
Sebastian memuntahkan seteguk darah kental. Ia sangat terkejut saat Flo berhasil menghindari serangannya dan bahkan membalas memukulnya dengan telak.
"Apa kau menyerah paman? Tidak mungkin kan paman yang katanya hebat ini kalah dari seorang Gadis kecil lemah seperti ku?" ucap Flo mengejek
"Si*lan!!!" maki Sebastian, kemarahannya sudah memuncak.
"Paman, namaku Puspa bukan si Alan. Enak aja ganti nama orang sembarangan, mana nggak pake tumpengan sama nasi kuning" ucap Flo berpura-pura sedih.
Semua orang yang mendengar ucapan Flo menahan tawa mereka. Sedangkan Dara hanya menutup wajahnya sembari menghela nafas, melihat kelakuan orang kepercayaannya itu.
"**Sepertinya efek Manda sangat kuat. Bagaimana bisa Flo yang dingin dan jarang berbicara menjadi Julid dan cerewet seperti ini" ucap Dara dalam hati**.
Bukan tanpa alasan Dara mengatakan itu efek Manda. Karena belakangan Flo memang sering berbicara dengan Manda saat mereka bertemu. Mereka sudah seperti kawan lama yang di pertemukan, memang Manda adalah orang supel yang sangat mudah berbaur dan bersosialisasi.
"Aku akan membuatmu mati segan hidup tak mau, karena sudah berani meremehkanku dasar ja-lang. Hiyaaaaa...!!!!" teriak Sebastian mengeluarkan Qi dari tubuhnya dan mulai menyerang Flo dengan brutal.
DUAK! BLAM!!!!
Pukulan demi pukulan di layangkan oleh Sebastian.
"Uugghhh...." Flo mengerang saat terkena energi Qi Sebastian, namun itu tidak berefek banyak karena sebelumnya Flo sempat memblokirnya dengan Qi miliknya.
DUAR!!!!!
Ledakan besar menggema saat kekuatan Flo beradu dengan serangan dari Sebastian.
BANG!!!
Flo melancarkan aksinya dan menendang Sebastian dengan sangat cepat dan
BRUGH!!!
"Aaaarrgghhhh...... Ak-aku...." ucap Sebastian tersengal.
BLAM!!!!
KRAK!!!!
"Aaaarrrrrggghhhhh...Sakit si*lan.!!!!" teriak Sebastian saat tangannya berhasil di patahkan oleh Flo saat tangannya ingin mengangkat tanda menyerah. Tentu saja Flo tidak memberikan kesempatan itu bagi Sebastian.
BUGH!!! BUGH!!!
Flo terus-terusan menendang tubuh dan kepala Sebastian yang meringkuk di tutupi dengan tangannya yang tidak patah.
Sebelum Sebastian tidak sadarkan diri, Flo membisikkan sesuatu padanya.
"Apa sakit paman? Aku pikir kau tidak pernah merasakan apa itu sakit! Aku bahkan baru mengeluarkan 70 persen kekuatanku, kau sudah tumbang saja pak tua. Bagaimana bisa kau berpikir kekuatan mu seimbang dengan Kaisar? Bahkan jika patriak di padepokanmu turun tangan, belum tentu dia bisa mengalahkan seorang Kaisar. Karena aku saja pasti kalah telak olehnya" ucap Flo mencibir.
"Ah, aku melakukan ini agar kau sadar, jika kelakuanmu selama pertandingan membuatku sangat muak, jadi terima saja karma intanmu ini!" ucap Flo kemudian berbalik.
"Wasit, sepertinya dia sudah menyerah, nyaris pingsan tuh" ucap Flo cuek.
"Ah iya...." ucap Wasit sedikit linglung, baru kali ini ia melihat seorang kultivator di tingkat Qi Immortal bisa mengalahkan seorang kultivator di tingkat True Element.
Ia langsung menyatakan jika Flo masuk ke babak Final.
.....
Kini tiba giliran Kai dan Wisnu yang akan bertanding, keduanya saling memberi salam kemudian mulai pertandingan mereka.
BAK!!! BUK!!! BAK!!! BUK!!!
Keduanya melancarkan serangan tanpa ampun, namun jika di perhatikan bisa di nilai jika pertandingan itu tidak imbang dan sudah pasti di menangkan Kai.
Namun Kai saat ini lebih memilih bersenang-senang dan beradu pukulan dengan Wisnu.
"Pukulanmu mudah di baca, kelemahan mu sangat terlihat, teman" ucap Kai sembari menangkis dan memukul balik Wisnu.
BLAM!!!
Wisnu terdorong tiga langkah kebelakang karena pukulan Kai.
"Tolong gunakan seluruh kekuatanmu, aku ingin menguji kemampuanku dan mencoba bertahan" ucap Wisnu.
DUAR!!!!
"Aaaarrrgghh...." Wisnu berteriak dan terpelanting keras ke lantai dengan keras, ia merasa perutnya bergejolak karena tendangan Kai sangat keras dan sangat sakit.
BRUK!!!
