My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
KEMARAHAN PARA ORANGTUA (1)



Begitu pintu terbuka, mata mama Elenora langsung melihat ke arah dalam kamar, memastikan bahwa tidak ada barang yang pecah, atau posisi perabot yang berubah, yang bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa mereka sudah bertengkar hebat tadi di dalam sana.


Tapi yang dilihat oleh mama Elenora, tidak ada satupun yang ebrubah dari tata letak semua barang yang ada di dalam sana, termauk tempat tidur yang masih terlihat begitu rapi, belum tersentuh oleh apapun.


Sedangkan mata Carina langsung terpaku pada tangan James, yang menggandeng erat tangan Elenora yang berjalan keluar dari kamarnya, dengan posisi di belakang tubuh James, seolah sedang mencari perlindungan dari James.


Hal itu membuat Carina sedikit menyunggingkan senyumnya, apalagi ketika tanpa sadar mata Carina menatap ke arah bibir Elenora.


Sebentar Carina mengernyitkan dahinya karena menyadari bahwa warna lipstik yang dikenakan Elenora terlihat berbeda dengan warna lipstik yang diberikan oleh MUA yang sudah mendandaninya tadi.


Begitu ada bayangan yang terlintas di benak Carina tentang apa yang mungkin saja sudah terjadi tadi di dalam kamar antara James dan Elenora, sehingga membuat warna lipstik pada bibir Elenora berubah warna, Carina memilih untuk berdehem kecil sambil menundukkan wajahnya dan tangannya yang terkepal berada di depan bibirnya, untuk menyembunyikan senyum gelinya.


Sedangkan mama Elenora, sedikit menarik nafas lega, setelah memastikan bahwa kondisi kamar Elenora aman-aman saja dari balik pintu.


Setelah itu, mama Elenora segera mengamati sosok Elenora dari ujung kepala ke ujung kaki, untuk memastikan bahwa tidak ada bekas pukulan atau bukti kekerasan fisik yang terjadi pada Elenora.


Sejak kejadian malam itu, mama Elenora yang tahu bahwa peristiwa itu menimbulkan trauma bagi Elenora, dan mama Elenora memang begitu menjaga agar Elenora tidak dekat dengan pria manapun, agar kejadian buruk sepertri waktu itu tidak lagi terjadi.


Tapi pandangan mata mama Elenora langsung terhenti pada kedua tangan James dan Elenora yang saling bertaut dengan erat.


Pemandangan itu membuat mama Elenora tanpa sadar menarik nafas lega, dan semua pikiran buruk dan ketakutannya tadi menghilang begitu saja.


"Ehem... kami perlu bicara dengan kalian berdua." Papa Elenora berdehem kecil dan langsung menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan James dan Elenora.


Mendengar perkataan papa Elenora, James dan Elenora saling berpandangan, untuk kemudian berjalan mengikuti papa Elenora yang menuju ruang tamu, dimana para tamu undangan tampak sudah pulang, dan ruang tamu sudah terlihat lengang kembali, meski ada beberapa meja yang menunjukkan bahwa di tempat itu baru saja diadakan pesta yang meriah.


Pertama kali yang dilakukan oleh papa Elenora begitu sampai di ruangan yang cukup besar, adalah mencari posisi di sudut ruangan dimana ada cukup banyak kursi untuk mereka semua duduk dengan posisis melingkar.


Begitu berada di dekat salah satu kursi, papa Elenora langsung duduk dan sedikit menghempaskan tubuhnya di kursi dengan wajah terlihat lelah dan ada gurat kekecewaan di sana.


Bagaimanapun Elenora adalah anak gadisnya yang dikenalnya pendiam, dan tidak banyak menuntut apalagi menentang orangtuanya, yang membuatnya begitu menyanyangi gadis itu.


Sebagai seorang ayah, dia ingin putrinya mendapatkan kehidupan yang normal dan bahagia, bisa mengadakan acara pernikahan yang sederhana, meskipun tidak perlu mewah, yang penting mereka bisa bersama berbagi kebahagiaan dengan sanak saudara dan handai taulan, memberikan pengumuman secara resmi tentang hari bahagia kedua pengantin.


Jika mengingat bahwa James sudah memaksa Elenora menandatangani akta pernikahan tanpa memberitahu mereka sebagai orangtua, rasanya papa Elenora ingin sekali menghajar wajah James paling tidak dengan sekali atau dua pukulan.


Tapi sayangnya keberadaan James sebagai seorang Xanderson, membuatnya tidak mungkin untuk melakukan hal seperti itu.


Apalagi selain kedua orangtua James, saat ini hadir Alberto Xanderson, dan Ornado Xanderson, dimana status mereka di keluarga Xanderson dianggap memiliki posisi tertinggi, dengan pengaruh yang begitu besar bagi keluarga Xanderson yang lain.


Begitu semua sudah berkumpul dan duduk, papa James tampak melirik ke arah wajah kedua orangtua Elenora yang terlihat suram.


Meskipun kedua orang itu bisa melihat bagaimana tadi tangan James dan Elenora masih saling bertaut sampai mereka duduk baru saling melepaskan genggaman pada tangan mereka... tapi rasa tidak terima karena menganggp James sudah menganggap remeh keberadaan mereka sebagai orangtua Elenora, membuat wajah kesal dan tidak terima terlihat begitu jelas pada aura wajah kedua orangtua Elenora.


"Kami semua sudah di sini James. Sekarang jelaskan apa yang sudah terjadi sebelum ini? Kenapa kamu memaksa Elenora menikah denganmu dengan cara seperti itu? Bukankah kamu tahu kalian memang dijodohkan, dan kamu sendiri yang sudah meminta waktu untuk menetapkan hatimu? Tapi kenapa tiba-tiba kamu memaksa untuk menikah dengan Elenora tanpa mengatakan apapun pada kami? Apa kamu tidak menganggap keberadaan kami?” Tanpa menunggu semua duduk dengan tenang, papa dari Elenora langsung membuka percakapan diantara mereka tanpa kata-kata pembuka sama sekali.


Hal itu membuat James sedikit menahan nafasnya karena dari kata-kata dan nada suara mertuanya saat berbicara terlihat jelas bahwa laki-laki itu terlihat memendam kekesalan dan kemarahan yang begitu besar dalam hatinya.