The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
93. Sinyal waspada



Keesokan harinya, Kai sudah bertamu pagi-pagi sekali membuat Dara terkejut. Saat ia keluar dari kamarnya, ia mendapati Kai dan kedua adiknya tengah berbincang.


Kedua adik Dara itu tengah antusias menanyakan tentang identitas Kai, Kai pun menjawabnya dengan santai. Meskipun sejujurnya dia sedikit canggung karena tidak terbiasa berbicara banyak selain dengan Dara.


Namun Kai dalam hatinya merasa senang karena kedua adik Dara itu memanggilnya kakak ipar. Bukankah itu berarti dirinya sudah mendapatkan restu dari adik-adik Dara?


Kai juga sudah tahu kalau adik kandung Dara itu hanya Dimas dan yang lain adalah adik angkatnya. Tapi karena Dara menyayangi semua adiknya sama besarnya, Kai juga menganggapnya sama juga.


"Kau ada di sini?" tanya Dara saat ia sudah berada di ruang tamu.


"Hmm, aku ingin mengajakmu keluar" ucap Kai tersenyum manis ke arah Dara.


"Tapi kakak ipar, setelah ini kak Dara akan ke sekolahku untuk mengambil raport" ucap Dimas


"Oh ya? Maaf aku tidak tahu" ucap Kai kaget, ia tidak tahu kalau Dara akan ke sekolah adiknya itu.


Salahnya sendiri juga karena tidak memberi tahu Dara jika hari ini ia akan membawanya kencan. aia pikir ia akan memberikan kejutan untuk kekasihnya itu.


"Kalau tidak, kenapa kakak ipar tidak ikut ke sekolah saja" ucap Ryan.


"Apa boleh?" tanya Kai.


"Tentu saja, iya kan kak?" tanya Ryan menoleh ke arah Dara.


"Hmm, jika kamu tidak sibuk, kamu bisa ikut dengan kami. Kamu bisa menjadi wakil Ryan untuk mengambil Raport miliknya" ucap Dara.


"Baiklah, ayo sarapan dulu" ucap Dimas semangat


"Tunggu, di mana Flo?" tanya Dara.


Ia belum melihat keberadaan asistennya itu, semalam Agam memberitahu jika Flo sudah tidur dan pagi ini ia juga belum melihatnya.


"Kak Flo ada di bawah kak, aku lihat kak Flo sedang latihan di area Gym" ucap Dimas


"Minta Pak Agam panggil Flo untuk sarapan juga" ucap Dara


"Biar aku aja yang panggil kak Flo, Kak" ucap Ryan langsung beranjak ke lantai dasar untuk memanggil Flo.


.....


Mereka berlima sekarang berada di ruang makan, meskipun terlihat baik-baik saja. Namun Dara merasakan tatapan tajam Kai dan aura kewaspadaan dari dalam dirinya, begitupun dengan Flo.


Dara tentu saja tahu, kenapa keduanya saling waspada. itu karena aura di tubuh mereka yang terbiasa dengan darah bisa tercium satu sama lain. Tapi Dara bisa memastikan jika Kai jauh lebih kuat dari Flo, meskipun Flo adalah seorang mantan pembunuh tingkat Ace.


"Ayo makan! Setelah sarapan Kai dan Flo ikut aku ke ruangan kerja sebentar" ucap Dara sembari mengambil makanan untuk Kai.


"Hmm" Kai mengangguk


"Baik Nona" ucap Flo, ia masih tidak tahu siapa identitas Kai.


Dimas dan Ryan hanya diam tidak ikut dalam pembicaraan tiga orang dewasa itu. Keduanya tidak masalah menunggu sebentar. Karena masih ada waktu 1 setengah jam sebelum pembagian raport di mulai.


Setelah sarapan, Dara, Kai dan Flo kini sudah masuk ke dalam ruangan kerja milik Dara. Melihat Kai dan Flo masih mengeluarkan aura waspada mereka, Dara hanya bisa menghela nafas.


"Duduk dulu!" ucap Dara. Keduanya menurut duduk.


"Aku tahu kalian saling waspada bukan?" ucap Dara membuat keduanya terkejut, namun sedetik kemudian mereka sadar jika Dara juga seorang ahli bela diri. Jadi sudah pasti Dara juga merasakan aura permusuhan di antara keduanya.


"Tidak, aku tidak mengenalnya! Tapi aku merasakan sinyal bahaya saat melihat kekuatan dalam tubuhnya" ucap Kau jujur.


