The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
222. Menyelamatkan sandera



Melihat kedatangan Dara dan Kai semua anak-anak beringsut ke pojokan. Semua anak-anak terlihat ketakutan.


Mungkin karena mereka tahu hidup mereka sudah berada di ujung jurang. Meskipun kemungkinan besar mereka tidak tahu mereka akan di jadikan tumbal kultivator jahat untuk meningkatkan kekuatan mereka, tapi mereka pernah mendengar jika mereka akan di makan atau di perkosa.


Jadi semua anak-anak menyangka Dara dan Kai adalah sebagian dari orang-orang yang menculik mereka. Meskipun tidak di pungkiri semuanya sempat terpesona sejenak karena penampilan keduanya yang sangat luar biasa, berbeda dengan orang-orang yang menculik mereka.


"To-tolong jangan bunuh kami, maafkan kami jika kami punya salah. Tolong lepaskan kami hiks... aku mau pulang, mama papa aku takut aku Dio nggak mau di makan..." ucap salah seorang anak gadis remaja sekitar 15 tahun sembari menangis.


Mendengar itu hati Dara merasa teriris, harusnya anak seusia mereka bisa menikmati masa kecil dan belajar dengan baik di sekolah.


Namun sekarang kondisi mereka sangat memprihatikan, sudah pasti setelah bebas mereka akan mengalami trauma yang cukup dalam karena kejadian ini yang akan mempengaruhi kehidupan mereka kedepannya.


"Sttt, jangan berisik ya anak baik. Kakak ke sini untuk menyelamatkan kalian, kalian jangan bersuara nanti orang-orang di sana akan mengetahui kami menyusup untuk membebaskan kalian" ucap Dara dengan pelan.


"Be-benarkah? Kakak mau selamatkan kami?" ucap salah satu dari mereka.


"Tentu, kalian mau bebas kan? Tapi kalian harus turuti kata-kata kakak, kalian tidak boleh mengeluarkan suara saat keluar dari sini. Karena kalau tidak mereka akan tahu jika kalian kabur dan menyakiti kalian. Kalian harus percaya sama kakak oke, kakak ingin kembalikan kalian ke orang tua kalian dengan selanat" ucap Dara lembut, hingga anak-anak di sana tidak lagi merasa takut. Entah mengapa mendengar suara Dara mereka merasa nyaman dan aman.


"Iya kak, kami mau" ucap semua anak-anak itu mengangguk dengan semangat.


"Oke, nanti kalian ikuti kakak. Tapi ingat jangan bersuara setelah kita sudah di atas, oke" ucap Dara


Semuanya pun mengangguk, Kai di samping Dara menggenggam tangan tunangannya itu lembut. Dara menoleh dan di sambut dengan senyum manis Kai.


"Aku bangga padamu, kamu hebat sayang" ucap Kai dengan berbisik, sungguh ia bangga dengan Dara yang bisa dengan cepat membuat anak-anak yang masih merasakan takut, langsung percaya dan menurut dengan ucapannya.


Dara hanya meresponnya dengan tersenyum ke arah Kai.


"Kak, bagaimana kami bisa pergi kalau kami di masukan ke jeruji besi dan tangan kami juga rantai kak" ucap mereka sendu.


"Kalian tenang aja, pacar kakak akan mengurusnya" ucap Dara sembari menoleh ke arah Kai.


Kai langsung paham dan langsung menghancurkan gembok dengan tangan kosong. Membuat anak-anak di sana terkejut dan juga menatap kagum. Di mata anak-anak, Kai seperti super hero di kartun yang mereka tonton atau dongeng yang mereka baca saat di rumah.


"Waaahhh" ucap anak-anak menatap kagum.


Kai langsung membuka rantai satu persatu hingga rantai terakhir dan semuanya sudah terbebas dari rantai yang membelenggu mereka.


"Wah kakak tampan hebat, kakak super hero" ucap salah satu anak di sana berbinar kagum.


"Ayo kita pergi! Ingat jangan jauh-jauh dari kami dan jangan bicara sedikit pun oke" ucap Dara pelan mengingatkan mereka sekali lagi, anak-anak yang di jawab anggukan.


Sebelumnya Dara sudah menghubungi Flo untuk bersiap, Kai juga sudah menghubungi tim Falcon yang lain yang di minta membawa mobil untuk mengangkut anak-anak ke alamat yang ia kirim.


Semuanya dengan hati-hati dan melangkah dengan pelan keluar dari ruangan itu menuju keluar rumah. Dara mengambil posisi di belakang sedangkan Kai yang menjadi petunjuk arah berjalan di depan.


