
Setelah melakukan serangan mendadak itu, Dara langsung lari menjauh dari sana. Ia berteriak memberikan semangat untuk Kai.
"Semangat menjalankan tugas jendral, Fighting!!!" teriak Dara dengan mengepalkan tangan ke atas tanda semangat sedangkan tangan lainnya memegang gulungan dari Kai.
Mendengar itu Kai sadar dan tersenyum, ia tertawa melihat gadisnya susah kabur sebelum ia bereaksi. Ciuman dengan penghalang masker itu membuat jantungnya berdegup dengan kencang.
"Dasar gadis nakal, aku akan menagih janjimu saat aku pulang nanti!" ucap Kai tersenyum
Ia langsung masuk mobil setelah bayangan Dara sudah menghilang dari area parkir menuju pangkalan militer. Sedangkan Dara, ia memutuskan kembali ke dalam Mall.
Dara masuk ke toilet, saat di bilik kamar mandi, ia memasukkan gulungan itu ke ruangan dimensi.
Setelahnya Dara keluar menuju restoran, ia ingin membelikan kedua adiknya pizza, karena kemarin Dimas mengatakan ingin mencoba makanan yang belum pernah ia makan itu.
Ia bergegas ke lantai satu menuju restoran pizza. Ia memesan menu Double Box Jumbo Splitza sebanyak 5 box. Ia memesan banyak karena ia ingin memakan bersama semua pekerja di mansion.
Setelah membayar, Dara menunggu di kursi yang ada di sana. Dara membuka internet, ia melihat berita tentang dirinya masih masuk trending, meskipun sudah di timpa berita lainnya dari berita artis dari dalam negeri.
"Dara..." panggil seseorang.
Dara yang merasa namanya di panggil pun menoleh, ia mengerutkan keningnya saat melihat Rainer ada di sana bersama dengan seseorang yang tak lain adalah Raffi.
"Hmm..." sahut Dara tidak berminat dan menatap ponselnya lagi.
Raffi terkekeh geli, ia seumur hidup baru kali ini melihat Rainer berinisiatif menyapa seorang perempuan. Di tambah yang di sapa cuek bebek tanpa repot-repot membalas memandangnya dan memilih lihat ponselnya yang terlihat lebih menarik.
Gimana nggak ketawa coba?
"Bro, pesona lo udah luntur kali... Oups sorry..." bisik Raffi, ia menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam Rainer mengarah pada nya.
"Boleh duduk di sini? Oh ya, kenalin aku Rainer, kamu bisa memanggilku Rain" ucap Rainer, namun Dara tidak menggubrisnya.
Dara justru sedang asik melihat ponselnya dan membuka Chanel Youtube milik adiknya. Ia baru tahu jika adiknya cukup terkenal dan memiliki jutaan pengikut.
"Ekhmm, Ra" panggil Rainer
"Pesanan nomor 66" suara karyawan menggema bersamaan dengan ucapan Rainer.
"Duduk saja!" ucap Dara.
Rainer tersenyum saat Dara merespon dan memperbolehkan ia duduk. Namun baru saja ia duduk Dara berdiri dan berjalan mengambil pesanannya yang sudah jadi lalu berjalan keluar.
"Ha-ha-ha....." Raffi tidak kuat menahan tawanya, ia tidak peduli beberapa orang melihat ke arahnya.
"Sigh...." Rainer kesal karena di tinggal Dara dan juga di tertawakan oleh sahabatnya, ia kemudian melangkah pergi mengikuti Dara dari belakang.
"Woy Rain, tungguin gue!" teriak Raffi yang ikut mengejar sahabatnya itu.
"Ra, aku bantuin bawa ya, itu berat loh!" ucap Rainer menawarkan bantuan.
"Tidak perlu!" tolak Dara, baginya semua makanan itu tidak berat sama sekali, dan ia juga tidak ingin dekat dengan orang yang tidak ia kenal, meskipun mereka sudah pernah bertemu sebelumnya.
"Ra aku anterin pulang gimana, mobilku ada di tempat parkir. Kalau nggak kamu tunggu di sini ya, aku ambil mobilku dulu" ucap Rainer.
"Tidak! Aku bisa pulang sendiri" ucap Dara kemudian naik Taxi yang memang stand bay di depan Mall.
