My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
PERANG DALAM BATHIN JAMES



Meskipun Elenora memanggilnya sebutan “pak” di depan namanya adalah perintah dari James sendiri, namun kali ini, James begitu suka mendengar bagaimana Elenora memanggilnya dengan James saja.


Dan hal itu tanpa sadar membuat James tersenyum kecil sambil mulai menginjak gas mobilnya untuk mulai melakukan perjalan menyusul yang lain ke bandara.


Di sepanjang perjalanan mereka berdua, Elenora dan James lebih banyak saling berdiam diri, bahkan karena rasa tidak percaya dirinya, Elenora lebih banyak mengarahkan pandangan matanya ke luar jendela untuk menghindari matanya melirik ke arah James yang pagi ini tampil sedikit santai, namun tetap terlihat maskulin dan tampan.


Tanpa setelan jas resminya, dengan mengenakan kemeja polos berjenis slim fit, dan celana jeans bewarna terang, tetap membuat James tampil sempurna, dan akan menarik perhatian siapapun yang melihatnya.


Ditambah dengan darah Italia murni yang mengalir di tubuhnya, membuat wajah bulenya sungguh akan membuat para kaum hawa menatapnya dengan wajah kagum dan terpesona, sedang para pria akan menatapnya dengan iri atas ketampanan dan kesempurnaan tubuh yang dimiliki oleh James.


Belum lagi kalau mereka tahu bahwa dia merupakan seorang Xanderson yang pastinya dikenal sebagai keluarga berpengaruh dengan kekakayaannya yang melimpah di Italia.


Setelah Ornado Xanderson, keberadaan James Xanderson dan Afro Xanderson pastinya merupakan dua pria keluarga Xanderson yang menjadi incaran bagi para wanita untuk dapat mendekati mereka, dan juga para orangtua yang ingin mendapatkan menantu idaman.


"Haist... sepagi ini sudah mulai macet, semoga kita tidak terlambat sampai ek bandara atau Ornado akan mengomeliku habis-habisan." James mengomel dengan suara pelan sambil memandang ke arah jalanan yang memang macet.


Perkataan James membuat Elenora mau tidak mau menggerakkan kepalanya dan ikut memandang ke arah jalanan yang ada di depannya yang tampak ramai, sekaligus terdengar ribut, karena beberapa orang mulai bergantian menyalakan klakson kendaraan mereka.


Bunyi klakson kendaraan yang saling bersahutan, terdngar memenuhi udara pagi itu.


Sebagian orang mungkin berharap dengan mereka membunyikan klaksonnya bisa mengurai kemacetan, padahal sebenarnya emreka tahu itu hanya akan membuat keributan dan suasana hati menjadi emosi, juga mungkin akan justru memperburuk keadaan.


Akhirnya, kamu menoleh juga.... Aist... apa yang sedang kamu harapkan darinya James?


James berkata dalam hati sambil melirik ke arah Elenora yang mulai mengamati jalanan macet di depannya.


Sejak mereka meninggalkan rumah Ornado, sebenarnya beberapa kali James diam-diam mencuri pandang ke arah Elenora yang tampak beberapa kali menggigit bibir bawahnya dengan tangannya yang tampak sling bertaut beberapa kali bergerak-gerak, menunjukkan bagaimana gugup dan tidak tenangnya dia saat ini.


Sampai detik ini bahkan James masih belum bisa percaya sepenuhnya bahwa gadis cantik yang sedang duduk di sampingnya saat ini adalah Elenora, yang selama ini dianggapnya culun dan kampungan.


Karena jam keberangkatan mereka sedikit ditunda, dan Ornado sudah memberikan info kepada James, laki-laki itu dengan sengaja melajukan kendaraannya dengan sedikit lebih lambat, berharap bisa memperlama kebersamaan mereka berdua dalam perjalanan.


Tapi melihat bagaimana pendiamnya Elenora dan tidak ada sepatah katapun dari terakhir ucapan terimakasih karena dia memasangakan sabuk pengaman Elenora, membuat James mulai mencari cara untuk membuka pembicaraan dengan Elenora.


"A... apa tidak ada jalur...lain? Yang mungkin bisa membuat kita lepas dari kemacetan?" Perkataan Elenora yang terdengar pelan dan gugup membuat James mengernyitkan dahinya.


Kenapa dia selalu bersikap seperti ini jika di hadapanku? Padahal jelas-jelas dia bisa tersenyum, tertawa, dan bicara dengan lancar jika bersama dengan orang lain?


