My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PERNYATAAN CINTA UNTUK ELENORA



Langkah-langkah James semakin lebar setelah dengan sengaja dia meninggalkan tas kopernya di halaman rumah orangtua Elenora, agar dia semakin bebas bergerak.


Saat melihat di dalam rumah itu tampak banyak orang berkumpul, sedang bercengkrama sambil menikmati makanan dan minuman, seperti yang biasa dilakukan orang saat datang ke pesta, dada James semakin berdetak dengan kencang.


Matanya langsung mengelilingi seluruh ruangan itu, namun tidak ditemukannya sosok Elenora, sampai akhirnya ketika James memutuskan untuk masuk lebih ke dalam rumah itu, dan terlihat seorang gadis, dengan rambutnya yang panjang tergerai, dan mengenakan gaun panjang berwarna biru laut, terlihat begitu anggun.


Meskipun posisi gadis itu berdiri membelakanginya, James yang sudah mulai hapal dengan bentuk tubuh Elenora, bisa tahu pasti bahwa itu adalah Elenora.


Jantung James serasa akan meledak melihat bagaimana Gavino dengan setelan jasnya dan sisiran rambutnya yang terlihat rapi, sedang berdiri tepat di hadapan Elenora dan beberapa kali terlihat sedang tersenyum manis sambil mengobrol dengan Elenora.


"Ele!" Suara seseorang yang cukup dikenalnya membuat Elenora langsung menggerakkan tubuhnya ke samping, dan mata Elenora langsung membulat sempurna begitu melihat sosok James yang mendekat ke arahnya dengan langkah-langkah lebar.


Mata Elenora langsung terbeliak melihat kehadiran James yang benar-benar tidak disangka-sangka olehnya, membuat Elenora hampir menjatuhkan gelas yang ada di tangannya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, begitu tepat berada di samping Elenora, James langsung memeluk tubuh Elenora dengan erat, membuat beberapa orang yang ada di dekat mereka langsung membeliakkan matanya karena kaget.


"Ele, mi dispiace caro. Ti voglio bene.  Non voglio perderti . Senza di te non posso più vivere."  (Ele, maafkan aku sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Aku tidak bisa hidup tanpamu). James membisikkan kata-katanya dengan suara pelan dan lembut, membuat tubuh Elenora tersentak kaget.


Kemarahan, ketakutan, kekalutan hatinya tiba-tiba saja menguap begitu James berhasil menemui istri tercintanya itu.


Apa yang sedang dilakukan oleh James saat ini membuat Elenora terdiam mematung tanpa bisa membalas kata-kata dari James.


Bagi Elenora, yang terjadi saat ini sungguh mengagetkan dirinya, sehingga dia berada diantara kondisi sadar dan tidak sadar.


Hal itu sungguh dapat dimaklumi setelah beberapa jam sebelumnya, Elenora juga mengalami kejadian yang membuatnya sangat terkejut.


Setelah bangun dari tidurnya tadi, Elenora tiba-tiba saja mendengar banyaknya suara orang dari arah luar kamar tidurnya, membuatnya dengan terburu-buru berlari ke arah pintu kamarnya.


Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang terjadi pada mama sehingga banyak orang berkumpul di rumah ini?


Dengan pikiran yang kacau dan penuh kekhawatiran, Elenora memegang handle pintu kamarnya dengan bergetar.


Tapi baru saja Elenora menggerakkan handle pintunya sedikit, tiba-tiba dari arah luar orang lain menggerakkan handle pintu kamar Elenora, dan beberapa orang langsung menerobos masuk ke dalam kamar Elenora, membuat Elenora dengan gerakan reflek mundur ke belakang karena kaget.


"Selamat sore Nona Elenora, kami akan segera menyulap Nona menjadi seorang putri yang cantik sore ini." Seorang wanita dengan pakaiannya yang terlihat modis, dengan gaya berjalannya yang berlenggak-lenggok, mendekat ke arah Elenora yang wajahnya masih menunjukkan kekagetannya.


"Ap... apa maksudnya semua ini?" Elenora bertanya sambil  menatap tajam ke arah wanita itu.


"Sayang... jangan terlalu galak begitu pada tamu kita." Mata Elenora langsung melotot begitu melihat sosok mamanya yang tampak segar bugar melangkah masuk ke kamarnya.


