
Rumah sakit jiwa di kota T, negara J.
Keesokan harinya, Flo beserta Daddy dan juga kedua saudara laki-laki nya. Kini sudah berada di sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan tempat Mommy Ayumi, ibu kandung Flo di rawat.
Melihat kondisi perempuan paruh baya yang terlihat sangat mirip dengannya, namun sedikit berbeda karena tubuh nya kurus dan juga pandangan matanya kosong kedepan. Membuat Flo tidak tahan untuk tidak menangis, hatinya merasa tercubit.
Rasanya sangat sakit dan sesak... Tentu saja ikatan batin antara seorang anak dengan ibunya tetap ada, meskipun salah satunya lupa atau bahkan keduanya yang lupa.
Entah sudah berapa lama Flo tidak pernah menangis, ia selama ini selalu bersikap tegar dan kuat. Bahkan saat di khianati oleh teman dekatnya yakni Zayn atau kematian neneknya kala itu. Dia sama sekali tidak menangis, yang ada hanya perasaan kecewa dan perasaan kehilangan orang yang ia sayangi.
Namun melihat kondisi perempuan yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini, ternyata jauh lebih menderita di banding dirinya dulu, membuat Flo luluh dan tak kuasa menahan air mata yang kini sudah jatuh di pelupuk matanya yang indah.
Langkah kakinya bergerak mendekati sebuah kursi di mana Ayumi terduduk dengan pandangan kosong ke arah taman di samping ruangan itu, di tangannya ada boneka yang sudah lusuh yang terus di peluknya.
Richie dan yang lainnya hanya diam dan tidak mengganggu keduanya, mereka tidak khawatir Ayumi akan menyakiti Flo.
Karena selama ini Ayumi tidak pernah menyakiti orang lain. Ia hanya berteriak dan menyakiti dirinya sendiri, jika teringat tentang putrinya. Itu semua rasa penyesalan dan bersalahnya atas kehilangan seorang putri semata wayangnya. Karena ia tidak bisa menjaga dengan baik putri cantiknya.
"Hei, Mom..." ucap Flo kini berlutut hingga dirinya bisa sejajar dengan Ayumi yang tengah duduk di kursi itu.
Ayumi sama sekali tidak merespon, bahkan mata Ayumi selalu memandang kosong ke luar ruangan.
"Apa mommy tidak merindukan Aya?" ucap Flo dengan bibir bergetar.
Richie pernah mengatakan padanya, jika panggilan Aya adalah panggilan kesayangan mommy untuk dirinya.
Mendengar nama Aya di sebut, mata Ayumi bergerak bahkan bibirnya mengatakan sesuatu meskipun tatapannya masihlah kosong.
"Aya...." lirih Ayumi
"Aya... Putri mom yang cantik, hikss... Kamu di mana kamu nak? Jangan tinggalin Mommy... Aaaakkhhhhhh Ayaaaa...." ucap Ayumi kemudian berteriak histeris sambil menangis dan memukuli dadanya.
"Mom, Aya tidak kemana-mana... Aya di sini mom" ucap Flo terkejut dan sedikit panik melihat mommy nya histeris.
"Aya nak, kamu di manaaaa hiks, Aya.... Maafin mommy, mommy gagal jaga kamu... Ayaaaaaa kamuuuu di manaaaaa, anaaakkuuuuu" ucap Ayumi yang masih menangis dengan tatapan mata yang masih kosong, sama sekali tidak melihat ke arah Flo. Ia berteriak dan sibuk mencari sesuatu, tapi tidak menatap ke arah Flo.
"Aakkkhhh..." lengguh Flo memegang kepalanya yang terasa sakit tiba-tiba.
Melihat itu Richie dan yang lain masuk dengan panik, mereka takut Flo terluka atau mengalami sesuatu.
"Flo, kamu kenapa? kamu nggak apa-apa Dek?" tanya Richie cemas saat melihat Flo yang kesakitan.
"Kepalaku sakit kak, isssshhh" ucap Flo memegang kepalanya. Ia berusaha untuk tenang, tapi rasa sakit di kepalanya semakin menjadi.
"Ayo duduk dulu di ranjang mommy" ucap Richie menuntun Flo untuk berdiri, hanya saja saat berdiri Flo limbung dan jatuh pingsan. Richie sontak menangkap tubuh adiknya agar tidak terjatuh.
"Flo!!!"
"Ayaka!!!"
"Ayaka-Chan!!!"
Pekik mereka bertiga terkejut dan juga panik, Richie langsung membaringkan Flo di ranjang rawat milik Ayumi.
Mendengar pekikan yang menyebut nama putrinya. Mata Ayumi bergetar dan menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berdiri dan berbalik, matanya bersibobrok dengan wajah ayu yang kini terbaring pucat tidak sadarkan diri di sana.
"Aya...." ucap lirih Ayumi, saat melihat wajah Flo yang sangat mirip dengan dirinya dulu.
Hal itu di dengar oleh Kenzi, ia kemudian menatap mommy nya yang juga tengah menatap kakaknya yang jatuh pingsan tadi.
