
Dara dan Flo sudah sampai di mansion keluarga Adi Raharjo, mereka mengernyitkan keningnya saat melihat banyak kendaraan di halaman mansion.
Saat ingin masuk, kendaraan lainnya datang dan ternyata itu adalah Revan. Saat turun dari mobil Revan segera menghampiri adik perempuannya itu.
Flo segera undur diri dan masuk ke mansion lebih dulu lewat pintu belakang. Flo ingin ke kamarnya ingin memulai Kultivasinya, ia tidak ingin berleha-leha setelah berhasil menjadi seorang kultivator.
"Dek, kamu dari mana?" tanya Revan saat sudah berada di depan Dara.
"Jalan-jalan kak sama Flo" jawab Dara
"Jalan-jalan kemana? Kenapa nggak bilang, kan bisa kakak anterin" ucap Revan
"Keliling kota aja kok kak, sekalian sharing urusan perempuan" ucap Dara
"Dari pagi kakak tuh nyariin kamu tau, tapi kamu pagi-pagi udah ngilang kaya Jin, kakak kira kamu di culik kak Jefrey, nggak tahunya kak Jef juga sama nyariin kamu tadi pagi" ucap Revan cemberut.
"He-he maaf ya kak, nanti malam kita keluar deh, gimana?" ucap Dara
"Beneran?" tanya Revan dengan mata berbinar mendengar itu.
"Bener, tapi dengan syarat" ucap Dara
"Apa syaratnya?" tanya Revan
"Gendong sampai kamar! Aku lagi males jalan kak" ucap Dara dengan wajah kiyowonya.
"Siap! Jangankan sampai kamar. Keliling kota juga kakak siap. Ayo naik!" ucap Revan dengan senang hati menuruti permintaan adiknya itu.
Revan langsung berjongkok dan Dara dengan wajah bahagia segera naik ke punggung kakaknya itu. Dara saat ini sedang dalam mode manja, sejak kecil ia selalu di ajarkan menjadi wanita kuat dan mandiri oleh sang ibu.
Dara jarang sekali bermanja-manjaan, kerena sekarang ia memiliki keluarga baru dan kakak yang menyayanginya. Jadi mode manjanya keluar dengan sendirinya, ia juga ingin merasakan kasih sayang seorang kakak.
"Berat nggak kak?" tanya Dara
"Nggak, malah kamu terlalu kurus dek, enteng banget ini" ucap Revan.
"Iihh, ini mananya bukan kurus kak, tapi langsing" ucap Dara cemberut
"Sama aja ha-ha" ucap Revan yang terkekeh
Keduanya mengobrol dan saling tertawa hingga masuk ke dalam mansion. Mereka tidak menyadari jika di dalam sana banyak orang yang melihat.
"Van! Kamu sedang ngapain gendong-gendongan gitu?" tanya Ellena melihat kedua anaknya.
Revan menghentikan langkahnya, keduanya menoleh ke samping dan terkejut saat melihat banyak orang di ruang tamu.
Dara ingin turun dari gendongannya, namun di tahan oleh Revan, yang masih nyaman dengan Dara yang memeluknya dari belakang.
"Gendong Dara" ucapnya singkat dan datar.
"Dara sayang kamu kenapa di gendong? Kamu sakit?" ucap Ellena dengan khawatir mendekati kedua anaknya itu.
"Nggak kok mah, Dara nggak sakit. Dara cuma mau ngerasain di gendong sama kak Revan. Dara belum pernah di gendong soalnya jadi pengen ngerasain aja he-he" ucap Dara tersenyum.
Mendengar itu baik Ellena atau Revan sedikit tertegun, keduanya tahu bagaimana menderitanya Dara dulu. Bahkan gadis itu di paksa keadaan untuk berpikir dewasa sebelum waktunya.
Revan janji akan membahagiakan adiknya, bukan hanya karena ia masih memiliki perasaan khusus pada adiknya itu. Tapi bukankah itu kewajiban untuk seorang kakak, melindungi dan membahagiakan adik dan keluarganya.
Revan juga bahagia saat mendengar ia orang pertama yang menggendong Dara, ia seperti mendapat penghargaan yang besar saat mendengar itu.
"Siapa itu jeng?" tanya salah wanita seorang paruh baya di ruang tamu itu.
"Kak, turunin dulu!" ucap Dara
Mau tidak mau Revan menurunkan adiknya itu dan mengikutinya menuju ibu-ibu yang tengah mengadakan arisan itu, yang memang sering di adakan setiap akhir bulan. Dengan tempat berbeda-beda, karena bergantian dengan anggota arisan lainnya.
Ada sembilan ibu-ibu selain Ellena dan dua orang wanita muda yang di perkirakan umur 20 an.
Saat Wajah Dara terlihat jelas oleh mereka ber sebelas, mereka semua tertegun dan terpesona dengan kecantikan Dara. Tapi tidak ada yang sampai mimisan melihat Dara.
