
Keesokan harinya jam setengah empat pagi, Tirta dan Kai sudah sampai di Star mansion. Dara dan Flo yang memang sudah menunggu sejak jam tiga pagi sudah bersiap untuk berangkat ke kota H.
Meskipun kompetisi akan di mulai pukul 9 pagi, namun mereka berangkat lebih awal. Berhubung hari ini adalah akhir pekan, jalanan menuju ke kota H dari ibukota pasti akan macet. Jadi mereka berangkat lebih awal agar tidak terlambat datang ke sana.
"Minum pil ini Flo" ucap Dara memberikan sebotol porselen berisi sebuah Pil.
"Baik" tanpa banyak tanya, Flo langsung menerima dan meminum pil itu. Ia sangat percaya jika nonanya tidak akan memberikan sesuatu yang membuatnya celaka, jadi tanpa keraguan ia meminum pil itu.
Wuushhh!!!
Tubuh Flo tiba-tiba di selimuti dengan cahaya berwarna putih yang menyilaukan. Ketiga orang selain Dara terkejut melihat hal itu dan memejamkan mata karena cahaya itu begitu silau. Sesaat cahaya itu meredup Kai dan Tirta kembali terkejut lagi dan lagi.
Pasalnya wajah Flo kini sangat berubah dengan wajah Flo biasanya. Meskipun Flo tidak melihat penampilan dirinya saat ini, ia tahu jika penampilan dirinya berubah.
Flo yang asli memiliki kulit putih bersih, mulus, cantik dengan hidung mancung, bibir kecil berwarna merah ceri, mata berwarna keabuan dan rambut hitam bergelombang sepinggang membuat nya seperti peri di cerita dongeng anak-anak.
Sedangkan ia melihat kulitnya sekarang berubah menjadi sawo matang, hidungnya terlihat lebih kecil dengan rambut keriting, matanya yang berwarna coklat. Namun tidak menampik penampilan Flo yang terlihat sangat cantik dan terkesan se*si dengan kulit eksotis nya itu.
"No-nona i-ini? loh su-suaraku juga..." ucap Flo terkejut karena suaranya sangat berbeda dari biasanya.
"Tidak usah terkejut, yang kamu minum adalah pil penyamaran. Setelah meminum pil itu, penampilan kamu akan berubah termasuk dengan suara kamu. Pil itu hanya berefek selama 24 jam saja, setelah itu kamu akan kembali ke penampilan kamu semula. Tenang saja, pil itu sangat aman dan tidak memiliki efek samping" ucap Dara menjelaskan kegunaan pil yang di minum Dara.
Semua orang mengangguk paham dengan penjelasan Dara. Sedangkan Dara tidak meminum pil itu karena dia akan menggunakan Cadar saat di sana.
Tidak masalah Dara menggunakan cadar, itu karena Dara tidak terlibat dalam kompetisi. Sedangkan Flo tidak bisa menggunakan cadar atau topeng saat ikut kompetisi, yang kemungkinan wajahnya akan terekspos saat penutup wajahnya itu tidak sengaja terbuka.
"Kita berangkat sekarang!" ucap Tirta setelah semuanya di pastikan sudah siap.
Yang lain hanya mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Dara dan Kai duduk di bangku belakang, sedangkan Flo duduk di co.driver dan Tirta yang mengemudi.
Selama lebih dari tiga jam di perjalanan, Dara menyender di bahu Kai. Kai juga menggenggam tangan Dara dan mengelusnya lembut, membuat kedua orang yang berada di depan tidak berani menatap ke belakang.
Hampir pukul 7.30, mereka sampai di kota H. Mobil mereka terparkir di lembah gunung Salacca. Karena jalan yang akan di lewati merupakan jalan setapak yang hanya bisa di lalui dengan jalan kaki, jadi mobil mereka parkir di sebuah restoran tak jauh sana.
Dara langsung mengenakan cadar untuk menutupi wajahnya, setelah itu mereka berempat kemudian turun berjalan kaki menuju gerbang padepokan maung, yang berada tepat di tengah hutan lembah gunung Salacca. Mereka hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai di sana.
Sebuah bangunan khas padepokan terlihat di balik pintu gerbang. Orang awam tidak akan tahu jika di dalam hutan ada sebuah padepokan yang sangat indah dan terkesan klasik itu seperti jaman kuno. Itu karena di sekeliling padepokan di pasang formasi level dua, hingga tidak sembarang orang bisa melihatnya.
