
Di ibukota, tepatnya di Star Resto. Nathan menyempatkan waktu liburnya untuk bertemu sang pujaan hati. Sebelum besok berangkat bertugas bersama tim Falcon lainnya.
Pujaan hatinya siapa lagi kalau bukan Manda.
Meskipun Manda belum bisa membuka hatinya untuk Nathan, karena ia masih takut dan belum percaya ada laki-laki yang tetap menginginkan dirinya dalam keadaan hamil oleh laki-laki lain.
Tapi meskipun begitu, Manda tidak kuasa menolak saat Nathan terus mendekatinya seperti saat ini. Meskipun ragu, ia tidak bisa membohongi perasaannya yang tetap ingin berdekatan dengan Nathan. Jadi ia memperlakukan Nathan seperti teman umumnya saat bertemu.
Hal itu pula yang membuat Nathan harus berusaha semaksimal mungkin untuk meluluhkan hati seorang Manda, sesuai dengan pesan Flo yang di sampaikan lewat Rafael.
Ya, sejak Rafael mengatakan kalau Flo memberikan nasehat untuknya, semangat Nathan yang awalnya redup dan selalu galau dan frustasi menjadi membara kembali.
Mungkin setelah ia berhasil mendapatkan Manda, Flo adalah orang pertama yang ingin ia ucapkan terimakasih. Tentu setelahnya ia juga akan berterima kasih pada Dara, Rafael dan juga Kai.
"Apa kamu sibuk Da?" tanya Nathan.
"Seperti yang lu lihat" ucap Manda mencoba tenang, meskipun dalam hatinya sudah ada dangdutan di sana, karena kedatangan Nathan.
"Makan yuk, udah siang nih" ajak Nathan.
"Gue belum laper" jawab Manda
"Ayolah Da, kamu nggak kasihan sama anak kita emangnya? Dia juga harus di berikan nutrisi yang cukup, jadi jangan malas buat makan" ucap Nathan yang membuat mata Manda membelak saat mendengar ucapan Nathan.
Apa yang ia katakan tadi? Anak kita? Apa mungkin Nathan sudah gila. Begitu yang di pikiran Manda. Namun tak ayal ucapan Nathan membuat bunga-bunga di hati Manda bermekaran. Entah mengapa ia merasa sangat senang saat mendengarnya.
"Hei malah ngelamun. Udah ayok kita makan dulu" ucap Nathan langsung menarik tangan Manda ke ruangan pribadi yang memang sudah Nathan Booking sebelumnya.
Dengan pasrah Manda hanya ikut duduk di ruangan pribadi itu.
"Biar kita bertiga menikmati masakan ibu dan neneknya, jujur masakan ibu mertuaku sangat enak. Pantas saja Restoran ini sangat ramai terus setiap hari" ucap Nathan
"Nat..." ucap Manda
"Aku tahu Da, kamu belum yakin dengan perasaanku bukan? Tapi aku akan membuktikan kalau aku bersungguh-sungguh padamu" ucap Nathan.
"Tapi Kau tahu kondisi gue...." ucap Manda terpotong karena ketukan pintu.
Yang mana pelayan membawakan makanan yang memang sudah Nathan pesan sedari awal. Makanan itu semuanya adalah makanan kesukaan Manda.
Manda menatap makanan di atas meja yang di susun pelayan dengan susah payah menelan ludahnya. Pelayan bahkan tidak berhenti tersenyum dan berbisik pada Manda saat mereka berdekatan.
"Pacar Bu Manda so sweet banget sih, semoga cepet-cepet di lamar ya Bu. Jangan lupa undangan buat kita-kita, biar makan gratis kita" bisik pelayan itu kemudian pergi.
Manda hanya bengong mendengar bawahannya mengatakan itu, sedangkan Nathan hanya tersenyum tipis karena ikut mendengar yang di katakan pelayan barusan.
Keduanya kemudian menikmati makanan dengan tenang, sampai sesaat setelah peralatan makanan di bawa oleh pelayan. Nathan berlutut di depan Manda sembari membuka kotak cincin yang ia bawa.
Tentu saja Manda terkejut dan menutup mulutnya, jangan lupakan jantungnya yang terus berdetak kencang ngereog.
"Manda, mau kah kamu menikah denganku?" ucap Nathan dengan tatapan mata yang sungguh-sungguh.
"Nat aku..." ucap Manda.
"Aku tidak peduli dengan kondisimu saat ini dan masa lalumu. Aku akan menerima kondisimu bagaimanapun keadaannya" ucap Nathan memotong ucapan Manda.
"Tapi Nat..." ucap Manda
"Tidak ada manusia yang sempurna Da, begitu pun denganku. Semua orang memiliki masa kelamnya masing-masing, meskipun dengan keadaan dan takaran yang berbeda-beda" ucap Nathan.
"Aku sungguh mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, kau membuatku galau dan frustasi saat kau menolakku. Kau tahu, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak dan tidak bisa makan dengan baik karena memikirkan kamu yang meragukan cintaku.
