
Nandi kehilangan keberaniannya, sebagai pewaris keluarga Hutama, ia pernah mendengar berita. Jika ada seorang dari keluarga Narendra yang berhasil menjadi jendral di kemiliteran dengan usia yang masih sangat muda.
Dengan merasakan auranya yang kuat saja ia yakin jika plakat itu asli, yang berarti di depannya adalah tuan muda Narendra. Sepertinya ia benar-benar salah menyinggung orang kali ini.
Setelah beberapa saat polisi pun datang dan membawa Nandi untuk di mintai keterangan. Dara juga sudah memberikan bayi itu ada ibunya. Sedangkan para penonton sudah mulai bubar satu persatu.
"Terimakasih nona. Perkenalkan nama saya Kayla" ucap Kayla ibu sang bayi.
Dara sedikit terkejut mendengar nama itu, namanya sangat mirip dengan nama ibunya. Ibu Dara bernama Nayla dan wanita di depannya bernama Kayla dan nasib keduanya pun nyaris sama.
"Namaku Dara. Tidak perlu takut, aku serius dengan ucapanku. Kau bisa menuntut hak asuh anakmu di pengadilan saat sudah bercerai. Aku akan membantumu mendapatkan Hak asuhnya" ucap Dara lagi.
"Terimakasih banyak nona. Entah harus dengan apa saya membalasnya" ucap Kayla, ia percaya dengan apa yang di ucapkan Dara.
Terlebih ia teman dari cucu keluarga Rukmana. Yang mana, identitas Dara tidak mungkin serendah itu agar bisa berteman dengan seorang cucu Rukmana
"Ini kartu Namaku, jika ada apa-apa. Anda jangan sungkan-sungkan menghubungiku" ucap Dara memberikan kartu namanya.
Setelah Nayla dan kedua anaknya pergi, Dara menoleh ke arah Kai.
"Terimakasih sudah membantuku lagi Kai, Sepertinya kita di takdirkan bertemu dan aku harus mentraktirmu makan" ucap Dara, ia mengingat janjinya saat itu.
"Aku ingin sekali, tapi sangat di sayangkan. Sebentar lagi aku harus kembali ke pangkalan untuk melapor" ucap Kaisar dengan menyesal.
Kenapa waktunya selalu saja tidak tepat? Padahal ia ingin sekali dekat dengan Dara dan mengenal lebih jauh. Namun tugas sudah menantinya, dan ia harus segera kembali ke pangkalan.
"Sayang sekali" ucap Dara mengangguk.
"Bisakah kita makan di lain waktu? Kamu bisa menyimpan nomorku" ucap Kai membuat Nathan dan Rafael terkejut dengan apa yang di ucapkan sahabatnya itu.
Apakah Kai salah makan? Sejak kapan Kai berinisiatif memberikan nomor teleponnya?
"Tentu" ucap Dara.m tidak menolak.
Keduanya pun kemudian saling bertukar nomor HP dan kemudian berpisah di sana.
....
"Sudah tidak terlihat Kai, kau masih menoleh saja" ucap Rafael.
Ia terkekeh saat melihat Kai terus menerus menoleh ke belakang, melihat ke arah Dara yang sudah tidak terlihat.
Kai diam dan melototi sahabatnya itu.
"Astaga, lihat sahabatku Nat. Sama cewe tadi aja dia berkata panjang lebar dan lembut. Giliran sama aku cuma tatapan tajam dan dingin, mana sama sekali nggak bersuara" ucap Rafael cemberut
"Ha-ha-ha, itu karena kamu jelek!" ucap Nathan tertawa
"Si*lan kau!" umpat Rafael.
Kai tidak menggubris dua sahabatnya yang tengah ribut. Mereka langsung naik land Rover dan jalan membelah macetnya ibukota.
Kai diam dan melihat ke arah ponselnya, ia melihat wallpaper Dara yang hanya menunjukan mata hitamnya yang tajam namun indah itu.
"Sangat cantik, Dara... Sepertinya kau sudah mencuri hatiku" gumam Kai dalam hati
.....
"Hei Ra, tadi siapa?" tanya Celine, saat mereka berjalan menuju mobil mereka di tempat parkir.
"Kenalan" ucap Dara cuek.
