My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
OBSESI MENGERIKAN DARIO (1)



Setelah memegang remote di tangannya, Dario menjulurkan tangannya ke depan tubuhnya, sambil mengarahkan remote itu ke arah layar televisi berukuran besar yang terpajang di hadapannya, dan memencet salah satu tombol yang ada di remote tersebut.


Begitu Dario memencet remote itu, tampak layar televisi berukuran besar yang awalnya berada tepat di hadapannya bergesar dan tergeser ke arah samping kiri.


"Tuan Shaw... kamu akan menjadi salah satu pion terbaikku kali ini. Aku tidak akan berbelas kasihan seperti 5 tahun lalu. Kali ini, aku tidak akan membiarkan Ornado membangkitkan kembali Grup Xanderson seperti yang terjadi 5 tahun lalu. Kali ini, aku beruntung bisa mendapatkan rekan bisnis yang pasti akan banyak membantuku untuk menghancurkan Ornado." Dario berkata sambil matanya menatap dengan pandangan tidak sabar ke arah layar televisi yang mulai terus bergerak, bergeser dari tempatnya.


Diiringi dengan bergeraknya layar televisi itu, dari balik televisi itu tampak sebuah lukisan, yang awalnya hanya tampak sebagian kecil.


Tapi makin lama seiring dengan bergesernya layar monitor televisi itu, lukisan yang ada di belakang layar itu terlihat semakin jelas.


Begitu lukisan itu sudah terlihat utuh dan sempurna, Dario menyungingkan sebuah senyum di wajahnya.


Pada lukisan itu tergambar sosok Cladia yang sedang memakai gaun pestanya ketika dia berada di Italia dengan Ornado pada acara pesta resmi untuk perkenalannya sebagai istri sah Ornado.


Lukisan Cladia yang mengenakan gaun putih yang didesain dan dipilih sendiri oleh Ornado untuk detail bahan pembuatannya, terlihat tampak begitu cantik.


Di samping lukisan yang menggambarkan sosok Cladia itu, tampak seorang pria tampan dengan setelan jasnya yang membuatnya terlihat begitu elegan, dengan salah satu tangannya terlihat melingkar di pinggang ramping Cladia.


Namun, wajah pria yang ada di samping Cladia itu, bukanlah wajah Ornado yang seharusnya menjadi pasangan Cladia di acara kala itu, namun lukisan wajah Ornado digantikan dengan wajah Dario sendiri.


“Ah… di lukisan itu, sungguh pasangan yang terlihat begitu serasi. Bukankah begitu Cladiaku tersayang?” Dario berkata sambil sedikit membungkuk, memajukan tubuhnya ke depan, untuk meraih gelas berisi red wine (anggur merah) yang ada di atas meja di depannya, dengan pandangan matanya yang tidak mau lepas sedetikpun, memandang wajah Cladia yang ada pada lukisan itu.


Setelah itu dengan sikap santai, Dario menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, dengan kakinya yang menyilang.


"Aku berharap, secepatnya, kita bisa membuat lukisan kita sendiri, tanpa aku harus melakukan editan pada wajah laki-laki yang sudah merebutmu dariku, dan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku, karena kehadirannya di dunia ini. Harusnya dia tahu diri dengan kelahirannya, itu sudah merupakan suatu keberuntungan untuknya. Tidak seharusnya dia juga merebutmu dariku!" Gumaman Dario diiringi oleh sebuah senyum sinis, dengan tangannya yang memegang gelas burgundy berisi wine bergerak memutar-mutar gelas itu, sehingga cairan wine yang mengisi seperempat bagian dari gelas burgundy itu ikut bergerak memutar di dalam gelas burgundy itu.