Aku memang bukan pria yang romantis Da. Meskipun kamu bukan wanita pertama yang membuatku jatuh cinta, tapi aku pastikan kamu adalah wanita terakhir yang aku cintai dan satu-satunya wanita yang ingin aku jadikan istri terlepas apapun kondisimu saat ini.
Menikahlah denganku, aku akan menjadikan kamu satu-satunya wanita di hidupku di masa depan. Mari kita besarkan anak kita bersama-sama, aku akan mencintainya seperti darah dagingku sendiri. Aku mohon percayalah padaku, aku sangat mencintaimu aku bisa gila jika tanpa kamu Manda" ucap Nathan.
"Sangat pantas, Jika ada yang menghina, menyakitimu, aku akan maju paling depan untuk memberikannya pelajaran" ucap Nathan. Manda tersenyum dan mengangguk.
"Ya, aku mau" ucap Manda tersenyum, ia meyakinkan dirinya sendiri untuk mengambil keputusan besar ini. Ia juga mengubah panggilan agar lebih sopan.
"Yesssss!!! Yuhuuuu.... makasih sayang emuaacchhh... Dede utun, akhirnya ibu terima ayah nak" ucap Nathan mencium perut Manda dan memeluk calon istrinya kini.
Manda hanya tersenyum, entah mengapa yang di lakukan Nathan. Hatinya merasa lega dan bahagia saat ia menerima Nathan dalam hidupnya.
Nathan segera memasangkan cincin di jari manis Manda dan mengecup tangan itu singkat dan tersenyum lebar ke arah Manda. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.
"A Nathan..." ucap Manda
"Kamu panggil aku apa sayang?" tanya Nathan
"Aa, aa Nathan" ucap Manda gugup dengan wajah merona malu.
"Haissss kamu sangat menggemaskan, kita nikah sekarang aja yuk!" ucap Nathan.
"Iiihh, aku nggak mau nikah sekarang a, kita harus nunggu Dede utun lahir dulu. Dan lagi ada yang ingin aku sampein ke Aa" ucap Manda
"Tentang apa sayang?" ucap Nathan.
"Tentang Dede utun" ucap Manda
Nathan menggenggam tangan Manda dan tersenyum tulus ke arah Calon istrinya itu.
"Sayang, aku kan sudah bilang, aku akan menerimanya seperti anakku sendiri. Jadi jangan khawatir" ucap Nathan meyakinkan Manda.
"Justru itu, aku tidak bisa merawat Dede utun, karena Dara akan mengangkatnya sebagai anak" ucap Manda
"Ah itu, nanti aku bicarakan dengan Dara dan Kai. Aku yakin mereka pasti akan paham dan membiarkan Dede untuk kita asuh bersama" ucap Nathan.
"Tidak a, aku tidak bisa mengingkari janji. Meskipun Dara membebaskan aku untuk memilih merawatnya sendiri atau dia yang merawat. Tapi entah mengapa aku merasa anakku akan aman bersama Dara. Bukan aku tidak percaya padamu dan diriku sendiri. Entah mengapa aku merasa ada ikatan batin antara Dara dan Dede utun. Bahkan aku sendiri merasa sangat nyaman dan aman saat bersamanya" ucap Manda
"Baiklah nanti kita bicarakan hal ini lagi pada mereka setelah Dede utun lahir" ucap Nathan, Manda hanya mengangguk saja.
"Berapa usia kandunganmu?" tanya Nathan penasaran.
"Sudah jalan 6 bulan" ucap Manda sontak membuat semuanya terkejut
"Kok masih datar? Aku pikir baru sebulan" ucap Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dara yang bantu menyamarkan perutku, jadi kandunganku tidak terlihat sebelum waktunya melahirkan" ucap Manda.
"Hmm, Dara memang ajaibnya di luar akal manusia. Dia bisa gitu ciptain obat yang bahkan tidak pernah di pikirkan orang lain. Kau jaga anak kita sayang" ucap Nathan
Manda mengangguk paham, namun ia melihat Nathan gelisah. Jadi ia memutuskan untuk bertanya.
"Ada apa?" tanya Manda
"Ada yang ingin aku sampaikan juga" ucap Nathan.
"Tentang apa?" tanya Manda mengeryitkan dahinya.
"Aku besok harus berangkat bertugas, mungkin akan lama. Minimal sebulan aku pulang" ucap Nathan.
"Tidak apa-apa, itu sudah tugas aa sebagai abdi negara. Aku akan mendukung apapun profesi aa" ucap Manda. Meskipun ia sangat sedih karena mereka jadian baru beberapa saat lalu, tapi sudah ingin di tinggal.
"Terimakasih sayang, aku akan menghubungimu jika di sana ada waktu dan sinyal. Jangan berpikir yang tidak-tidak, karena aku berjanji akan menjaga hatiku hanya untuk kamu. Kalau aku tidak bisa di hubungi berarti aku sedang tugas" ucap Nathan memeluk dan mencium kepala Manda.
...••••••••...