The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
136. Kedatangan Tamu



Mendengar teriakan itu, Dara menghentikan pertarungannya itu. Ia melihat beberapa orang berkumpul di sana. Ya tidak satu orang yang datang, tapi ada empat orang laki-laki yang berdiri di sana.


Bahkan dua di antaranya menodongkan senjata api ke arah White.


"STOP!!! aturunkan senjata kalian" Dara menghalangi White dengan tubuhnya.


Meskipun tidak mungkin peluru itu menyakitinya atau White, tapi tidak mungkin Dara mengeluarkan kekuatan spiritual kiliknya di depan manusia biasa.


"Dara, jangan berdiri di sana, bahaya!!! Aku akan menembak binatang sialan itu yang berani menyerangmu!" teriak laki-laki itu.


"Benar! Jangan halangi kami menyelamatkan kamu!" ucap laki-laki lainnya


"Tembak kalau kau mau, Jangan salahkan aku, akan berbuat hal yang sama padamu karena menyakiti kesayanganku" ucap Dara dengan dingin dan tatapan yang tajam pada kedua laki-laki yang menodongkan pistol.


GLUK!!!


Mereka berempat merasakan aura yang menekan mereka hanya dengan satu kalimat dari Dara. Dengan Sigap keduanya menurunkan senjata milik mereka.


"Kesay... Apa??? Kesayangan???" teriak ketiga laki-laki di sana terkejut saat baru menyadari ucapan Dara. Sedangkan laki-laki yang satunya hanya menonton dari jauh menikmati percakaan yang lain.


"White, kembalilah ke kandangmu!" ucap Dara


"Tapi yang mulia!" ucap White dengan mengaum pelan.


"Mereka adalah kakakku dan hanya terkejut melihat kamu untuk pertama kalinya, yang terlihat seperti akan menyerangku. Mereka tidak benar-benar ingin menembakmu atau menyakitimu, kembalilah ke kandang" ucap Dara pada White.


"Baik yang mulia" ucap White langsung beranjak pergi menuju ke kandangnya.


Dara berjalan ke arah mereka berempat yang tak lain adalah. Jeff, Bara, Revan dan Arvin. Keempat tamu yang tidak di undang datang tiba-tiba di mansionnya.


Sedangkan dua orang yang menodongkan senjata api adalah Jeff dan Arvin.


Revan langsung melepas jaketnya dan memakaikannya pada sang adik. Karena ia melihat keringat Dara yang sudah menetes seperti orang habis mandi dan juga sebagian pakaiannya koyak.


Dara hanya menerimanya saja dan memakai jaket itu. Karena tidak ingin berdebat panjang.


"Kalian sedang apa di sini? Kapan kalian datangnya? Kenapa tidak mengabariku?" ucap Dara dengan memberikan banyak pertanyaan.


"Satu-satu Dek nanyanya. Persilahkan masuk dulu napa? Kakak haus karena sudah teriak-teriak tadi" ucap Revan.


Bukan hanya Revan yang teriak, namun Jeff dan juga Arvin. Sedangkan Bara hanya diam meskipun ia sendiri kaget melihat adik perempuannya itu.


Bara sudah tahu tentang bagaimana Dara dengan White yang ia sebut Zebra itu, meskipun ia belum pernah melihat Dara adu tanding secara langsung. Tapi dia pernah mendengar dari adiknya yang lain.


"Siapa suruh teriak-teriak" celetuk Bara.


"Siapa yang nggak panik lihat Dara hampir di terkam binatang buas" ucap Revan yang di angguki Jeff dan Arvin.


"Si Zebra itu hewan kesayangan Dara, nggak mungkin dia nyakitin majikannya. Kalau aku tebak pasti Dara tengah latihan tanding tadi, itu biasa di lakukan Dara" ucap Bara.


PLAK!


Kepala Bara kena geplakan dari sang kakaknya.


"Aduuhhh, sakiittt kak. Kira-kira aja kalau mukul sssshh. Kalau tiba-tiba aku jadi bego gimana?" ucap Bara sambil mengelus kepalanya yang terasa berdengung.


"Aku bisa bedain ya kak, aku nggak bego. Lagian aku nggak doyan bangku, doyannya nasi sama ayam goreng buatan mama" ucap Bara sembari memajukan bibirnya kesal.


