The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
81. Menyelamatkan Rainer



DOR!!!!


Suara tembakan itu menggema dengan begitu keras di jalanan sepi itu. Darah pun mencuat keluar dari kepala seseorang yang sebagian meledak karena tembakan itu.


Rainer dan yang lain tertegun melihat kejadian yang sangat cepat di depan mata. Seorang gadis dengan cepat menarik salah satu orang dari kelompok itu dan memblokir tembakan yang mengarah ke Rainer dengan tubuh orang itu.


Bisa di lihat Rainer berdiri kaku saat melihat orang mati depannya karena menggantikannya terkena tembakan itu. Dan itu karena seorang gadis yang saat ini berada di depannya yang masih memegang kerah baju orang yang meninggal setelah di jadikan tameng.


Cipratan darah mengenai gadis itu, namun ia tetap berdiri tenang, tanpa gemetar dan tanpa rasa takut sama sekali.


Rainer menatap gadis di depannya seperti familier, tiba-tiba wangi tubuh dan darah bercampur dalam udara. Namun Rainer bisa mengenali wangi itu, itu wangi yang ia cium dari mahasiswi baru yang melewatinya begitu saja di kampus siang tadi.


"Sial, siapa kamu! Berani sekali kau ikut campur!" teriak pemimpin kelompok itu, dengan hujan lokal yang keluar dari mulutnya.


"Iiihhh Jorok!" ucap Dara dingin dan tajam.


"Apa kau bilang? Semuanya, bereskan gadis itu! Buat dia tahu rasa sakit itu seperti apa!" teriak pemimpin kelompok lagi.


Semuanya kini menyerang Dara secara bersamaan, Rainer tidak tinggal diam ia bergerak ingin melindungi Dara. Karena bagaimana pun Dara sudah menyelamatkan nyawanya.


Namun justru adegan laga itu terpampang jelas di depan mata membuatnya berdiri terpaku. Dara tanpa sungkan menyerang balik orang-orang itu, ia menganggap ini sebagai uji coba kekuatan fisiknya. Jadi Dara sama sekali tidak menggunakan Chi dari dalam tubuhnya untuk menghajar semuanya dalam hitungan menit.


BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!


Rainer yang terkejut melihat aksi Dara yang sangat keren itu. Dengan tubuh Dara yang tinggi dan kurus, ia tidak menyangka jika kekuatan ledakan dari pukulan dan tendangan Dara sangat mematikan.


Aaarrggghhh!!!!


Aaarrggghhh!!!!


Aaarrggghhh!!!!


Teriakan demi teriakan memekakkan telinga, Satu orang tewas di tempat karena terkena pukulan Dara yang mengenai organ vitalnya dalam sekali pukul, sisanya tergeletak tidak berdaya.


Dara kini berjalan ke arah pemimpin kelompok yang berdiri dengan gemetar setelah menyaksikan belasan anak buahnya terkapar di tanah dengan kondisi menggenaskan.


"Jangan mendekat! Atau aku tembak kamu!" teriaknya dengan suara bergetar.


"Oh aku takutt!!" ucap Dara dengan pura-pura ketakutan, namun langkahnya tidak berhenti mendekat.


Pemimpin kelompok itu sudah ketakutan, ia akan menarik pelatuk pistol itu. Tapi sayangnya Dara bergerak cepat dengan menendang pistol itu hingga terlempar ke atas.


KRAK!!!


Dara segera mengambil lebih dulu pistol itu saat di udara, ia juga menghancurkan pistol itu dengan satu tangan. Hal itu membuat Rainer takjub dan pemimpin kelompok itu ketakutan. Kakinya lemas, badannya gemetar dengan hebat.


"Mo-monster!" ucap Pemimpin kelompok itu.


DUK!!!


KRAK!!!


"Aaarrggghhh, ampun!!! Ampuuuniiiii saya!!! Aakkhh sakitttt" teriak pemimpin itu.


Dara menendang kedua lutut pemimpin itu hingga sendi di antara tulang paha dan tulang betisnya pecah. Hal itu mengakibatkan pemimpin kelompok itu akan cacat seumur hidup di masa depan.


