My Wild Rose (Season 2)

My Wild Rose (Season 2)
SUASANA AKRAB (3)



"Kakak!" Alaya sedikit memekik untuk menyatakan protesnya.


"Pokoknya aku tidak mau menikah muda! Sungguh pasti merepotkan. Kak Cladia, bukankah begitu?" Cladia yang baru saja kembali duduk besama Ornado langsung menoleh, melihat ke arah Alaya yang sedang berusaha mencari pembelaan dari yang lain.


"Kenapa denganmu Alaya?" Cladia mencoba meperjelas pertanyaan Alaya sebelumnya karena tadinya dia tidak terlalu fokus pada pembicaraan mereka.


"Tolong katakan pendapat Kakak tentang keinginan kak Alvero dan papa Vincent untuk memintaku menikah di usiaku yang belum genap berusia 23 tahun untuk menikah. Apa itu adil bagiku? Aku masih mau menikmati masa lajangku dengan sebaik-baiknya. Kak Deanda tidak mau membelaku, karena dia juga hampir seusia denganku dan sudah menikah dengan kakakku Alvero." Perkataan Alaya membuat Cladia tersenyum dengan sedikit geli.


Alaya ini benar-benar polos, dengan sifat sedikit manja. Aku ingin tahu jika dia tahu tentang usiaku yang bahkan masih berusia 21 tahun. Dan sudah menikah dengan Al.


Cladia berkata dalam hati sambil menatap ke arah Alaya yang pandangan matanya terlihat penuh harap mendapatkan dukungan darinya.


"Maaf Alaya, usiaku sekarang bahkan masih dua puluh satu tahun dan sudah menikah dengan Ornado." Mata Alaya langsung terbeliak sempurna mendengar jawaban dari Cladia.


"Yang Benar? Kak Cladia... masih berusia dua puluh satu tahun? Eh, maaf, buakn maksudku mengatai Kak Cladia bertampang tua. Tapi sikap dewasa kakak, dan keanggunan Kakak. Melihat bagaimana Kakak berbicara dan bersikap, membuatku berpikir bahwa minimal Kak Cladia seumuran denganku."


"Tapi sayangnya tidak begitu Alaya. Aku masih 21 tahun." Cladia berkata sambil tersenyum geli melihat wajah Alaya dengan tatapan tidak percayanya.


"Alaya, kalau aku boleh memberi saran. Tidak ada salahnya menikah di usiamu yang sekarang kalau kamu sudah benar-benar siap, tapi jika belum, tidak ada salahnya jika Alaya diberi kesempatan untuk berpikir dan mempertimbangkan pernikahannya dengan bijak. Kalau untuk kasusku sih, aku bisa mati muda kalau tidak segera mengikat amore mio menjadi istriku. Karena itu bahkan sejak berusia 12 tahun, aku sudah meminta agar kedua orangtua kami menetapkan Cladia sebagai istriku di masa depan." Ornado langsung memberikan pendapatnya, sekaligus mengakhiri perkataannya sambil memandang mesra ke arah Cladia yang wajahnya langsung tersipu malu.


"Di sini juga ada yang sudah menikah ketika usianya masih 17 tahun." Ornado menambahkan kata-katanya yang sukses membuat wajah Alaya semakin bingung dengan tatapan tidak percaya dan menatap ke arah Ornado dengan penasaran.


"Siapa Kak Ornado? Apa benar begitu?" Alaya bertanya dengan wajah terlihat antusias.


"Tuh, ada di situ orangnya." Dengan santainya Ornado berkata sambil menunjuk ke wajah Laurel.


"Kak Laurel? Benarkah?" Alaya langsung bertanya kepada Laurel yang hanya bisa meringis mendengar pertanyaan Alaya dengan tatapan tidak percayanya.


"Eh, benar sih...., tapi.... Ah, bagaimana mengatakannya ya? Dave, bantu aku dong menjelaskannya." Dengan sikap kikuk, Laurel tampak bingung harus menjelaskan kepada Alaya dengan cara bagaimana tentang apa yang terjadi pada pernikahannya 7 tahun lalu.


Sedang Dave yang diminta Laurel untuk membantunya, hanya mengangkat kedua bahunya tanpa membuka bibirnya sama sekali, membuat Ornado tertawa geli.


"Kak Laurel.... Jadi bagaimana ceritanya?" Alaya tanpa perduli dengan sikap gugup Laurel justru terus bertanya kepada Laurel, dengan matanya menatap lurus ke arah dokter cantik itu, sedang suaminya hanya mengulum senyum sambil tangannya menepuk-nepuk lembut bahunya.


