The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
100. Tuhan sedang bercanda dengannya



Suara mobil masuk ke halaman mansion Adi Raharjo, Tiga orang keluar dari mobil itu yang tak lain dan tak bukan adalah Revan, Jefrey dan Adnan.


Mereka baru saja pulang setelah menjamu klien mereka yang dari luar negeri. Kalau bukan karena membahas proyek besar, Adnan memilih untuk di rumah saja menyambut anak-anaknya pulang. Ia sudah rindu dengan mereka semua.


Sekarang sudah hampir jam 11 malam, sudah tentu suasana mansion sepi karena penghuninya sudah terlelap.


"Kalian istirahat lah, besok kalian bertemu dengan adik-adik kalian. Awas, perhatikan ekspresi wajah kalian terutama kamu Revan. Jangan menakuti adikmu dengan tampang dinginmu itu" ucap Adnan memperingati


"Hmm..." jawab Revan yang hanya berdeham saja.


"Iya pah" jawab Jefrey singkat.


Adnan hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, percuma saja ia bicara seperti itu. Mana bisa Revan berubah ekspresi dinginnya itu jadi hangat.


Dengan mitra kerjanya saja tampangnya selalu datar. Untungnya Revan terkenal sangat Datar di kalangan pebisnis, jadi semua mitranya memaklumi itu. Meskipun begitu, kinerja Revan sebagai CEO di perusahaan jangan di tanya.


Revan terkenal sebagai jenius, ia sangat kompeten dan selalu berinovasi dengan ide-ide brilian nya.


Maka dari itu perusahan semakin jaya karena adanya Revan yang selalu memberikan ide-ide jeniusnya dalam setiap proyek dan meningkatkan profit perusahan berkali-kali lipat.


Mereka bertiga pun masuk ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


....


Pagi harinya, Dara bangun pagi-pagi sekali. Ia sudah terbiasa bangun pagi untuk melakukan olahraga rutin yang ia lakukan saat di star Mansion.


Setelah cuci muka dan mengganti pakaian dengan pakaian olahraga lalu ia keluar kamar. Flo yang sama ingin berolahraga juga keluar dari kamarnya. Ia dan Dara sudah sepakat akan berolahraga di area taman di luar mansion, yang jaraknya tidak terlalu jauh itu.


"Selamat pagi nona!" sapa Flo sopan.


"Pagi Flo, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Dara, Flo pun mengangguk.


Di taman Dara dan Flo berlari tanpa lelah sama sekali, karena mereka sudah terbiasa melakukannya.


Tiba-tiba Dara melihat ada seorang ibu-ibu yang ingin membeli sarapan di area sekitar taman, hampir di copet. Dengan sigap Dara lari dan menghentikan aksi copet itu.


KREK!!!


"Aaakkkhhh..." teriak pencopet itu yang tangannya di patahkan oleh Dara.


Ibu-ibu itu terkejut dan menoleh ke belakang, ia menyadari jika pria itu copet karena tangan pria itu hampir masuk ke dalam tas miliknya.


"Copet!!!" teriak ibu itu terkejut membuat semua orang datang berkerumun.


"Lepaskan ja*ang!" Teriak copet itu sambil menahan sakit di tangannya.


DUK!!


Dara menendang lutut copet itu dengan cukup kuat, hingga membuat copet itu duduk berlutut.


"Mana Bu copetnya?" tanya warga yang ada di sana.


"Itu yang berlutut! Gadis itu yang menolongku" ucap Ibu-ibu itu menunjuk ke arah Dara dan pencopetnya.


Segera saja Dara mundur, ia tahu jika warga akan melampiaskan rasa kesalnya pada copet yang meresahkan di daerahnya itu, karena kejadian ibu-ibu di copet bukan sekali dua kali.


BAK! BUK! BAK! BUK!


"Ampuuuunnn, lepaskan saya, maafkan saya" ucap pencopet itu. Namun semangat warga yang memukulinya tidak padam dan masih melayangkan Bogeman itu.


Tak lama polisi India pun datang, yang mana seperti di film-film. Polisi itu datangnya saat penjahat sudah di kalahkan.


Flo datang menghampiri Dara, ia bukannya tidak mau menolong. Tapi ia tidak menyadari aksi copet itu sampai melihat nonanya berlari dan memberi pelajaran ke copet itu dalam sekejap mata.


"Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Flo


"Tidak apa-apa" jawab Dara


"Nak, terimakasih sudah menolong saya. Ini ambillah untukmu" ucap ibu itu menyodorkan beberapa lembar uang pada Dara


"Tidak perlu Bu, saya ikhlas membantu" ucap Dara menolak uang itu.


Ia tidak butuh uang? Jelas, karena Dara sudah kaya bahkan hartanya tidak ada habis-habisnya.


"Ambil saja, ini sebagai rasa terima kasih ku sudah di tolong olehmu, Anggap saja ini rezeki kamu nak" ucap ibu itu


"Bagaimana kalau ibu membelikan kalian berdua sarapan?" tanya ibu itu tidak pantang menyerah, ia merasa tidak enak kalau hanya berterima kasih saja.


"Terimakasih, tapi mama saya sudah memasak. Saya tidak mau membuat mama sedih karena saya tidak makan makanannya" ucap Dara


"Baiklah, terimakasih sekali lagi nak" ucap ibu itu, Dara mengangguk dan mengandeng Flo pergi dari taman.


Dua orang pria tampan melihat kejadian itu, Bahkan Dara dan Flo berjalan melewati keduanya tanpa repot-repot melirik ke arah mereka.


"Wah Van, sepertinya pesona kita berdua tidak mempan pada dua gadis cantik itu" ucap pria di sebelahnya yang tak lain adalah Jefrey.


Revan tidak menjawabnya, ia hanya melirik ke arah Dara dan Flo pergi. Wangi tubuh Dara yang memikat itu tercium oleh Indra penciumannya, sangat Wangi.


"Menarik" gumam Revan pelan. Saking pelannya, hanya dia sendiri yang mendengar itu.


....


"Kalian dari mana sayang?" tanya Ellena yang mendapati Dara dan Flo masuk mansion


"Joging mah" jawab Dara.


"Mamah kira kemana, Kalau gitu mandi gih, nanti sarapan bareng! Kamu juga Flo" ucap Ellena


"Iya mah" jawab Dara


"Baik, nyonya" jawab Flo.


Keduanya masuk ke kamar masing-masing dan mandi. Tak lama kemudian mereka keluar lagi dan duduk bersama yang lain di meja makan.


Revan dan Jefrey juga baru pulang joging, langsung mandi dan menuju ke meja makan.


Degh!


Jantung Revan berdetak saat ia mencium wangi itu dan mendongak melihat siapa yang duduk di depannya.


Trang!


Suara sendok jatuh di atas meja.


Revan dan Jefrey, yang melihat kedatangan Dara yang tidak memakai masker itu pun terkejut hingga terdiam dengan mulut menganga. Keduanya bahkan sampai mimisan di buatnya.


Suara kekehan dari semua orang yang melihat keduanya terpesona oleh kecantikan Dara, mereka jadi teringat saat pertama kali melihat Dara juga berekspresi sama. Tapi mereka tidak sampai mimisan saat itu.


"Hei, kalian! Ini lap dulu" ucap Ellena menepuk bahu Kedua putra sulungnya, ia terkekeh dan memberikan tisu itu pada mereka.


"Eh..." ucap Keduanya setelah sadar dan langsung menyeka darah di hidungnya.


"Cantik banget ya? Kalian terpesona sampai mimisan gitu?" ucap Adnan yang meledek kedua putranya yang di angguki keduanya.


"Cantik..." ucap keduanya kompak membuat semua orang terkekeh mendengarnya.


"Revan" ucap Revan menyodorkan tangannya


"Jefrey" ucap Jefrey tank ingin kalah.


Membuat Dara terkejut melihat kedua kakaknya menyodorkan tangan padanya. Bukan hanya Dara tapi Ellena, Adnan, Bara dan Gusti yang sama terkejutnya.


"Ah, hallo kak Revan, kak Jefrey. Aku Dara" ucap Dara tersenyum manis


"Dara???" sontak kedua orang itu terkejut mendengar nama itu.


"Dara, adikku?" tanya Revan dengan terkejut.


"Ya" ucap Dara sambil menganggukkan kepalanya.


Revan menoleh ke arah Flo yang duduk di samping Dara. Ia pikir Dara yang di maksudnya itu adalah Flo, tapi mereka tidak menyangka jika Dara di depannya adalah adik sebenarnya.


Seketika itu pula Revan merasa patah hati, padahal baru kali ini ia merasa tertarik pada perempuan. Tapi harus di hadapkan dengan kenyataan jika perempuan itu adalah adik sepupunya sendiri.


Tuhan sedang bercanda dengannya!


...••••••...