The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
345. Bucinnya Lingga



Hari berlalu dengan sangat cepat, Flo dan Lingga baru saja sampai ke ibukota kemarin setelah bulan madu mereka di Raja Ampat selama seminggu.


Pengantin baru itu terlihat selalu lengket, lebih tepatnya Lingga yang sangat lengket pada istrinya setelah merasakan dan mereguk nikmatnya menikah.


Mereka berdua masih tinggal di Manor Keluarga Narendra sementara ini, karena mansion yang di hadiahkan Kai untuk keduanya sedang di renovasi bagian tertentu.


Seperti mengganti warna cat, furniture dan bagian tertentu yang ingin di ubah sesuai gaya mereka. Hal itu membutuhkan waktu hingga setengah bulan paling lama.


"Astaga Lingga, kamu nempelin Mulu istri kamu. Sana duduk di depan! Gimana Flo mau masak kalau kamu tempelin kaya cicak begini" ucap Sarah mengomel melihat tingkah putranya itu, yang menempel di belakang punggung Flo dengan cara memeluknya dari belakang.


Sedangkan Flo hanya tersenyum canggung, ia merasa suaminya ini begitu berlebihan setelah menikah. Bahkan lengketnya melebihi lem, di mana pun Flo berada di situ pasti ada Lingga. Kecuali di toilet tentunya, itu pun harus dengan debat kecil dulu.


Di sana juga ada Hesti yang hanya tertawa melihat tingkah keponakannya itu. Ternyata ada yang lebih parah dari Kai, anaknya. Ia pikir Kai sudah yang paling bucin, ternyata Lingga sangat parah dan sulit tertolong.


"Apaan sih mah, kan Flo bininya Lingga. Lingga langsung kangen kalau pisah sedetik aja" ucap Lingga.


"Duh Gusti... Punya anak sableng, bucin, posesif nggak ketulungan gini. Astagaaaa" omel Sarah.


Lingga tidak menggubris ucapan mama nya, ia tetap memeluk Flo dari belakang. Membuat Flo merasa tidak enak pada mertuanya itu.


"Mas Lingga, lepas ih malu sama mama sama Tante Hesti" ucap Flo. Yang sudah merubah panggilannya untuk sang suami menjadi Mas Lingga.


"Nggak mau, biarin aja sih sayangku. Lagian kita ini udah Sah jadi bebas mau lakuin apa aja" ucap Lingga tanpa dosa.


Tak!!!


"Adaaawww...!!!" teriak Lingga meringis sakit saat centong nasi itu melayang dengan indahnya di atas kepalanya, namun tidak membuat ia melepaskan tangannya satunya dari pelukan Flo.


Pelakunya tidak lain adalah mamahnya tercinta, yang memukul kepalanya cukup keras hingga menghasilkan bunyi nyaring di atas kepalanya.


"Bebas palamu! Sah sih Sah, tapi lihat-lihat tempat Lingga, masa kamu tempelin juga bini kamu yang lagi mau masak di dapur gini, di depan orang pagi... Ya Tuhan, Flo sayang mending kamu jangan kasih dia jatah selama sebulan aja kalau kaya gini terus" ucap Sarah memijat pangkal hidungnya pusing melihat tingkah Lingga.


"Enak aja, nggak ada ya kaya gitu, mamah jangan ngomporin dan ajarin istri Lingga yang nggak-nggak ya" ucap Lingga tanpa melepas pelukannya.


"Lepas mas! Nggak boleh ngomong gitu sama ibu kamu, Ayo minta maaf" ucap Flo


"Nggak mau lepas ih sayang. Iya, aku minta maaf ya mama-ku yang cantik jelita tiada Tara dan tiada bandingannya" ucap Lingga, membuat Sarah hanya mendengus kesal.


"Lepas atau kamu tidur di luar malam ini dan nggak boleh sentuh aku selama setahun penuh!" ancam Flo tegas, mengikuti cara dari mertuanya yang tidak ia sangka akan ampuh.


"Sayang..." ucap Lingga tidak setuju.


"Aku nggak akan ulangi ucapan aku ya mas, satu... Dua...ti..." ucap Flo terpotong oleh ucapan Lingga yang sudah lepaskan pelukannya.


"Ya..ya..ya.. Ampun sayang, iya ini aku lepas ini. Aku nggak berani, aku nggak bisa bobo kalau kamu nggak ada di samping aku" ucap Lingga, takut pada ancaman Flo yang tidak main-main.


"Lebay, dulu aja kamu bisa tuh tidur sendirian, sekarang merengek manja" ucap Sarah mengejek putranya


"Ish... Mama nggak besti" ucap Lingga melengos.


"Sorry ya law.. Nggak terima lowongan bestie... Udah sana tunggu di depan!" ucap Sarah


"Aku nunggu di sini aja, sok aja kalau mau masak, Aaaahhh maaahh sakiitt" teriak Lingga kala jemari mamahnya dengan piawai menarik telinga sang putra, karena saking gemasnya.


"Mau lihatin orang masak? Nggak!! Ayo tunggu di depan!" ucap Sarah.


