The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
231. Hadiah kecil untuk Megan



Dara menjalani aktivitasnya menjadi Dokter di rumah sakit milik keluarga Prayoga. Hari pertama ia jalani dengan lancar tanpa adanya hambatan.


Baru saat hari kedua terlihat banyak sekali pasien yang memenuhi ruangan IGD. Hingga membuat semua orang terkejut karena peristiwa itu.


Hari ini banyak sekali anak-anak dari TK Nusa Bangsa Kota S. Kurang lebih ada belasan anak-anak dan ibu-ibu di larikan ke rumah sakit ini, sisanya ke rumah sakit yang lain karena keracunan makanan saat ada acara di sekolah kanak-kanak itu.


"Dokter tolong...." Suara riuh memenuhi Unit Gawat Darurat.


Dua Dokter yang piket langsung turun langsung menangani pasien. Dara yang baru sampai di rumah sakit langsung ikut turun tangan, meskipun jam kerjanya masih satu jam lagi.


"Dokter Dara..." ucap Perawat yang terkejut sekaligus lega melihat Dara datang, karena kedatangan Dara suatu bantuan yang besar untuk menangani situasi darurat ini.


"Kita langsung tangani pasien sus!" ucap Dara.


"Baik Dok!" ucap Perawat itu mendamping Dara untuk membantu menangani pasien.


"Jangan berikan obat itu!" ucap Dara menghalangi Dokter Andi menyuntikkan salah satu obat.


"Kenapa Dokter Dara? Setidaknya kita memberikan antibiotik ini agar gejalanya berhenti, sembari menunggu hasil lab keluar Itu akan merangsang racunnya meningkat" ucap Dokter Andi


"Obat itu akan membuat racun meningkat, pasien mengalami keracunan Racun A. Segera siapkan obat...." ucap Dara memberitahu obat apa saja yang harus di berikan segera pada pasien.


"Apa anda yakin Dok? Jika salah diagnosa akan fatal" ucap Dokter Andi.


"Aku akan bertanggung jawab jika diagnosaku salah. Cepatlah waktu kita sedikit, karena racunnya sudah mulai menyebar" ucap Dara


Mau tidak mau Dokter Andi dan yang lain mengikuti instruksi Dara, mereka berdo'a semoga tidak ada yang salah dengan diagnosa Dara.


Benar saja, hanya dalam waktu setengah jam pasien yang ada di sana sudah lebih baik setelah melakukan penanganan yang tepat.


Racun yang di konsumsi pasien sangat sulit di deteksi dan di cari penawarnya. Namun bagi Dara itu sangat mudah. Hanya dalam sekali lihat sudah mengetahui racun jenis apa itu dan langsung mengambil tindakan.


Alden yang mendapatkan laporan jika ada belasan pasien keracunan datang, langsung turun untuk melihat keadaan di UGD.


Namun saat ia turun, semua pasien sudah di atasi semuanya dalam waktu kurang lebih setengah jam saja, saat melihat Dara ada di sana Alden tidak terkejut seperti sebelumnya.


"Dokter kepala" sapa Perawat membuat Dara dan Dokter yang lain menoleh.


"Bagaimana keadaan pasien?" tanya Alden


"Semuanya aman Dok, ini semua karena respon dan arahan dari Dokter Dara yang sangat tepat, cepat dan efisien untuk menangani keracunan yang terjadi. Bahkan tidak memerlukan sample untuk uji lab terlebih dulu, Dokter Dara mendiagnosa dengan tepat" ucap Dokter Andi


"Benarkah?" tanya Alden tidak terlalu terkejut karena ia sudah mendengar kehebatan Dara dari sang kakak. Namun tetap saja masih ada rasa kagum mendengarnya.


"Benar Kepala, hasil uji lab baru saja keluar dan ternyata hasil lab sesuai dengan diagnosa dari Dokter Dara kalau racun itu adalah racun tipe A" ucap Dokter Luna


"Bagaimana kamu tahu jika itu Racun tipe A?" tanya Apden penasaran


"Benar Dokter Dara, kami juga penasaran dan juga ingin tahu. Agar jika hal serupa terjadi, kami bisa segera melakukan penanganan yang tepat tanpa harus mengukur waktu menunggu hasil lab" ucap Dokter Aldi dan di angguki yang lain.


"Racun tipe A memiliki gejala yang sama seperti racun pada umumnya seperti sesak nafas, mual, dan mulut berbusa. Namun racun ini sangat bahaya jika penangannya salah, karena akan membahayakan nyawa.


Hanya saja racun ini bisa di bedakan dari perubahan warna kulit di sekitar jari tangan, area mulut dan mata. Lihatlah, Kuku mereka terlihat seperti kekuningan kulit di area sini ada semburat hijau, area mata sebelah sini juga ada gurat kehijauan dan di mulut ada titik putih pudar seperti ini" jelas Dara.


Ia tidak pelit berbagi ilmu, ia apalagi ini untuk kebaikan bersama. Orang di sana baru sadar dan terkejut setelah apa yang di beritahu Dara. Yang bahkan di dunia kedokteran tidak pernah di jelaskan di dalam buku manapun.


