
Dara, Flo dan Manda sudah sampai di sebuah bangunan berlantai tiga di kawasan selatan ibukota. Bangunan itu tengah di renovasi dan delapan puluh persen sudah Rampung.
Letak restoran milik Dara yang akan di bangun di sana di daerah yang merupakan tempat strategis, termasuk salah satu pusat keramaian di ibukota.
Apartemen yang di sewa Dara untuk tempat Manda juga sudah bisa di tempati. Jarak apartemen ke tempat kerja hanya kurang dari satu kilometer.
Dara sengaja menyewa apartemen itu untuk mengontrol kesehatan Manda dan juga janinnya. Selain itu Manda tidak perlu capek bolak balik ke rumah orang tuanya, jika sedang ke restoran.
Meskipun sebagian masakan restoran Ibu Manda yang memasaknya, Dara meminta Ferdi untuk merekrut koki lain untuk membantu ibu Manda yang bernama bu Entin itu. Jadi bu Entin tidak terlalu memforsir tenaganya dan bisa membagi kerjaan pada koki lain, saat restoran resmi buka nantinya.
Restoran yang di buka merupakan Restoran khas makanan JaNda alias Jawa dan Sunda. Yang mana Ibu Manda memang merupakan orang Priangan asli kota B dan mendapat julukan kota Paris Van Java itu.
Namun Bu Entin pandai memasak makanan Jawa juga, karena mendiang suami atau bapak dari Manda adalah asli orang Jawa.
"Selamat siang nona Dara, Nona Flo dan Nona Manda" sambut Ferdi, Ina dan juga mandor yang bertanggung jawab untuk renovasi restoran tersebut.
"Siang semuanya" sahut Dara dan Flo.
"Siang Pak Ferdi, Bu Ina, Pak Rojak. Tolong panggil saya Manda saja" ucap Manda, ia tidak merasa nyaman di panggil dengan embel-embel nona. Meskipun sebentar lagi ia akan mendapatkan jabatan sebagai manager di restoran.
Awalnya Manda hanya ingin menjadi pelayan atau kasir saja, saat pertama kali Manda menemui Ferdi dan Ina untuk membahas kontrak kerja.
Namun Ferdi mengatakan jika itu sudah keputusan Dara yang ingin menjadikannya sebagai manager restoran dan juga Bu Entin yang akan menjadi kepala koki.
Manda juga sudah protes ke Dara, karena ia tidak ada bakat di bidang manajemen. Ia hanya mahasiswi senior di fakultas IT, mana ada ia ngerti soal me-manage restoran.
Tapi Dara meyakinkan Manda untuk mencobanya terlebih dulu dan belajar mengelola restoran. Ia juga mengatakan kalau Manda juga bisa menggunakan ilmunya di Restoran.
Misalnya membuat rencana promosi restoran melalui internet, media cetak atau lainnya. Atau bisa juga membuat aplikasi khusus pesan order, dan lain-lain yang terhubung di server yang ada di restoran.
"Kapan renovasi nya selesai?" tanya Dara
"Paling lama Minggu depan sudah bisa beroperasi Nona. Ini tinggal memoles sedikit bagian luarnya saja, kalau bagian dalam sudah selesai semua. Tinggal mengisinya dengan furniture" jawab Rojak, Dara mengangguk paham.
"Nona belum makan siang kan? Ibu Entin sudah menyiapkan makan siang di dalam. Mari makan dulu, kita bisa membicarakannya setelah makan siang" ucap Ferdi.
Dara dan yang lain mengangguk dan masuk ke dalam restoran. Mereka menuju ke lantai tiga menggunakan lift. Di sebuah ruangan yang sangat klasik namun nyaman dan juga mewah, mereka berenam kemudian duduk di sebuah kursi yang melingkar di meja bundar.
"Ini salah satu Private Room yang sudah di desain sebagai contoh, Bos. Di lantai tiga semuanya adalah room Private, total kita memiliki sepuluh ruangan di lantai ini" ucap Ina menjelaskan.
"Bagus, ini sangat mewah, berkelas dan juga nyaman" puji Dara melihat ruangan itu drngan teliti.
"Apa semua set di setiap ruangan sama?" tanya Dara lagi
"Tidak nona, kita memiliki dua tipe ruangan yakni VIP dan VVIP. Perbedaannya selain luas ruangan juga fasilitas di dalamnya" ucap Ferdi
"Apa tidak ada ruangan khusus untuk Dar, ehkmm untuk Bos?" tanya Manda hampir keceplosan memanggil Dara dengan namanya saja.
