
Sejak Elenora mengucapkan kata-kata yang terdengar begitu memujinya, wajah Cladia semakin lama sudah menunjukkan tanda-tanda semakin memerah, apalagi setelah Ornado menciumnya puncak kepalanya dengan lembut untuk menunjukkan bahawa dia begitu setuju dengan perkataan Elenora tentang wanita tercintanya itu.
"Kamu ini, ternyata kamu bibirmu sungguh manis Elenora. Sepertinya aku jadi besar kepala karena kata-katamu." Dengan sikap malu-malu, Cladia menanggapi perkataan Elenora.
"Apa maksudmu amore mio? Aku setuju sekali dengan pendapat Elenora. Apa yang dikatakan oleh Elenora, 100 persen adalah hal yang benar. Bahkan bagiku kamu bukan saja sosok seorang wanita sejati saja, tapi wanita paling sempurna, paling mengagumkan, paling cantik, paling... mmmph...."
"Al, sudahlah... kalau itu kamu, aku tahu kamu tidak akan pernah berhenti memujiku." Cladia berkata sambil menutup rapat bibir Ornado dengan salah satu telapak tangannya agar suaminya itu menghentikan pujian untuknya yang berhasil membuatnya semakin merasa salah tingkah dan kikuk di depan Elenora yang hanya bisa tersenyum geli melihat bagaimana besar dan luar biasanya rasa sayang dan cintanya Ornado terhadap Cladia.
Ah, sungguh bahagia bisa menjadi seorang Cladia yang begitu dicintai oleh Ornado. Seorang laki-laki hebat yang begitu mencintai wanitanya, tanpa menunjukkan bahwa sebenarnya dia adalah laki-laki yang sebenarnya bisa mendapatkan dengan mudah wanita manapun dan sebanyak apapun yang dia mau, seperti mudahnya berganti pakaian. Tapi Ornado telrihat begitu menghormati dan menjaga Cladia.
Elenora berkata dalam hati sambil memandang ke arah Cladia yang wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus, karena begitu Ornado berhasil melepaskan telapak tangan Cladia dari bibirnya, dengan gerakan yang sangat cepat, Ornado langsung mencium sekilas bibir istrinya itu.
Amore mio... bibirmu selalu saja terasa begitu manis dan selalu saja membuatku mabuk kepayang. Sei la mia anima gemella, Sei il mio angelo (Kaulah belahan jiwaku, kamu adalah malaikatku).
Ornado berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya dengan wajah menggodanya menatap ke arah Cladia yang tampak semakin kikuk dan salah tingkah.
Dan melihat tanda-tanda bahwa Ornado akan menciumnya sekali lagi tanpa perduli dengan Elenora yang ada di hadapan mereka saat ini, Cladia menelan ludahnya, sambil berusaha sedikit menjauhkan wajahnya dari Ornado, yang tahu bahwa Cladia sengaja sedang berusaha menghindarinya.
"Al...." Hanya satu kata itu yang sanggup diucapkan oleh Cladia sambil mengalihkan wajahnya dari wajah Ornado yang tersenyum geli melihat wajah malu-malu istrinya yang baginya sungguh menggemaskan dan begitu disukainya.
Wajah malu-malu dari Cladia, yang bagi Ornado membuatnya terlihat semakin cantik, selalu terpatri jelas dalam pikirannya, sehingga membuatnya selalu merindukan wajah itu saat jauh dari sisinya walau hanya sebentar.
"Ehem, sebenarnya ada yang mau aku katakan pada kalian berdua." Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Elenora memberanikan diri untuk kembali membuka percakapan.
"Memang apa yang mau kamu katakan Elenora? Kenapa wajahmu serius sekali?" Ornado segera menanggapi perkataan Elenora, dan dengan sikap terlihat begitu enggan, mulai mengalihkan pandangannya dari sosok istrinya yang hampir saja membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak lagi bergerak untuk menikmati manisnya bibir Cladia yang sudah menjadi candu baginya.
Dan bukan hanya bibir Cladia, seluruh apa yang ada pada Cladia, dari ujung kepala sampai ujung kaki wanita cantik itu, sudah membuat Ornado begitu kecanduan dan tergila-gila padanya.
