
Tidak lama kemudian, semua orang tampak mengobrol dengan santai setelah menyelesaikan sarapan mereka pagi ini.
Membiarkan perut mereka beristirahat sebentar sebelum mereka melanjutkan acara mereka pagi ini, yang akan diisi dengan acara pergi belanja.
“Apa kalian semua sudah selesai menikmati makan pagi kalian? Kalau sudah, kita harus bersiap untuk pergi berkeliling kota Bali, sebelum hari semakin siang. Aku akan menunjukkan pusat perbelajaan dan tempat dijualnya barang-barang kesenian yang berasal dari para pengrajin di pulau ini.” Mata Deanda tidak bisa menyembunyikan antusiasnya mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Ornado.
“Wah, rasanya jadi tidak sabar untuk ke sana.” Deanda berkata sambil melirik Alvero yang hanya tersenyum kecil.
“Semoga kaian semua menyukainya.” Ornado menambahkan kata-katanya sebelum akhirnya memberi kode kepada Alex yang sedari tadi sedang menunggu perintah Ornado selanjutnya.
Begitu Alex mendekat, Alex langsung mebungkukkan tubuhnya di dekat Ornado yang segera membisikkan sesuatu di telinganya, memberikan sebuah perintah kepada Alex sekaligus mengingatkan tentang persiapan kondisi penjagaan sepanjang jalan yang akan mereka lewati dan tempat yang akan mereka kunjungi.
Setelah itu sekilas Ornado melirik ke arah para tamunya dan menghela nafas lega.
Sebelumnya Ornado memang sudah memberikan info kepada Alvero dan yang lain, agar hari ini mereka bisa berpakaian sedikit lebih santai, karena mereka akan berkunjung ke pusat perbelanjaan yang dikenal cukup ramai.
Karena itu mereka harus berpakaian yang tidak terlalu mencolok, agar bisa membaur dengan yang lainnya, meskipun sebenarnya, Ornado sudah menyiapkan ratusan penjaga yang berjaga di sepanjang jalan yang akan mereka lalui, juga tempat yang akan mereka tuju.
Hari ini tanpa mereka bertiga sepakati, ternyata Ornado, Alvero dan Dave mengenakan pakaian yang mirip, celana jeans biru muda, dengan atasan berupa kaos tidak berkerah bewarna putih yang berjenis body fit sehingga membuat mereka tampil bukan hanya tampan, tapi maskuli.
Dan pakaian mereka yang cukup ketat membuat tubuh mereka yang atletis terlihat dengan jelas, memamerkan bentuk mereka sebagai laki-laki dengan tubuh sempurna.
(kaos body fit atau kaos pas badab dikenal sebagai salah satu model baju yang emmiliki potongan pas di badan sehingga saat dikenakan cenderung mengikuti bentuk tubuh pemakainnya, memberikan efek ramping bagi wanita, efek berotot bagi para pria. Sekalipun bentuk dan potongannya cenderung mengikuti lekuk badan, tetapi model body fit pada prinsipnya terbilang relative tetap nyaman dikenakan untuk aktifitas sehari-hari karena didesain dalam ukuran yang tidak terlalu ketat, namun juga tidak terlalu longgar).
“Ah, aku baru sadar kalau kalian bertiga mengenakan pakaian yang hampir mirip, kalian jadi seperti berasal dari panti asuhan yang sama.” Laurel yang tiba-tiba saja menyadari kemiripan cara berpakaian antara suaminya dengan Ornado dan Alvero langsung berkomentar sambil tertawa kecil.
“Aku juga baru sadar, padahal kami tidak ada perjanjian tentang hal ini.” Ornado menanggapi perkataan Laurel sambil melihat ke arah kaos dan celana jeans yang dikenakannya.
Meskipun kaos yang mereka kenakan sama-sama putih, dan celana jeans yang mereka kenakan sama-sama biru muda, tapi untung saja warnanya tidak sama persis.
Dan untung saja gambar dan merk dari kaos serta jeans kalian tidak sama. Kalau tidak kalian benar-benar seperti berasal dari sebuah panti asuhan yang sedang berlibur dengan seragam khas mereka.
Cladia berkata dalam hati sambil tersenyum geli melihat ketiga pria tampan itu jadi saling berpandangan dan melihat ke arah pakaian mereka sendiri dan yang lain begitu mendengar komentar dari Laurel tadi.
