menarik masker Dara dan hendak memakinya. Namun bukan makian yang keluar dari mulutnya melainkan terpesona karena kecantikan Dara.
Sejak saat itu Dean seperti cicak yang selalu ingin di dekat Dara dan menginginkan Dara yang merawatnya.
Sebenarnya Dara tidak mau, hanya saja ia kasihan pada rekan dokter nya. Karena pesien gilanya itu terus membuat repot semua orang bahkan keributan di sana.
"Anda sudah sangat sehat, anda bisa pulang hari ini" ucap Dara masih berusaha menahan kesalnya.
"Aku masih sakit Dokter Dara, aku masih butuh Dokter untuk merawatku" ucap Dean dengan nada di buat lemah.
Dara berdecih dalam hati, tentu ia tahu maksud dari pasiennya itu. Jelas Dara tahu kalau kondisi Dean sudah pulih.
"Maaf, tapi di sini bukan ranah saya. Karena saya sudah memastikan anda sembuh, jadi bukan lagi tanggung jawab saya untuk merawat anda. Jika anda tetap ingin di rawat, baiklah itu tidak masalah" ucap Dara
"Bagus kau paling pengertian Dokter" ucap Dean tersenyum senang karena Dara mengalah pada akhirnya.
"Ya, kalau begitu saya permisi, nanti akan ada perawat dan Dokter yang akan merawat anda setelah saya pergi" ucap Dara mengangguk lalu hendak berjalan keluar.
"Tu-tunggu Dokter Dara" ucap Dean.
Menahan kesal Dara terpaksa berhenti dan berbalik badan.
"Apa ada yang anda perlukan tuan? Biar nanti saya sampaikan pada dokter yang akan menjaga anda" ucap Dara
"Aku tidak ingin dokter selain kamu yang merawatku" ucap Dean
"Tapi saya yang tidak mau! Tenang saja dokter yang akan merawat mu adalah dokter laki-laki. Maaf pekerjaan saya sangat banyak dan tidak bisa di sini lama-lama" ucap Dara
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin kamu yang merawatku. Aku akan meminta Dokter Alden mengganti dirimu dengan dokter lain untuk menjadi dokter di UGD, jadi kamu bisa tetap merawatku" ucap Dean
"Saya menolak" ucap Dara kemudian berbalik, menahan agar emosinya tidak meledak di sana, ia tidak ingin membuat masalah di rumah sakit keluarga Mama Ellena itu.
"Heeeiii, jangan pergi. Daraaaa...." panggil Dean yang melihat Dara yang tidak peduli dan keluar dari sana.
"Si*l! Susah sekali mendekatimu Dara, tapi kau membuatku semakin menginginkanmu. Sebelumnya tidak ada wanita manapun yang berani menolak pesonaku dan selalu menatapku penuh pemujaan. Tapi kamu tidak melirikku sedikitpun, kamu yang pertama seperti itu. Akan aku pastikan kamu akan akan menjadi milikku baby Girl" ucap Dean.
Ia langsung menelepon sekretarisnya untuk membujuk Alden, agar membiarkan Dara menjadi dokter pribadinya. Setidaknya dengan cara itu ia bisa mendekati Dara secara perlahan.
....
Dara yang melihat ada panggilan telepon dari Kai, tersenyum. Ia langsung menelepon balik calon suaminya itu.
"Hallo Sayang" ucap Kai di ujung telepon.
"Hallo Sayang, aku merindukanmu" ucap Dara semangat setelah mendengar suara Kai, mendengar Dara merindukannya Kai tiba-tiba merasa panas dingin. Ingin sekali ia menghilang dan muncul di depan gadisnya itu, lalu memeluk dan menciumnya.
"Ah, aku jadi ingin pulang dan memelukmu Yang, aku sangat sangat merindukanmu" ucap Kai lesu
Dara tersenyum mendengarnya, sungguh ia sangat merindukan Kai. Rasa kesalnya terhadap Deon menguap begitu saja saat mendengar suara prianya itu.
"Ada apa tadi telepon, maaf aku tadi sedang mengurus pasien yang sangat rewel" ucap Dara lembut.
"Tidak apa-apa aku mengerti kau juga sibuk. aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, tapi tidak bisa lewat telepon" ucap Kai.
"Sesuatu apa? Apa kau akan kemari?" tanya Dara
"Aku tidak bisa meninggalkan pangkalan dalam kondisi yang masih siaga" ucap Kai
"Apa itu sangat urgent?" tanya Dara
"Hmm, yang ingin aku tunjukan sepertinya sangat penting. Entah mengapa aku merasa ini sangat berbahaya dan aku tidak tahu apa itu dan tidak bisa melibatkan orang lain" ucap Kai.
"Kalau begitu aku akan coba izin ke Om Alden untuk mengambil libur selama dua hari" ucap Dara
"Kamu mau ke sini yang?" tanya Kai dengan berbinar mendengar ucapan Dara
"Hmm, aku akan kesana. Tapi aku perlu izin terlebih dulu dari Dokter kepala, apalagi aku baru dua Minggu bekerja." ucap Dara
"Baiklah, semoga di izinkan ya. Tapi kenapa kamu tidak melakukan teleportasi saja?" tanya Kai.
"Teleportasi hanya bisa di gunakan jika ada medianya, sedangkan aku belum memasang titik di sana jadi tidak bisa" ucap Dara menjelaskan secara singkat.
"Ya sudah, kalau kamu jadi kesini kabari aku" ucap Kai
"Tentu" ucap Dara
Telepon pun terputus saat Dara harus segera ke ruangan UGD dan juga Kai melanjutkan pekerjaannya juga.
...••••••...