Wisnu berusaha untuk bangun, namun ia tidak bisa karena rasa sakit di perut dan tulang rusuknya begitu menyakitkan. Kemungkinan tulang rusuknya juga patah, karena saat ia bergerak bagian rusuk kiri terasa sangat sakit.
"Aku menyerah...." ucap Wisnu di antara ringisan itu.
Wasit pun memutuskan jika Kai menang dan maju ke Final bertemu dengan Flo. Sungguh kebetulan yang sangat di duga. Haha, ya karena keduanya sudah menebak, jika ada dua kemungkinan yang terjadi. Mereka akan bertemu di Final atau semifinal!
Kai mengkode Flo untuk datang, Flo kemudian menyerahkan sebuah botol porselen pada Wisnu, yang merupakan pil yang sama dengan yang ia berikan pada Arya.
....
"Nona Azalea, kedua rekanmu sangat hebat hingga keduanya bisa masuk Final" ucap Prawoto.
"Ya, mereka memang hebat" ucap Dara tidak menutupi rasa bangganya.
"Tirta, kamu memilih hal yang benar. Aku dengar kamu mengikuti tuan besar Narendra. Melihat Cucu nya sehebat ini, masa depan Keluarga Narendra sangat cerah. Selamat" ucap Prawoto dengan tulus, Tirta hanya tersenyum menanggapinya dan mengangguk.
Meskipun muridnya kalah, namun Prawoto tidak memiliki dendam karena sudah sewajarnya di sebuah kompetisi ada yang menang dan kalah.
"Murid anda juga sangat berbakat, hanya saja metode pelatihannya kurang tepat" ucap Dara.
"Ah begitu, jika tidak keberatan bisakah anda memberikan arahan dan membimbing Wisnu nona?" tanya Prawoto dengan harapan bisa di setujui oleh Nona di depannya itu.
"Hmm, tapi aku hanya akan memberikan arahan dan metode sekali saja. Aku tidak berminat mengambil murid" ucap Dara sembari menyeruput teh yang sudah di sediakan untuknya.
Tentu saja Prawoto sangat senang mendengar Dara setuju dengan usulannya, meskipun tidak menjadi guru dan murid. Setidaknya Wisnu memiliki masa depan cerah dengan bimbingan Dara meskipun sekali.
Dara juga tidak keberatan, dengan ini ia bisa membangun koneksinya di dunia kultivasi. Padepokan maung juga merupakan padepokan yang bersih dan sangat terorganisir. Jadi sudah pasti Dara dengan senang hati menyambut baik persahabatan mereka.
Wisnu yang sudah meminum pil Penyembuhan langsung sehat dan bisa berjalan tanpa merasakan sakit, lalu ia menghampiri Prawoto.
"Maaf patriak, aku kalah" ucap Wisnu.
"Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha dengan baik. Perkenalkan beliau Nona Azalea, ia akan memberikan bimbingan untukmu agar Kultivasi mu meningkat" ucap Prawoto.
Wisnu melirik sekilas Dara, ia terkejut dan tertekan dengan aura kekuatan Dara yang sangat besar. Tentu saja ia terkejut, pasalnya usia Dara lebih muda darinya, bahkan sangat muda. Namun tingkat kultivasinya tidak perlu di pertanyakan dan sangat jauh di atasnya.
"Salam Guru" ucap Wisnu hormat dan sopan membungkuk di depan Dara.
"Aku tidak menerima murid, aku hanya memberikan arahan dan metode kultivasi yang cocok untukmu. Kemarilah!" ucap Dara
Wisnu pun bingung mendengar Dara tidak menerima murid, namun ia tetap maju tanpa ragu mendekat ke arah Dara dan berlutut di depan Dara, karena Dara duduk di kursi. Dara kemudian menyentuh kening Wisnu dengan jari telunjuknya.
Wusshhhh!!!!
"hmmmpp..!!!" teriak Wisnu lirih dengan membekap mulutnya, ia menahannya semampu yang ia bisa agar tidak berteriak.
Berbagai kilasan tentang Kultivasi masuk ke dalam pikiran Wisnu. Ia terengah-engah saat berhasil mendapatkan pengetahuan yang sangat hebat, yang di berikan oleh Dara.
"Terimakasih Gu... ah Nona Azalea" ucap Wisnu dengan tulus.
"Hmm, kembalilah dan kultivasi dengan benar. Manfaat kan ilmu yang aku berikan untuk hal yang bermanfaat, jangan sekali-kali kau gunakan untuk kejahatan" ucap Dara memberikan nasehat.
"Tentu, akan saya ingat ucapan nona. Terimakasih banyak" ucap Wisnu bersujud di depan Dara sebanyak tiga kali.
Pluk!
"Selamat! Kembalilah dan lakukan seperti apa yang di minta nona Azalea. Lakukan kultivasi tertutup selama beberapa waktu" ucap Prawoto
"Baik Patriak" ucap Wisnu lalu pamit pergi.
"Nona, pertandingan Final akan segera di mulai" ucap Prawoto.
"Hmm...." ucap Dara kembali melihat calon tunangan dan tangan kanannya yang akan memulai pertandingan babak Final itu.
...••••••••...