Untung saja semuanya tengah melakukan pesta di ruangan belakang, jadi mereka tidak mengetahui jika semua tawanan di bebaskan.


Akhirnya mereka semua berhasil keluar dengan selamat. Kai dan Dara langsung meminta anak-anak masuk ke mobil yang akan mengangkut mereka ke markas militer dan akan mengabari orang tua mereka.


"Woooyyyy, apa yang kalian lakukan? Kalian penyusup!!!" teriak salah seorang di sana.


"Gawat ada salah satu dari mereka yang tahu, kalian cepat bawa anak-anak pergi dari sini" ucap Kai pada rekan di tim Falcon.


"Jendral kenapa anda tidak ikut dengan kami pergi?" ucap salah satu tim Falcon.


"Kalian pergi dulu, saya akan mengurus mereka lebih dulu!!!" ucap Kai dengan tegas


Rekan tim Falcon tidak bisa membantah ucapan Kai, karena ucapan Kai adalah mutlak di lakukan sebagai perintah militer. Jadi mereka menurut untuk pergi dari sana, termasuk Rafael, Marco dan Damian.


"Jangan berani pergi kalian!!!" ucap pria kultivator jahat yang bernama Ragil


Ragil segera menyalakan kembang api sebagai tanda ia membutuhkan bantuan darurat dari kelompoknya, lalu segera berlari ingin menghalangi mobil yang membawa anak-anak itu pergi.


Namun hal itu tentu saja gagal, karena Flo langsung menghantam Ragil dengan pukulan kerasnya, sebelum Ragil sampai di depan mobil yang mengangkut anak-anak.


BLAM!!!!


"Aarrrgghhh...." teriak Ragil


Rasa sakit di ulu hatinya terasa sangat menyakitkan, ia memandang Flo dengan marah dan juga bingung. Karena bagaimanapun di mata Ragil, Flo adalah seorang manusia.


"Siapa kamu? Kenapa kau bisa memukulku?" ucap Ragil


"Aku? Malaikat maut mu" ucap Flo tersenyum miring.


"Dasar wanita si*lan aku akan membuat mulut tajammu itu mend*sah di bawahku dan kamu akan ku buat bertemu raja neraka lebih dulu" ucap Ragil langsung menyerang Flo.


Flo dengan santai menghindar dan membalas memukul Ragil dengan telak.


"Cih, semut sepertinu hanya jadi sampah saja. Memalukan!!" ucap Flo langsung memukul keras titik pusat energi milik Ragil.


"Aaaarrrgghh!!!! Huueeeekkkk!!! Huuuugghhh" Teriak Ragil memuntahkan darah dan juga matanya terbelalak tengah sekarat.


Dan benar saja, beberapa detik kemudian Ragil kejang dan langsung tewas seketika.


"Ragiiiiilll!!!!!" teriak pria paruh baya yang tak lain ayah dari Ragil dan juga termasuk Panatua di kelompok Braja. Yang entah sejak kapan sudah berada di sana.


Tidak hanya ayah Ragil yang datang, namun ada empat orang lain di belakangnya yang ikut keluar. Mungkin mereka datang karena melihat sinyal bantuan yang di kirim Ragil.


Ayah Ragil tidak menyangka putra satu-satunya yang sudah berada di tahap initial element level menengah, kini terbujur kaku tidak bernyawa.


"Si*lan ku bunuh kauuuuu!!!!" teriak ayah Ragil langsung menyerang Flo.


Flo masih berdiri di tempatnya dengan santai melihat ancang-ancang Ayah Ragil yang mwncoba menyerangnya.


BLAM!!!


DUAK!!!


TAK!!! TAK!!!


"Apa hanya ini kemampuanmu pak tua?" ucap Flo yang terus menghindar dan mengejek Ayah Ragil.


"Cih, kau hanya bisa menghindar saja! Jika berani lawan aku bocah tengik, dasar wanita ja*ang!!" teriak ayah Ragil.


Flo yang di tantang pun langsung memukul keras pusat energi ayah Ragil tanpa aba-aba.


Ayah Ragil sudah berada di Qi Transformasion level puncak, namun hanya dalam satu kali serang oleh Flo, orang tua itu langsung ambruk dan mati.


Empat rekan yang lain terkejut, karena ayah Ragil yang termasuk kuat di antara mereka. Bisa langsung mati begitu saja, jadi tentu saja mereka takut.


Mereka saling berpandangan dan ragu menyerang ketiga orang yang ada di sana, jadi mereka memutuskan berbalik pergi.


"Eiittttsss... mau kemana?" ucap Flo yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan mereka berempat. Yang sontak membuat mereka terkejut, karena bagaimana mungkin Flo bisa bergerak bepat seperti itu.


...•••••••...