
Setelah kepergian om dan tantenya, Alice duduk termenung di ruang tamu. Ia memikirkan ucapan tantenya yang mengatakan Ivone belum pulang sejak kemarin.
Dia memikirkan jika kemungkinan besar cewek uler yang tingkat halunya yang sudah setinggi pohon toge itu, pasti nekat mendatangi kediaman keluarga Narendra.
"Ah nggak mungkin juga tuh ulet berani ke sana, tapi.... tuh anak kan mukanya setebel karat panci punya mbok Jum. Pasti dengan tingkat halunya itu ia berani berkoar yang tidak-tidak di sana" gumam Alice.
"Duh, kalau iya gimana tuh nasib cewek uler? Cari mati sih tuh anak, bikin semua orang pusing kan jadinya" ucap Alice kesal.
Meskipun ia tidak peduli dengan Ivone dan membencinya, namun bagaimana pun Ivone adalah sepupunya. Ya, walau kelakuan tuh sepupu udah sering buat tekanan darahnya naik. Terlebih Alice tidak tega melihat tantenya khawatir seperti itu.
Mia, adalah adik ibunya dan Mia adalah sosok wanita dan Tante yang sangat lembut menyayangi dirinya seperti anaknya sendiri. Alice sempat heran dari mana Ivone memiliki sifat seperti ular kadut yang menjijikan? Padahal ibu dan bapaknya adalah orang yang baik dan lembut.
Apalagi saat Alice ingat bagaimana tidak mudah menyerahnya Ivone berusaha mendekati Kai. Juga sifatnya yang sombong, caper dan bermulut tajam. Bahkan berkoar dengan halu pada orang-orang mengatakan jika dirinya adalah calon istri dari seorang Kaisar Raka Narendra. Alice saja di buat malu olehnya dan malas jika tuh anak nempel Mulu padanya.
"Tanya ayang aja kali ya" gumam Alice lagi.
Tak lama Alice mengambil ponselnya dan menghubungi sang tunangan. Ia ingat kalau Rafael baru pulang pagi tadi tadi ke ibukota setelah tugasnya di perbatasan.
Ya, baik Rafael, Nathan dan Tim Falcon yang lain. Tentu saja selain Kai, baru pulang dari perbatasan hari ini.
"Hallo" ucap Rafael di ujung telepon.
"Hallo El, lagi nggak sibuk kan?" tanya Alice
"Nggak yang, ini baru bangun dari tidur. Ada apa?" ucap Rafael dengan suara serak khas bangun tidur.
Ia memang langsung tidur setelah sampai di rumahnya.
"Hmm aku mau cerita sesuatu" ucap Alice merasa tidak enak mengganggu tidur tunangannya.
"Ya udah aku ke sana setengah jam lagi ya. Aku mandi dulu" ucap Rafael lembut.
"Iya, hati-hati El sayang" ucap Alice senang.
"Ya, see you yang" jawab Rafael
Telepon pun terputus, Alice tersenyum senang dan beranjak ke kamarnya untuk bersiap menyambut kedatangan sang tunangan.
Selain memang ia ingin cerita tentang Ivone, ia juga merindukan tunangannya yang sama sibuknya dengan sepupunya itu. Kadang ia juga ingin seperti pasangan lain yang sering ketemu dengan pasangan nya. Namun ia paham kesibukan Rafael dan dia juga bangga memiliki Rafael sebagai pasangan nya.
Bukankah saat ini ia menyelam sambil minum air? Ia bisa curhat sekaligus pacaran sama ayang. Cieee....
....
Di mobil setelah pulang dari Manor Keluarga besar Narendra. Kai mengenggam tangan sang kekasih dengan erat dan sesekali ia bawa ke bibirnya untuk di kecup. Sedang kan tangan yang lain sibuk memegang stir.
Perasaan Kai sungguh berbunga-bunga, pasalnya Dara sudah setuju untuk bertunangan dan tahun ini mereka menikah. Ia berharap Keluarga Adi Raharjo merestui hubungan mereka.