"Dari pada buat ruangan khusus untukku, lebih baik ruangannya di buat untuk bisnis menghasilkan cuan. Berapa harga setiap kali menyewa ruangan, Fer?" tanya Dara
"Dua juta nona, itu yang ruangan VIP, untuk ruangan VVIP Tiga juga" ucap Ferdi
Mendengar itu membuat mulut Manda menganga. Apa menyewa ruangan untuk makan semahal ini? Gila! Gila! Gila! Itu bisa buat makan sebulan sama ibu! Begitu kira-kira yang di pikirkan Manda.
Lagian aku terlalu sibuk untuk mengunjungi semua Perusahaan ku. Dalam waktu dekat aku masih harus mengurus pertunangan, koas, pernikahan, Perusahaan lainnya dan masih banyak lagi" ucap Dara berinisiatif mengatakannya, karena ia tahu tatapan Manda yang seolah bertanya kenapa tidak buat?
"Bos Besar sangat sibuk sekali ternyata" ucap Manda
"Tidak juga, Ferdi, Theo, Flo dan Ina yang lebih sibuk tuh" ucap Dara tertawa.
"Enak banget jadi bos ya, tinggal minta anak buah sat set, sat set, beres deh " celetuk Manda terkekeh
"Tenang, kan nanti kamu juga bakalan jadi bos kok di sini Da" ucap Dara
"Haaahh, kenapa harus jadi manager sih bos, kan bisa jadi kasir gitu, pelayan juga nggak apa-apa, bantu ibu masak juga nggak masalah. Kenapa tukang program jadi banting stir ke manager?" ucap Manda sembari mamajukan bibirnya merajuk.
"Jadi pelayan, koki juga banting stir. Nggak nyambung sama jurusanmu" ucap Dara
"Inget kamu bukan cuma bawa badan kamu doang, jangan terlalu di forsir nanti kecapean. Kamu nggak kasihan emang sama Dede utun? Pasti bisa, kan bisa belajar nanti juga aku yakin kamu jadi manager pro nantinya" bisik Dara ke Manda, hingga hanya bisa di dengar keduanya dan juga Flo.
"Ah iya, lupa. Abis perut rata sih, lupa kalau di dalem ada si utun" bisik balik Manda sambil nyengir.
Dara hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya saja mendengar nya.
.....
Setelah makan siang, Dara dan yang lain melihat sekeliling bangunan restoran, meskipun masih kosong karena belum di isi furniture. Seperti meja, kursi dan lain-lain.
Namun Dara pribadi sangat puas dengan pemilihan warna cat dan juga bagian taman yang ada di samping restoran yang sudah di sulap menjadi cantik.
Ferdi dan Ina bergantian menjelaskan apa saja yang ada di pantai satu sampai tiga, Dara juga melakukan tour untuk mengecek ke setiap sudut restoran. Dari Dapur, peralatan masak, peralatan makan, bahan dapur, gudang, fasilitas dan sarana dan lain-lain.
"Nona, di lantai dua semuanya tempat makan untuk umum. Di lantai satu ada Dapur, gudang, ruangan istirahat karyawan dan loker. Di sini juga ruangan kerja anda. Sedangkan di ruangan sebelah ada ruangan Manager. Di lantai satu hanya sedikit space meja untuk pelanggan makan, dan juga area bermain untuk anak-anak" jelas Ina.
"Semua ruangan kecuali toilet dan ruang ganti atau loker, semuanya di lengkapi CCTV" lanjut Ina
"Lalu bagaimana dengan perekrutan Karyawan?" tanya Dara
"Kita sudah menyeleksi yang melamar pekerjaan dan menerima total karyawan 30 orang selain Bu Manda dan Bu Entin. Tiga puluh karyawan itu di antaranya Tiga security, tiga resepsionis, dua kasir, dua belas pelayan, dua admin, empat koki, empat cleaning servis. Semuanya akan masuk tiga hari sebelum restoran buka untuk training kilat" ucap Ina
Dara mengangguk, setelah mengecek persiapan restoran. Dara dan Flo pulang dengan satu mobil. Sedangkan Manda pulang bersama dengan ibunya yang akan di antar Ina karena kebetulan satu arah.
...••••••...