"Dasar anak tidak berbakti! Kalau tidak dengan cara seperti ini, mana mau kamu pulang ke Italia di hari ulang tahun mama." Tanpa mendengarkan apa kata mamanya, Elenora langsung berlari ke arah mamanya dan memeluk tubuhnya dengan begitu erat.


"Ma... ma... tega sekali membuatku ketakutan seperti itu. Jangan menggunakan alasan penyakit untuk membohongi orang lain Ma." Elenora berkata sambil menangis sesengukan.


Rasa khawatir dan takut kehilangan mamanya masih terasa begitu jelas di hati Elenora, membuat tangis Elenora semakin menjadi.


"Hist, tenanglah, yang penting mama baik-baik saja kan sekarang?"


"Mama benar-benar membuatku takut..." Elenora kembali berkata tanpa mau melepaskan pelukan eratnya pada tubuh mamanya.


"Haist! Mama tidak akan rela untuk mati sebelum bisa menjewer telinga suamimu yang kurang ajar itu!" Kata-kata mamanya membuat Elenora langsung menghentikan tangisnya dan melepaskan pelukannya.


Wajah mama Elenora yang awalnya biasa saja ketika baru memasuki kamar Elenora, sekarang terlihat begitu kesal karena dia mengingat tentang apa yang sudah dilakukan oleh James pada putrinya.


"Ap... apa maksud Mama?" Mendengar pertanyaan Elenora, mamanya langsung memandang ke arah Elenora sambil menghela nafasnya.


"Kalau tidak ada sandiwara seperti itu? Apa kamu mau datang ke Italia dan menjenguk kami? Menjelaskan apa yang sudah terjadi di Indonesia antara kamu dan James? Kalian pikir kami ini siapa? Bisa-bisanya kalian menikah tanpa memberitahukan pada kami. Apa kalian berniat bermain rumah-rumahan?" Elenora mencoba menelan air ludahnya dengan susah payah begitu mendengar omelan mamanya.


Darimana mama tahu tentang pernikahanku dengan James. Siapa yang sudah memberitahukan kepada mereka semua? Akh... bagaimana aku harus menjelaskan kepada mereka nantinya?


Elenora berkata dalam hati sambil menahan nafasnya.


"Sudah, jangan memarahi Elenora. Aku tahu semuanya adalah salah James. Elenora mana berani melawan James yang keras kepala itu!" Tiba-tiba Carina ikut masuk ke dalam kamar Elenora, dan menghentikan mamanya untuk terus mengomeli Elenora yang tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk membela diri, karena dia tahu dia memang bersalah pada orangtuanya maupun orangtua James.


"Marahi saja James sepuasnya jika bertemu dengannya nanti, tapi Elenora tidak bersalah." Carina berkata sambil menepuk bahu mama Elenora.


"Auntie...."


"Ist! Kamu sudah menjadi istri sah James, kenapa masih memanggilku dengan auntie Carina? Panggil aku dengan mama mulai sekarang." Carina tersenyum lebar ke arah Elenora, setelah memberikan perintah kepada Elenora untuk mulai memanggilnya dengan sebutan mama.


"Tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian, turuti saja perkataan mertuamu! Toh, bagaimanapun, meski tanpa restu kami, kalian sekarang memang terikat sebagai suami istri, dan itu sudah sah. Apalagi yang bisa kami lalukan sebagai orangtua yang keberadaannya sudah dilupakan." Mama Elenora berkata dengan wajahnya yang masih terlihat kesal setelah membicarakan tentang pernikahan Elenora dan James yang dilakukan tanpa sepengetahuan mereka para orangtua.


"Maaf Ma, kami tidak bermaksud untuk tidak menghormati kalian. Maafkan kami. Kami bersalah karena tidak memikirkan perasaan kalian ketika melakukan hal seperti itu. Aku benar-benar minta maaf pada kalian berdua." Akhirnya hanya itu yang bisa dikatakan oleh Elenora, membuat sikap mamanya sedikit melunak setelah Elenora meminta maaf dengan wajah terlihat merasa begitu bersalah.


Apalagi mama Elenora tahu bahwa sebenarnya Elenora memang sangat mencintai James. Dia tahu saat cinta sudah berkuasa, logika pun tersingkir, otak seolah tidak berfungsi dengan baik.