
“Kalau kamu memang merasa penasaran dan ada kecurigaan tentang yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Kenapa tidak kita coba untuk benar-benar menyelidikinya? Untuk sementara kita lakukan diam-diam tanpa diketahui banyak orang. Kalau benar apa yang dia katakan ada orang di dekat kalian yang sedang berniat jahat padamu dan Cladia, orang jahat itu pasti juga sedang mengawasi kita.” Ide dari Niela membuat Jeremy terdiam beberapa detik untuk berpikir.
“Begitukah menurutmu?”
“Itu hanya pemikiranku saja. Tapi semuanya tergantung pada keputusanmu.” Niela menjawab pertanyaan Jeremy sambil tersenyum.
“Aku memang merasa penasaran. Dulunya aku tidak pernah berpikir bahwa kecelakaan kedua orangtuaku adalah sesuatu yang sudah direncanakan oleh seseorang. Tapi setelah membaca pesan dari orang misterius itu. Aku kembali memikirkan kejadian hari itu….” Jeremy berkata sambil kedua tangannya terkatup dan dia tempelkan pada bibirnya.
“Sehari sebelum malam terjadinya kecelakaan itu, papa dan mama sempat sedikit berdebat tentang sesuatu yang aku tidak terlalu jelas apa duduk perkaranya. Namun setelah itu mereka berdua bilang kepadaku akan pergi menemui seseorang yang datang dari jauh. Dan sebelum pergi, mereka berdua berpesan padaku untuk menjaga Cladia baik-baik, dan jika terjadi sesuatu pada mereka, pada saatnya aku harus membacakan surat wasiat mereka dimana Cladia harus menikah dengan Ornado sesuai dengan janji antara mereka dan kedua orangtua Ornado.” Jeremy berkata sambil pikirannya kembali pada 7 tahun yang lalu.
“Mama saat itu mengatakan bahwa apapun yang terjadi, aku harus menjaga Cladia sampai Ornado datang menjemput dan menikahinya, dan menjauhkannya dari orang-orang yang menginginkannya. Sedari kecil Cladia adalah gadis yang begitu cantik, yang membuat banyak lelaki menginginkannya. Bahkan ketika kedua orangtuaku sudah meninggal, banyak laki-laki yang datang padaku dan berterus terang meminta ijin untuk menjalin hubungan dengan Cladia, bahkan ada seorang anak dari pejabat tinggi pemerintahan yang saat itu langsung datang padaku untuk melamarnya.” Perkataan Jeremy membuat Niela tersenyum yang memang mengakui kecantikan Cladia bisa membuat pria lupa diri.
“Saat mama menyampaikan pesannya, aku melihat sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh mama tentang Cladia, yang membuatnya merasa tidak tenang. Aku tidak tahu siapa yang ditemui oleh papa dan mama sehari sebelum mereka mengalami kecelakaan. Tapi sepulang dari pertemuan itu papa dan mama besoknya tampak lebih banyak diam dan terlihat seperti orang yang sedang memiliki beban pikiran yang berat.” Jeremy kembali menghentikan kata-katanya.
“Aku tidak tahu apa-apa saat itu. Tapi jika memang benar, orang yang mereka temui sehari sebelum mereka mengalami kecelakaan adalah orang yang sudah membuat papa mamaku celaka, aku akan mengejar orang itu, bahkan sampai ke ujung dunia. Dan aku akan memastikan, orang itu mendapatkan hukuman yang sepantasnya karena perbuatan kejinya.” Suara Jeremy terdengar bergitu berapi-api saat mengucapkan kata-katanya.
“Kamu harus tenang Jer, kalau memang kamu curiga memang ada dalang di balik kematian kedua orangtuamu, memang ada baiknya kita lakukan penyelidikan ulang. Dan kalau kamu setuju, sudah seharusnya kamu memberitahu Ornado karena sepertinya kasus ini berkaitan erat dengan Cladia.” Niela berkata sambil tangannya meraih tangan Jeremy, dan menggenggamnya dengan erat, untuk menunjukkan dukungannya kepada Jeremy.
