The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
143. Menyelamatkan Korban



Dara menoleh ke arah King Lintang, ia menatap tajam ke arah laki-laki yang sudah menunduk ketakutan di bawah kakinya. Dara menahan amarahnya yang ingin sekali membunuh orang macam King Lintang, yang berani menyakiti kekasihnya.


Namun ia urungkan, bagaimana pun Kai saat ini tengah bertugas untuk menangkap biang masalah di desa ini.


"Katakan padaku, siapa kamu dan apa tujuanmu menculik anak-anak dari desa ini! Bicara dengan jujur, atau aku...." ucap Dara menggantung ucapannya sembari menyeringai.


King Lintang meneguk salivanya susah payah dan mengangguk takut, baginya Dara lebih menakutkan di bandingkan gurunya. Ia yakin dirinya akan mati dengan perlahan dan menyakitkan. Ia lebih baik buka suara dan menerima kematian yang mudah.


"Na-nama saya Daro Lintang, peng-ngikutku memanggilku King Lintang. Saya sudah berkultivasi selama 40 tahun untuk mendapatkan kekuatan dan keabadian dengan jalur y-yang tidak benar. Saya mem-pelajari kultivasi gan-da yang mengharuskan bersetubuh, mengisap darah dan juga memakan Daging korban yang masih perawan atau anak laki-laki yang masih berusia di bawah 13 tahun" ucap King Lintang dengan gemetar.


Dara, Kai dan Flo terkejut mendengar itu, itu adalah cara sesat seseorang yang rela mengorbankan nyawa orang lai hanya demi keuntungan pribadi dengan keyakinan bisa abadi.


Dara sebenarnya sudah mengetahui apa yang di maksud Kultivasi hitam atau jalur sesat. Namun ia tidak menyangka, di jaman sekarang masih ada yang menerapkannya, dari mana King Lintang mengetahui cara itu membuat Dara penasaran.


Kerena setahu dirinya, dulu ia dan pihak kekaisaran sudah memusnahkan semua hal yang berhubungan dengan kultivator hitam itu.


"Dari mana kau mengetahui cara berkultivasi sesat seperti ini?" tanya Dara


"Gu-guruku..." ucap King Lintang jujur


"Siapa namanya, berapa tingkatannya dan di mana dia? Ada berapa orang yang menerapkan ilmu ini?" Tanya Dara


Tentu saja ia tidak bisa meloloskan orang yang berbahaya, di samping keamanan masyarakat di negaranya terancam. Keluarga dan orang-orang terdekatnya juga terancam jika tidak segera di lakukan pencegahan.


"Na-ma gu-ru Birawa Datu Sena, atau biasa di panggil Ki Rawa. Tingkatan guru sudah masuk Saint tingkat Pemula sebulan yang lalu, be-beliau ada di negara seberang. Usianya sekarang mungkin sudah lebih dari seratus tahun.


Muridnya hanya ada saya dan kakak senior yang bernama Braja. Tingkatannya berada di atasku, ia berada di tingkat Immortal Ascension level menengah sedangkan aku masih di True Element tahap puncak" ucap King Lintang.


"Flo, lumpuhkan semuanya!! Biarkan mereka menjadi cacat dan juga tidak bisa berkultivasi lagi" perintah Dara mutlak.


"Baik nona!" ucap Flo


"Ti-tidak! To-tolong ampuni saya Yang mulia. Sa-ya akan bertobat dan tidak akan menculik lagi" ucap King Lintang takut dan memohon ampun


"Tidak ada kata ampun dan kata bertobat untuk seorang kultivator hitam, karena tidak akan bisa mengubah kembali apa yang sudah di mulai. Cara satu-satunya adalah melumpuhkan kekuatan kamu agar tidak membahayakan orang lain!" ucap Dara.


"Ya-yang Mulia, sa-ya mohon ampun! Tolong jangan lumpuhkan saya! Saya berjanji tidak akan melakukan seperti ini lagi" ucap King Lintang memohon dan menangis.


Bagi seorang kultivator, di lumpuhkan atau kehilangan kultivasi yang selama ini mereka perjuangkan adalah hal yang paling buruk di bandingkan kematian.


"Tidak ada ampun bagimu" ucap Dara lagi


"Yang Mulia, tolong pikirkan lagi. Jika anda melakukannya, guru dan kakak senior saya pasti akan membalaskan dendam" ucap King Lintang.


"Ha-ha-ha Apa aku terlihat takut? Kalaupun Gurumu datang, dia juga memiliki kesempatan untuk merasakan hal yang sama denganmu! Cih! Tingkat Saint berlaga di depanku? Itu hanya mencari kematian jika ia melakukan nya. Tapi tenang saja, kalau dia tidak muncul! Aku yang akan mencarinya" ucap Dara


King Lintang terkejut mendengarnya, jika yang di ucapkan Dara benar, berarti Dara adalah seorang kultivator yang kekuatannya di atas gurunya.