Kalaupun restu itu sulit untuk dia raih, ia tidak akan semudah itu menyerah dan tetap memperjuangkan cintanya pada Dara sampai titik darah penghabisan.
Dara yang mendapati suasa kekasihnya sedang baik hanya tersenyum, ia juga sebenarnya senang saat keluarga Kai menerimanya bahkan ingin segera mengikat dirinya menjadi bagian dari keluarga mereka
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Dara
"Kamu mau kemana?" tanya Kai balik
"Kamu ini, aku nanya malah nanya balik" ucap Dara cemberut yang di balas kekehan sang kekasih.
"Mau jalan-jalan dulu?" ucap Kai
"Boleh" ucap Dara tersenyum
"Ya sudah kita ke kota lama, wisata kuliner sambil kencan" ucap Kai
"Ha-ha kamu ada-ada aja, emang bisa kencan di kota lama?" ucap Dara
"Bisa lah, di mana pun tempatnya yang penting berdua sama kamu, itu sama aja kencan." ucap Kai
"Baiklah Abang Kai, yuk kita kencan" ucap Dara terkekeh.
Kai pun menjalankan mobilnya ke arah kita lama, mereka menikmati jalan-jalan berdua sambil bergandengan tangan mengitari kota lama.
Kedatangan mereka tidak membuat orang-orang gempar karena tampang mereka yang cantik dan tampan. Itu karena keduanya menggunakan masker untuk menutupi wajah mereka.
....
Di halaman rumah Theo, Flo dan Ferdi tengah latihan. Lebih tepatnya mereka sedang beradu tanding.
Mereka memilih rumah Theo karena rumahnya jauh dari kebisingan. Rumah itu juga memiliki halaman yang luas di bagian belakang dan cocok untuk latih tanding.
Ferdi memfokuskan melatih fisiknya, untuk pekerjaan ia serahkan pada sekertaris yang sudah ia pilih dan di seleksi dengan ketat, tentu saja itu di seleksi oleh Ferdi dan Theo.
Sekretaris itu bernama Marlina yang biasa di panggil Ina. Dia adalah gadis berusia 22 tahun yang baru lulus dari universitas tahun lalu.
BAK!!! BUK!!! BLAM!!!
Terdengar suara baku hantam yang ada di belakang rumah Theo itu.
"Jangan lengah Fer, FOKUS!!!" ucap Flo yang terus melancarkan pukulan dan juga tendangan tanpa Chi ke arah Ferdi.
Ferdi memusatkan fokusnya untuk menangkis dan menyerang Flo di saat yang bersamaan. Namun selalu gagal karena Flo terlalu hebat dan lincah sebagai seorang petarung meskipun ia seorang perempuan.
Padahal Flo sudah menurunkan keterampilan beladirinya untuk menyeimbangi Ferdi. Namun Ferdi masih belum terbiasa, mungkin ini adalah latihan perdana mereka.
BUK!!!
"Akkkhhh..." erang Ferdi
Tendangan Flo tepat mengenai kaki Ferdi, hingga nyaris membuat Ferdi terjatuh. Ferdi masih bisa menyeimbangkan tubuhnya namun ia sempat terhuyung ke belakang.
"Pertahanan kaki kamu lemah, mudah di lihat lawan!" ucap Flo dengan datar dan terus menyerang.
Ya begitulah Flo jika selain dengan Dara, sifat dingin dan datarnya akan muncul. Baginya ini adalah tugas dari nonanya, dan ia harus semaksimal mungkin mengajari Ferdi. Karena ia tidak ingin mengecewakan Dara.
BUK!!!
"Atur emosi kamu Fer! Coba tenang dan fokus!!" ucap Flo yang bisa dengan mudah menghindar dari pukulan Ferdi dan meninju balik wajah Ferdi.
BUGH!!!
BLAM!!!
"Aaarrggghh!" teriak Ferdi
Setelah pukulan di wajah, tendangan Flo juga telak mengenai perut Ferdi hingga ia jatuh tersungkur di tanah. Flo menghentikan latihannya, ia mendekati Ferdi dan membantunya untuk duduk.