(Ada beberapa jenis gelas untuk meminum wine (anggur):


Gelas White Wine. Gelas white wine atau juga disebut dengan gelas untuk wine putih. Gelasnya lebih ramping, batangnya panjang, badannya yang lebih mirip huruf U. Kenapa batang gelasnya cukup panjang? Penyebabnya karena wine sangat terpengaruh oleh suhu, termasuk suhu tubuh. Jenis wine yang bisa diminum dengan gelas ini seperti suvignon blanc, pinot gris, rose wine dan sebagainya.


Gelas Champagne (Flute). Gelas selanjutnya adalah gelas champagne. Gelas satu ini sering juga disebut flute. Bentuknya bagian atas lebih ramping dan bagian bawahnya lebih besar. Kaki gelas lebih tinggi dan semakin ke atas semakin mengecil. Gelas ini dibuat dengan bibir gelas yang jauh lebih sempit, apalagi bila dibandingkan dengan gelas anggur merah. Penyebabnya adalah agar gelembung dari sparkling wine tidak cepat hilang dan keluar dari gelas.


Gelas Rose Wine. Sebenarnya, rose wine sering dinikmati dengan gelas khusus white wine. Ternyata, ada gelas yang memang khusus untuk menikmati rose wine. Gelas tersebut bagian bawahnya menggembung bahkan terkesan meliuk. Sedangkan bagian atasnya sedikit melebar. Hal itu ditujukan agar dapat menikmati aroma yang kuat dan khas dari rose wine.


Gelas Sherry. Gelas sherry ciri khasnya adalah bagian wadah dalamnya lebih dalam dari gelas biasa, serta lebih menggembung, sedangkan tangkainya lebih pendek. Gelas ini digunakan untuk menikmati minuman yang aromatik. Gelas ini disebut juga gelas aperitif, yakni minuman keras yang bisa memicu rasa ingin makan. Jenis liquors semacam ini menjadi minuman yang paling sering disajikan sebagai teman makan. Selain aromatik, kadar alkoholnya biasanya lebih tinggi. Oleh sebab itu, gelas sherry dibuat untuk mengakomodasi hal tersebut).


"Hah, tempat tinggal yang sungguh indah dan nyaman ini, dan akan menjadi sempurna dengan kehadiran Cladia di dalam penthouse cantik ini." Dario berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, dengan matanya memandang ke sekelilingnya, dimana dekorasi interior penthouse mewah sekaligus warna catnya merupakan kesukaan Cladia.


Dan Dario dengan sengaja melakukan itu untuk mempersiapkan diri jika suatu ketika kelak Cladia sudah berhasil direbutnya dari tangan Ornado.


Tatapan mata Dario memandang dengan sikap puas, karena dia sudah berhasil mendapatkan penthouse mewah di tengah kota, dengan penataan yang membuatnya akan selalu teringat kepada sosok Cladia.


Hiasan mawar yang tersebar di hampir semua sudut ruangan penthouse membuat Dario selalu membayangkan tentang sosok Cladia yang memang begitu menyukai mawar semenjak dia masih kanak-kanak.


Dan hal itu diingat dengan begitu baik oleh Dario.


Sekecil apapun hal yang pernah dia tahu tentang Cladia, Dario sudah menyimpannnya dengan begitu baik dalam ingatannya.


"Cladia sayangku... sungguh… kamu adalah wanita tercantik yang tidak ada duanya di dunia ini.... Semoga ke depannya, kamu akan betah tinggal di sini bersamaku. Dan aku akan memberikan apapun yang kamu minta asal kamu mau datang padaku, berlari ke arahku, dan menjadi milikku." Dario bergumam pelan sambil matanya menatap ke arah wajah lukisan Cladia sambil menyesap red winenya, setelah sebelumnya dengan hidung mancungnya dia menghirup dan menikmati bau red wine yang ada di dalam gelas itu.


Dan tanpa bosan-bosannya, setiap ada kesempatan di waktu senggangnya, itu yang akan selalu dilakukan oleh Dario.


Menikmati wajah cantik Cladia melalui lukisan yang dia simpan rapi di balik layar televisi berukuran lebih dari 100 inch itu.