"Tampan banget" ucap Celine berbinar saat mengingat betapa tampannya seorang Kaisar
"Kenapa, kamu suka?" tanya Dara
"Hanya mengagumi saja, lagian sekali lihat aku tahu jika ia tertarik padamu" ucap Celine
"Waahh, bang Sam punya saingan berat nih, aku harus beritahu biar dia ketar ketir ha-ha" ucap Celine dalam hati.
Keduanya kemudian berpisah di tempat parkir. Dara langsung melajukan mobilnya ke mansion. Saat ia sampai di mansion, ia melihat ada mobil asing yang terparkir di sana.
Dara langsung masuk mansion, ia terkejut saat suara nyaring yang ia kenali memanggil namanya saat ia membuka pintu Mansion
"Daraaaaa!!!!" panggil Bara.
Ya, itu Bara, kakak sepupu Dara dan Dimas. Ia tengah berada di ruang tamu bersama Dimas dan juga Ryan saat ini.
"Kak Bara? Jadi mobil yang ada di depan mobil itu kakak?" tanya Bara.
"Itu mobil sewaan, kakak baru sampai tadi. Waah dek mansion kamu sangat besar. Pantas aja mama dan papa sangat bangga padamu" ucap Bara
"Ya, tapi tidak sebesar mansion kakek" ucap Dara mengangkat kedua bahunya.
"Ha-ha Iya juga sih. Mansion kakek memang sangat besar. Tapi mansion kamu juga besar dan aman" ucap Bara.
"Sedang apa di sini kak" Tanya Dara
"Kakak ada urusan selama dua hari di ibukota" ucap Bara.
"Hmm, kalau begitu menginap saja di sini. Banyak kamar kosong kok" ucap Dara.
"Tentu!" ucap Bara dengan antusias, tidak ada jaim sama sekali.
"Aku ke kamar dulu kak, lanjutin main saja dengan Dimas dan Ryan" ucap Dara.
"Ya sudah sana istirahat dulu, nanti malam harus turun saat makan malam dek. Antar kakak keliling ibukota pokoknya" ucap Bara antusias
"Oke, baiklah" ucap Dara kemudian pergi ke kamarnya.
....
Bara terkejut saat ia mendengar Auman. Dimas dan Ryan sengaja mengajaknya ke halaman belakang. Bara jatuh terjengkang karena ia terkejut dan takut saat melihat White.
Bara sangat takut, bahkan setelah melihat White bermain dengan Dimas seperti kucing saja. Tetap saja hal itu membuat Bara takut.
"Dim jangan dekat-dekat, itu bahaya!!!" teriak Bara
"Nggak kok kak, White sangat baik dan jinak. Ayo coba sini kak! Pegang bulunya, sangat lembut!" ajak Dimas.
"Nggak mau, kakak masih sayang nyawa" ucap Bara bergidik.
"Tenang aja, White sangat jinak kak" ucap Dimas
"Sejinak-jinaknya harimau, ia tetap raja hutan Dimas!. Ide siapa sih melihara hewan buas?" ucap Bara meringsut ke pojokan kandang.
"White itu kesayangan kak Dara" ucap Dimas Jujur.
"Astaga itu bocah, kurang kerjaan apa, masa iya melihara hewan buas, emangnya kucing?" ucap Bara
ROOOAAARRR!!!!!
"Aaahhhh!!!!" teriak Bara lagi lagi ia terkejut sampai terjengkang. Dimas dan Ryan tertawa melihatnya.
"Astaga bocil, bukannya bantuin malah ketawain. Awas tuh zebra. kakak mau keluar, jangan deket-deket kakak" ucap Bara.
"Ini harimau kak, bukan Zebra" ucap Ryan yang sudah kenalan dan sudah mulai akrab dengan Bara
"Sama aja, wong item putih kok" ucap Bara. Ia bangun dan lari terbirit-birit keluar kandang.
Dimas dan Ryan terkekeh melihat tingkah lucu kakak sepupunya itu. Sedangkan Bara, ia terlihat sangat lega saat keluar dari kandang.
"Selamat, selamat, kalau nggak mati aku bisa-bisa di makan harimau" ucap Bara dalam hati masih dengan keterkejutan nya.
...••••••...