My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
RINDU SERINDU RINDUNYA



Sejak kedatangan James di kota B untuk membereskan masalah yang ada di pabrik penyamakan kulit itu, James harus membereskan banyak masalah karena tidak sedikit orang yang ternyata sudah bekerja sama untuk melakukan pelanggaran sistem produksi, korupsi, memalsukan laporan data pembelian dan penjualan, menyabotase barang yang dikirim ke pihak konsumen, dan juga demo yang dilakukan oleh sebagian karyawan yang mendapatkan hasutan dari beberapa provokator.


Karena pimpinan tertinggi di perusahaan penyamakan itu, orang yang selama ini dipercaya untuk mengatur kelancaran jalannya perusahaan juga diketahui oleh James, ikut terlibat dalam kasus ini dengan bukti-bukti kuat, pekerjaan James semakin berat.


Meskipun beberapa hari lalu beberapa orang dari kantor pusat Bumi Asia dan beberapa dari perusahaan lain yang masih dalam naungan Bumi Asia sudah dikirim juga untuk membantu James, tapi sebagai pembuat keputusan terhadap semua perombakan yang terjadi, tetap saja pekerjaan James menumpuk.


“Andaikata sebagai sekretaris pribadiku Ele bisa ikut datang ke tempat ini.... Pasti aku tidak akan stress seperti sekarang ini.” James berkata sambil memandang ke arah layar handphonenya yang dia pegang di atas kepala, sehingga dia harus mendongak untuk dapat melihatnya.


Melihat wajah cantik istrinya, meski di foto itu Elenora menunjukkan tatapan tidak bahagia, tetap saja membuat dada James bergetar hebat.


Jika saja bisa, rasanya James ingin segera bertemu dengan Elenora dan memeluk erat tubuh gadis yang sudah beberapa waktu ini sungguh sangat dirindukannya.


Semua tentang Elenora sebelum mereka berdua berpisah, sungguh terpatri dengan jelas di otak James.


Bau harum tubuh dan rambut Elenora saat gadis itu berada dipelukannya karena James menahan tubuhnya yang terpeleset, bagaimana dengan nyamannya Elenora tidur dalam pesawat dengan bersandar di bahunya, dan juga wajah cantiknya saat dia tidak memakai kacamatanya, saat James mengobati alergi di wajahnya….


Semua ingatan itu membuat James semakin frustasi karena rasa rindunya kepada Elenora yang semakin menggila.


"Kalau Ele ada di sini, paling tidak, aku bisa bekerja dengan nyaman karena tidak perlu terus menerus memikirkan apa yang sedang dilakukan Ele disana, dan sedang bersama siapa, membicarakan apa. Haist... kenapa denganku sekarang? Bahkan tiap saat pikiranku tidak bisa lepas dari sosok Ele." Suara dengusan pelan terdengar dari hidung James setelah dia mengakhiri kata-katanya.


Mata James terlihat tetap fokus menatap wajah foto istrinya dengan gaun putih saat penandatanganan akta nikah mereka berdua waktu itu.


“Sudah lewat tengah malam, kamu pasti sudah tertidur lelap sekarang.” James berkata pelan sambil menghela nafasnya, karena teringat tentang perkataan Matilda yang mengatakan bahwa biasanya, kurang dari jam 10 malam, Elenora sudah tertidur, sebuah kebiasaan dari Elenora yang baru diketahui oleh James setelah mendapatkan laporan dari Matilda beberapa hari ini.


Yang membuat James merasa tersiksa dalam tugasnya kali ini, sebenarnya bukan karena banyaknya masalah yang harus dia selesaikan, yang membuat dia harus lembur sampai lewat tengah malam setiap harinya bersama tim yang didatangkan dari kota lain untuk membantunya, tapi karena kesibukannya membuat waktu dan tenaganya benar-benar terkuras tanpa sempat memiliki waktu pribadinya sendiri.


Hal itu membuat James hanya bisa mengirimkan pesan pada Elenora tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan panggilan telepon ataupun video call, karena saat James selesai, James seringkali menghubungi Matilda yang memastikan bahwa Elenora sudah tertidur sedari tadi.


Belum lagi kantor Elenora yang ditempati bersama Audrey dan Dodi, membuat James tidak bisa melakukan panggilan telepon dan melakukan pembicaraan yang bersifat pribadi pada Elenora.


"Hah...." James menghela nafas panjang sambil membuka rekaman cctv di apartemennya.


Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh James, adalah mengamati kegiatan Elenora melalui rekaman cctv, meskipun itu kegiatan yang sudah berlalu.


Sayangnya, James hanya mendapatkan sedikit kesempatan untuk mengamati Elenora, karena Elenora lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar selama ada di apartemen.


Dan jika Elenora sudah masuk ke kamarnya, itu artinya, James tidak bisa lagi melihatnya, sebab di dalam kamar, James memang sengaja tidak memasang kamera cctv, untuk menghormati privasi pemilik kamar, termasuk kamarnya.


Harusnya aku memasang kamera cctv di kamar Ele juga agar aku bisa lebih lama melihatnya. Rasanya benar-benar menyiksaku! Haist!


James segera menghentikan pemikiran tentang rencana memasang cctv di kamar Elenora begitu bayangan sosok Elenora yang sedang tertidur membuat dadanya berdegup dengan kencang, dan udara tiba-tiba terasa sedikit panas.


Belum lagi ada sesuatu pada bagian tubuhnya di bawah sana yang tiba-tiba terasa sesak, karena mulai terbangun dari tidurnya akhir-akhir ini, setiap James teringat pada Elenora.


"Lebih baik aku menghubungi Ad sekarang. Semoga dia belum tidur." James melirik ke arah jarum jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul satu dini hari.


"Hallo...." James cukup kaget begitu mendengar suara jawaban dari Ornado, bahkan sebelum suara nada panggilan teleponnya berbunyi lebih dari tiga kali.


"Hallo Ad." Dengan ragu James membalas perkataan Ornado yang juga tidak menyangka karena sudah selarut ini, James tiba-tiba menghubunginya.


"Maaf jika panggilan teleponku mengganggu waktu istirahatmu." James berkata dengan nada suara rendah, karena sebenarnya dia memang tidak ingin mengganggu Ornado, tapi keinginannya yang begitu besar untuk bertemu Elenora membuatnya melupakan rasa itu.