
Elenora sendiri, sejak jari tangan James menyentuh permukaan kulitnya, membuatnya begitu salah tingkah, sentuhan James sudah membuat dadanya berdegup dengan begitu kencang.
Apalagi setelah itu, untuk waktu yang tidak sebentar, jari-jari itu masih menyentuh kulit wajahnya dengan dengan sentuhan yang terasa dingin namun lembut.
Merasakan sentuhan jari-jari James, laki-laki yang sejak dulu begitu dicintainya, hampir saja membuat Elenora tidak bisa bernafas dengan baik karena dadanya yang begitu berdebar-debar, jantungnya berdetak dengan tidak beraturan.
Elenora tidak menyangka bahwa sentuhan jari-jari James sudah berhasil membuat dirinya terpana, karena sebuah sensasi yang baru pertama kalinya dia rasakan seumur hidupnya, sesuatu yagn membuat hatinya sungguh melayang jauh entah kemana.
Menyukai James? Sejak bertahun-tahun yang lalu dia sudah begitu mencintai laki-laki itu. Akan tetapi, Elenora tidak pernah membayangkan bahwa sentuhan kecil dari James akan bisa membuatnya menjadi seperti orang yang kehilangan setengah dari nyawanya seperti sekarang ini.
Kaget, berdebar-debar, juga merasa begitu bahagia saat ini bercampur jadi satu dalam dada Elenora.
Rasanya saat ini Elenora merasa tidak percaya dan merasa saat ini dia hanya sedang bermimpi, mengingat bagaimana dingin dan kerasnya sikap James sejak pertemuan mereka setelah dia menghilang malam itu.
Dan jika saja bisa, Elenora ingin mimpinya tidak segera berakhir. Tapi Elenora segera tersadar bahwa dia benar-beanr tidak sedang bermimpi, ketika dia mendengar suara tarikan nafas panjang dari James.
Aku harus berhenti sekarang, atau pikiranku akan semakin menggila, dan begitu menginginkan Elenora sekarang.
James berkata dalam hati dan dengan gerakan cepat, menarik jari-jari tangannya, membawanya menjauh dari wajah Elenora yang berhasil membuatnya begitu terpesona karena wajahnya yang ternyata begitu cantik di balik dandanan kampungan yang selama ini selalu melekat padanya.
James yang sebenarnya masih begitu menikmat kecantikan Elenora yang baginya baru hari ini dilihatnya, segera menghentikan pikirannya yang mulai melayang kemana-mana dengan menjauhkan tangannya dari wajah Elenora, yang bahkan hampir saja membuatnya bukan saja menyentuh bibir Elenora dengan jarinya.
Namun pesona Elenora hampir saja membuatnya lupa diri dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir ranum itu, ingin mencoba menikmati rasa manis dan hangat yang bisa dia dapatkan dari sana.
"Sudah selesai... semoga cepat sembuh." Dengan sengaja tidak lagi memandang wajah Elenora, James berakta sambil menutup kembali salep di tangannya, dan menyerahkannya kepada Elenora yang juga dengan susah payah mencoba menata kembali debaran jantungnya saat ini.
"Te... terimakasih James. Maaf, sudah merepotkanmu...." Dengan gugup, Elenora mengucapkan terimakasihnya pada James, sambil memakai kembali kacamatanya, setelah memasukkan salepnya ke dalam tasnya.
"Sama-sama." James menjawab perkataan Elenora sambil melirik ke arah gadis itu.
Hanya sekilas... tapi James sempat menahan nafasnya melihat Elenora memakai kembali kacamatanya, merasa sedikit kecewa tidak bisa lagi menikmati wajah cantik gadis itu tanpa kacamata yang menyembunyikan kecantikannya.
Meskipun James sudah memutuskan untuk berhenti menyentuh wajah Elenora dengan tangannya, tapi bukan berarti dia ingin berhenti menikmati wajah Elenora yang sudah berhasil membuatnya terpana dan dadanya bergetar hebat malam ini.
Rasanya sekarang James belum rela jika harus kehilangan kesempatan untuk menikmati wajah Elenora tanpa kacamatanya, membuat James berpikir dengan cepat, mencari cara untuk sebentar lagi saja, bisa mendapatkan kesempatan menikmati hal itu.
"Terimakasih James." Dengan gerakan ragu, tanpa curiga Elenora kembali melepaskan kacamatanya untuk dibersihkan dengan tissue olehnya.
Dan kesempatan itu, digunakan dengan baik oleh James yang langsung beberapa kali sengaja mencuri pandang ke arah Elenora.
James tahu, dia tidak akan memiliki banyak kesempatan untuk menikmati wajah Elenora tanpa kacamatanya.
Karena itu, James segera menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin untuk menikmati kecantikan itu dengan cara mencuri pandang sebanyak dan selama yang dia bisa, apalagi dia belum melajukan mobil yang ditumpangi mereka saat ini, membuatnya memiliki kesempatan untuk fokus menikmati pemandangan cantik Elenora.
Bahkan setelah Elenora kembali mengenakan kacamatanya, James masih terdiam di tempatnya tanpa bergerak.
"James, apa... tidak sebaiknya, kita kembali sekarang? Aku takut Cladia dan yang lain mengkhawatirkan kita." Akhirnya dengan ragu Elenora mengutarakan pendapatnya, karena dilihatnya James belum juga bergerak dari posisinya sekarang.
Saat ini James memang berada di posisi kursi pengemudi dengan kedua tangannya sudah berada di atas kemudi dan siap meluncur.
Namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari James yang membuatnya terlihat akan segera menginjak pedal gas mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.
Hal itu yang akhirnya membuat Elenora memberanikan diri untuk mempertanyakan kapan mereka kembali ke Mozaic, agar yang lainnya tidak merasa khawatir pada mereka.
"Ah, ya... sebaiknya kita kembali ke resort sekarang." James berkata dengan menata nada suaranya sebaik mungkin, agar tidak menunjukkan bahwa saat ini dadanya masih berdetak keras karena untuk pertamakalinya melihat sosok cantik Elenora yang meninggalkan kesan begitu dalam di hati James, dan hampir saja membuatnya mengeluarkan kata-kata dengan suara bergetar.
"Eh, tapi James...."
"Tenang saja, Ornado sudah mengirimkan pesan padaku, bahwa mereka juga sudah meninggalkan Mozaic Ubud." James langsung memotong ucapan Elenora yagn ingin menanyakan kenapa mereka tidak kembali ke Mozaic.
Perkataan James membuat Elenora langsung menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu jalan pintas dari sini ke resort yang kita tinggali. Sehingga kita tidak akan tertinggal jauh dari mereka." Akhirnya James berkata sambil memegang tuas rem tangan, menurunkannya, dan bersiap untuk pergi dari tempat itu, bersama Elenora yang malam ini berhasil mengobrak-abrik hatinya.
Sepertinya malam ini, James tidak akan bisa menikmati tidur malamnya dengan tenang, karena pikirannya sedang terbayang-bayang wajah cantik yang sedang duduk di sebelahnya saat tidak mengenakan kacamata tadi.