"Aku juga merasakan kekuatan yang besar padanya nona, bahkan lebih dari kekuatan yang saya punya tidak bisa di bandingkan dengan nya, Nona" ucap Flo apa adanya


"Baiklah, agar tidak ada kesalahpahaman di sini. Aku akan memperkenalkan kalian berdua" ucap Dara


"Kai, dia Flo asisten dan juga tangan kananku. Yang kau rasakan memang benar jika ia memiliki kekuatan bahaya di dalam tubuhnya. Karena dia adalah mantan pembunuh, tapi dia tidak seburuk yang kau pikirkan. Terlebih ia adalah salah satu orangku. Aku akan menjamin dia tidak akan berbuat yang tidak-tidak, tanpa instruksi dariku. Atau aku tidak akan melepaskannya" ucap Dara


Kai mengangguk mengerti, ia hanya takut pacarnya dalam bahaya saat merasakan aura pembunuh yang kental dari dalam diri Flo. Namun ia menghela nafas lega saat tahu Flo adalah anak buah Dara yang sudah terjamin, tidak akan melakukan hal buruk.


"Aku mengerti" ucap Kai, meskipun ia masih sedikit ragu dengan Flo. Bagaimanapun ia tidak ingin pacarnya kenapa-napa


"Dan Flo, Dia adalah Kai, Kai ini pacarku. Kau tidak perlu khawatir, dia tidak akan melukaiku. Dia juga seorang jendral di usianya yang sangat muda" ucap Dara


"Pacar? Jendral muda? Apa anda dari keluarga Narendra?" tanya Fl langsung..


"Ya" ucap Kai


"Astaga, maafkan saya tuan muda!" ucap Flo, ia langsung berdiri dan membungkukkan badannya.


Flo sangat tahu berita tentang Kai, yang merupakan talenta super jenius yang di miliki kemiliteran negara ini.


Ia juga terkejut karena Jendral muda itu ternyata pacar dari nonanya yang Flo tahu sebagai jenius lainnya.


"Memang orang hebat akan bergaul dengan orang hebat lainnya" ucap Flo dalam hati.


"Kau harus bekerja lebih baik, dan menjaga pacarku dengan baik" ucap Kai tegas.


"Tentu, bagiku Nona Dara adalah yang terpenting dari pada nyawaku sendiri" ucap Flo dengan sungguh-sungguh.


Setelah masalah keduanya selesai, Dara dan Kai menghampiri kedua adiknya dan pergi ke Teranish School.


Mereka berempat berangkat ke sekolah dengan Sandi yang sebagai supir setia di keluarganya.


Kedatangan Dimas dan Ryan membuat semuanya siswa heboh. Terlebih melihat Dara dan juga Kai yang juga turun dari mobil.


Mereka langsung mengenali Dara saat menyaksikan live streaming Dimas saat itu. Ia tahu jika kakak perempuan Dimas adalah yang tercantik.


Meskipun begitu, Dara yang masih mengenakan maskernya, jadi tidak terlalu mengambil perhatian. Hanya saja ketampanan Kai yang membuat semua siswi berteriak histeris dan heboh.


"Wow, tampan sekali!" Seru murid dan juga para wali mereka melihat Kai.


Kai sama sekali tidak melirik mereka, ia justru memengang tangan Dara sebagai gantinya dan terus berjalan.


"Wah ternyata ia datang dengan pacarnya" seru yang lain kecewa saat melihat Kai menegang tangan Dara


"Sayang sekali, aku pikir aku bisa menjodohkan putri sulungku padanya, tapi ternyata ia memiliki pacar sahut salah satu ibu-ibu.


"Eh, bukannya itu Kakak perempuan Dara yang Dewi nasional itu? jadi cowo itu kekasihnya? Huuu... aku patah hati Mak...." seru siswa di sana.


Dara terlihat biasa saja menghadapi itu, ia menggenggam balik tangan Kai. Sebenarnya ia tidak keberatan jika banyak orang yang terpukau dengan ketampanan Kai.


Toh itu mata mereka dan hak mereka mengatur perasaan mereka sendiri. Bukankah itu wajar, karena memang daya pikat Kai benar-benar sebesar itu. Buktinya ia sendiri tergoda juga, pada akhirnya ia mengikuti kata hatinya dan menerima Kai sebagai pacarnya.


...•••••...