"Aya...." ucap Ayumi lagi melangkah mendekati Flo. Pandangannya tidak lepas dari Flo, ia tidak mendengar ucapan orang yang ada di sana dan fokus dengan wajah Flo.
"Ayumi..." ucap Ryu terkejut saat mendapati istrinya mendekat dan menatap lekat wajah putri mereka.
"Aya, ini kamu kan nak...." ucap Ayumi lagi dengan menangis sambil memegang pipi Flo.
"Mom, apa kau mengingat Aya? Ini beneran Aya mom" ucap Richie terlihat senang melihat mommy nya mulai merespon. Namun ia juga masih khawatir dengan kondisi Flo yang belum kunjung sadar.
"Ken, tolong panggil dokter atau suster" ucap Richie
"Iya kak" ucap Kenzi langsung keluar.
"Aya anak mommy...." ucap Ayumi lagi.
"Dad, sepertinya alam bawah sadar Mommy merespon dan mengenali Aya. Mommy memiliki ikatan batin dengan Ayaka, putri kandungnya" ucap Richie dengan sedikit antusias.
"Hmm, biarkan mommy dekat dengan Ayaka dulu. Kita tunggu dokter datang untuk mengobati Ayaka dan memeriksa keadaan mommy" ucap Ryu.
Tak lama kemudian Kenzi datang dengan seorang dokter dan juga perawat. Ayumi yang ingin di periksa di ruangan lain enggan melepaskan tangannya yang kini memegang jemari Flo.
"Anakku... Aya... Jangan pisahkan aku, anakkuuuu" ucap Ayumi.
"Sus, biarkan saja. Ini justru bisa membantu Nyonya Ayumi untuk kembali mengenal Keluarganya" ucap Dokter yang menangani Ayumi selama ini.
"Bagaimana kondisi putri dan juga istriku Dok?" Tanya Ryu
"Nona Ayaka hanya terlalu banyak berpikir, hingga membuatnya pusing dan pingsan. Mungkin butuh waktu beberapa saat, jadi mohon untuk tidak memaksakan Nona Ayaka untuk berpikir lebih keras.
Masalah nyonya Ayumi, sepertinya kehadiran nona Ayaka, berpengaruh banyak pada kondisi mental dan kesadaran Nyonya Ayumi. Lihat saja, nyonya yang biasanya diam. Namun ia justru ingin selalu dekat dan enggan melepaskan tangan nona Ayaka" jelas Dokter.
"Ugghhh...." tak lama Flo pun tersadar dari pingsannya, kepalanya seketika berkelebat bayangan seorang gadis kecil di sebuah Villa.
Flo meyakini jika ingatan itu adalah ingatan miliknya sebelum kejadian kebakaran dua puluh tahun silam.
"Mommy...." ucap Flo dengan senyum tipisnya menatap ke arah Ayumi, yang berada di sampingnya.
"Aya anak mommy...." ucap Ayumi
"Ini Aya mom, ini Aya. Maafin Aya pergi dari mommy selama ini. Maafin Nek Lia juga, Nek Lia hanya ingin selamatkan Aya saat itu" ucap Flo menangis pelan dan memeluk Ayumi.
Ia mengingat semuanya, kejadian dua puluh tahun yang lalu. Saat kebakaran menghanguskan villa yang mereka tempati saat berlibur.
Flo ingat, Nenek Rosmalia berjuang menyelamatkan dirinya yang di kepung api. Namun dirinya yang tertimpa kayu jatuh membuatnya kesulitan.
Pengasuh Ayaka yang berusia hampir setengah abad itu berusaha menyelamatkannya dan membawanya keluar dari Villa.
Setelah mereka berhasil keluar, sayup-sayup keduanya mendengar suara gerombolan orang yang merencanakan pembunuhan dia dan keluarganya, mereka lah pelaku pembakaran Villa.
Rosmalia yang sangat menyayangi Ayaka kala itu, memilih diam-diam membawa Ayaka yang kondisinya tengah kritis karena luka bakar. Sebelum Ayaka hilang kesadarannya ia mendengar ucapan Rosmalia.
"Non Aya harus selamat, aku harus membawanya pergi yang jauh agar non Aya hidupnya tidak lagi menghadapi bahaya" ucap Rosmalia dengan perasaan sayang yang tulus.
Setelah di bawa ke rumah sakit terdekat dan keadaan Ayaka sudah lebih stabil. Rosmalia kembali ke negara asalnya dengan membawa Ayaka sebagai cucunya, berbekal uang miliknya yang selamat karena dompet miliknya ada di saku celananya.
Mengingat hal itu, Flo semakin mengeratkan pelukan mommynya. Ternyata benar dirinya adalah Ayaka, seorang anak perempuan dari keluarga terkaya di negara J. Dan sebuah kenyataan jika dirinya selama ini masih memiliki keluarga, sungguh takdir Tuhan tidak ada yang mengetahuinya.
...•••••••...