“Tidak, untuk sementara aku akan melakukan penyelidikan ini secara diam-diam sampai ada petunjuk jelas, baru aku akan memberitahu Ornado tentang hal ini.” Dengan cepat Jeremy mengatakan keputusannya, sedang Niela hanya bisa tersenyum.
Apapun keputusan Jeremy, Niela tahu dia harus mendukungnya. Dan berharap bahwa kecurigaan mereka itu salah, bahwa semuanya baik[baik saja dan orang yang mengirimkan pesan-pesan itu hanya seorang yang sekedar iseng.
# # # # # # #
“Elen, tunggu aku, kita sama-sama ke kantin. Alex dan Tina juga sudah menunggu kita di sana.” Dodi langsung menyusul langkah-langkah Elenora yang baru saja meninggalkan mejanya untuk ke kantin dan menikmati waktu istirahatnya sekaligus makan siangnya.
Cih…. Belum lagi dua minggu berlalu sejak Elenora bekerja di tempat ini, dan sepertinya dia sudah membuat seorang pria begitu menempel padanya. Ternyata gadis itu tidak sepolos yang terlihat. Lalu kenapa dia selalu terlihat dan bersikap begitu polos di depanku?
James menggerutu dalam hati, sambil tanpa sadar matanya justru terus melirik ke arah mereka berdua dan mengamati apa yang mereka bicarakan dan lakukan.
“James, apa yang kamu lihat. Ayo kita pergi.” Ornado yang berjalan ke arah James berkata sambil menepuk bahu James.
Ornado langsung melakukan itu sambil menyungingkan senyum kecil di bibirnya, karena Ornado bukannya tidak tahu kemana arah pandangan mata James saat ini.
“Ad, bagaimana kalau siang ini kita makan saja di kantin perusahaan? Bukankah kita sudah lama tidak melakukan pemeriksaan kualitas dan kondisi kantin perusahaan?” Kata-kata James membuat Ornado langsung mengernyitkan dahinya, berpura-pura memasang wajah kaget, padahal dia tahu pasti tujuan James melakukan itu.
Ist…. Pemeriksaan kantin? Yang benar saja! Mau membodohiku? Sepertinya James sudah mulai pandai mencari alasan untuk menutupi niatnya yang sesungguhnya. Dasar! Mau sampai kapan kamu seperti itu? Jangan harap aku mengikuti permainanmu! Lagian kamu ini memang perlu diberi sedikit pelajaran agar mau jujur dengan hatimu.
Ornado berkata sambil tangannya menepuk pipi James, lalu mencengkeram dagu James, dan menggerakkan kepalanya agar dia tidak lagi bisa melirik ke arah Elenora dan Dodi.
“Kamu sedang bercanda James? Makan siang adalah waktu paling berhargaku karena saat itu aku memiliki kesempatan untuk bertemu dengan istriku. Bagaimana kamu bisa membuatku kehilangan kesempatan menikmati kebersamaanku dengan Cladia hanya untuk melakukan pengecekan terhadap kantin? Serahkan saja kepada orang lain.” Ornado berkata sambil tangannya melingkar di bagian belakang bahu James, dan dengan gerakan cepat menggiring James untuk mengikuti langkah-langkahnya.
“Eh, Ad. Bagaimana kalau kamu saja yang makan siang bersama Cladia, sedang aku pergi mengurus masalah kantin?” James mencoba berkelit dan mencari cara agar siang ini dia bisa datang ke kantin.
“Hah… sudah aku bilang, serahkan saja kepada yang lain. Sebagai wakilku di perusahaan ini, posisimu terlalu tinggi kalau hanya untuk mengurus masalah kantin. Lagian, kita bisa melakukannya setelah Cladia kembali ke kantor ini. Aku dan Cladia akan menemani dan membantumu melakukan penilaian itu.” Ornado langsung menjawab perkataan James dengan santai namun tegas, membuat James hanya bisa menahan nafasnya dan bersikap pasrah, karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mendapatkan alasan agar Ornado membiarkannya tidak ikut makan siang bersamanya.
Tapi karena rasa penasarannya yang begitu besar, James segera bersiap untuk kembali mencari alasan agar Ornado membiarkannya siang ini untuk tetap tinggal di kantor dan makan siang di kantin.