James mulai bertanya-tanya dalam hati tentang sikap Elenrora padanya yang tampak berbeda jika dibandingkan sikapnya kepada yang lain.


Apa benar yang dikatakan oleh Ornado? Bahwa selama ini aku terlalu galak padanya? Atau karena dia menyukai salah satu dari laki-laki itu? Alex atau Dodi? Atau dia sudah menerima pernyataan cinta dari Gavino? Dan sedang berusaha memutuskan perjodohannya denganku? Tapi seperti kata Ornado lagi, jika memang benar seperti itu, kenapa dia mau jauh-jauh datang ke Indonesia dan menjadi sekretarisku?


Dan semua pemikiran itu membuat kepala James pusing dan membuat dadanya terasa tidak nyaman begitu memikirkan bagaimana sebenarnya perasaan Elenora terhadap Alex, Dodi, apalagi Gavino, yang bagi James akan menjadi saingan yang cukup berat baginya.


Jika itu Alex ataupun Dodi, James yakin dia bisa menekan mereka berdua karena status dan posisi mereka, tapi jika itu Gavino, yang merupakan rekan bisnis Grup Xanderson, sepertinya tidak akan mudah untuk menghalangi niat Gavino apalagi menyingkirkan laki-laki itu.


Kecuali jika aku benar-benar mengikat Elenora dengan sebuah pernikahan.


Pemikiran James dalam diam membuat dirinya sendiri tersentak kaget, karena secara tiba-tiba, meskipun hanya beberapa detik, dia bahkan sempat berpikir untuk menikah dengan Elenora.


Hah! Kenapa denganku hari ini? Apa aku benar-benar sudah jatuh cin…. Tidak! Tidak boleh terjadi! Seorang gadis yang tidak bisa memegang janjinya, dan tidak pernah meminta maaf untuk kesalahan yang pernah dibuatnya. Tidak akan pantas menjadi seorang nyonya Xanderson.


James berkata dalam hati sambil diam-diam menghela nafasnya karena ingatan tentang bagaimana Elenora sudah meninggalkannya tanpa pesan hari itu kembali teringat,


James menarik nafas lega begitu melihat jalanan terlihat mulai tidak macet lagi.


Sebaiknya aku menyetir dengan lebih kencang agar segera sampai ke bandara. Sepertinya otakku jadi tidak normal jika berada di lama-lama di dekat Elenora.


James berkata dalam hati, berharap dia bisa melupakan pikirannnya tentang Elenora yang sejak pagi tadi, ketika dilihatnya gadis itu dengan model pakaian yang berbeda dari biasanya, sudah membuat pikirannya kacau.


Dan sudah membuat emosinya teraduk-aduk dan tidak jelas dengan apa yang sedang dirasakannya.


Yang pasti, James saat ini merasakan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, kagum tapi juga kaget, terpesona tapi juga kesal, bahagia tapi juga marah kala mengingat bagaimana malam itu Elenora tidak datang padanya.


Bahkan tanpa diketahui siapapun, malam dimana Elenora tidak datang padanya hari itu membuatnya diam-diam hampir menangis karena kesal, marah, dan kecewa, juga sakit hati, sehingga sepanjang malam itu James tidak bisa tidur dan merasakan dadanya yang kadang terasa sesak menahan amarah yang tidak bisa dia luapkan kepada siapapun.


Meskipun setelah dia dewasa, James tahu sikapnya saat itu sungguh kekanak-kanakan, penuh emosi karena darah remaja yang masih mudah meletup-letup, tapi entah kenapa, sampai saat ini dia masih belum bisa memaafkan Elenora, terutama karena sejak mereka bertemu kembali setelah sekian lama, Elenora memilih untuk tetap diam, cenderung terlihat menghindarinya, dan tidak meminta maaf untuk kejadian hari itu, tidak berusaha memberikan penjelasan apapun padanya.


# # # # # # #


Ketika James sampai di bandara, dengan cepat James mengajak Elenora untuk segera turun dan mencari keberadaan Ornado dan yang lainnya.


Aku harus segera menjauh dari Elenora jika tidak ingin semakin terpikat oleh pesonanya. Haist, kenapa mataku tidak bisa diajak bekerjasama, selalu diam-diam ingin melihat ke arahnya, seolah ada magnet diantara mataku dan sosok Elenora.


James mengomel dalam hati dengan sikap salah tingakah sendiri karena antara hati, pikiran, dan matanya benar-benar tidak sinkron saat ini. Dan itu membuatnya semakin stress.