“Ternyata benar yang dikatakan oleh Laurel. Kok bisa ya kalian berpakaian mirip seperti ini? Kalian sudah seperti modelvyang mau melakukan pemotretan untuk majalah fashion saja.” Deanda akhirnya ikut mengeluarkan pendapatnya, membuat ketiga laki-laki tampan yang awalnya saling berpandangan itu akhirnya saling melempar senyum geli.
“Kalau sampai terjadi seperti itu, bisa-bisa kita benar-benar dipikir orang adalah anak dari SMA yang sama atau anak kuliah dari kampus dengan jurusan yang sama, yang sedang melakukan kegiatan praktek kerja di lapangan. Bisa-bisanya kalian memiliki selera berpakaian yang sama seperti itu.” James langsung menjawab pertanyaan Enzo sambil tertawa.
“Bilang saja kalian berdua iri karena kami bertiga memiliki selera fashion yang sama. Dan yang pasti, itu bukan selera rendahan.” Dengan percaya diri, Ornado menanggapi gurauan James sambil dengan tidak perduli bangkit dari duduknya disusul oleh yang lain.
Karena kata-kata Ornado, Alvero dan Dave pun terlihat dengan santainya tetap mengenakan pakaian mereka tanpa ada niat untuk menggantinya dengan yang lain.
“Amore mio….”
“Sweety….”
“Mo cuisle…”
Ketiga pria tampan itu bukan hanya secara bersamaan memanggil nama kesayangannya istrinya, namun juga secara serentak mengulurkan tangan mereka ke arah wanitanya masing-masing, untuk membantu wanita mereka bangkit dari duduknya.
Alvero mengulurkan tangan kanannya ke arah Deanda, dengan tangan kirinya terlipat di belakang punggungnya, ciri khas gerakan dari seorang bangsawan kelas atas.
Ornado mengulurkan tangannya dengan tubuh sedikit membungkuk, karena perbedaan tinggi badannya dengan Cladia, yang membuat Cladia tampak mungil jika berada di dekatnya.
Dan yang terakhir Dave yang mengulurkan tangan kanannya ke arah Laurel, dengan tangan kirinya lurus berada di samping tubuhnya sendiri.
Baik Deanda, Cladia, maupun Laurel sama-sama mendongakkan kepalanya ke atas, memandang ke arah suami mereka dengan senyum menghiasi bibir mereka, sedang telapak tangan mereka, mereka letakkan di atas telapak tangan suami mereka yang terulur.
Meskipun gaya yang ditampilkan mereka sebenarnya sedikit berbeda, namun karena tujuan mereka sama-sama mengulurkan tangan ke arah istrinya, membuat gerakan itu terlihat begitu mirip.
Gerakan Alvero, Ornado dan Dave yang serempak, juga dengan pakaian mereka yang terlihat mirip, membuat yang lain langsung tertawa tergelak tanpa bisa mereka tahan.
“Harusnya ada yang mengabadikan momen langka hari ini. Tiga laki-laki dengan latar belakang berbeda yang sama-sama hebat, tiba-tiba saja muncul dengan penampilan begitu mirip dan ternyata cara mereka memperlakukan istrinya pun boleh dibilang mirip.” Enzo berkata sambil terkikik geli melihat bagaimana mesranya para pria hebat itu memperlakukan istri mereka.
Perkataan Enzo itu bahkan tanpa sadar membuat James yang awalnya tersenyum, karena ikut merasa geli, tiba-tiba saja menarik nafas dalam-dalam dan melirik ke arah Elenora yang ternyata juga melihat ke arah ketiga pasangan itu dengan tatapan terpesona dan kagum.
Mereka terlihat begitu serasi dan kompak. Aku suka sekali melihat kemesraan dan keharmonisan yang mereka tunjukkan itu. Apalagi sikap ketiga laki-laki hebat itu terliaht begitu tulus, tidak ada kepura-puraan seperti yang biasa dilakukan oleh orang kaya pada umumnya. Yang kadang terlihat harmonis dan mesra hanya di depan orang lain, sedang di tempat tidur, mereka tidur dengan saling memunggungi satu sama lain.
Elenora berkata dalam hati dengan tetap menyungingkan senyumnya, kagum sekaligus ikut merasa bahagia melihat ketiga pasangan romantis itu.