
"Dia benar-benar sudah keterlaluan! Tindakannya tidak seperti manusia! Bagaimana bisa dia melakukan hal sekejam itu! Yang jelas itu bukan cinta, tapi obsesi! Dia benar-benar gila!" James mengomel sambil memandang ke arah Jeremy yang wajahnya terlihat masih lelah setelah perjalanan, tapi dia bersikeras untuk bertemu dengan Ornado untuk dapat segera menceritakan tindakan kejam Dario pada orangtuanya karena keinginannya untuk mendapatkan Cladia ditolak waktu itu.
"Mau itu cinta atau obsesi, bagiku... tidak akan aku biarkan dia bertindak semaunya seperti itu. Dia harusnya tahu sejak kecil Cladia tidak pernah dekat dengannya. Harusnya dia tahu dia juga tidak memiliki darah Xanderson yang sebenarnya dalam tubuhnya, dan mengharapkan posisinya untuk menggantikan Orando sebagai suami Cladia! Dia asalah seorang psikopat yang berpikir bahwa dunia ada dalam genggamannya dan semua orang harus menuruti kemauannya! Aku benar-benar tidak terima dengan apa yang dilakukannya pada kedua orangtua kami." Jeremy berkata sambil mengepalkan tangannya yang ada di sandaran tangan sofa yang didudukinya dengan wajah emosi.
Wajah Jeremy tampak geram, dengan suara terdengar begitu emosi ketika berbicara tentang Dario, darahnya benar-benar mendidih jika dia mengingat cerita yang dia dengar dari pamannya waktu itu, tentang alasan apa dan bagaimana Dario sudah dengan sengaja membuat kedua orangtuanya bukan hanya celaka, tapi meninggal dunia.
Jika dia mengincar kekayaan atau bisnisku, aku masih bisa mengerti dan tidak akan bertindak keras padanya. Aku bisa bersabar tentang hal itu. Tapi jika yang dia inginkan adalah amore mio, dia harus melewati mayatku dulu, bahkan untuk sekedar bisa merencanakan hal itu. Dan aku, tidak akan pernah membiarkan diriku kalah darinya. Amore mio adalah hartaku yang paling berharga, yang bahkan aku akan merelakan nyawaku untuknya! Dia tidak tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan hati amore mio, ingin mengambilnya dariku? Aku akan memberinya pelajaran untuk hal itu, agar dia tidak menginginkan hal yang memang bukan seharusnya menjadi miliknya.
Ornado berkata dalam hati sambil melirik ke arah Cladia yang tampak tidak tenang di sampingnya, karena kebenaran yang baru dia dengar, cukup membuatnya terguncang.
Perasaan Cladia bercampur aduk antara marah, kecewa, sedih, takut, menjadi satu begitu mendengar Dario sengaja membunuh kedua orangtuanya hanya karena mereka tidak mau membatalkan rencana perjodohannya dengan Ornado.
Melihat Cladia yang terlihat kalut, dengan cepat Ornado langsung merengkuh kepala Cladia, dan menyandarkannya pada bahunya, mencoba memberikan rasa nyaman pada wanita yang sangat dicintainya itu.
"Tenanglah amore mio, aku akan mengurus semuanya dengan baik. Semua akan baik-baik saja. Aku pastikan Dario akan membayar semua perbuatannya pada orangtua kita. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja." Ornado berusaha menenangkan Cladia yang memilih untuk diam, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang berpacu dengan cepat karena emosinya.
"Aku tidak ingin dia melukaimu Al, sepertinya dia benar-benar orang yang nekat, mampu melakukan apapun untuk mencapai keinginannya." Cladia berkata lirih setelah beberapa saat dalam diam, karena dia mulai bisa melihat, karena obsesinya, Dario sepertinya tidak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang berada di dekatnya.
Dan Cladia tahu, itu artinya Dario pasti juga akan mengincar Jeremy, terutama Ornado sebagai suaminya, penghalang terbesar bagi Dario untuk bisa mendapatkannya.
Membayangkan bagaimana Dario yang berusaha keras untuk memilikinya, membuat bulu kuduk Cladia berdiri, dan bayangan akan kehilangan Ornado, membuat Cladia begitu sedih dan khawatir, juga sangat ketakutan.
Dan rasanya Cladia tidak akan kuat jika hal itu kembali terulang padanya lagi.
Aku benar-benar tidak mau dipisahkan lagi darimu Al. Itu adalah hal paling menakutkan yang pernah aku alami, melebihi apapun juga. Aku mohon, jangan sampai kamu terluka lagi seperti waktu itu.
Cladia berkata dalam hati sambil terus berdoa untuk keselamatan Ornado dengan matanya yang masih meneteskan airmatanya, karena mengingat tentang kedua orangtuanya yang bernasib malang itu.
"Jangan khawatir, dia tidak akan bisa melukaiku. Aku mengenal dia dengan baik. Dan itu artinya, dia tidak akan mudah mengalahkanku. Kalau tidak, mungkin sejak lama aku hanya tinggal nama saja sekarang." Sekali lagi Ornado berusaha menenangkan hati Cladia.
Kali ini Ornado langsung mengecup puncak kepala Cladia begitu Ornado selesai mengucapkan kata-katanya, agar Cladia tidak semakin kalut.
Ornado kembali mengingat bagaimana ketika dia masih berada dalam masa kanak-kanak, Dario seringkali berusaha membuatnya celaka secara diam-diam, tanpa diketahui oleh kedua orangtua mereka.
Sifat Ornado yang tidak banyak bicara dan tidak suka mengadu, meskipun saat itu dia masih kecil, namun dengan tingkat kecerdasannya yang berada jauh di atas rata-rata anak seumurnya, membuatnya selalu berhasil menghalangi niat jahat Dario.
Dan itu seringkali terjadi setelah dia bertemu dengan Cladia yang selalu ada Ornado di sampingnya, sehingga Ornado sudah mengira sejak dahulu bahwa Dario begitu terobsesi pada Cladia.
Meskipun sempat terpisah jauh dari papanya dalam waktu yang cukup lama, dan membuat mereka jarang bertemu, tapi di sisi lain Ornado merasa beruntung, karena hal itu membuat Dario tidak bisa memiliki banyak kesempatan untuk mencelakainya.
Apalagi, saat itu Ornado masih terlalu kecil dan belum memiliki kekuatan untuk melawan Dario, hanya bisa menggunakan akal dan kecerdikannya agar dia bisa terhindar dari niat jahat kakak angkatnya itu.