Padahal selama ini, ia sangat bangga karena belum ada orang yang bisa menyaingi gurunya dalam hal berkultivasi. Bahkan orang yang di gadang-gadang sebagai yang terkuat di negara ini hanya berada sedikit di atasnya, yakni Immortal Ascension level menengah dan senior.


Namun kedatangan Dara sungguh menunjukan bahwa di atas langit masih ada langit! Dan langit itu adalah Dara sendiri.


"Baik!" ucap Flo, ia beranjak dan mulai melumpuhkan semua orang di sana satu persatu termasuk King Lintang.


"Aaaarrrgghh...!!!!!"


"Aaaarrrgghh...!!!!!"


"Aaaarrrgghh...!!!!!"


Teriakan demi teriakan menggema di ruangan itu, King Lintang dan semua anak buahnya sekarang menjadi cacat dan tidak akan bisa melakukan kultivasi lagi.


....


Dara dan Kai saat ini tengah berada di sebuah tenda khusus untuk Kai. Kai dengan posesif memeluk kekasihnya yang tengah bercerita tentang kenapa ia bisa berada di sini. Kai mendengarkan itu dengan baik.


#Flashback Sejam yang lalu


Mereka telah membebaskan para tawanan dan membawa King Lintang dan yang lainnya untuk di adili. Tentunya mereka tidak akan hisa melawan karena sudah di lumpuhkan.


Kepala desa F, Tuan Ampong di sana mengucapkan beribu terimakasih pada Kai yang sudah menjadi pahlawan dan menyelamatkan generasi masa depan dari desa F.


Amelia terlihat berbinar melihat betapa hebat dan kuatnya Kai, yang bahkan bisa menyelesaikan masalah di desa hanya seorang diri. Ia semakin mengagumi sosok tampan itu.


Senyum Amelia meredup saat mendapati Kai mengandeng seorang gadis yang menggunakan masker di sampingnya.


Kening Amelia mengerut, ia penasaran dengan identitas gadis itu. Ia menatap tidak suka pada Dara karena menempel pada laki-laki yang ia sukai dan Dara menyadari itu namun ia hanya diam saja pura-pura tidak tahu.


"Apa anda terluka nona? Ayo ikut kakak ke posko kesehatan. Jangan takut di sana pasti aman" ucap Amelia pada Dara dengan nada di buat lembut, karena ia berpikir Dara merupakan salah satu korban penculikan dan kini merasa takut.


"Sepertinya Bu dokter yang salah paham, Kakak peri bukan orang sini. Kakak peri ikut membantu kakak tampan, menyelamatkan kami dan menghajar penculik" ucap salah satu gadis kecil di sana dengan antusias, bahkan melupakan sejenak trauma yang mereka alami saat berada di sana. yang kemudian di sahuti oleh anak-anak lain yang mengatakan hal yang sama.


Hal itu membuat Amelia, Ampong dan sersan Andika terkejut, kecuali tim Falcon yang mengetahui identitas Dara sebagai kekasih kaptennya itu dan juga seorang yang sangat ahli dalam beladiri.


"Jendral..." ucap Andika namun terpotong oleh suara Rafael yang di tatap Kai, ia mengerti apa yang harus ia lakukan.


"Sersan Andika, biarkan Jendral dan calon istrinya istirahat dulu. Masalah ini bisa di bicarakan besok pagi" ucap Rafael


"Ca-calon istri?" Beo Andika terkejut, pasalnya ia mendengar jika Kai merupakan cowok dingin, tidak peka dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun.


Awalnya ia bingung kenapa Kai yang anti perempuan bisa mengandeng seorang gadis dengan prosesif. Ternyata itu adalah Calon istrinya.


Namun kenapa calon istri jendral muda itu tiba-tiba muncul bersama dari hutan? Ia ingin menanyakannya, namun ia paham jika sekarang bukan saatnya bertanya. Karena benar kata Rafael, keduanya saat ini butuh istirahat setelah perjuangan besar menyelamatkan korban.


Kai memeluk pinggang Dara dan membawanya ke tenda miliknya, hal itu di lihat dan di dengar oleh Amelia. Ia mengepalkan tangannya erat karena tidak terima prianya memiliki calon istri. Ia tidak percaya dengan yang ia dengar, bisa jadi itu hanya pengalihan isu, Amelia pun berlalu pergi dari sana.


Flo menatap lekat Amelia yang berjalan menjauh, ia tahu jika perempuan itu tengah cemburu pada nonanya. Flo mencibir pada Amelia yang terlalu mengharap rembulan yang berada di angkasa yang selamanya tidak bisa ia gapai, apalagi dirinya hanya seekor pungguk yang hanya mampu bertengger di atas pohon.


Berbeda dengan nonanya dan Kai yang masuk ke tenda. Flo berdiri di depan tenda berjaga di sana, ia bahkan menolak beristirahat saat Rafael dan Nathan memintanya. Baginya keselamatan Nonanya adalah nomor satu.


...••••••...