"Wah, kamu jeli banget Ra" ucap Alden takjub.


"Bener, Dokter Dara kok bisa kepikiran sampe sana. Padahal belum ada yang tahu loh ciri-ciri spesifik dari gejala Racun ini kecuali test Lab. Peneliti aja masih bergelut mencari pembeda racun ini dengan racun yang lain. Tak menyangka jika kasus ini di pecahkan oleh mu" ucap perawat bernama Rina dengan berbinag


"Terimakasih loh udah kasih kita semua ilmu yang bermanfaat banget" ucap Dokter Luna


Dara hanya tersenyum di balik maskernya, keluarga pasien keracunan juga berterima kasih karena menyelamatkan keluarga mereka. Kini keluarga pasien lebih memfokuskan kesembuhan dan juga mencari tahu apa yang terjadi hingga musibah ini terjadi.


Kini nama Dokter Addara Azalea yang pertama kali menemukan ciri dan gejala khusus Racun Tipe A, menyebar ke seantero dunia.


Di Negara K, Megan tengah memainkan jarinya di ponsel miliknya. Ia menghabiskan waktu untuk berselancar di internet, baik untuk melihat kedua sosial ataupun belanja online.


Hari ini ia sangat bahagia karena memikirkan saingan terberatnya yakni Dara akan menerima pelajaran dari orang-orang suruhannya.


Tok! Tok! Tok!


Ruangan rawat inap Megan di ketuk, setelah Megan mempersilahkan masuk. Datang seorang perawat dan seorang kurir laki-laki.


"Nona, ada paket untuk anda" ucap perawat itu menggunakan bahasa Negara K.


Megan yang sudah sering ke Negara itu bisa mengerti sedikit yang di ucapkan oleh perawat itu.


Tanpa curiga Megan menerima paket yang cukup besar itu, karena memang dirinya memesan banyak barang secara online.


Megan hanya mengangguk tak mengatakan apapun. Bagaimana pun ia harus mengurangi gerakan di wajahnya, kalaupun ngomong harus dengan hati-hati dan pelan. Ia tidak ingin hasil operasinya menjadi terpengaruh.


Perawat dan kurir pun langsung keluar tidak ingin menganggu Megan.


Setelah puas berselancar di internet, Megan pun turun dari tempat tidur dan mengambil dus paketan untuknya itu.


"Cepet banget datangnya, padahal baru tadi pagi aku pesen. Ah aku tidak sabar melihat tas keluaran terbaru milikku yang cantik. Tapi kok gede banget dusnya ya? Biasanya dusnya nggak besar gini, hmm aku tahu pasti karena keamanan produk jadi dusnya berlapis. Biar barang High Quality milikku dengan aman sampai" ucap Megan dalam hati.


Dengan pelan-pelan dan hati-hati Megan membuka paket itu, ia tidak ingin merusak barang berharga yang ada di dalam dus.


Bagaimana tidak berharga, harga tas yang di beli oleh Megan, sama dengan harga sebuah mobil Honda Civic tipe R.


SREK!!!


Megan membuka dus itu mencoba menahan senyum di wajahnya, namun sedetik kemudian situasi berubah, air mukanya berubah tegang di balik perban di wajahnya.


"Aaaaaaakkkhhhhhh..... Apaaa ituuuuuuu???? Aaakkhhhh tolooonggggg!!!" teriak Megan dengan kencang.


Ia lupa jika dia tidak boleh menggerakkan wajahnya, namun kali ini ia berteriak kencang dan juga ketakutan hingga menghiraukan rasa sakit di wajahnya.


Saat melihat isi paket itu tak lain adalah dua kepala orang suruhannya, yang ia minta untuk memberikan Dara pelajaran. Badan Megan bergetar, pandangannya pun menjadi gelap.


BRUK!!!


Megan yang syok pun jatuh pingsan tidak sadarkan diri di lantai.


Kreeekkk!!


Tak! Tak!


Suara pintu kamar rawat inap Megan terbuka, seseorang masuk dengan tenang. Kemudian beberapa orang datang dari belakang.


"Bersihkan ruangan ini, jangan sampai meninggalkan bukti" ucap orang itu dengan bahasa K dengan fasih


"Lalu wanita ini?" tanya seorang wanita berseragam perawat yang mengantar kurir tadi.


"Biarkan saja dia di sana, ini untukmu. Jangan biarkan orang lain mengetahuinya, atau kau akan...." ucap orang itu lagi sembari menggerakkan jempol ke lehernya.


"Tenang saja tuan" ucap perawat.


"Bagus, ini untukmu!" ucap Orang itu memberikan amplop tebal.


"Terimakasih tuan" ucap perawat itu berbinar.


"Seminggu dari sekarang, kau akan di pindahkan ke rumah sakit lain" ucap orang itu.


Setelah mengatakan itu orang itu pun pergi, di susul oleh orang yang mengambil kepala itu dan membersihkan kamar inap itu seperti tidak pernah terjadi apapun.


...•••••••...