Sesaat kemudian Ellena menyadarkan teman-temannya itu, mereka tersenyum malu saat kedapatan bengong melihat kecantikan Dara.
"Siapa jeng? Cantik banget, ya Tuhan... Sampai aku yang perempuan aja terpesona melihatnya" ucap salah satu ibu-ibu itu.
"Ini putriku satu-satunya jeng, namanya Addara. Kami biasanya panggil dia Dara. Kalau si kulkas ini, kalian sudah kenal pasti kan?" ucap Ellena memperkenalkan putrinya.
Kalau Revan tidak perlu di kenalin juga merdka semua tahu, karena Revan sering wara-wiri di majalah bisnis, dan di kenal sebagai raja muda di dunia bisnis.
"Putri? Bukannya anak kamu cuma ada dua jeng dan cowo semua?" Tanya yang lain.
"Dara ini adalah anak dari Nayla, adik perempuan Adnan. Meskipun dia keponakanku, aku sudah menganggapnya seperti anak kandungku sendiri. Jadi Dara anakku sekarang" ucap Ellena.
"Anak Nayla? Ya Tuhan, jadi anak Nayla sudah sebesar ini? Apa ini anak Nayla satu-satunya? Lalu Nayla kemana? Kenapa kamu nggak pernah bilang padaku, kalau Nayla sudah balik Lena?" tanya salah seorang wanita dengan wajah berbinar saat mendengar nama Nayla.
Nama wanita itu adalah Rose Ephraim, istri dari seorang pengusaha bernama Aaron Ephraim. Rose adalah sahabat Nayla, ibu dari Dara dan Dimas. Mereka besar bersama sejak kecil dan terus bersama sampai mereka kuliah di ibukota.
Hubungan keduanya renggang saat Rose tidak menyetujui hubungan antara Nayla dan Agung. Rose merasa kalau Agung itu licik dan serakah, ia tidak ingin sahabatnya itu tersakiti dan menderita nantinya. Maka dari itu ia menasehati Nayla untuk tidak bersama Agung.
Namun saat itu Nayla di butakan oleh cinta, dan lebih memilih memutuskan persahabatannya dengan Rose, dari pada meninggalkan Agung.
"Nayla punya dua anak, Dara dan Dimas, Dimas sedang keluar bersama yang lain jadi nggak bisa aku kenalin sekarang ke kamu Rose. Untuk Nayla, dia sudah lama meninggal" ucap Ellena dengan suara rendah dan sedih saat mengatakan Nayla meninggal.
"Meninggal?" ucap Rose terkejut mendengar itu.
Air matanya mengalir begitu saja saat mengetahui sahabat baiknya itu meninggal, bahkan ia belum bertemu dengannya lagi. Rose sebenarnya ingin memperbaiki hubungannya dengan Nayla, ia akan mengalah jika bersama Agung adalah kebahagian untuk Nayla.
Tapi sepertinya Tuhan lebih menyayangi Nayla dan mengambilnya terlebih dulu.
"Nay huhuhu hiks... Kenapa kamu pergi begitu cepat, aku bahkan belum bertemu denganmu untuk minta maaf" tangis Rose pecah.
Seorang gadis di samping Rose memeluknya, gadis itu adalah putri dari Rose bernama Arrabella Ephraim atau biasa di panggil Arra.
"Mah..." ucap Dara pada Ellena. Ellena mengerti Dara bingung dengan semuanya.
"Tante Rose adalah sahabat baik ibumu, hubungan mereka sempat renggang saat kuliah dulu karena ia tidak menyutujui ibumu dengan si brengsek itu. Namun ibumu memilih si brengsek itu dan memutuskan persahabatannya dengan Rose" jelas Ellena dengan pelan dan hanya bisa di dengar oleh Dara.
Dara mengangguk mengerti, ia kemudian menghampiri Rose.
"Tante Rose!" panggil Dara, mambuat tangisan Rose terhenti dan memandang Dara.
"Iya nak, sini duduk!" ucap Rose yang masih sesenggukan dan melepas pelukan putrinya.
"Tante, aku harap Tante Rose mau maafin kesalahan ibu di masa lalu" ucap Dara dengan tulus.
"Tentu nak, justru Tante ingin minta maaf karena sudah bersikeras melarang ibumu bersama dengan laki-laki itu" ucap Rose mencoba untuk tersenyum.
"Terimakasih Tante, tapi Tante tidak salah Tante benar, si brengsek itu memang tidak pantas untuk ibuku" ucap Dara mengingat perlakukan ayahnya itu pada sang ibu.
Rose mengeryitkan dahinya mendengar nama Agung di sebut brengsek oleh putrinya sendiri. Ia pikir keluarga Adi Raharjo sudah menerima Agung, tapi sepertinya ada kejadian yang tidak ia tahu.
...••••••...