Kemungkinan formasi itu merupakan peninggalan dari seseorang di masa lalu yang sudah membangun padepokan. Karena menurut Tirta di negara mereka saat ini tidak memiliki ahli formasi. Ah salah, ada satu yaitu Dara sendiri, yang merupakan master formasi. Namun tidak ada yang mengetahui hal itu kecuali Dara, Kai dan Flo.
Dara melihat banyak kultivator yang sama-sama sedang berjalan menuju gerbang padepokan. Semua orang yang di lewati atau melewati Dara, tercengang dan juga merasa tertekan saat merasakan Aura Dari Dara yang sangat kuat mengintimidasi mereka.
"Selamat datang di padepokan Maung. Silahkan masuk!" ucap penjaga sopan, namun jika di lihat dua penjaga itu mengeluarkan keringat dingin di keningnya saat menyambut kedatangan Dara dan yang lain.
Setelah melihat Dara dan yang lain masuk, penjaga segera melaporkan hal itu segera ke pihak penyelenggara melalui batu komunikasi.
Ya di beberapa padepokan atau perguruan besar di pelosok negeri, masih memiliki batu komunikasi yang di jaman ini sangat langka. Meskipun di satu padepokan hanya memiliki sedikit bahkan tidak lebih dari 10 buah.
Mereka menggunakan batu komunikasi sebagai perantara, karena di area padepokan sinyal internet atau yang berhubungan dengan teknologi tidak bisa di akses.
....
Pihak penyelenggara yakni Ki Ageng Prawoto yang merupakan kepala padepokan maung, yang sedang menjamu tamu agung dari negara C. Terkejut saat mendengar laporan dari penjaga, yang mengatakan ada salah satu kultivator senior yang datang bersama dengan peserta kompetisi.
"Ada apa tuan Prawoto?" tanya seseorang yang menerjemahkan bahasa dari junjungannya.
"Sepertinya ada kultivator senior yang datang bersama peserta kompetisi, tuan Marco. Penjaga mengabarkan pada saya barusan" jawab Prawoto pada tamu agung yang tidak lain adalah Steve dan Marco dari negara C.
"Oh benarkah, kalau begitu ayo kita menyambutnya, tuan Steve juga penasaran dengan senior yang anda maksud" ucap Marco lagi.
"Ah baik tuan, mari kita temui mereka" ucap Prawoto dengan sopan.
Meskipun kekuatan Prawoto lebih tinggi satu tingkat dari Steve ataupun Marco. Namun Prawoto sadar jika Steve merupakan talenta yang sangat jenius.
Di usaianya yang ke 40 tahun baik Steve maupun Marco sudah berada di tingkat 4 atau tingkat True Element. Itu adalah bakat jenius! Karena biasanya yang mencapai tingkatan itu adalah orang yang berusia lebih dari 50 tahun.
Dan Prawoto yakin, jika latar belakang Steve dan Marco sangatlah kuat. Karena berkultivasi memerlukan sumberdaya yang besar untuk menopang kultivasi agar bisa terus meningkat.
....
Prawoto dan dua tamu agungnya menyambut kedatangan Dara dan yang lainnya di sana. Ketiganya sangat terkejut saat melihat mereka, lebih tepatnya melihat Dara.
Bagaimana pun mereka bisa memastikan jika Dara adalah seorang yang masih berusia kurang lebih 20 tahun. Namun ia memiliki aura kekuatan yang bahkan lebih kuat di bandingkan dengan Prawoto yang berada di tingkat Immortal Ascension.
Steve menyadari jika Gadis kuat di depannya adalah Dara, saat ia ingin menyapa Dara memberikan kode agar mereka berpura-pura tidak saling mengenal.
"Selamat datang senior, maaf boleh saya tahu nama anda siapa senior?" ucap Prawoto dengan sopan dan lembut. Keringatnya sudah mulai mengembun di dahinya, meskipun Adara masih muda namun kekuatan nya tidak bisa di anggap remeh. Dan Prawoto tidak berani menyinggungnya.
"Astaga bagaimana bisa ada orang seberbakat mereka. Usia mereka masih sangat muda, namun kekuatan mereka bahkan menyaingiku" ucap Prawoto dalam hati.
Yang satu berusia di atas 65 tahun yang berada di tingkat Qi Transformasion. Satu orang gadis berusia 24 tahun yang juga berada di tingkat Qi Transformasion. Satu pria muda berusia 26 tahun di tingkat True Element, dan seorang gadis berusia kurang lebih 20 tahun dengan aura kekuatan besar, yang ia yakin berada di level yang lebih tinggi darinya.
Prawoto terkena shock mental sekarang!
...•••••••...