"Aaadaahh mah lepas sakiit..." ucap Lingga meringis sakit karena terkena di jewer sang mama dengan ganasnya, dari area dapur ke ruang keluarga yang jaraknya cukup jauh itu namun terlihat.


"Tuh bocah nguras esmosi, nggak tahu apa kalau dapur itu wilayah kekuasaan para kaum hawa. Nggak bisa banget lihat emaknya ngobrol bareng mantu kesayangan, takut banget di monopoli" Sarah masih mengoceh sambil berlalu menuju ke dapur, setelah membawa putranya.


...


Lingga dengan patuh hanya diam di sana bersama, Ajeng, opah dan omahnya. Ia tidak ingin setahun puasa nggak sentuh sang istri tercinta karena tidak menurut.


Masa baru aja seminggu ia merasakan indahnya dunia, masa harus keluar dari surga itu selama setahun. Mending ia ngalah sementara dan dapat jatah, begitu di pikiran Lingga.


Opah Dierja dan Omah Dian hanya terkekeh melihat tingkah menantu, cucu dan anak cucunya itu. Kediaman ini menjadi ramai karena kedatangan mereka, dulu Lingga sama seperti Kai yang irit bicara. Namun semenjak mengenal Flo, sifatnya berubah 180 derajat dan mereka menyukai perubahan itu.


"Makanya jangan nempel mulu napa kak, orang mau masak malah di gangguin" ucap Ajeng.


"Diem kau anak kecil! Mendingan Sono kamu nanti di dapur" ucap Lingga


"Lagi mager kak, lagian dapur penuh yang ada bikin sumpek kaya Kakak tadi. Ehhh enak aja ya ngatain aku anak kecil, biar gini udah bisa buat anak kecil tau" ucap Ajeng.


"Hussshhh... Ajeng, jaga ucapan kamu" ucap Dian menegur cucu perempuan satu-satunya itu. Sedangkan Dierja hanya melotot ke cucu perempuan satu-satunya itu, seakan mengatakan kalau itu tidak baik.


"Bercanda doang omah, opah, mana berani Ajeng gitu. Masih perawan tong-tong loh ini. Yakinlah sumpah!" ucap Ajeng memperlihatkan dua jari tangannya beraumpah


"Awas aja kalau berani, sosis Ferdi tak bikin sosis perkedel baru tau rasa!" ucap Lingga


"Enak aja, nggak boleh Lah! Lagian Ajeng tahu yang boleh di lakukan dan tidak. Ferdi juga sayang dan jaga aku banget, dia tidak mau merusak masa depan gadis yang ia cintai, wleeee" ucap Ajeng menjulurkan lidahnya pada sang kakak.


"Baguslah!" ucap Lingga.


....


Dara masih berkutat dengan berkasnya, meskipun sekretaris baru sudah mulai bekerja sejak empat hari yang lalu.


Namanya Firly usia 22 tahun, basicnya lulus dari fakultas ekonomi, jurusan management dan dia masih seorang Fresh Granduate. Namun ia sangat cakap dan juga memiliki nilai yang baik secara akademis. Hasil Psikotes nya juga bagus dan Dara cukup puas dengan sikap Firly saat ia interview kemarin.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucap Dara.


Pintu itu pun terbuka, Firly yang berpenampilan muda dan cantik dengan pakaian kerja yang sopan dan make up naturalnya itu masuk.


"Ada apa, Firly?" tanya Dara dengan pandangan masih pada berkasnya.


Firly melihat bosnya itu tengah memeriksa berkas, sedangkan di pojok kanan ia melihat Abang Langit tengah bermain dengan Shine. Namun ia tidak terganggu karena itu dan mulai bicara tentang hal penting pada bosnya itu.


"Ada kabar dari sekretaris Pak Ferdi, bu. Kalau meeting dengan Tuan Lionel dari luar negeri lusa, tidak bisa di undur. Karena tuan Lionel tidak memiliki waktu luang lain, karena setelah ini ia harus terbang ke negara lain untuk melakukan pertemuan" ucap Firly


Dara menghentikan tatapannya pada berkas-berkas itu dan menatap Firly.


"Kalau begitu minta Ferdi buat handle!" ucap Dara


"Saya sudah bilang pada sekretaris tuan Lionel jika pertemuan akan di wakili oleh Ferdi, tapi mereka menolak dan mereka bilang tetap ingin membahas kerja sama ini dengan anda, bukan perwakilan" ucap Firly


"Hah... Jam berapa pertemuannya?" ucap Dara


"Jam 9 pagi di Hotel Imperial" ucap Firly.


Dara memikirkan hal itu, lalu ia merasa bisa menemui kliennya itu, karena waktunya masih pagi. Sedangkan ia akan bersiap nanti


"Baiklah, kamu urus berkasnya! Kamu akan ikut aku menemuinya. Untuk pertemuan lainnya tolong cancel atau reschedule" ucap Dara


"Baik, Bu Dara" ucap Firly sopan, kemudian ia kembali ke meja kerjanya di depan ruangan Dara.


...••••••...