"Ah... anu... sebenarnya... setelah menyelesaikan acara liburan ini... aku ingin berpamitan kepada kalian berdua." Cladia yang awalnya masih sibuk menenangkan debarn keras di dadanya karena perlakukan mesra Ornado padanya langsung menggerakkan kelapanya dan menatap dengan kaget ke arah Elenora.
"Ke... kenapa? Apa kami berdua membuatmu tidak nyaman Elenora?" Cladia langsung bertanya dengan matanya fokus menatap ke arah Elenora.
"Apa kamu mau kembali ke Italia? Bukankah urusanmu dengan James belum selesai dan belum diputuskan?" Pertanyaan Ornado langsung membuat Elenora menggelengkan kepalanya dengan kuat-kuat.
"Tidak Ad, aku belum berencana kembali ke Italia, kecuali James sudah memberikan keputusannya." Elenora berkata sambil tersenyum.
"Sebenarnya, aku ingin hidup mandiri. Jadi aku telah mencari sebuah apartemen sederhana untuk aku tinggali, yang letaknya berada sedekat mungkin dengan perusahaan, sehingga aku tidak perlu naik kendaraan untuk menuju kesana." Perkataan Elenora membuat Cladia memandang ke arah wajah Ornado, menunggu reaksi Orando atas perkataan Elenora barusan.
"Apa kamu sudah menemukan apartemen yang seperti kamu inginkan itu?" Elenora langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar pertanyaan Ornado.
"Beberapa hari lalu aku sudah melihat apartemen itu dan bernegosiasi dengan pemiliknya. Aku tidak akan membelinya, hanya sekedar menyewanya, dan orangtuaku justru yang mendorong aku untuk bisa mulai hidup mandiri, tidak lagi merepotkan kalian berdua...."
"Elenora, tolong buang jauh-jauh pikiranmu yang menyatakan bahwa kamu sudah merepotkan kami berdua. Aku tidak suka mendengarnya." Cladia dengan cepat memotong perkataan Elenora.
"Bukannya begitu Cladia...." Elenora berkata sambil bibirnya berdesis pelan, dan salah satu tangannya menyentuh tengkuknya, kebiasaan yang sering dia lakukan jika sedang berpikir keras.
"Kamu tidak pernah sedikitpun merepotkan kami, seperti yang telah dikatakan Cladia barusan. Tapi jika kamu memutuskan untuk keluar dari rumah ini, tidak ada yang salah dengan itu." Ornado berkata denga sikap tenang dan terlihat berwibawa.
"Al...." Mendengar perkataan Ornado, Cladia dengan cepat menyebutkan nama Ornado sambil kedua tangannya memegang lengan bawah tangan Ornado.
"Tenang saja amore mio." Ornado berkata sambil mengelus lembut bagian belakang kepala Cladia, dan tangannya yang lain menepuk-nepuk pelan tangan Cladia yang sedang mencekal lengannya.
"Amore mio, kita harus berpikir dari sisi Elenora. Dia pasti merasa tidak nyaman jika harus terus tinggal bersama kita, pasangan muda yang baru saja menikah. Jika orang lain melihat dan mendengarnya pasti itu akan menjadi pergujingan, karena memang secara garis keturunan, kita berdua tidak memiliki hubungan saudara dengan Elenora. Itu akan menjadi hal yang kurang baik jika dia terus besama kita sebelum dia menikah dengan James." Ornado mencoba menjelaskan kepada Cladia tentang pendapatnya.
"Dan kalaupun dia menikah dengan James, yang pasti James pasti akan secepatnya memboyongnya, entah tinggal bersamanya di hotel, atau James membeli apartemen, atau membangun rumahnya sendiri untuk dia dan istrinya. Karena setelah menikah, rasanya tidak sehat juga bila terus tinggal di hotel. Bukan masalah biaya yang bagi James tidak akan menjadi masalah besar. Tapi untuk tempat tinggal bersama pasangan yang akan membentuk keluarga baru, rasanya lingkungan hotel kurang tepat." Ornado menyambung penjelasannya kepada Cladia yang akhirnya terdiam, karena pendapat Ornado memang tepat dan tidak bisa disanggah lagi olehnya.