My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SI BUCIN ORNADO



“Benar kan mo cuisle?” Dave bertanya dengan tatapan mata birunya yang lembut menatap ke arah Laurel.


Tatapan mata yang selalu membuat Laurel selalu merasa jatuh cinta lagi dan lagi kepada dokter tampan itu.


“Tentu saja benar. Karena keberadaanmu, aku merasa menjadi wanita paling beruntung dan bahagia di dunia ini.” Laurel membalas perkataan Dave dengan tidak kalah lembut dan mesranya, kembali melupakan adanya sosok Evelyn yang hanya bisa menarik nafas panjang melihat bagaimana mesranya kedua kakaknya itu, yang selalu membuatnya ikut bahagia, sekaligus iri dan membuatnya ingin segera bisa menikah dengan dokter tampan kekasihnya, dokter Leo.


“Tentu saja, kalian juga pasangan yang saling melengkapi. Itu yang namanya jodoh ya. Aku juga berharap akan bisa seperti kalian hubunganku dengan kak Leo.” Evelyn berkata dengan wajahnya yang sedikit bersemu merah karena pikirannya saat ini jelas-jelas membayangkan sosok Leo yang dulu sempat dicintainya dalam diam, untuk waktu yang cukup lama.


Sampai akhirnya Leo yang sebelumnya hanya menganggapnya sebagai seorang adik sadar bahwa dia juga begitu mencintai Evelyn.


Keberadaan mereka yang selalu saling berdekatan membuat Leo awalnya tidak sadar akan perasaannya, bahkan sempat salah mengartikan kekagumannya kepada Laurel sebagai rasa cinta dan tidak menganggap sosok Evelyn yang selalu menunggunya dengan setia.


Namun, begitu Evelyn mengingat bahwa beberapa bulan ke depan, dokter tampan itu akan segera menjadi suaminya, akan menjadi satu-satunya laki-laki miliknya, dan satu-satunya lelaki yang akan memilikinya, membuat dada Evelyn bergetar, dipenuhi dengan rasa bahagia yang tidak terkira.


Pembicaraan mereka terhenti setelah mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, membuat Dave, Laurel maupun Evelyn memandang ke arah Ornado yang sedang berjalan keluar bersama Cladia yang berada dalam rengkuhan lengan kokohnya.


“Minum obat ini dulu. Aku sudah konsultasikan keadaanmu kepada dokter Hana (salah satu dokter kandungan di rumah sakit milik Dave) beberapa waktu lalu. Dan dia menyarankan untuk mengganti obat mualmu.” Laurel langsung berjalan mendekat, menyodorkan obat dan gelas berisi air putih kepada Cladia yang langsung disambut oleh Ornado dan membantu Cladia untuk segera meminum obatnya.


“Semoga obat itu bisa membantumu, hanya saja obat itu menyebabkan kantuk. Aku tidak yakin apa kamu akan baik-baik saja selama pesta nanti jika kamu meminum obat itu.” Laurel berkata sambil menghela nafasnya, mencoba berpikir bagaimana baiknya.


“Maaf Dave, aku akan mengantar Cladia pulang. Sepertinya aku tidak bisa menghadiri pesta hari ini.” Ornado langsung memutus perkataan Laurel, dan memandang Cladia dengan wajah khawatirnya.


Sesekali Ornado terlihat mengelus perut Cladia, berharap tindakannya itu bisa menenangkan bayi mereka yang ada di dalam sana dan mengurangi rasa mual pada Cladia.


Sejak Ornado mengetahui kehamilan Cladia, dia sudah melihat banyak kali Cladia mengalami morning sickness. Tapi tetap saja setiap itu terjadi selalu membuat Ornado merasa khawatir dan tidak tenang.


“Al.” Tangan Cladia langsung mencekal lengan Ornado.


“Kalian pergi saja. Kamu juga sudah berjanji pada Dario untuk datang dan memperkenalkan Dave padanya. Dia pasti sudah menunggu kedatangan kalian. Aku bisa pulang sendiri. Biar aku menghubungi sopir untuk menjemputku.” Kata-kata Cladia sontak membuat Ornado langsung memandangnya dengan kernyitan di dahinya, langsung menunjukkan kalau dia tidak setuju dengan ide Cladia barusan.


“Siapa yang tega membiarkanmu sendirian sambil menunggu sopir menjemputmu. Aku pasti sudah gila kalau berani melakukan hal seperti itu pada istriku. Apalagi kamu baru saja memuntahkan isi perutmu begitu banyak.” Ornado berkata dengan suara tegas, dan Cladia tahu jika itu menunjukkan bahwa Ornado sedang serius dan tidak ingin ditentang keinginannya.