Matilah aku, kenapa aku jadi dipaksa bercerita tentang kejadian memalukan tujuh tahun lalu di depan banyak orang? Apalagi di depan keluarga kerajaan Gracetian. Wahhh sepertinya karma perbuatan burukku terhadap Dave di masa lalu, sudah mulai aku tuai sekarang.


"Eh, begini Alaya.... Sebenarnya aku bukan orang yang menentang pernikahan di usia muda, karena pernikahan di usia muda juga kadang adalah takdir dari yang di atas. Tapi aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku merupakan pendukung pernikahan di usia muda. Karena sebenarnya menikah di usia muda juga memiliki banyak resiko, salah satunya adalah kemungkinan besar terjadinya kesalahpahaman karena usia muda yang mungkin emosinya masih labil." Laurel berkata sambil melirik ke arah Dave yang tersenyum mendengar jawaban bijak darinya.


"Mmmm... intinya, silahkan menikah muda kalau memang sudah siap dan mendapat restu dari orangtua, toh itu juga bisa membuat kita terhindar dari perzinahan. Tapi silahkan menunda pernikahan jika merasa belum siap terhadap apa yang dimiliki. Termasuk belum siap dalam hal keuangan, kedewasaan emosi, ataupun dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar." Laurel melanjutkan bicaranya, membuat Alaya mengernyitkan dahinya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku setuju sekali dengan perkataan Kak Laurel. Oke... aku akan pertimbangkan dengan baik. Tapi Kak Laurel...." Alaya menggantung kata-katanya sambil memandang ke arah Laurel dengan senyum manisnya, membuat Laurel justru merasa tidak enak hati, karena saat ini Alaya sungguh seperti sedang menginginkan sesuatu darinya.


"Kenapa Alaya?"


"Aku sungguh penasaran dengan kisah pernikahan Kak Laurel. Kalau Kak Ornado dan Kak Cladia, Kak Alvero sudah pernah menceritakannya padaku. Setelah acara makan selesai, ayo kita pergi mengobrol berdua. Boleh kan Kak? Kak Dave? Bolehkan aku mengajak mengobrol Kak Laurel?" Bukan hanya Dave, baik Ornado maupun Cladia langsung tertawa geli mendengar permintaan polos dari Alaya kepada Laurel yang wajahnya langsung terlihat memerah.


Ampun deh. Mimpi apa aku semalam, sampai seorang putri dari Gracetian begitu penasaran terhadap kisah cinta dan kehidupan pernikahanku?


Laurel berkata dalam hati sambil menahan nafasnya.


Dave yang diliriknya hanya bisa menghentikan tawanya sambil menggedikkan bahunya kembali, tanpa bahwa dia tidak ikut campur dalam urusan kali ini.


"Memang kenapa kalian semua tertawa? Apa kisah cinta kak Laurel dan kak Dave sungguh seseru itu? Ah, aku jadi semakin penasaran." Alaya mengakhiri perkataannya sambil bangkit berdiri, lalu menyeret kursinya, membawanya mendekat ke arah Laurel yang langsung tersentak kaget melihat tindakan Alaya.


Alvero, Vincent, Larena maupun Alexis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tindakan Alaya yang bagi mereka tidak menunjukkan sama sekali sisi anggun dan karakter seorang putri kerajaan Gracetian.


Nyonya Rose yang melihat tindakan Alaya langsung bangkit dari duduknya, berusaha mendekat dan mengingatkan Alaya untuk menghentikan tindakannya, namun gerakan tangan Alvero, dan kode dengan gelengen kepala raja Gracetian itu cukup membuat nyonya Rose menghentikan niatnya untuk mendekati Alaya.


Alvero bukannya mendukung tindakan Alaya yang kadang tidak menunjukkan sikap anggun seorang putri, tapi kali ini adalah acara berlibur, yagn bagi Alvero, ingin agar semua yang ikut pergi bersamanya menikmati liburannya.


Tidak apa sedikit melupakan tata cara hidup di istana yang terasa begitu kaku dan mengikat, asal masih dalam batas normal dan sopan, juga tidak melakukan sesuatu yang melanggar moral.


Alvero berkata dalam hati sambil tesenyum memandang adikknya yang sudah mendekatkan kursinya di samping Laurel, dan duduk dengan manis di sana, memandang ke arah Laurel dengan wajah berharap dan penasaran, emmbaut Laurel langsung memegang tengkuknya dengan sikap gugup.