The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
387.



Dara menginjakan kaki ke kantor, ia melihat beberapa karyawan sibuk mengerjakan tugas masing masing. Hanya security dan resepsionis yang menyapanya ketika masuk.


Dara pun langsung masuk ke lift dan tak membutuhkan waktu yang lama, Dara sampai di lantai di mana ruangan CEO dan ruangan ketua berada.


Melihat Bos mereka datang, Ferdi, Via, Dark dan yang lainnya keluar untuk menyapa.


"Ketua..." sapa mereka


Lanjutkan kerjaan kalian, aku hanya perlu dengan Dark. Dark kita bicara di ruangan!" ucap Dara


"Baik" ucap Dark dan yang lain.


Dark mengikuti Dara masuk ke dalam ruangan kerja Ketua, yang tak lain adalah ruangan kerja Dark beberapa waktu ini. Karena memang dirinyalah yang menggantikan Dara menjadi ketua di perusahaan.


"Bagaimana dengan pekerjaan di kantor Dark, apa ada masalah?" tanya Dara


"Tidak ada ketua, semuanya aman terkendali. Semua laporan mingguan sudah saya kirim via email anda" ucap Dark


"Kerja bagus Dark, kamu memang tidak pernah mengecewakan aku. Mmm sebenarnya Aku ingin meminta bantuanmu Dark" ucap Dara


"Silahkan Queen" ucap Dark langsung mengganti panggilannya, karena memang Dark yakin ini berhubungan dengan identitas nya sebagai anggota GOD, bukan Ketua Star Corporation.


"Aku ingin kamu menyelidiki seseorang, namanya Dominic Cedric. Kamu pernah mendengar namanya bukan?" tanya Dara


Dark menganggukkan kepalanya, ia jelas tahu siapa Dominic. Semenjak ia menjadi ketua di perusahaan, ia belajar banyak tentang bisnis dan sangat cepat beradaptasi dengan semua hal tentang perusahaan.


Termasuk mengingat semua tokoh penting, baik itu pejabat, artis dan para pengusaha khususnya yang perusahaan nya berdomisili di ibukota.


Salah satunya adalah Dominic Cedric, yang merupakan kepala keluarga dan juga ketua Cedric Group. Dan Dark juga tahu apa yang di lakukan Dominic, karena anak buahnya memberi tahu semuanya apa yang terjadi di rumah sakit jiwa. Tempat di mana ayah Queen-nya berada.


"Apa yang harus di cari tahu Queen?" tanya Dark


"Semuanya, aku pikir dia memiliki niat tersembunyi. Aku ingin kamu cari tahu semuanya secara detail, apa sebenarnya yang ia rencanakan dan punya masalah apa ia dengan keluarga Narendra, keluarga ku atau aku sendiri. Aku ingin tahu semuanya. Aku pikir ia menyembunyikan sesuatu" ucap Dara


"Baik Queen" ucap Dark


"Kamu bisa memulainya besok, kamu selesaikan pekerjaan mu dulu hari ini. Besok sampai tugasmu selesai, Via yang akan menggantikan pekerjaanmu sementara" ucap Dara


"Baik" ucap Dark lagi.


"Tapi Dark, apa kamu tidak ada kepikiran kencan atau jalan dengan pacarmu mungkin? Kalau kamu keberatan, kamu bisa menolak tugas yang aku berikan" tanya Dara, ia harus mempertimbangkan kepentingan Orang-orang nya juga, ia tidak bisa egois.


"Tidak Queen, sa-saya be-belum punya pacar" ucap Dark malu, canggung dan gugup.


"Ha-ha santai saja Dark, jangan gugup gitu dong. Mau saya kenalin perempuan yang baik dan cantik?" tanya Dara terkekeh


"Ti-tidak perlu Queen, saya belum kepikiran untuk cari pasangan" ucap Dark jujur.


"Terimakasih Queen, bagi saya dan yang lain. Anda adalah idola dan panutan kami semua dan semua perintah Anda adalah hal mutlak" ucap Dark.


Dara hanya tersenyum saja, setelah urusannya selesai ia kembali ke Star Mansion.


Namun saat ia keluar dari perusahaan, ia bertabrakan dengan seseorang hingga nyaris jatuh. Untungnya refleks Dara sangat bagus hingga ia tidak terjatuh dan tetap berdiri tegak.


"Maaf saya tidak sengaja, apa anda tidak apa-apa nona?" tanya seseorang yang menabraknya.


Dara menoleh, ia cukup terkejut meskipun wajahnya datar saja. Ia terkejut karena orang yang menabraknya tadi adalah Dominic, sekilas ia merasakan sesuatu yang aneh.


Dara tidak menggubris ucapan laki-laki itu, ia langsung pergi. Baginya itu tidak penting mengurusi manusia satu itu.


"Eh tunggu..." ucap Dominic memanggil Dara


Dara tidak menggubris dan terus berjalan keluar area perkantoran menuju taksi online yang sudah ia pesan.


Saat tangan Dominic ingin menyentuh Dara, Dara dengan cepat menghindar dan berbalik menatap Dominic dengan tajam.


"Apa mau kamu?" tanya Dara tajam


"Tenang cantik, aku cuma mau minta maaf doang kok, tadi aku benar-benar tidak sengaja" ucap Dominic masih mengulas senyum di wajahnya, entah itu tulus atau pura-pura.


"Sudah selesai bicaranya? Bisa minggir?" ucap Dara datar


"Belum selesai, kenalin nama ku Dominic, kamu bisa panggil aku Domi atau sayang juga boleh" ucap Domi mengulurkan tangannya.


Dara hanya melirik tangan itu sebentar, entah mengapa ia merasakan perasaan aneh.


"Tidak tertarik, tolong minggir tuan" ucap Dara lagi


Namun Dominic sama sekali tidak bergeser, Dara menghela nafas dan langsung bergerak dan terus menatapnya.


"Abang, aku di sini!" ucap Dara melambaikan tangannya dan tersenyum menatap ke arah belakang Domi, Domi pun menengok ke belakang untuk melihat siapa yang di panggil Dara tapi ia tidak melihat apa-apa.


Saat ia berbalik, Dara sudah tidak ada lagi di depannya. Terlihat Domi menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung mencari keberadaan Dara yang menghilang tiba-tiba .


"****! Aku kehilangannya" ucap Domi lagi menggeram kesal dan pergi dari sana.


Tak lama setelah Domi pergi, Dara keluar dari balik bayangan gedung. Ia menatap tajam Dominic dari jauh.


"Aku harus membicarakan hal ini dengan Abang, sepertinya ada yang tidak beres dengan orang itu" ucap Dara sebelum ia pergi.


...••••••...