"Minum lah, ini akan membuat kamu lebih baik" ucap Flo dengan ekspresi datar nya, ia menyerahkan pil penyembuh yang sudah di atur dosisnya lebih rendah oleh Dara.
Tadinya Flo ingin memberikan salep saja, namun tadi ia menendang Ferdi cukup keras. Meskipun tidak menggunakan Chi dan mengurangi kekuatannya, Flo tetap takut organ vital Ferdi ada yang terluka. Bagaimana pun ini latihan mereka yang pertama.
"Thanks, Flo" ucap Ferdi menerima pil itu dan langsung meminumnya.
Ajaib, Luka lebam dan rasa sakit di tubuh Ferdi langsung hilang dalam waktu kurang dari satu menit.
"Waaahh, bos memang benar-benar dokter ajaib" ucap Theo menyaksikan luka lebam di tubuh Ferdi langsung lenyap.
Theo memang berada di sana menyaksikan keduanya berlatih. Ia senang melihat orang lain berlatih bela diri, dirinya juga pemegang sabuk hitam karate. Namun ia sudah lama tidak berlatih setelah kecelakaan dan lumpuh dan terlalu sibuk dengan pekerjaan nya sebagai salah satu tangan kanan Dara.
Ia kemudian membawa satu teko orange juice dan tiga gelas di atas nampan ke sana.
"Ayo minum dulu, kalian pasti haus dan lelah" ucap Theo
"Makasih" ucap Flo
"Thanks bro" ucap Ferdi
"Sama-sama" jawab Theo.
"Kamu terlalu emosi saat melawan Flo tadi" celetuk Theo
"Benar. Kamu harusnya bisa kontrol emosi kamu, itu adalah letak kelemahan kamu" sahut Flo meskipun Datar dan dingin ia tetap memberikan masukan pada Ferdi.
"Ah maaf, aku terlalu bersemangat dan ingin segera kuat agar bisa di latih oleh nona Dara" ucap Ferdi menggaruk kepalanya sambil cengengesan.
"Kalau kamu terlalu menggebu dan nggak fokus, mana bisa kekuatan kamu meningkat? Nona pasti enggan untuk melatihmu jika kamu tidak bisa mengontrol diri. Kamu tahu seperti apa nona kita" ucap Flo
Ya memang benar, kelemahan Ferdi adalah sulit mengatur emosi. Meskipun ia terlihat seperti seorang yang tenang, namun Ferdi adalah tipikal orang yang tidak sabar jika menginginkan sesuatu.
Sedangkan Flo tahu jika Dara ia tidak akan mengajari seseorang jika orang tersebut tidak memiliki fondasi yang kuat. Dan ia juga sangat tahu betapa sulitnya untuk menjadi seorang kultivator.
"Aku hanya ingin cepat menjadi kuat, agar bisa melindungi nona" ucap Ferdi.
Bagi dirinya, Dara adalah penyelamat dan juga tuan yang harus ia lindungi dan dia hormati. Seperti sumpah setianya, bahkan ia rela menjadi budak jika Dara menginginkan nya.
"Aku paham, tapi jika kamu tidak bisa mengatur emosi. Sampai kapanpun kamu tidak akan bisa meningkatkan kekuatan kamu dan justru tidak akan bisa melindungi Bos bahkan diri kamu sendiri dari orang yang lebih kuat. Bukankah kamu bilang ingin melindungi bos? Maka kamu harus bisa menekan emosimu dan berfikir lebih tenang" ucap Theo
Flo yang mendengarnya mengangguk membenarkan ucapan Theo. Ferdi pun sama mengangguk mengerti ucapan sahabatnya itu. Memang kadang ia sulit mengatur emosinya semenjak kejadian adiknya yang sudah meninggal. Namun ia akan berusaha lebih keras lagi demi Dara.
Jadi ia bertekad untuk bisa tenang saat menghadapi lawan. Ia akan berjuang demi menjadi salah satu sayap yang melindungi tuannya.
...•••••••...
Hai Guys, maaf author masih sibuk, tapi author sudah panjangin ini BAB. Kalau besok sudah free, author usahain up 3 BAB kalau nggak sibuk ya 😉
Selamat membaca.....