Rainer tidak bisa berbuat apa-apa, baru kali ini ia tertarik dengan perempuan. Tapi perempuan itu sangat berbeda dengan para wanita yang mengejar dan menempel padanya, tapi Dara tidak. Dia sangat unik, cantik dan menarik.
"Woy, Rain... Main tinggal-tinggal aja" gerutu Raffi, namun Rainer tidak menggubrisnya.
"Hei, kok kita ke arah parkir, bukannya lo bilang mau makan?" ucap Raffi.
"Berisik, gue udah nggak nafsu makan!" ucap Rainer.
"Duh, tumben banget Lo galau gini hanya karena di abaiin cewe. Kan gue kena imbasnya, sabar ya cacing cacing di perut, curi semua nutrisi.... Kamu harus puasa dulu" ucap Raffi mengikuti Rainer ke parkiran dan tidak jadi makan.
....
Di sebuah kontrakan di pinggiran utara ibukota yang dekat dengan laut. Sebuah keluarga tengah duduk di ruang tamu yang beralaskan tikar, tidak ada sofa di sana.
Seseorang wanita muda sedang merajuk ke arah kedua orang tuanya. Namun kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa, dan hanya mengucapkan kata sabar.
"Masa ngasih uang satu juta aja sulitnya minta ampun. Meta butuh uang itu buat beli bahan tugas kuliah, mah" ucap wanita yang bernama Meta itu dengan kesal.
"Tapi sayang, mama dan papa tidak punya uang sekarang. Kamu tahu kan kalau keuangan keluarga kita tengah seret. Kamu yang sabar ya" ucap Maria, ibu dari Meta.
"Betul kata ibu kamu Meta, cobalah mengerti keadaan keuangan kita yang sedang terpuruk, jangan tahunya minta duit mulu" ucap Agung, ayah dari Meta.
"Ish, mama, papa nyebelin, Meta benci..." ucap Meta kesal lalu keluar dari rumah dengan kondisi marah.
"Hah...." Maria menghela nafasnya melihat putri tercintanya marah padanya.
"Jangan terlalu memanjakan anakmu itu, ajarkan dia untuk mengerti kondisi kita. Aku sudah cukup pusing dengan masalah yang terjadi jangan menjadi beban tambahan yang tidak penting" ucap Agung marah
"Dia juga putri kamu! Jangan menyalahkan Meta, itu karena kamu tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup kami. Bahkan uang tabunganku juga habis untuk sewa kontrakan, makan sehari-hari dan lain-lain. Kamu bahkan tidak bekerja sama sekali dan diam saja di rumah" ucap Maria tidak terima putrinya di salahkan.
"Itu putrimu, aku hanya papa tirinya bukan papa kandungnya. Aku bukannya tidak mau bekerja, tapi semua lamaran kerjaku di tolak oleh semua perusahaan yang aku kunjungi" ucap Agung
"Dulu saja kamu mengatakan akan menganggapnya putri kandungmu sendiri, bahkan kamu memanjakannya agar bisa menikah dengan ku. Tapi sekarang kau melemparkan semua tanggung jawab padaku. Kalau tidak ada perusahaan yang menerimamu, kau bisa bekerja apa saja. Ngojek kek, jadi kuli kek atau apa saja yang penting hasilin cuan" ucap Maria lagi.
"Ngojek? Kau pikir pantas seorang sarjana sepertiku ngojek? Aku nggak mau, aku pantasnya kerja di perusahaan, memakai kemeja, jas dan dasi. Atau aku jadi bos dengan membangun usaha" ucap Agung.
"Ngayap terus! Sudah jatuh miskin tapi gengsi tetap gede, gengsi nggak bikin kenyang!!" teriak Maria kesal dengan pemikiran sang suami.
"Cih, kalau mau kerja, kamu saja sana yang kerja!" ucap Agung.
"Kamu!!!... Aku menyesal menikah dengan laki-laki macam kamu!" ucap Maria kemudian membanting pintu kontrakan dan menangis keluar dari rumah.
Rumah tangga yang dulunya di penuhi gelak tawa dan keharmonisan, kini berubah bak neraka yang setiap hari ada saja keributan yang terjadi. Semua itu berawal dari kebangkrutan usaha mereka dan juga runtuhnya perusahaan milik keluarga Maria, hingga mereka sangat menderita saat ini.
...••••••...