"Kau urus sisanya!" ucap Dara pada Rainer tanpa menoleh sama sekali, kemudian ia berjalan ke arah motornya.


"Tunggu!!" teriak Rainer bergegas menghampiri Dara yang akan memakai helmnya.


Terlihat pakaian dan juga masker yang di kenakan Dara terkena bercak darah. itu terlihat jelas karena masker yang di kenakan Dara berwarna putih dan jaket yang di kenakan Dara berwarna putih juga.


Dara menoleh sebentar, Rainer sempat terpesona melihat mata indah milik Dara. Namun ia menepis itu semua dan tersenyum tipis ke arahnya.


"Terimakasih sudah membantuku" ucap Rainer tulus.


"Hmm..." ucap Dara tidak ingin berbicara panjang lebar.


"Maaf, pakaianmu kotor, kamu bisa memakai jaketku untuk sementara" ucap Rainer, ia membuka jaket yang ia kenakan.


"Tidak perlu!" tolak Dara, namun ia melepaskan jaketnya yang terkena darah dan membuangnya ke semak.


Setelahnya Dara memakai helmnya dan memacu motornya menjauh tanpa memakai jaketnya lagi. Rainer menatap punggung Dara yang sudah menjauh, sudut bibirnya naik membentuk lengkungan.


"Gadis menarik, aku tandai kamu!" ucap Rainer.


Ia memungut jaket milik Dara yang terkena darah itu dan membawanya pulang sebagai kenang-kenangan dari gadis yang sudah membuatnya tertarik itu.


"Hallo..." ucap Rainer yang berbicara dengan seseorang di telepon.


"......."


"Atur orang ke jalan merpati sekarang. Urus Boni dan kawan-kawannya, bawa mereka semua ke markas!" ucap Rainer kemudian pergi membawa mobil sport miliknya menjauh.


.....


Di Star Mansion, Agam terlihat panik saat melihat celana dan juga masker yang di kenakan Dara saat turun dari motor penuh dengan darah.


Untungnya Dimas dan Ryan sedang di rumah Ezio sekarang. Kalau tidak, Dara tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskannya pada adik-adiknya.


"Nona, Ya Tuhan. Apa anda kecelakaan? Apa ada yang luka? Nona tidak apa-apa kan?" tanya Agam terlihat dari raut wajahnya, ia sedih dan khawatir dengan nona mudanya itu.


"Aku tidak apa-apa kok Pak, aku tidak terluka dan ini bukan darahku" ucap Dara tersentuh dengan perhatian Agam.


"Lalu ini darah siapa Non?" tanya Agam.


"Darah seseorang, aku tadi nolongin orang yang mau di serang. Tapi tenang aja, semuanya aman kok Pak" ucap Dara.


"Astaga nona, kenapa anda harus turun tangan sendiri? Bagaimana kalau anda terluka? Kenapa tidak lapor ke polisi saja" ucap Agam khawatir.


"Bapak tenang aja, aku adalah wanita kuat di muka bumi he-he, jadi jangan khawatir aku pasti bisa jaga diri" ucap Dara bercanda dan tertawa kecil.


"Nona ini, orang lagi khawatir masih sempetnya bercanda" ucap Agam.


"He-he, sudah jangan khawatir, aku tidak ada luka segorespun, jadi jangan khawatir Pak" ucap Dara


"Syukurlah kalau begitu" ucap Agam


"Yang lain pada mana, kok sepi?" tanya Dara


"Tuan muda dan Ryan sedang di rumah Ezio, Nona. Mereka bilang ada kerja kelompok" ucap Agam


"Hmm, ya sudah Pak, saya mau ke kamar dulu. Tolong siapkan makan untuk makan malam ya Pak, Saya mau soup iga" ucap Dara


"Baik nona" sahut Agam.


Dara langsung beranjak menuju kamar miliknya, ia segera mengisi bathup dengan air hangat dan bers dam di sana.


Setelah hampir malam ia turun ke meja makan dan kebetulan dua bocil tampan itu sudah pulang dan menemani kakak perempuan nya itu makan dengan lahap.


...••••••



...


Nama : Theo Bintara (Theo)


Usia : 24 Tahun


Pekerjaan : Hacker ahli/ orang kepercayaan Dara (Tangan kanan)