“Aku pikir ide Evelyn masuk akal Ad, biarkan Evelyn yang mengantar Cladia pulang bersama Leo, supaya Cladia bisa segera beristirahat di rumah.” Dave langsung mendukung Evelyn untuk menawarkan dirinya mengantar Cladia pulang ke rumahnya.


Untuk beberapa detik kemudian, Ornado terdiam tanpa menjawab, dengan mata memandang ke wajah Cladia yang masih terlihat pucat, namun sudah tidak menunjukkan tanda-tanda akan muntah kembali.


“Al, aku berjanji akan baik-baik saja. Kalau kamu mengijinkan Evelyn mengantarku, aku janji akan makan banyak dan segera beristirahat malam ini, agar kamu tidak perlu khawatir.” Cladia berkata sambil tersenyum, membuat Ornado menarik nafas panjang.


Sepertinya Ornado akan sulit untuk mengatakan tidak, apalagi Cladia berjanji akan makan dengan baik malam ini, sesuatu yang sejak kehamilannya sepertinya sulit untuk dilakukan oleh Cladia.


“Ok, aku akan membiarkan salah satu mobil pengawal untuk mengikutimu pulang bersama Leo dan Evelyn. Aku tidak mau menunggu kedatangan pengawal lain yang menyusulmu dari rumah. Akan terlalu lama jika seperti itu. Aku juga tidak akan berlama-lama di pesta. Jika urusanku dengan Dario selesai, aku akan segera pulang menyusulmu.” Ornado berkata untuk kemudian memandang ke arah Evelyn.


“Evelyn, bisakah secepatnya kamu mengantar Cladia pulang agar dia bisa segera makan malam dan beristirahat?” Evelyn langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar permintaan dari Ornado.


“Siap Kak Ad. Tentu saja sangat bisa sekali. Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarkan ratu kakak selamat sampai tujuan dan memastikannya makan dengan baik sebelum beristirahat.” Perkataan Evelyn langsung membuat Ornado sedikit menarik nafas lega.


“Amore mio, segeralah makan dan beristirahat dengan baik. Aku akan segera menyusulmu pulang.” Ornado berkata sambil dengan begitu mesra mengecup puncak kepala Cladia yang tinggi tubuhnya memang jauh di bawahnya, sehingga dengan dengan mudah bibirnya mencapai puncak kepala Cladia.


Dan tangan Ornado yang lain bergerak mengelus punggung Cladia dengan lembut, sebelum akhirnya tubuh Ornado menjauh dari tubuh Cladia dengan sikap enggan dan terlihat tidak rela.


“Evelyn, tolong hati-hati di jalan, katakan pada Leo, agar jangan terlalu cepat mengemudikan mobilnya, tapi juga jangan terlalu lambat sehingga terlalu lama sampai ke rumah. Hindari melalui jalan yang berlubang, dan…”


“Ad, Evelyn akan mengantar Cladia pulang ke rumah kalian yang memerlukan waktu tidak lebih dari 15 menit. Dan juga jalanan antara rumah sakit ini dan rumahmu tidak ada yang jelek seperti jalanan antar propinsi yang biasa dilalui oleh truk-truk besar bermuatan berat.” Laurel berkata sambil menahan senyum gelinya, melihat bagaimana cerewetnya Ornado yang biasanya bersikap tenang, tapi selalu saja tidak tenang jika itu menyangkut tentang Cladia.


“Tenang Kak Ornado, ratumu akan tiba dengan aman tanpa sehelai rambutpun jatuh dari kepalanya.” Evelyn berkata sambil menatap ke arah Ornado yang terlihat memaksakan senyum di wajahnya.


Akhh… kenapa aku harus berjanji kepada Dario untuk mempertemukannya dengan Dave malam ini? Kalau tidak aku tidak harus datang ke sana sekarang bersama Dave dan Laurel. Karena janji itu aku harus merelakan amore mio menjalani masa-masa sulit kehamilannya seorang diri.


Ornado mengomel dalam hati, tanpa bisa berbuat apa-apa.


Meskipun dia tahu bahwa sebenarnya dia sudah seringkali ada di samping Cladia, tetap saja perasaannya terasa buruk melihat bagaimana Cladia yang baru saja memuntahkan isi perutnya harus pulang tanpa dia bisa berada di samping istrinya dan menemaninya.