"Jadi yang kamu ceritain tentang Zebra yang jadi hewan peliharaan kesayangan Dara itu, harimau tadi?" tanya Jeff pada Bara yang di angguki oleh Bara.


"Astaga, kira-kira aja kasih nama Bar! Zebra sama harimau itu beda jauh, beda spesies" ucap Jeff menggelengkan kepalanya heran dengan adiknya yang satu itu.


"Au ah, kan warnanya sama belang gitu kaya Zebra belang hitam putih" ucap Bara bodoh amat.


"Udah jangan baikan, berantem aja sekalian!" ucap Dara


"Kok malah di suruh berantem Dek?" ucap Jeff menatap adik perempuannya.


"Kalau suruh baikan sudah biasa. Aku pengen yang beda dari yang lain" ucap Dara watados.


"Ha-ha-ha" Mendengar itu tawa Arvin pecah, ia semakin gemas dengan wanita pujaannya itu. Yang bisa saja kalau bicara dan menghadapi ke absurd an ketiga kakak laki-lakinya. Memang Dara adalah gadis yang beda dari yang lain.


Sedangkan ketiga kakaknya hanya melongo tidak percaya apa yang di katakan adik perempuan satu-satunya itu.


"Ya sudah ayo masuk!" ucap Dara


...


Mereka berempat kemudian mengikuti Dara untuk masuk ke dalam mansion. Di dalam mansion, mereka ribut lagi karena berebut ingin duduk di samping Dara membuat Dara jengah dan memilih duduk di sofa single. Membuat semunya menghela nafas karena tidak bisa dekat dengan Dara.


Agam sudah meminta pelayan untuk menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk para tamu. Dan mereka berempat langsung meminumnya hingga tandas.


"Sekarang jelasin, kenapa kakak semua ada di sini? Bukannya kalian ada di kota S?" tanya Dara menatap mereka semua.


"Perusahaan ada undangan tender proyek besar, besok dek. Jadi sekalian mampir ketemu kamu dan yang lain. Kakak sama kak Jeff jadi perwakilan perusahaan buat tender itu" ucap Revan menjelaskan


"Lalu kak Bara dan Arvin?" tanya Dara pagi


"Mereka berdua merengek minta ikut dek saat denger kakak mau main ke sini" ucap Jeff. Membuat kening Dara mengerut saat mendengarnya.


"Kuliah kakak belum mulai dek, di rumah juga sepi. Jadi mending kakak ke ibukota aja dan ikut ke mansion kamu. Kan bisa main sama Dimas dan yang lain di sini" ucap Bara dengan senyum tiga jari.


"Aku juga ada tender yang sama dengan Revan dan Kak Jefrey" ucap Arvin


Sejujurnya Arvin terkejut saat tahu Dara sudah berada di ibukota dan memang tinggal di ibukota. aia mengira gadis pujaannya itu tinggal di kota S.


Setelah mengetahui Revan dan Jeff ingin menemui Dara, ia meminta untuk ikut meskipun permintaannya itu beberapa kali di tolak oleh kedua kakak posesif Dara itu. Namun ia tidak menyerah untuk ikut datang ke Star Mansion.


Jika ada yang mengira Revan dan Jeff masih mencintai Dara. Itu tidak sepenuhnya salah, keduanya sudah berusaha menekan rasa cintanya dan beralih menjadi kasih sayang sebagai Seorang kakak pada adiknya.


Terlebih saat Revan mengetahui betapa mengagumkan serta luar biasanya Dara, membuat ia tidak percaya diri karena tidak bisa bela diri bahkan sangat ganas terhadap musuh-musuh nya. Dia mider sendiri, karena yang ada bukan dirinya yang di butuhkan oleh Dara, justru sebaliknya.


Revan adalah tipe seorang pria dengan gengsi yang tinggi. Ia ingin memiliki pasangan yang membutuhkan bahkan bergantung padanya sebagai seorang pria. Ia ingin bisa di andalkan oleh wanitanya, jadi dia dan Dara tidak cocok.


Terlebih Revan sudah memikirkan dan mengikhlaskan Dara untuk Kai. Dan fokus menyayangi Dara hanya sebagai adiknya saja, bukan sebagai wanita.


...•••••••...